Sepertinya, Aku Jatuh Cinta

Sepertinya, Aku Jatuh Cinta
Ch. 19


__ADS_3

Desi tidak dapat menghindar saat Rara mengajaknya untuk makan malam bersama. Bahkan Rara memerintahkan Alfian untuk menjaga Desi. Memastikan gadis itu tidak berkelit.


"Tuan, saya…."


"Kalau kamu menolak ajakan Bunda, itu akan buat Bunda sedih. Dan aku nggak suka melihat Bunda sedih. Kamu akan dapat hukuman kalau itu sampai terjadi."


Desi bungkam, ia tidak mau mendapat hukuman. Pasti sangat mengerikan, apalagi di berita-berita sering ditayangkan kabar tentang ART yang disiksa dan dianiaya oleh majikannya. Desi bergidik ngeri.


Alfian menatap Desi dengan aneh. Apa yang dia pikirkan tentang hukuman? Wajahnya ketakutan seperti sedang nonton film horor. Memangnya ciumanku seseram itu?


Ternyata konsep "hukuman" antara Alfian dan Desi sangat jauh berbeda.


Keduanya menuju sebuah gazebo yang terletak di pinggir kolam renang. Malam ini mereka akan makan di gazebo sambil lesehan. Menu yang disediakan pun menu lalapan ikan goreng dan ikan bakar. Wangi sambal terasi, sambal mangga dan dabu-dabu menyeruak memenuhi indra penciuman. 


Air liur Desi menggenang. Menu sederhana itu begitu menggiurkan.


Desi dan Alfian duduk setelah Bunda Rara dan Ayah Sultan sudah tiba dan mengambil tempat di gazebo. Malam ini, demi kenyamanan Desi, Bunda Rara sengaja memerintahkan pelayan untuk pergi dari area kolam renang setelah mengatur makanan.


Dan benar saja, Desi terlihat lebih santai. Ia pun berinisiatif untuk mengambilkan nasi yang ada di wadah di dekat dinding gazebo.


"Desi, kalau itu untuk Ayahnya Alfian. Biar aku saja. Kamu ambilkan untuk Alfian saja." Ujar Rara.


"Baik, Nyonya." Tanpa berpikir yang macam-macam, Desi melakukan yang diperintahkan. Toh, itu memang pekerjaannya sebagai pelayan. Untuk apa berpikir yang aneh-aneh.


Sementara itu, Alfian tersenyum simpul melihat Desi meletakkan sepiring nasi di depannya. Ini bukan pertama kalinya Desi melayani Alfian, namun entah kenapa malam ini Alfian merasa ada yang berbeda.


Tanpa Alfian sadari, Sultan dan Rara mengamati wajah Alfian sepanjang makan malam. Keduanya saling pandang dan tersenyum penuh arti.


Sedangkan Desi, ia tak henti-hentinya menatap kagum pada Keluarga Sultan Adhyaksa. Mereka tanpa canggung makan menggunakan tangan, yang tentunya sudah dibasuh terlebih dahulu.


Awalnya Desi mengira, majikannya tidak makan tahu dan tempe. Malam ini, anggapan tersebut dipatahkan. Desi melihat bagaimana mereka mencocol tahu dan tempe goreng ke dalam sambal terasi lalu memakannya dengan lahap bersama nasi hangat.


🧆🧆🧆


Alfian dan Desi berada dalam perjalanan pulang. Ketika hampir melewati sebuah swalayan besar, Alfian membelokkan mobilnya dan masuk ke dalam halaman swalayan tersebut.


"Desi, belikan buah-buahan ya. Apa saja, terserah kamu. Bayar pakai ini." Titah Alfian sambil menyerahkan sebuah kartu kredit.


"Baik Tuan." Desi menerima kartu tersebut lantas masuk ke dalam swalayan untuk membeli yang Alfian mau. Sedangkan Alfian, ia tetap berada di dalam mobil memeriksa email yang dikirim Rama.


Beberapa menit kemudian, muncul notifikasi penggunaan kartu kredit. Alfian tersenyum, artinya tidak lama lagi Desi akan segera muncul. Ia keluar untuk membantu Desi memasukkan belanjaan ke bagasi.


Tak berapa lama, tampak Desi keluar menenteng dua buah tas belanja. Gadis itu berjalan tergesa-gesa menuju Alfian.

__ADS_1


Namun saat baru setengah perjalanan, Desi dicegat oleh dua orang pria berwajah garang. Mereka adalah preman yang sering mangkal di daerah tersebut.


"Halo cantik. Buru-buru amat sih." Sapa salah satu diantaranya. "Mau abang bantu bawa?" Imbuhnya dengan tangan terulur.


Desi mundur, tubuhnya mulai gemetar karena takut. "Tidak perlu." Ia pun merubah arah untuk menghindar.


"Ehhh, jangan galak-galak dong neng. Abang kan cuma mau tolong." Preman tersebut tidak melepaskan Desi begitu saja. Ia malah menangkap satu tangan Desi. "Kita pergi senang-senang dulu yuk cantik." Ia bahkan berusaha menyentuh wajah Desi.


Desi menghindar dengan memundurkan wajahnya, ia semakin ketakutan. "Tolong!" Suara Desi terdengar bergetar.


"Lepaskan dia!"


