Sepertinya, Aku Jatuh Cinta

Sepertinya, Aku Jatuh Cinta
Ch. 21


__ADS_3

Alfian menatap Desi yang sedang menata makanannya. Gadis itu bersikap seperti biasa, bekerja dalam diam. Namun malam ini, terasa lain bagi Alfian. Suasana di dapur terlalu mencekam baginya.


"Desi."


"Saya Tuan."


Alfian menatap wajah Desi yang sedang menundukkan pandangan.


"Maaf."


Desi menatap sejenak kemudian kembali menundukkan pandangan. "Untuk apa Tuan?"


"Karena sudah memarahimu tanpa sebab."


"Tidak perlu Tuan. Penyebab Tuan marah karena melihat saya bersantai. Jadi tidak perlu meminta maaf. Kalau tidak ada lagi, saya permisi Tuan Muda."


Desi memperlihatkan keengganan untuk berbicara lebih banyak lagi. Akhirnya Alfian mengangguk setelah beberapa saat menatap Desi.


Ternyata gadis itu tidak pergi dari dapur. Ia berdiri di balik kitchen island menunggu jika Alfian membutuhkan sesuatu.


Alfian mulai makan dengan perasaan bersalah. Namun setelah kedatangan Nyonya Rara untuk menemaninya makan, suasana canggung yang dirasa Alfian bisa sedikit berkurang.


πŸ§†πŸ§†πŸ§†


Bunyi alarm membuat Alfian terjaga. Ia menggeliat, tak langsung bangun. Semalaman Alfian dilanda perasaan bersalah yang membuatnya tak nyaman. Biasanya tidak pernah seperti itu. Alfian akan menganggap hal yang wajar jika marah, entah dia bersalah atau tidak. Ia merasa tidak perlu untuk menjelaskan.


Namun jika berhadapan dengan Desi. Semuanya akan berubah. Dan semua itu terjadi di luar kendali Alfian.


Hhhhhhhhh


Ia begitu bingung harus bagaimana. Dengan pikiran yang kacau, Alfian membuka pintu dan keluar.


"Aaakkkhhhhh!!!!!" Desi menjerit sambil berbalik.


Alfian menatapnya bingung. "Ada apa?" Ia menoleh ke sekelilingnya dengan bingung. Saat menatap tubuhnya, ia menyadari hanya memakai bokser.


Dengan satu gerakan Alfian masuk dan menutup pintu dengan kencang.


"Bodoh! Bodoh! Bodoh!" Rutuk Alfian sambil memakai baju. "Belum selesai yang satu, ada lagi yang masalah yang lain."


Alfian keluar kamar dengan keadaan yang lebih kacau lagi. Akhir pekan yang buruk. Keluhnya dalam hati.


"Desi."


Desi yang sedang memanggang roti di teflon menoleh pada sumber suara. Wajahnya merona malu, namun ia menguatkan diri.


"Selamat pagi Tuan Muda." Desi sukses menyembunyikan kegugupannya. Meski wajahnya tak dapat berbohong.


Alfian terpana. Manis sekali.


"Apa?" Desi bingung.


"Eh. Apa?" Alfian balik bertanya.


"Tuan Muda mengucapkan sesuatu. Tapi saya kurang jelas mendengarnya."


Alfian membeliak. Ternyata ia menyuarakan yang ia pikirkan, bukannya bergumam dalam hati.

__ADS_1


"Tidak, tidak ada." Alfian memasang ekspresi datar. Ia melangkah masuk ke dalam dapur dan duduk di kursi kitchen island.


Tubuh Desi terlihat sedikit berjingkat saat berbalik. Ia terkejut karena biasanya Alfian akan duduk menunggu di meja makan.


Desi meletakkan sarapan Alfian dan menyodorkannya ke depan Tuan Muda.


"Sarapannya Tuan."


"Terima kasih." Alfian menatap roti dan sosis panggang itu sejenak. Kemudian kembali menatap Desi.


"Desi. Mengenai semalam."


"Iya Tuan."


Tatapan Desi yang teduh membuat hati Alfian berdesir.


"Ehm!" Ia berdehem untuk menyembunyikan kegugupan yang tiba-tiba muncul. "Maaf sudah menyakiti hatimu."


Desi tersenyum tipis. "Tuan Muda, sungguh. Itu tidak perlu. Tapi, terima kasih. Tuan Muda tahu saya tidak malas-malasan bekerja dan tidak memecat saya."


Desi sanggup menelan rasa sakit dan kecewa demi masa depannya. Sejak libur semester satu, ia sudah mengambil kerja sambilan sebagai asisten rumah tangga. Majikan yang salah paham dan marah-marah merupakan hal biasa baginya.


Temperamen majikan seperti Alfian bukanlah hal baru bagi Desi. Bahkan ia pernah menghadapi orang yang lebih emosional dan lebih merepotkan. Namun Desi berhasil mengatasi semua itu.


"Benarkah begitu?"


Desi mengangguk tegas. "Iya Tuan, benar."


Alfian berfikir sejenak.


"Kalau kau memerlukan teman untuk bercerita, aku bersedia menjadi pendengar." Tawar Alfian.


Alfian terpana, baru kali ini ia melihat Desi tertawa. Tawa Desi menular, Alfian tersenyum lebar.


"Aku bisa melakukan itu disini, supaya kamu betah bekerja."


Tawa Desi berhenti, ia tersenyum. "Tidak perlu Tuan, terima kasih."


Sebenarnya Alfian kecewa dengan penolakan Desi. Ia ingin berbincang lebih lama dengan gadis ini. Namun karena Desi menolaknya sambil tersenyum manis, rasa kecewa Alfian menguap seketika itu juga.


