Sepertinya, Aku Jatuh Cinta

Sepertinya, Aku Jatuh Cinta
Ch. 15


__ADS_3

Desi sedang memanggang kue saat terdengar suara bel. Ia bergegas ke depan dan membuka pintu setelah melihat Nyonya Rara yang berdiri di depan.


"Selamat sore, Nyonya." Sapa Desi sambil memberi jalan pada Rara.


"Selamat sore. Alfian belum pulang ya."


"Iya Nyonya."


Rara segera menuju ke dapur diikuti oleh Desi.


"Lagi panggang apa? Harum sekali."


"Saya membuat kue, Nyonya."


Nyonya Rara mengangguk-angguk senang. Tak lama kemudian terdengar bunyi yang menandakan kalau kue sudah matang.


"Wah, ternyata kamu membuat pie. Isinya apa?" Netra Rara melebar sempurna melihat kue kesukaannya keluar dari oven.


"Isinya kuning telur, tepung custard dan buah leci yang dihaluskan bersama susu segar." Jawab Desi menjelaskan.


Mata Rara semakin berbinar, air liurnya sudah membanjiri mulut. Ia bahkan segera mengambil kipas tangan untuk mendinginkan kue itu. Terlihat sekali kalau ia sudah tidak sabar.


"Saya ini pecinta semua jenis pie." Ujar Rara. "Apa Pratiwi yang bilang ke kamu?"


Desi menggeleng. "Tidak Nyonya. Saya tidak tahu kalau Nyonya suka pie."


Nyonya Rara tersenyum, ia tidak lagi bertanya. Tatapannya hanya tertuju pada pie.


Bel kembali berbunyi, dugaannya, Tuan Muda yang datang. Ia segera ke depan, dan membuka pintu sebab tebakannya benar.


"Selamat sore Tuan Muda." Desi menyingkir memberi jalan.


Alfian hanya berdehem dan segera masuk. Namun perhatiannya terusik saat melirik sekilas di pintu. Di kitchen island sudah Bunda yang sedang mengipasi pie.


"Bunda."


"Eh, anak ganteng Bunda sudah datang. Lihat, Desi buat pie leci. Duh, Bunda sudah nggak sabar mau makan." Wajah Rara terlihat berbinar-binar.


Kemudian ia berdiri menghampiri Alfian. Mengambil tas kerja anaknya juga jas yang ada di tangan pemuda itu.


"Desi, simpan tas di ruang kerja, jas di kamar." Titahnya sambil menyerahkan kedua benda tadi.


Desi agak ragu, ia menatap Alfian sejenak.


"Sudah, bawa saja. Mulai sekarang kamu bisa keluar masuk membereskan kamar Alfian. Supaya kalau dia sakit, kamu bisa rawat dia tanpa takut-takut masuk kamarnya." Nyonya Rara menanggapi keraguan Desi.


Alfian diam, ia tak berkomentar. Desi mengambil jas dan tas dari Nyonya Rara. Kemudian membawa keduanya ke ruang kerja Alfian. Desi memutuskan untuk menggantung jas di ruangan itu dan kembali ke dapur. Suara dari air yang mendidih membuatnya bergegas dan membuat teh di teko kecil.


"Ini, hadiah perkenalan dari teman baru." Alfian meletakkan tas kertas di atas kitchen island. "Dia bilang isinya dendeng dan suvenir."


Nyonya Rara yang penasaran segera membuka tas tersebut. Bau khas dari dendeng melintas di hidungnya. Ia memisahkan makanan tersebut kemudian mengambil kotak lain. Ternyata isinya adalah ikat pinggang dan dompet yang terbuat dari kulit buaya.


"Wah, hadiah perkenalan yang bagus." Ucap Nyonya Rara memuji. "Kamu tahu masak dendeng, Desi?"

__ADS_1


Desi mengangguk yakin. "Iya Nyonya."


Setiap pulang liburan, Maria selalu membawa dendeng. Jadi ia sudah biasa memasak daging yang diawetkan itu.


Desi mengambil dendeng yang berada di dalam kemasan plastik itu. "Dendeng rusa ya." Lirihnya lagi.


"Kamu tahu dari mana? Saya tidak bilang itu dendeng rusa." Tanya Alfian.


"Kalau datangnya sama kerajinan dari kulit buaya, biasanya sih dendeng rusa Tuan. Dari kota Mr." Jawab Desi tanpa sadar.


Tak lama kemudian Desi mengerjap. Ia melipat bibirnya ke dalam, sadar sudah salah bicara.


"Kok kamu tahu?" Alfian semakin penasaran.


"Dari Booble Tuan. Saya sering membaca artikel disana." Jawab Desi berusaha setenang mungkin.


Nyonya Rara memilih tak peduli, yang penting Desi bisa mengolah daging itu. Karena ia pun sudah sibuk memotong pie leci dan meletakkan ya di piring kecil, untuknya dan Alfian.


"Tehnya Nyonya, Tuan." Desi menyajikan minuman itu di kitchen island. Karena tampaknya, kedua majikannya tidak berniat untuk beranjak dari sana.


"Desi!" Seru Nyonya Rara tiba-tiba membuat Desi terperanjat.


"Iy…iya Nyonya."


"Pie ini, enak sekali." Puji Rara dengan raut wajah bahagia.


"Terima kasih, Nyonya." Desi tersenyum senang, ia bahagia melihat kue buatannya disukai.


Alfian penasaran, jadi ia memotong sedikit kue tersebut dan memakannya.


