Sepertinya, Aku Jatuh Cinta

Sepertinya, Aku Jatuh Cinta
Ch. 42


__ADS_3

Mata Desi membola melihat kedatangan Nayra dan keluarganya. Ia bergegas masuk ke dalam kamar dan menelepon Nayra.


"Halo Desi." Terdengar suara Nayra berbisik di ujung sambungan telepon.


"Halo Nay. Kenapa nggak bilang kalau mau datang?" Protes Desi. Ia takut kalau orang tua Nayra membocorkan statusnya saat ini pada Alfian dan keluarga.


"Maaf Nay. Ini juga mendadak. Karena bantu buat bingkisan jadi lupa ngasih tahu kamu. Tenang aja, nanti aku bisikin papa sama mama."


Desi hanya bisa menarik nafas panjang. Ia pasrah dengan apa yang akan terjadi. Jika mereka memaksanya untuk kembali dan menyelesaikan studi. Desi harus memikirkan dimana ia akan tinggal sementara waktu. Ia tidak ingin keluarganya datang.


Desi meletakkan kembali ponsel di nakas. Tak lama kemudian terdengar suara ketukan di pintu diikuti oleh suara Rara yang memanggilnya.


"Desi. Kamu tidur?"


Desi bergegas membuka pintu. "Tidak Tante. Maaf tadi ganti baju dulu."


Rara tersenyum. "Yuk, ketemu sama adik ipar saya dan keluarganya."


Desi memaksakan sebuah senyuman. "Iy...iya, Tante."


Meski berat, Desi tetap memaksakan kakinya untuk melangkah menuju ruang tengah. Namun sebelum keluarga Nayra melihatnya, Desi berbalik menuju pelayan yang sedang mengatur makanan ringan. Desi berpura-pura memeriksa kudapan yang akan disantap sebelum makanan utama.


Desi mendengar langkah kaki mendekat. Ia berbalik dan melihat Nayra sedang menuju ke arahnya.


"Selamat siang Nona." Sapa Desi.


Nayra melebarkan matanya. Namun ketika dilihatnya beberapa pelayan disana ikut menyapa, Nayra buru-buru membalas salam yang diucapkan Desi.


"Apaan sih?" Gumam Nayra pelan seraya berpura-pura berdiri di samping Desi memeriksa makanan yang mereka bawa.


"Udahlah, pura-pura aja nggak kenal." Sahut Desi lagi. Ia kemudian bergeser ke meja yang berisi es buah. Nayra tahu Desi sedang mencari alasan. Oleh sebab itu ia segera kembali duduk bersama Maria.


"Kak, ini belum di tambahin chia seed ya." Kata Desi pada seorang pelayan yang bertugas membuat es buah.


Pelayan tersebut bergegas mendekat. "Aduh, lupa. Untung kamu periksa."


Desi tersenyum. "Biar aku yang ambil." Ucap Desi seraya berlalu.


"Terima kasih ya Desi."

__ADS_1


"Iya kak, sama-sama." Sahut Desi dengan langkah riang. Dalam hati ia merasa senang dapat menghindar dari Mita Adhyaksa dan Fikram Sanjaya, orang tua Rama dan Nayra.


🌸🌸🌸


"Sayang, ngapain kamu disini?"


Alfian tiba-tiba memeluk Desi dari belakang. Mendapat perlakuan seperti itu Desi terkejut dan segera melepaskan tangan Alfian dari perutnya.


"Mas."


"Nggak ada orang lain. Mereka sudah kabur." Sahut Alfian sambil melepaskan pelukannya.


Desi melihat ke sekeliling area penyimpanan bahan kue itu. Keningnya berkerut.


"Kemana semuanya? Mas ngusir mereka ya." Tuduh Desi.


"Mereka tahu diri. Untuk apa diusir." Jawab Alfian dengan santai.


Meski tidak tahu pasti hubungan Desi dan Alfian. Namun pelayan-pelayan di kediaman Adhyaksa itu sudah mengerti. Saat Tuan Muda tiba-tiba muncul di sekitar Desi, mereka akan segera pergi tanpa diperintah. Kemarahan Alfian saat melihat Desi mengobrol dengan seorang pekerja pria tempo hari sudah cukup menjelaskan posisi Desi di hati Alfian.


