
Maria keluar dari kamar Desi dengan wajah kesal. Karena kedatangan Rama, Nayra dan Desi mengganggunya tiada henti meski Rama sudah keluar dari kamar. Pemuda itu hanya masuk sebentar untuk mengganggunya, lalu bergegas keluar karena tak ingin mendapat masalah.
"Sudah, mukanya jangan ditekuk begitu." Desi tersenyum simpul.
"Hmm." Maria hanya bergumam.
Ketiganya berjalan menuju ruang tengah dimana para orang tua tengah duduk bersantai.
"Nah, itu mereka. Kalau begitu kami pulang dulu ya Mas, Mbak." Ucap Mita setelah melihat kedatangan gadis-gadis itu.
"Iya, makasih ya sudah berkunjung." Rara dan Sultan pun berdiri.
"Alfian kemana?" Tanya Fikram setelah tak melihat keponakannya itu.
"Katanya ke kantor. Mau ambil barang yang ketinggalan."
Fikram dan Mita mengangguk-angguk. Kemudian mereka saling berpamitan dan meninggalkan rumah Sultan.
Sepeninggal Nayra dan Maria, Desi kembali merasa sedih. Ia kembali teringat pada Alfian yang marah hanya karena Rama. Desi berbaring menatap langit-langit. Ia tidak dapat memejamkan mata meski tubuhnya lelah.
Tok ... Tok ... Tok ...
Desi segera bangun dan membuka pintu.
"Eh, Tante." Desi terkejut melihat Rara sudah berdiri dengan menggunakan jaket.
"Kamu sudah tidur?" Tanya Rara dengan lembut.
"Belum Tante. Ada apa."
"Temani Tante ke kantor Fian yuk. Tadi dia chat tidak akan kembali ke rumah, mau langsung ke apartemen. Tapi masalahnya dia belum makan. Kita bawakan makan malam."
Desi ragu, ia belum ingin bertemu Alfian. Namun ia juga tidak tega menolak Rara.
"Baik Tante. Saya ganti baju dulu."
"Tante tunggu di depan."
__ADS_1
Begitu menutup pintu, Desi segera mengganti pakaiannya dan menyisir rambut. Ia tidak ingin membuat Rara menunggu.
Setelah Desi muncul, mereka segera menuju kantor Alfian sambil membawa makan malam untuk pemuda itu. Sepanjang jalan, Desi hanya diam menatap keluar jendela. Pikirannya bimbang, antara melanjutkan hubungannya dengan Alfian, atau berhenti. Karena percuma jika tidak ada rasa percaya di hati Alfian untuknya. Desi akan terus disakiti dengan sikap cemburu buta Alfian.
Setibanya di kantor, satpam yang menjaga terkejut dengan kedatangan Nyonya Besar. Wajah mereka pun terlihat gugup. Mungkin karena Nyonya Besar datang di jam yang tak biasa.
"Tidak perlu diantar." Ucap Rara saat melihat seorang satpam ingin ikut masuk.
"Ba ... baik, Nyonya."
🌸🌸🌸
Saat menuju ruangan Alfian, tiba-tiba terdengar nada telepon di telepon pintar milik Rara.
"Desi, kamu duluan ya. Lagian pintu ruangannya agak terbuka kok." Ujar Rara sambil menunjuk pintu ruangan Alfian yang tidak tertutup rapat.
"Iya, Tante."
Desi membawa wadah makanan itu dan melangkah mendekati ruangan Alfian.
"Selamat ... "
Wadah makanan yang Desi bawa jatuh begitu saja. Membuat isinya keluar berceceran di lantai. Tubuh Desi membeku, sinar hangat di matanya hilang berganti dengan tatapan dingin.
Di depannya, Alfian sedang berdiri sambil merapikan kemejanya. Begitu pun wanita yang berbaring di sofa. Ia segera mencari pakaiannya karena saat ini hanya pakaian dalam yang melekat di tubuhnya. Mereka sedang bercumbu ketika Desi membuka pintu.
"Desi! Kamu ken ... ALFIAN ADHYAKSA!!!" Rara berteriak dengan lantang. "Apa yang kamu lakukan?!" Rara menyerbu masuk.
Sedangkan Desi, ia diam tak bergerak di tempatnya. Hatinya berdenyut nyeri. Rasa sakit itu menjalar sampai ke seluruh persendiannya. Namun ia tak bisa menangis. Hingga ia merasa tekanan besar yang menyakitkan di pangkal lehernya.
Alfian diam, tak menjawab. Ia malah menatap Desi dengan sinis. "Fian hanya melakukan sama dengan yang Desi dan Rama lakukan di kamar Desi tadi. Sayang sekali, aku dan Sima belum sempat berhubungan badan seperti mereka."
"Apa?!" Rara menatap Alfian tak percaya, ia kemudian beralih menatap Desi.
Desi yang mendengar penuturan Alfian tiba-tiba tertawa. Namun tawa itu terdengar menyedihkan. Desi memilih berbalik dan meninggalkan ruangan Alfian tanpa berniat menanggapi ucapan Alfian sedikit pun.
"Desi!" Rara memanggil Desi. Akan tetapi sudut matanya menangkap pergerakan santai wanita yang bercumbu dengan Alfian.
__ADS_1
"Siapa kamu?!" Tanya Rara dengan ketus.
"Oh, saya Sima." Jawab wanita itu dengan entengnya. Ia bahkan memindai Rara dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Kamu siapa?"
Rara terkekeh, ia menatap Alfian dengan kecewa. "Jadi begini perempuan pilihan kamu?"
"Memangnya aku kenapa?!" Tanya Sima dengan emosi. Ia tak mengetahui sedang berbicara dengan siapa.
"Sima!!! Jaga nada bicaramu di depan orang tuaku."
Sima terperanjat. Ia segera memasang wajah manis. Namun tanpa ia duga, Rara dengan cepat mendekat dan menampar wajah Sima dengan sangat kencang hingga wanita itu jatuh terduduk.
"Awwhh." Sima meringis kesakitan dan memegangi pipinya.
Rara tak peduli, ia segera melangkah keluar.
Alfian mengejar dan memegang tangan Rara. "Bun ... "
"Bunda kecewa sama kamu." Rara melepas tangan Alfian dan melanjutkan langkahnya.
"Bunda!"
"Alfian!!!" Sima menghentikan Alfian. "Maaf, aku nggak tahu kalau itu bunda kamu."
Kemarahan Alfian memenuhi kepalanya. Ia berbalik menatap Sima dengan nyalang. Jangan pernah tunjukkan wajahmu di depanku lagi. Atau aku akan membunuhmu." Kata Alfian dengan pelan.
"Ta ... tapi. Ta ... tadi kita ... kita ... "
"Aku hanya melampiaskan kekesalanku kepadamu. Jadi sekarang pergi atau aku akan mengirim jasadmu kepada suamimu itu."
Sima memegang dadanya. Ia menyangka saat Alfian menghubungi dan memintanya datang, Alfian akan menerimanya kembali sebagai kekasih. Bahkan keduanya hampir saja berhubungan seperti yang selama ini diharapkan Sima.
"Apa? Kamu ... "
"Ya, lihat gadis tadi? Aku sedang marah padanya dan aku melampiaskan kepadamu. Sekarang pergi!!!"
Rahang Sima mengeras, ia merasa dipermainkan. Sima meraih tas dan meninggalkan Alfian sambil menghentakkan kakinya.
__ADS_1
"Desi ya. Awas kamu! Aku akan membuat perhitungan dengan kamu!" Sima menggeram dengan tangan terkepal.
...****************...