
Hari-hari berlalu dengan cepat. Desi tidak lagi merasa canggung tinggal di kediaman Adhyaksa sebab ia pun memiliki pekerjaan disini. Meski begitu, ia beberapa kali menolak ajakan untuk makan bersama Tuan dan Nyonya rumah. Desi memilih makan bersama pekerja lain. Dan mereka pun tidak keberatan dengan kehadiran Desi. Sebab paviliun khusus pekerja saat ini memang sudah penuh. Jika Desi tinggal bersama mereka, maka akan ada yang tidur tidak nyaman karena harus berhimpitan di kamar.
Alfian menatap Desi dengan kesal. Pasalnya saat ini ia sedang melihat Desi berbicara dengan seorang pekerja yang usianya terlihat seumuran dengan Desi. Bahkan Desi tidak canggung untuk tertawa kecil dan tersenyum. Dilihat dari baju yang dipakai, pemuda itu adalah satpam.
Kedua tangan Alfian mengepal, rahangnya mengatup dengan erat. Ia mulai dikuasai dengan emosi. Dengan langkah yang terburu-buru Alfian melangkah menghampiri.
"Selamat sore Tuan Muda." Sapa satpam ini sambil membungkuk.
"Selamat sore ... " Desi tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena Alfian menatap tajam pada orang yang sedang berbicara dengannya.
"Permisi Tuan Muda." Satpam tersebut pamit dan segera pergi. Ia bahkan mengacuhkan Desi.
"Kamu hobi sekali tebar pesona." Ujar Alfian begitu mereka hanya tinggal berdua.
Desi terdiam, ia mengerti Alfian sedang merasa cemburu.
"Kenapa diam saja?" Tanya Alfian lagi dan lebih ketus.
Desi bingung bagaimana harus menghadapi Alfian. Ini pertama kalinya ia melihat Alfian benar-benar marah setelah keduanya menjalin hubungan.
"Ini bukan pertama kalinya. Beberapa waktu yang lalu aku juga melihat kamu berbincang dengan hangat pada pekerja lain. Apa kamu begitu bersemangat saat berbicara dengan lawan jenis? Apakah sebenarnya ini memang sifat aslimu? Centil dan genit pada lawan jenis?" Serang Alfian dengan sengit.
Netra Desi melebar, tuduhan yang dilayangkan Alfian menyakiti hatinya. "Begitu?"
"Iya begitu!" Nafas Alfian memburu karena kesal. "Kenapa jika sedang bersamaku kau tidak bisa bersikap begitu? Kau tahu, tadi kau seperti gadis murahan yang tidak bisa menjaga tingkah lakumu di depan pemuda lain."
"ALFIAN!!!" Nyonya Rara yang awalnya hendak menyambut putranya yang baru pulang ikut tersulut emosi.
Air mata Desi tumpah. Ia tidak bisa menahannya lagi. Dengan cepat Desi berjalan memasuki rumah.
Alfian menyugar rambutnya dengan kasar. "Aarrgghhh!!!"
Sultan yang mendengar keributan ikut keluar. "Ada apa ini? Kenapa Desi menangis?"
Tidak ada yang menjawab. Sultan menatap istri dan anaknya bergantian. Nafas keduanya terengah-engah dengan wajah penuh kemarahan.
Sultan menarik nafas dalam-dalam. "Alfian!" Suara Sultan terdengar penuh penekanan. Membuat Alfian dan Rara menjengit karena terkejut. "Masuk!"
__ADS_1
Tanpa mengatakan apa-apa lagi Sultan segera masuk ke dalam rumah. Rara mengikuti jejak Sang suami disusul oleh Alfian. Jika Sultan sudah berbicara dengan nada penuh penekanan seperti itu, tidak ada lagi yang berani membantah.
Mereka melewati ruang tamu yang luas begitu saja. Rupanya Sultan membawa anak dan istrinya ke ruang baca yang lebih tertutup. Disana terdapat satu set sofa yang nyaman karena Sultan juga memfungsikan ruangan tersebut sebagai ruangan keluarga jika ada permasalahan penting yang harus mereka diskusikan.
Sultan diam, ia menunggu Rara dan Alfian untuk mengambil tempat masing-masing. Rara duduk tepat di samping Sultan sedangkan Alfian mengambil posisi di seberang Sang Ayah.
Sultan mengambil air mineral dalam kemasan botol mini dan meletakkannya di meja kopi yang ada di depannya.
"Minum dulu." Ia meminta Rara dan Alfian untuk minum. Setelah keduanya minum, barulah ia meminum air miliknya. Dengan sabar Sultan menunggu. Menunggu kedua orang yang ia sayang bisa menenangkan diri.
Beberapa menit berlalu, Sultan bergerak memperbaiki posisi duduknya untuk mulai berbicara. "Bisa tolong ceritakan apa yang terjadi?" Pinta Sultan dengan suara yang lembut. "Bunda duluan. Karena tadi Ayah dengan Bunda berteriak kencang sekali." Imbuhnya lagi sambil memegang tangan Sang Istri.
Rara menarik nafas dalam-dalam, lalu menatap Alfian dengan kecewa.
"Bunda dengar Alfian mengucapkan kata-kata kasar pada Desi. Fian bilang Desi centil, genit dan seperti gadis murahan hanya karena Desi berbincang dengan Bobi, Satpam itu." Adu Rara.
