Sepertinya, Aku Jatuh Cinta

Sepertinya, Aku Jatuh Cinta
Ch. 26


__ADS_3

Bunyi pesan masuk membuat Desi segera membuka kunci layar.


...Tuan Muda...


Dimana?


^^^Masih di jalan, Tuan.^^^


PAP


Kening Desi berkerut. Bagaimana ia akan mengambil foto. Desi mencuri-curi pandang ke kursi penumpang belakang, tampak Nyonya Rara sedang asyik membuka-buka majalah.


Desi sedikit mengangkat smartphone-nya dan mengambil foto Pak Jaya, Sang Supir, yang sedang fokus melihat ke jalan raya. Kemudian ia mengirim foto tersebut ke Alfian.


...Tuan Muda...


Kok Pak Jaya? Harusnya foto kamu.


^^^Maaf Tuan Muda.^^^


Desi kembali mengambil foto menggunakan kamera depan. Kali ini ia mengangkat gawai sedikit lebih tinggi. Hingga wajahnya kelihatan. Namun Desi sengaja hanya memperlihatkan setengah wajahnya. Dan di belakang terlihat Nyonya Rara yang sedang membaca majalah.


Di kantor, Alfian menunggu balasan Desi sambil membaca laporan keuangan. Ketika bunyi pesan masuk terdengar dengan cepat tangannya menyambar alat komunikasi miliknya. Ketika foto terbuka, kening Alfian berkerut. Harapannya melihat wajah Desi pupus sudah. Sebab gadis itu hanya memperlihatkan separuh dari wajahnya.


Bukan, bukan separuh tapi sepertiga. Karena hidungnya tidak terlihat sedikitpun, hanya setengah dari mata yang nampak. Selebihnya adalah sandaran kursi dan Bunda yang berada di belakang.


Hhhhhhh


Alfian menghela nafas. Ia meletakkan smartphone di tangannya dengan lesu.


Sedangkan di dalam mobil Nyonya Rara, Desi menarik nafas lega karena Tuan Muda tidak lagi mengirimkan pesan.


Mobil tiba di sebuah pasar tradisional. Desi sedikit terkejut, ternyata Nyonya Rara bersedia datang ke tempat itu. Bukannya ke swalayan yang juga menjual bahan makanan segar. Bahkan mobil mereka di parkir agak jauh hingga tidak menarik perhatian.


Sebelum turun, Desi melirik jam tangannya. Belum pukul delapan, jadi matahari belum terlalu terik untuk berjalan kaki. Pantas saja Nyonya Rara datang pagi-pagi sekali dan memaksa Alfian berangkat lebih cepat dari biasanya. Ternyata karena wanita tersebut sudah terbiasa memarkir kendaraan jauh dari pasar.


Desi mengikuti Nyonya Rara dengan patuh. Ia baru tahu kalau majikannya itu memiliki beberapa tempat berlangganan bahan makanan.


Saat sedang memilih-milih, tiba-tiba bunyi notifikasi terdengar. Desi dengan cepat merogoh tas kecilnya. Alfian sudah mewanti-wantinya sebelum berangkat. Desi tidak boleh lama membalas pesan, jika tidak akan mendapat hukuman.


...Tuan Muda...


Dimana?


^^^Di pasar, Tuan.^^^


PAP


Desi mengambil foto dengan cepat hingga kualitas fotonya terlihat tidak fokus. Kemudian dengan cepat ia mengirimkan foto tersebut kepada Alfian.


...Tuan Muda...


Ulangi, hasilnya blur.


Desi.


Desi.

__ADS_1


Alfian kesal, pesannya tidak segera dibalas oleh Desi.


"Mungkin dia sedang membantu Bunda. Ok, aku akan menunggu beberapa menit lagi." Gumam Alfian pelan.


Beberapa menit kemudian sebuah foto masuk, tepat saat Alfian sedang mengetik pesan yang akan ia kirim pada Desi. Dan kembali Alfian menelan kecewa karena kali ini hanya terlihat sedikit tubuh Desi dengan latar belakang berbeda. Sepertinya mereka sudah berpindah tempat.


