
Alfian menghela nafas mendengar ocehan Bunda. Ia seperti anak SMA yang ketahuan pacaran oleh orang tuanya padahal sudah dilarang.
"Pokoknya Bunda semakin yakin. Desi tidak boleh tinggal di apartemen lagi."
"Alfian janji nggak bakal macam-macam Bun." Baru sehari jadi pacar, masa iya harus pisah. Baru membayangkan saja kepala Alfian sudah berdenyut.
"Kalau begitu, Alfian juga akan pulang ke rumah utama."
"Tidak!" Jawab Rara tegas. Meski sebenarnya ia senang jika putranya bersedia untuk kembali tinggal bersama mereka. Namun itu dulu, sekarang sudah ada Desi. Ada anak gadis orang yang harus ia jaga.
Tadi saja ia kelabakan menjawab pertanyaan beruntun dari Pratiwi soal jatuhnya Desi. Apalagi kalau gadis itu tahu Desi menjalin hubungan dengan Alfian sedangkan sudah tinggal bersama. Tidak bisa Rara bayangkan. Pasti Pratiwi akan menarik Desi saat itu juga. Meskipun tinggal bersama dalam hal ini karena Desi bekerja sebagai ART di apartemen Alfian.
"Bunda nggak percaya. Kalau kamu tengah malam merayap ke kamarnya gimana?"
"Nggak mungkinlah Bun aku merayap ke kamarnya. Kan aku manusia, bukan buaya."
"Kamu kan buaya darat spesialis daging tua."
Mata Alfian membola dengan mulut menganga. Sementara Desi sudah menutup mulut dengan tangannya.
"Sudah, Bunda tidak mau dibantah. Lebih baik sekarang kamu makan, terus pulang." Ujar Rara sambil mengatur kotak bekal yang ia bawa dari rumah.
🍱🍱🍱
Desi termenung, memikirkan bagaimana nasibnya ke depan.
"Kamu memikirkan apa?" Tanya Rara sambil meletakkan buku yang ia baca.
Desi tersenyum canggung. "Saya sedang berpikir Nyonya. Kalau saya tinggal di rumah utama, tugas saya apa? Karena waktu itu saya lihat sudah ada banyak pembantu di rumah Nyonya."
Rara beranjak dari tempatnya duduk dan menghampiri brankar Desi. "Sebelum menjawab pertanyaan kamu, apa boleh saya bertanya?"
"Iya Nyonya, silahkan."
"Apa kamu terpaksa menerima Alfian sebagai kekasih?"
Desi terdiam sesaat dan pipinya merona. Diam-diam Rara tersenyum melihat perubahan wajah gadis itu.
"Maaf Nyonya, saya juga mempunyai perasaan yang sama dengan Tuan Muda." Desi menggigit bibir bawahnya. "Saya tahu itu tidak pantas. Oleh sebab itu saya selalu menekan rasa itu."
"Sejak kapan?"
Desi terdiam, ia mencoba mengingat-ingat. "Mungkin sejak pulang dari rumah utama. Awalnya hanya kagum. Jadi saya juga tidak ingat pasti kapan perasaan itu berkembang lebih."
Desi menunduk, jarinya bertaut. Ia cemas. "Maaf Nyonya. Karena sudah lancang memiliki perasaan lain terhadap Tuan Muda."
Tangan Rara terulur, mengusap tangan Desi. "Jangan meminta maaf. Cinta kalian bukan sebuah kesalahan." Ujar Rara seraya mengembangkan senyum lembut. "Sekarang istirahat. Jangan sampai muncul penyakit lain, akhirnya besok batal keluar dari tempat ini."
Desi tersenyum lega. "Iya Nyonya, terima kasih."
Rara mengernyit, rasanya masih ada yang harus dibenahi. Namun Rara tidak mau terburu-buru. Desi masih harus istirahat.
🌸🌸🌸
Desi duduk di kamar yang disiapkan untuknya di kediaman Adhyaksa. Lebih luas dan lebih mewah dari kamar sebelumnya di apartemen. Sebab ia menempati kamar tamu.
Desi menarik nafas yang terasa berat. Ia sudah meminta untuk tinggal bersama pelayan lain di rumah itu, namun ditolak mentah-mentah oleh Nyonya Rara.
__ADS_1
Semua pekerja di rumah keluarga Adhyaksa menempati sebuah paviliun yang berada di bagian belakang rumah. Kira-kira tiga ratus meter dari rumah utama.
"Suka dengan kamarnya?" Tanya Rara setelah ia mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Ini terlalu berlebihan untuk saya, Nyonya." Jawab Desi dengan senyum canggung.
Rara tersenyum, ia tahu ketidaknyamanan yang dirasakan Desi. "Lama-lama kamu akan terbiasa."
Rara duduk di sebuah kursi sudut yang terletak di depan Desi. "Semalam kamu bertanya tentang tugas kamu kan."
"Iya Nyonya."
"Apa yang bisa kamu lakukan selain memasak dan berbenah?"
"Saya bisa merawat rambut dan tubuh Nyonya. Waktu SMA saya pernah kerja sambilan di salon untuk kalangan menengah ke atas."
Mata Rara berbinar. "Kamu pernah ikut pelatihan?"
Desi mengangguk. "Iya Nyonya."
Rara bertepuk tangan. "Senangnya." Wajah Rara terlihat sangat antusias. "Jadi kamu sudah tahu kan produk yang bagus?"