🌸🌸🌸


Rama memasuki kost Sang adik dengan langkah gontai. Ia sudah bertemu dengan pemilik kost untuk meminta izin masuk. Dengan senang hati pemilik kost mengizinkan. Sebab ia sudah mengenal Rama.


"Kamar Nay yang ada hiasan gantung warna merah." Gumam Rama pelan.


Orang tuanya meminta Rama membawa pulang baju kotor Sang adik dan membawa yang baru ke rumah sakit. Rama tidak bisa bertanya pada penghuni lain untuk memastikan kamar, karena banyak diantara penghuninya sudah berangkat ke kampus.


"Nah, itu dia." Rama membuka pintu dengan gantungan berwarna merah. "Gelap." Ucapnya lagi saat sudah masuk. Ia segera menutup pintu, karena sudah menjadi kebiasaannya.


Rama bingung mencari saklar. Ketika ia menemukannya, tiba-tiba terdengar suara dari arah kasur. Seperti sedang ada orang yang menggeliat.


Rama memalingkan wajah ke arah bayangan tempat tidur. "Ada orang disini? Nay tinggal sama siapa?" Gumam Rama pelan.


Karena penasaran, Rama malah mendekat, bukannya lebih dulu menekan saklar.


Sosok dalam kegelapan bergerak, sepertinya duduk. Dan tiba-tiba sebuah cahaya dari smartphone menerangi wajah sosok tersebut.

__ADS_1


"Aaaaaa!!! Setaaannnn!!!" Rama terkejut karena tiba-tiba terlihat wajah kecoklatan dengan rambut ikal yang berantakan. Apalagi cahaya dari gawai hanya menyorot pada bagian wajah.


"Huuaaaa!!!!" Sosok yang ternyata perempuan ikut menjerit bahkan gawai yang ada di tangannya terjatuh.


"Pencuri kurang ajar!" Teriak gadis itu lagi. Dengan cepat ia berdiri dan menyerang Rama. Dalam kegelapan tendangan kakinya tidak meleset, karena ia dengan cepat menyesuaikan matanya.


"Aduhh!!!" Rama terhuyung ke belakang. Tangannya yang terlempar ke arah dinding tanpa sengaja menekan saklar.


Lampu menyala. Rama dan gadis itu sama-sama refleks menutup mata. Tidak lama kemudian Rama lebih dulu membuka mata saat dirasa cahaya lampu tak lagi menyakiti.


Rama tertegun, di depannya seorang gadis bertubuh ramping dengan lekuk yang aduhai. Kulitnya eksotis dilengkapi dengan rambut ikal.


Cantik, seksi. Gumam Rama dalam hatinya. Namun ia segera tersadar saat gadis itu menurunkan tangannya yang menutupi mata.


"Siapa kamu?!"


Sayangnya pertanyaan Rama dijawab dengan sebuah pukulan yang segera ia tangkis. Gadis itu pun menyerang menggunakan kakinya yang jenjang.


Gila. Body bagus, jago bela diri. Selera gue banget.


Rama terus menangkis serangan demi serangan sambil mengagumi gadis di depannya. Sebuah pukulan datang dari arah kiri dan Rama menangkap tangan gadis itu dengan cepat. Dalam satu gerakan Rama berhasil menghentikan gerakan gadis itu dengan membalik tubuh penyerang. Membuat kedua tangan memeluk diri sendiri dan Rama memeluknya dari belakang.


"Siapa kamu?!" Rama kembali bertanya.


"Pencuri sialan! Tanya-tanya segala. Ini kamar saya!" Ucapnya dengan kesal, kakinya bahkan berusaha menginjak kaki Rama.


Namun dengan mudah Rama berkelit, keningnya mengernyit. "Ini kan kamar Nay."


"Kamar Nay yang depan! Lepas!"


Rama terhenyak, ia telah salah kamar. "Aku akan lepasin kamu, dengan syarat. Jangan serang aku lagi karena aku bukan pencuri. Masa iya mau nyuri pakek nanya kamu siapa."


Gadis dalam dekapan Rama berhenti bergerak. "Jadi, siapa kamu?" Ia balik bertanya.


"Aku kakaknya Nayra." Jawab Rama sambil menghirup dalam-dalam aroma tubuh gadis dalam pelukannya. Matanya bahkan terpejam.


"Bohong."


"Tanya saja ibu kost. Saya sudah minta izin sebelum masuk."


Gadis itu menghela nafas kasar. "Saya Maria, teman Nayra. Tolong lepaskan saya, tadi abang sudah janji."


Rama membuka mata, ia terkejut dengan panggilan gadis itu kepadanya. Rama tersenyum, ia suka dengan panggilan yang disematkan Maria untuknya. Rasa suka Rama terhadap Maria semakin bertambah.


Rama melepas Maria dan membalikkan badan. "Jadi kamar Nayra yang depan. Tadi katanya hiasan gantung warna merah."


"Hiasan gantung milik saya warna merah maroon. Punya Nayra warna merah."


"Haaa?" Rama hendak menoleh namun mengurungkan niatnya. Ternyata ia melupakan kata "maroon".


Maria pun bingung kenapa Rama membelakanginya.


"Ehmmm! Maaf ya, sudah masuk kamar kamu." Rama segera bergerak menuju pintu dan membukanya. "Lain kali kalau tidur dengan baju seksi, jangan lupa kunci pintu." Imbuh Rama kemudian keluar dan menutup pintu.


Dari balik pintu Rama bisa mendengar Maria menjerit tertahan. Pemuda itu tersenyum. Maria terlalu fokus menyerang dirinya sampai lupa hanya memakai hot pants dan dipadu dengan crop tee yang memamerkan sedikit perutnya.


Maria, nama yang cantik. Seperti orangnya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2