
Seorang pemuda duduk dengan santai di teras rumahnya. Tampaknya ia sedang asyik bertukar pesan dengan seseorang. Sesekali ia menyeruput kopi pahit yang ada di sebelahnya.
Namun aktivitasnya segera terhenti setelah seorang pria paruh baya duduk di sebuah kursi yang ada di seberang meja tepat di sampingnya. Pria itu terlihat kesal.
"Lebih baik kamu mencari gadis untuk dinikahi." Ujar pria tersebut. " Bapak tahu, bukan Desi yang menggoda kamu. Benar kan Bagas?"
Saudara tiri Desi itu tidak segera menjawab. Ia meletakkan smartphone-nya di meja dengan tenang.
"Saya cuma mau Desi." Jawab pemuda itu datar. Dengan berani ia menatap mata Bapaknya.
"Dia itu adik kamu Gas. Jangan gila kamu!" Nada bicara Wiji sedikit meninggi.
"Setiap dia pulang ke rumah, kamu selalu menggodanya. Membuat dia tidak betah dan pergi lagi." Wiji menekan suaranya. "Kamu mengacaukan renca….. Ehmmm! Maksud Bapak, kamu membuat Ibu sedih karena harus pisah lagi sama anak gadisnya."
Satu alis Bagas terangkat, dan hal itu membuat Wiji kembali berdehem. Ia bahkan memperbaiki posisi duduknya yang dirasa kurang nyaman. Entah kursinya yang membuat tidak nyaman, atau tatapan menyelidik Bagas.
"Ah sudahlah!" Pak Wiji mengibaskan tangannya di depan wajah. "Bapak mau tidur." Ujar pria itu kemudian kembali masuk ke dalam rumah.
Bagas hanya tersenyum sinis menatap kepergian Bapaknya. Pemuda itu menarik nafas dalam-dalam sambil menatap langit malam.
☕☕☕
Desi berdiri di tepi balkon sambil berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon.
"Jadi gitu Mia. Aku belum bisa kembali karena harus ngumpulin modal untuk kehidupan aku sebelum dapat pekerjaan. Aku nggak mau pulang lagi ke kampung."
"Tapi sebentar lagi kan sidang. Kalau ko tra kembali, ko harus tunggu jadwal sidang di semester depan (kalau kamu nggak kembali, kamu harus tunggu jadwal sidang di semester depan)."
"Tenang, aku usahakan bisa datang sebelum jadwal sidang kita." Desi terlihat penuh keyakinan. Ia tersenyum dan membalik tubuh menghadap ke kamarnya. Disaat itulah ekor matanya menangkap pergerakan di gorden jendela ruang kerja Alfian.
Tubuh Desi menegang, ia lupa kalau balkon kamarnya ini memanjang sampai ke ruang kerja Tuan Muda.
"Maria… Maria." Bisik Desi dengan panik.
"Hmmm, kenapa?"
"Aku tutup dulu ya, aku ada urusan dikit."
"Urusan apa malam-malam begini? Bilang di ko pu Tuan Muda itu, jang bikin ART macam budak (bilang sama Tuan Muda-mu, jangan buat ART seperti budak). Orang perlu istirahat juga."
"Iya…iya. Ini bukan soal Tuan Muda kok."
"Bukan karena dia? Baru kenapa ko bisik-bisik? Jang ko tipu saya (kenapa kamu bisik-bisik? Kamu jangan menipuku)."
__ADS_1
Terkadang Desi lupa, tak mudah membohongi Maria, gadis timur itu begitu peka. Apalagi mereka sudah bersama cukup lama.
"Iya deh, besok aku jelasin. Ok? Bye."
"Bye."
Desi menghela nafas dan bergegas masuk ke dalam kamar. Ia menjadi gelisah saat melihat gorden yang bergerak tadi.
Sedangkan di dalam ruang kerja, Alfian menghentikan pekerjaannya saat mendengar Desi berbicara. Ia penasaran dan mengintip. Ternyata Desi sedang menelepon dan berdiri di balkon pada area yang lebih dekat ke ruang kerja.
Alfian tidak bisa mendengar begitu jelas percakapan Desi. Namun ia sempat mendengar beberapa potong kata dengan cukup jelas.
"Dia mau datang sebelum jadwal sidang. Sidang apa? Tadi bilangnya jadwal sidang kita. Sidang perceraian? Berarti Desi masih muda sudah menikah, terus sebentar lagi akan cerai. Apa begitu?"
Alfian sibuk dengan asumsinya sendiri hanya berdasarkan penggalan kalimat yang ia dengar.