"Iya Nyonya."
"Ok, besok kita belanja." Ujar Rara dengan kilatan bahagia di matanya.
Desi tersenyum simpul. Reaksi Rara sama seperti Nayra dan Maria saat tahu Desi bisa memberikan pelayanan seperti di salon-salon kecantikan. Bahkan ia mengajari keduanya hingga setiap akhir pekan atau saat senggang, mereka bisa bergantian melakukan perawatan tubuh.
"O iya, ini gaji pertama kamu." Rara menyerahkan sebuah amplop coklat. Ternyata isinya adalah buku tabungan. "Besok sekalian kita akan buat kartu debit."
"Terima kasih Nyonya."
Desi mengerjap beberapa kali. Ia tidak mempunyai ide apapun di kepalanya.
"Kalau kamu merasa sungkan memanggil Bunda, kamu bisa panggil Tante." Saran Rara.
Desi terdiam sejenak. "Baik Nyo eh Tante."
Rara tertawa kecil. "Kalau begitu kamu istirahat dulu." Rara berdiri dan akan pergi. "Alfian?"
Ternyata Alfian sudah berdiri di ambang pintu menatap interaksi Desi dan Rara.
"Kamu dilarang masuk." Ucap Rara saat Alfian menggerakkan kaki kanannya hendak masuk.
"Bun."
"Kalau mau ketemu Desi, harus di luar kamar." Ucap Rara tegas.
Alfian menatap Desi dengan memelas.
"Jangan luluh Desi." Rara memperingatkan.
"Ya ampun Bunda." Alfian frustasi.
Rara dan Desi mendekat ke pintu.
"Langsung kunci kamarnya ya Des." Pesan Bunda Rara.
__ADS_1
"Iya Nyo eh Tante."
Alfian membelalak tak percaya. "Honey, kamu tega sekali sama aku."
Desi tertawa kecil bahkan menjulurkan sedikit lidahnya mengejek Alfian. Melihat itu Alfian terkesiap, ia benar-benar gemas.
Namun pada akhirnya Alfian hanya bisa pasrah saat Rara menariknya menjauh dari kamar Desi.
🌸🌸🌸
Desi mengusap air mata yang mengalir. Bukan air mata kesedihan melainkan air mata bahagia. Layarnya dipenuhi dengan senyum bahagia serta tangis haru Nayra dan Maria yang baru saja menyelesaikan ujian skripsi mereka. Saat ini keduanya sudah memakai selempang yang bertuliskan nama lengkap dengan gelar yang mereka sandang.
"Selamat ya buat kalian berdua. Akhirnya, perjuangan selama ini tidak sia-sia."
Kalimat yang diucapkan Desi yang dijawab anggukan oleh keduanya. Mereka juga sibuk mengusap air mata masing-masing.
Desi menarik nafas dalam-dalam. Dua minggu lagi adalah wisuda, jadi meskipun ia sudah memiliki uang untuk membayar ujian skripsi, ia tetap tidak bisa mengikuti ujian sebab pendaftaran sudah ditutup. Desi tersenyum, ia tidak ingin menyalahkan siapapun lagi. Ia bisa menerima jika yang terjadi memang takdir yang harus ia jalani.
"Kalau lo ujian untuk wisuda berikutnya, gue pasti datang." Ucap Nayra.
"Iya, saya juga." Maria menambahkan.
"Terima kasih ya." Desi merasakan kehangatan di dalam dadanya.
"Eh, habis wisuda dan kalau gue udah balik ke kota J. Kita ketemuan ya." Nayra berbinar.
"Ikuuuutttt." Rengek Maria.
"Tentu." Ucap Nayra penuh semangat.
Desi mengangguk dengan cepat. "Ide bagus. Kita rayakan wisuda kalian berdua di sini."
"Yeeaayyyy!!!" Nayra dan Maria bersorak kegirangan.
Tak lama kemudian terdengar pintu kamar Desi diketuk, disusul suara Nyonya Rara.
"Desi."
Desi mengerjap. "Eh, nanti lagi ya. Aku dipanggil."
"Ok ok." Sahut Maria.
"Bye." Nayra melambaikan tangannya.
Desi meletakkan gawainya dan menyahut. "Iya Tante." Bergegas ia membuka pintu.
"Satu jam lagi kita berangkat ya." Ucap Nyonya Rara begitu Desi membuka pintu.
"Iya Tante."
Desi hampir saja lupa dengan rencana mereka untuk membeli produk perawatan tubuh.
Dari pagi ia ikut membantu mengatur sebuah kamar di lantai tiga untuk dijadikan tempat perawatan pribadi Rara Adhyaksa.
Desi bersemangat, karena sebelumnya ia sudah cemas. Ia tidak mau tinggal tanpa memiliki pekerjaan apapun di rumah besar tersebut. Dan kehadirannya juga disambut antusias oleh pelayan wanita. Sebab mereka juga diberikan kesempatan oleh Nyonya Rara untuk melakukan perawatan.
Dengan antusias mereka memberondong Desi dengan pertanyaan seputar produk yang ramah di kantong tapi tetap memiliki kualitas yang baik. Meski kewalahan, tapi Desi dengan senang hati menanggapi dan menjawab setiap pertanyaan yang ia ketahui jawabannya.
__ADS_1
...****************...
Jangan lupa Vote, Like dan Hadiahnya ya❤️