"Apakah dia tidak bisa mengambil foto dengan benar?" Ujar Alfian menahan kesal. "Gadis ini benar-benar menguji kesabaranku."


Alfian meletakkan gawai di meja dengan kesal. Ia mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuknya. Menimbang-nimbang untuk melakukan video call. Terdengar suara notifikasi. Dahi Alfian mengernyit saat melihat tulisan pengirim pesan adalah Bunda.


Ia segera membuka pesan tersebut. Bunda mengirim sebuah foto. Alfian segera membukanya dan seketika itu juga matanya membulat sempurna.


Di dalam foto itu terlihat Desi sedang tersenyum lebar pada seorang pemuda yang memegang seekor ayam yang masih hidup. Dan pemuda itu pun tersenyum manis pada Desi. Meski penampilannya sederhana dan sedikit kotor, Alfian mengakui kalau pemuda itu terlihat manis.


Kekesalannya memuncak. Ia segera menelepon Bunda. Alfian berdiri dari kursinya dan menatap ke luar melalui dinding kaca. Namun Bunda tak segera mengangkat teleponnya hingga batas waktu panggil. Alfian kemudian menelepon Desi.


Tak lama kemudian telepon Alfian diangkat dan diubah ke mode video. Betapa terkejutnya Alfian karena layar gawainya dipenuhi dengan wajah Bunda.


"Eh Bun…."


"Ganggu Desi sekali lagi, Bunda jodohin beneran Desi sama Si tukang ayam tadi!" Hardik Bunda dengan suara penuh penekanan dan hampir berbisik.


Alfian tersentak. "Iy…iya Bun. Maaf."


Dengan berat hati Alfian memutus sambungan teleponnya. Ternyata Bunda sudah memegang smartphone Desi.


"Terima kasih Nyonya." Ucap Desi setelah Rara mengembalikan gawai miliknya.


"Lain kali kalau Alfian seperti itu lagi, kamu langsung bilang saja ke saya. Supaya saya tidak kesal karena kamu bukannya fokus pilih sayur malah foto-foto." Tegur Nyonya Rara dengan suara pelan bahkan di dekat telinga Desi agar tidak di dengar orang lain.


"Baik, Nyonya."


Namun sedetik kemudian ia menutup mulutnya lalu menoleh pada Desi. Dan Rara bisa bernafas lega karena Desi sedang sibuk memilih buah jeruk. Artinya Desi tidak mendengar sungutan Rara.


🍊🍊🍊


"Masuk!" Seru Alfian begitu mendengar pintu ruangannya diketuk. Terdengar suara pintu dibuka, namun Alfian tidak mengangkat wajahnya dari kertas-kertas di depannya.


"Sudah waktunya makan, Fian."


Suara Bunda Rara membuat Alfian sedikit menjengit.


"Eh, Bunda."


"Selamat siang, Tuan Muda." Sapa Desi yang berada di belakang Nyonya Rara.


Alfian tertegun. Desi mengenakan dress berbahan rayon yang panjangnya tepat di atas lutut. Dipadu dengan flat shoes, penampilan Desi terlihat berbeda dan manis. Bahkan Bunda Rara pun sudah berganti baju. Artinya Bunda sudah merencanakan ini sebelumnya. Membawa Desi ke pasar kemudian mengajaknya ke kantor.


"Jangan lihat Desi terus. Ayo makan dulu." Tegur Bunda Rara.


Dengan cekatan Desi menata makanan yang ia bawa. Bahkan mengambil nasi beserta sayur dan lauk untuk disantap Alfian.


"Terima kasih." Ucap Alfian.


"Sama-sama Tuan."


Saat Desi hendak mengisi piring Rara, wanita tersebut menolak.

__ADS_1


"Sudah, saya bisa sendiri. Kamu juga makan, ayo." Tolak Rara sambil mulai mengambil makanannya sendiri.