"Berapa ya umurnya Desi? Apa dia beneran sudah menikah? Kalau sudah menikah, sudah punya anak atau belum? Terus kalau dia kerja disini, anaknya sama siapa? Oh, mungkin sama neneknya." Alfian memijat pelipisnya. "Aku penasaran."
Mmm??? Penasaran??? Apaan sih!!!
Alfian memukul dahinya sendiri.
Ia memutuskan menyudahi pekerjaannya. Alfian keluar dari ruang kerja dan menuju dapur. Dan disaat yang sama, Desi berjalan dari arah dapur hendak keluar.
Desi berjingkat, ia terkejut dengan pertanyaan yang begitu tiba-tiba. "Saya Desi, Tuan."
Kening Alfian berkerut. "Aku tahu. Maksudnya, siapa kamu sebenarnya?"
"Saya Desi, Tuan. Desi Sasmita." Desi tetap pada jawabannya. Memangnya apa yang harus ia jawab? Dia memang Desi, bukan agen dengan nama palsu yang sedang menyamar jadi pembantu.
Alfian terdiam, sepertinya ia sudah salah kalimat tanya. Saat akan kembali berbicara, Alfian merasakan kepalanya kembali sakit. Dan sudah yang keempat kalinya sepanjang hari ini. Jadi rasa sakit itu sangat mengganggu.
Alfian menunduk, ia tetap diam menahan sakit. Dan setelah rasa sakit itu reda, ia segera mengambil gelas yang ada di dekat dispenser dan segera minum.
"Masih ada yang dikerjakan?" Tanyanya pada Desi yang bergeming di depannya.
"Tidak Tuan."
"Kembalilah ke kamar."
Desi mengangguk dengan senyum yang mengembang. Saat melewati Alfian, ia melangkah dengan sedikit membungkuk.
🌸🌸🌸
__ADS_1
Seperti biasa, Desi bangun saat hari masih gelap. Ia langsung menuju ruang tamu untuk membereskan tempat tersebut. Digunakan atau tidak, Desi akan tetap merapikan ruangan itu.
Dia akan memulai dari area menonton televisi. Ketika ia tiba, Desi terkejut karena Tuan Muda sedang tidur di sofa santai itu.
Desi mundur, ia tidak mungkin membuat keributan. Ia memutuskan untuk ke dapur dan mengerjakan pekerjaan lainnya.
🛌🛌🛌
Desi kembali sambil membawa secangkir air gula aren hangat. Ia tidak percaya, Tuan Muda masih di posisi yang sama sejak ia pergi satu jam yang lalu.
Desi melirik jam dinding. Jika tidak dibangunkan, Alfian akan terlambat ke kantor.
"Kalau aku bangunin, nanti di bilang lancang pegang-pegang. Kalau nggak dibangunin nanti Tuan Muda terlambat ke kantor." Desi bingung harus berbuat apa.
Akhirnya ia memutuskan untuk membangunkan Alfian. "Pasrah saja deh. Maju mati, nggak maju juga mati."
Desi menggunakan telunjuknya untuk mengguncang kaki Alfian.
"Tuan Muda, bangun Tuan. Nanti terlambat ke kantor."
Desi terus menggerakkan kaki Alfian. Namun karena tak kunjung bangun, Desi merubah tempat yang ia pegang. Kali ini Desi beralih ke tangan Alfian.
"Tuan Muda, ayo bangun."
"Hmmm." Alfian hanya bergumam.
Desi mengamati wajah Alfian, seperti ada yang aneh. Saat Desi kembali menyentuh tangan dengan jarinya, ia kembali merasakan panas di kulit tubuh Alfian.
Desi mengernyit, akhirnya ia memutuskan untuk menggunakan dua jari yang lain lagi guna membantu jari telunjuk yang ia gunakan membangunkan Tuan Muda. Dan jari yang beruntung adalah ibu jari dan jari tengah.
Begitu jarinya menyentuh kulit tangan Alfian, Desi terperanjat. "Panas."
Akhirnya ia memberanikan diri meraba bagian leher Alfian dengan punggung tangannya.
"Ya ampun, panas banget." Desi benar-benar bingung sekarang. "Tuan…bangun Tuan."
Alfian merespon, namun matanya masih tertutup. Pemuda itu bergerak, kemudian menangkap tangan Desi dan menarik gadis itu. Karena tanpa aba-aba, tubuh Desi yang tidak siap akhirnya limbung. Desi jatuh dengan sebagian tubuh menindih Alfian.
Oh My God
...****************...
__ADS_1