"Ini bukan pertama kalinya Ayah. Waktu mereka belum pacaran juga Alfian pernah marah-marah cuma karena Desi ngobrol sama Daffa, satpam di apartemennya."
Sultan mengangguk-anggukkan kepalanya. Sedangkan Alfian, kepalanya semakin menunduk. Ia tersadar, sudah dua kali melakukan kesalahan yang sama.
Kali ini Sultan menatap Alfian. "Sekarang, Ayah mau dengar cerita versi Alfian."
"Entahlah Ayah." Alfian mulai berbicara. "Tiba-tiba saja Alfian merasa marah melihat Desi bisa bercerita dengan bebas pada Satpam itu."
Cara Alfian berbicara seperti seorang anak kecil yang sedang dimarahi. Menunduk, kadang mengangkat wajah dan menatap takut-takut. Meskipun usianya hampir memasuki kepala tiga, Alfian sebenarnya adalah sosok yang manja pada orang tuanya. Hanya di depan publik saja dia bisa bersikap dingin dan cuek. Tapi jika sedang bersama orang tuanya, Rara sampai kewalahan menghadapi Alfian. Namun anehnya, pemuda itu bersikukuh untuk tinggal seorang diri di apartemen.
Aneh kan?
Alfian menarik nafas lagi. "Sedangkan denganku, dia tidak pernah tertawa lepas dan jarang tersenyum." Alfian menatap Ayahnya. "Aku cemburu Yah. Kenapa dia bisa sehangat itu dengan pemuda lain dan tidak bisa denganku."
Sultan duduk dengan mencondongkan tubuhnya ke depan. "Waktu Desi dibawa ke rumah sakit, sudah berapa lama kalian menjalin hubungan?"
"Baru semalam Ayah."
"Dan setelah itu Desi dibawa ke rumah ini. Kemudian Bunda bersikap seperti tentara penjaga perbatasan setiap kamu datang ke rumah. Begitu?" Sultan menatap Rara penuh arti. Alfian hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Sultan.
"Ya namanya juga jagain anak gadis orang Yah." Rara membela diri. Ia tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa Desi.
__ADS_1
"Tapi Bunda berlebihan. Masa ngobrol berdua nggak sampai lima menit. Selebihnya Bunda nimbrung disitu." Alfian melayangkan protes.
Rara melengos, tak ingin disalahkan. Sultan memijat pangkal hidungnya.
"Alfian, terlepas dari Bunda yang berlebihan dalam membatasi kalian berdua. Seharusnya kamu juga bisa mengerti kenapa Desi bisa bersikap seperti itu." Sultan menatap Alfian dengan lembut.
"Kalian baru menjalin hubungan dan langsung memiliki pagar hidup. Bagaimana Desi bisa bersikap romantis padamu?" Imbuh Sultan.
"Ayah!" Rara melotot, tak terima dianggap pagar hidup.
Sultan tak peduli. "Desi belum terbiasa dengan perpindahan status dari asisten rumah tangga ke calon istri. Dia masih segan."
Alfian memijat pangkal hidungnya sambil menunduk. Ia tidak mengerti, ada rasa takut yang besar saat melihat Desi bercengkrama dengan pemuda lain. Seakan ia takut kejadian buruk di masa lalunya terulang kembali.
"Alfian, bicaralah pada Desi. Dan Ayah pastikan, tidak ada yang akan mengganggu kalian berdua." Ucap Sultan sambil melirik sesaat pada Istrinya.
Rara menarik nafas panjang mendengar ucapan Sultan. "Maaf, karena Bunda sudah berlebihan." Rara terlihat merasa bersalah. Ia menatap Alfian dan Sultan secara bergantian.
"Itu artinya Bunda juga sayang sama Desi." Sultan menggenggam tangan Rara dengan hangat. Pria itu tidak ingin Rara merasa terpojok. Karena ia sadar Rara memiliki niat yang baik. Rara tersenyum dan menyandarkan tubuhnya pada Sultan.
"Alfian ke kamar Desi dulu." Ujar Alfian sambil berdiri.
Rara segera duduk dengan tegak. "Apa?! Kam ... "
"Bunda." Sultan mengingatkan.
Rara menghela nafas dan kembali bersandar pada Sultan. Alfian hanya tersenyum kecil dan keluar dari ruang baca itu.
Suasana hening menyelimuti ruang baca setelah Alfian menutup pintu. Sultan dan Rara tenggelam dalam pemikiran masing-masing.
"Kita harus membawa Alfian ke psikiater, secepatnya." Ucap Sultan tiba-tiba.
Rara mendongak, ia menatap Sultan dengan wajah penuh tanda tanya.
"Inner child Alfian sakit, ia butuh bantuan. Jangan menganggap semua baik-baik saja Bun. Kali ini jangan menolak lagi. Ayah tahu, Bunda juga sudah menyadarinya. Jangan bohongi diri sendiri sayang."
Rara mulai menangis, Sultan segera menarik Rara ke dalam pelukannya. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi, hanya mengusap punggung Rara. Membiarkan wanita yang ia cintai mencurahkan semua kekhawatiran yang ia pendam.
__ADS_1
...****************...