"Saya nanti saja, Nyonya." Desi berusaha untuk menolak.


"Tidak, kamu harus makan sekarang bersama kami. Karena perjalanan kita masih panjang."


"Bunda mau bawa Desi kemana lagi? Kasihan nanti Desi capek Bun."


"Kasihan Desi atau???" Nyonya Rara sengaja menggantung kalimatnya.


Alfian menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tahu ia akan menjadi sasaran dari sindiran Bunda setelah ketahuan terus memantau Desi.


"Ikannya enak." Puji Alfian. Maksud hati sekalian mengalihkan pembicaraan.


"Enak karena kami memilih bahan terbaik. Seandainya tidak terganggu waktu memilih, mungkin akan lebih enak lagi." Sahut Bunda, masih lengkap dengan sindiran.


Desi yang sedang makan sambil menunduk diam-diam mengulum senyum. Ia teringat ekspresi ketika Nyonya Rara membaca pesan Alfian. Wanita itu terlihat begitu kesal dengan permintaan PAP Alfian. Jadi wajar jika sekarang Alfian terus disindir oleh Sang Bunda.


"Maaf Bunda. Lain kali aku tidak akan mengganggu acara kalian berdua." Ujar Alfian, akhirnya mengaku salah dan meminta maaf. Demi kesehatan telinganya, lebih baik cepat meminta maaf. Jika tidak, sindirian demi sindiran akan terus terucap bagai mantra.


"Baguslah kalau begitu." Nyonya Rara tersenyum senang. Begitu pun Desi. Namun ia tidak bisa terang-terangan tersenyum seperti Nyonya Rara. Ia tahu batasan meski majikan memperlakukannya dengan baik.


🌸🌸🌸


Desi merapikan peralatan makan setelah semuanya selesai menikmati makan siang. Nyonya Rara memilih menuju ruang istirahat yang dimiliki Alfian di dalam ruang kerja itu.


"Desi." Panggil Alfian yang sudah kembali duduk di balik meja kerjanya.


"Saya Tuan."


"Kamu takut ketinggian?"


"Tidak Tuan."


"Bagus. Kemarilah."


Desi melangkah menuju meja kerja Alfian dengan pelan.


"Kamu bisa melihat pemandangan dari sebelah sini jika bosan menunggu Bunda istirahat." Tangan Alfian menunjuk dengan telapak tangan terbuka ke area kosong di samping dan belakangnya, tepat di dekat dinding kaca, tempat favoritnya.


Desi ingin menolak, tapi ia tidak berani. Akhirnya ia mengikuti saran Alfian.


"Permisi Tuan." Ucapnya ketika melewati Tuan Muda.


Desi berjalan sampai mendekati dinding. Senyumnya mengembang ketika melihat pemandangan di balik kaca. Di bawah, tepat berbatasan dengan jalan, adalah ruang terbuka hijau yang sangat luas. Berbagai jenis pepohonan tumbuh dengan subur. Bahkan Desi bisa melihat danau buatan yang terletak di tengah-tengah hutan buatan tersebut.


"Kamu suka?"


Entah sejak kapan Alfian sudah berdiri di belakang Desi.


"Iya Tuan. Suka sekali." Jawab Desi sambil menoleh ke samping menatap Alfian.


"Ini tempat favoritku." Ujar Alfian ikut menatap ke area hijau. "Tapi aku tidak keberatan berbagi denganmu."


Desi menatap Alfian dengan kening berkerut. Jika seseorang bersedia memberi tahu apa yang menjadi kesukaan atau ketidaksukaannya, berarti ia menganggap orang tersebut bukan lagi orang asing.


Desi kembali mengalihkan pandangannya pada ruang terbuka hijau. Dan ia terus mendikte pikirannya agar tidak berasumsi yang aneh-aneh.

__ADS_1


Hei hati! Jangan baper lho ya.


...****************...


__ADS_2