Gosip mengenai hubungan asmara tuan rumah merupakan topik yang enak didengar dan dibahas. Wajar saja jika tanpa deklarasi resmi pun semua pekerja akan mengambil jarak memberi waktu berdua bagi Tuan Muda dan gadis pujaan hatinya.


Desi menggeleng-gelengkan kepalanya. "Padahal orang mau kerja lho Mas."


Alfian mengangkat kedua bahunya tak peduli. "Nanti saja, kan bisa."


Desi melebarkan matanya, ia menatap tak suka pada Alfian. Namun yang ditatap malah tertawa. "Jangan melotot begitu. Kamu malah kelihatan lucu."


"Mas Al..."


"Sudah, sudah. Ke depan yuk. Gabung sama sepupu-sepupuku."


"Iya, bentar lagi. Lagi nyari bahan tambahan untuk es buahnya."


"Kan ... "


"Ternyata kamu disini to Fian. Bulek cari dari tadi."


Suara Mita membuat nafas Desi tercekat. Ia tetap menghadap ke lemari di depannya.

__ADS_1


"Oh. Kenapa ya Bulek?" Tanya Alfian pada Mita.


"Kamu dicara Pak lek sama Ayah kamu tuh." Jawab Mita dengan kepala bergerak menoleh ke belakang.


Alfian pun segera bergerak. "Terima kasih ya Bulek."


"Iya sama-sama." Mita mengantar kepergian Alfian dengan senyuman. Setelah pemuda itu hilang dari pandangannya, Mita segera berbalik menatap Desi yang sedang membelakanginya.


"Mau sampai kapan kamu kucing-kucingan sama saya?"


Desi menghentikan aktifitasnya yang tidak jelas itu. Perlahan ia berbalik dengan bibir menyunggingkan senyum canggung.


"Halo, Tante."


Mita menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia segera mendekat dan menarik telinga Desi untuk sesaat.


"Anak ini." Mita menggertakkan gigi saking gemasnya pada Desi. "Ada masalah besar kenapa nggak cerita ke Tante? Memangnya kamu anggap Tante ini apa? Kamu sudah nggak anggap Tante lagi? Begitu?"


Desi hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Bukan begitu Tante."


"Lantas? Kalau bukan begitu berarti begini."


"Tante." Desi tahu Mita pasti kesal padanya. Ia tak tahu bagaimana harus menjawab semua pertanyaan wanita itu.


"Hari ini juga kamu pulang ke kota Y. Cepat daftar untuk ujian berikut. Setelah wisuda kamu kembali kesini lagi dan kerja di perusahaan Om. Kalau perlu bodyguard Om di perusahaan akan menjaga kamu sampai selesai. Biar Wiji dan keluarganya nggak datang merecoki kamu lagi."


"Tapi ... "


"Nggak ada tapi-tapian Desi. Tante nggak mau dibantah." Mata Mita terlihat berkaca-kaca. "Di dalam tubuh Tante ada darah kamu. Kalau waktu itu tidak ada kamu, entah bagaimana nasib Tante. Mungkin sekarang sudah tinggal tulang belulang di dalam kubur. Jadi biarkan Tante membalas kebaikan kamu sayang. Meski Tante sadar, darah dan kebaikan hati kamu yang kamu berikan tidak akan bisa dibayar dengan apapun."


Lidah Desi kelu, ia memaksakan seulas senyum. "Tante, pasti Desi akan meminta bantuan dari Tante. Namun selagi masih bisa, tolong biarkan Desi sendiri. Ijinkan Desi mengatasi dengan cara Desi dulu."


Mita menarik nafas pasrah. Ia tahu, gadis di depannya ini akan seperti apa kalau sudah bertekad.


"Ya sudah, tapi kamu berhutang penjelasan ke Om sama Tante ya. Kenapa kamu bisa sampai nyasar ke rumah ini?"


Desi mengulum senyum. "Iya Tante, iya."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2