Desi menoleh dengan cepat, Alfian berada di belakangnya dengan wajah tanpa ekspresi.


"Kalau gue nggak mau, lo mau apa?!"


Rekan preman yang sedari tadi diam mengeluarkan sebuah pisau lipat sambil menyeringai.


Alfian menatap dengan dingin, ia tidak terlihat takut sama sekali dengan benda tajam itu.


Dengan gerakan yang lincah, preman itu memainkan pisau miliknya kemudian menggertak Alfian dengan cara menghunus pisau itu ke arah tubuh Alfian.


Alfian bergeming. Ia terus menatap tajam. Hingga dengan cepat dan tanpa diduga, kaki kanannya terangkat dan menendang perut preman tersebut dengan sangat kuat hingga Sang preman terpelanting jauh ke belakang.


"Brengsek!"


"Aduh!!!" Preman tersebut tersungkur.


Desi memukul kepala pria itu dengan salah satu tas buahnya.


Melihat lawannya tersungkur, Alfian menendang bagian perut pria itu dari samping.


Untuk sesaat, Alfian diam dan mengamati pergerakan kedua preman ini. Beberapa saat kemudian, dengan meringis menahan sakit, kedua preman itu bangun dan segera berlari meninggalkan halaman swalayan.


Alfian menarik nafas lega, ia segera melangkah mendekati Desi. Dan dengan satu gerakan ia menarik Desi masuk dalam pelukannya. 


"Tu…Tuan." Tas belanja Desi terlepas karena terkejut dengan pelukan mendadak.


"Sudah aman, jangan takut lagi." Alfian mengusap kepala Desi. Ia bisa merasakan tubuh gadis itu bergetar.


Desi mengangguk, kemudian memejamkan mata. Ia begitu terbawa dengan hangatnya pelukan Alfian dan aroma parfum Tuan Muda yang memabukkan. Hingga tidak sadar membalas pelukan Alfian.


Sang Tuan Muda tersenyum merasakan tangan mungil Desi melingkari pinggangnya. Alfian menjadi berani dan mendaratkan kecupan di kepala Desi.

__ADS_1


"Aduh Mas, untung pacarnya nggak kenapa-kenapa. Dua preman itu memang meresahkan." Tiba-tiba seorang tukang parkir muncul entah darimana.


Desi sontak membuka matanya dan menatap pria yang memakai rompi oranye itu dengan tajam. "Pacar apanya? Saya pelayannya, Tuan Muda majikan saya." Ujarnya ketus.


"Pelayan kok peluk-peluk." Sahut tukang parkir itu.


Desi membeliak, sontak ia mendongakkan kepalanya. "Astaga!!!" Dengan satu dorongan Desi mengurai pelukan mereka. "Maaf Tuan." Desi segera mengambil tas belanjanya dan berjalan ke mobil dengan tergesa-gesa.


Sedangkan Alfian menatap kepergian Desi dengan perasaan tidak rela. Ia menatap kedua tangannya.


"Emang beneran Mas, itu bukan pacarnya? Kalau pelayan kok cantik sekali, kayak mahasiswi-mahasiswi yangs sering belanja disini." Celetuk tukang parkir itu lagi yang sudah berdiri di samping Alfian.


Alfian menarik nafas dalam-dalam menahan kesal. Ia menatap tajam pada tukang parkir perusak suasana itu.


"Dari tadi anda kemana? Datang-datang merusak suasana!"


Tukang parkir itu terkekeh. "Hehe, maaf Tuan. Saya sembunyi. Soalnya dua preman itu suka rebut uang hasil saya kerja, Tuan."


Hhhhhhhhh


Alfian mendesah kasar dan meraup wajahnya. Tanpa bicara lagi, ia segera menyusul Desi.


"Eh Tuan, kenalin dong sama pelayannya. Kali aja jodoh."


Alfian berhenti dengan tiba-tiba dan menolehkan kepalanya. Ia memicingkan mata dan menatap Si tukang parkir dengan tatapan yang menusuk.


"Eh!" Tukang parkir itu menelan salivanya dengan susah payah. "Bukan pelayan to, ternyata beneran pacar. Hehe." Ia menggaruk tengkuknya dan tersenyum dipaksakan.


Alfian tidak menanggapi, menuju mobil dengan setengah berlari. Kemudian memasukkan tas belanja ke bagasi. Entah Alfian sadar atau tidak, karena saat ini ia merangkul pundak Desi dan berjalan menuju pintu. Tidak sampai disitu, ia membukakan pintu untuk gadis itu.


Desi terdiam, namun ia tidak sempat protes karena semuanya terjadi begitu cepat. Setelah memastikan Desi duduk dengan nyaman, Alfian menutup pintu dan berlari kecil menuju pintu di seberang Desi.


Dengan bantuan tukang parkir tadi, Alfian kembali melaju di jalan raya setelah memberi uang parkir pada pria itu.


"Desi." Alfian memecah keheningan.


"Iya Tuan."


"Tas yang kamu pakai untuk mukul preman tadi, isinya apa?"


Desi terdiam sejenak, mengingat isi tas tersebut. "Semangka sama Melon, Tuan."


Alfian tersenyum geli. "Baguslah."

__ADS_1


Paling tidak, malam ini kedua preman itu tidak akan pergi kemana-mana karena harus meredakan sakit di tubuh mereka.


...****************...


__ADS_2