Alfian terdiam sejenak. "Biasa aja." Jawabnya lagi sambil menatap Desi yang ternyata sedang menunggu jawabannya juga.


Desi hanya tersenyum tipis, ia meneruskan pekerjaannya. Desi mulai menyiapkan bahan masakan untuk makan malam. Dan Alfian terus saja mengamati gadis itu.


"Kamu mau masak apa?" Tanya Alfian.


"Ayam bumbu kecap, sayur buncis…."


"Ayamnya dimasak rica-rica saja." Alfian memotong ucapan Desi.


Desi menatap Tuan Muda sejenak. "Tapi, Tuan Muda masih dalam masa pemulihan. Jadi belum bisa makan makanan yang pedas."


"Kamu menolak perintahku?" Alfian menatap Desi tajam.


"Kalau menyangkut kesehatan Tuan Muda, iya. Saya menolak." Jawab Desi tegas, terkesan tidak takut. Padahal jari-jari kakinya sedang bergerak gelisah karena kakinya mulai gemetar.


"Tapi nafsu makanku belum kembali, Desi."


"Itu bukan alasan, Tuan. Demi kesehatan anda." Entah kenapa, ia memiliki keberanian melawan Alfian. Mungkin karena ia melihat bagaimana pemuda itu merintih kesakitan hingga tidak ingin Alfian kembali jatuh sakit.


"Kamu tidak bisa memaksaku. Aku ingin rica-rica. Aku ingin makanan yang pedas."


"Kalau Tuan sakit lagi, bagaimana?"

__ADS_1


"Ya kamu harus ngerawat aku."


"Tuan Muda!" Nada bicara Desi mulai meninggi. "Kenapa keras kepala sekali sih? Badan Tuan itu berat. Susah mau bantu duduk hanya untuk minum obat. Mana nggak mau makan." Desi terpancing emosi. Ia ingat bagaimana sulitnya merawat Alfian. Ia bahkan sudah tidak ingat kalau ada Nyonya Rara yang sedang menatap keduanya bergantian dengan ekspresi takjub.


Selama ini, Alfian jarang berbicara dan berekspresi saat berinteraksi dengan perempuan di luar keluarga mereka. Namun kini di depannya, Alfian berbicara dengan lancar dan penuh ekspresi pada Desi.


"Siapa suruh kerempeng." Alfian tak mau kalah. Namun hatinya menghangat saat Desi mengomel. Tiba-tiba saja ia jadi suka dimarah gadis itu.


Desi kehabisan kata-kata, Alfian bersedekap dan tersenyum meremehkannya. Matanya mengerling nakal, menunggu perlawanan Desi selanjutnya.


"Nyonya." Akhirnya Desi menyerah.


Rara mengerjap sesaat. "Bunda mendukung Desi." Jawabnya singkat kemudian mengangkat pie, menyampirkan tasnya lalu berdiri. Ia berniat untuk mencari tempat bersantai yang baru.


"Aku tak mau menjadi obat nyamuk." Gumamnya pada diri sendiri.


Desi menatap Alfian dengan senyum kemenangan. "Tuan tidak boleh makan makanan yang pedas."


Alfian berdiri, mengitari kitchen island dan mendekati Desi. Matanya tajam menatap gadis itu.


Senyuman Desi hilang, ia menatap Alfian dengan takut dan bergerak mundur. Sampai akhirnya ia berhenti karena sudah menempel ke dinding.


Alfian menyeringai, ia menundukkan wajah agar sejajar dengan wajah Desi. "Kamu curang ya, minta pertolongan Bunda."


"Kan, demi kesehatan Tuan Muda." Cicit Desi. Meski takut, ia masih tidak mau mengalah.


Tangan Alfian terulur, ia menjepit bibir Desi dengan ibu jari dan telunjuknya. Kini bibir Desi jadi terlihat lucu.


"Bibir ini harus dihukum." Alfian berbicara dengan posisi yang sangat dekat.


Desi menggeleng, namun telapak tangan Alfian yang besar mampu menahan rahangnya agar ia tak berpaling.


"Kamu takut?"


Desi mengangguk pelan.


"Tadi berani marah aku di depan Bunda."


Desi hanya mengerjap-ngerjapkan matanya. Sungguh, ia tak sadar sudah begitu lancang mendebat Tuan Muda.


"Kemana keberanian kamu yang tadi?" Tanya Alfian dengan mata yang terus tertuju pada bibir ranum Desi.


Desi kembali menggeleng pelan. Dadanya berdebar tidak karu-karuan. Nafas Alfian yang hangat menyapu kulitnya, membuat gelenyar aneh menerjang tubuh.


"Tu…Tuan." Desi mencoba bicara meski suaranya terdengar aneh.


"Kenapa, hmmm?" Mata Alfian terlihat sayu. Ia menyerah, ia tak lagi bisa mengendalikan keinginannya. Bahkan ia sudah menempelkan keningnya pada kening Desi.


Namun belum sempat bibirnya menempel, suara bel terdengar. Alfian yang terkejut menjadi lengah, hingga Desi bisa menggeser tubuhnya dan menerobos.


Gerakan Desi yang menerobosnya dengan kasar membuat Alfian mengerjap. Ia berbalik menatap Desi hingga gadis itu berbelok. Alfian tertawa kecil dan menyugar rambutnya dengan kasar.


"Desi…Desi… Kamu selalu saja bisa buat aku lepas kendali." Ucapnya pelan. Kemudian melangkah mencari keberadaan Sang Bunda.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2