Sepertinya, Aku Jatuh Cinta

Sepertinya, Aku Jatuh Cinta
Ch. 11


__ADS_3

Desi bangun pagi dengan pikiran tak menentu. Bahkan sebelum tidur tadi malam ia sudah mengemasi barang-barangnya. Desi menatap wajahnya melalui cermin di wastafel. Ia menghirup nafas dalam-dalam untuk meyakinkan diri bahwa ia sudah siap menghadapi kabar buruk hari ini. Ia tersenyum kecut kemudian keluar dari kamar untuk mulai bekerja.


Suara bel di pagi hari membuat kedua alis Desi bertaut. Ia menatap jam dinding sebelum menuju pintu depan.


Baru pukul 05.25, siapa yang datang di jam seperti ini?


Desi menuju pintu dan melihat monitor. Matanya melebar ketika wajah Nyonya Rara terlihat memenuhi layar. Ia membuka pintu dengan cepat.


"Selamat pagi Nyonya." Sapa Desi seraya menyingkir untuk memberi jalan.


"Selamat pagi Desi." Nyonya Rara segera masuk dan diikuti oleh seorang pria paruh baya.


Mungkin itu Tuan Besar. Gumam Desi dalam hati saat melihat punggung pria di belakang Nyonya Rara.


"Tolong buatkan kami minuman hangat. Apa saja, terserah padamu." Pinta Rara sambil membuka coat yang ia kenakan.


"Baik Nyonya."


Desi menuju dapur untuk membuat minuman hangat. Ia merebus air dan membuat teh di sebuah teko. Tidak membutuhkan waktu yang lama, ia sudah kembali dengan sebuah nampan berisi teko teh, dua cangkir dan sebuah wadah kecil berisi madu.


Di ruang tamu, ia hanya menemukan Tuan Besar. Desi menebak jika Nyonya Rara pasti berada di dalam kamar Tuan Muda.


"Tehnya, Tuan." Ucap Desi seraya meletakkan nampan di atas meja.


Sultan yang sedang memejamkan mata, segera bangun dan menatap Desi.


"Terima kasih." Jawab Sultan kemudian menuang teh di kedua cangkir itu dan menambahkan madu.


Tidak lama kemudian Nyonya Rara keluar dari dalam kamar Alfian.


"Desi, apa yang akan kamu masak untuk Alfian?" Tanya Rara sambil duduk di samping suaminya.


"Bubur dengan sedikit sayur, Nyonya. Seperti kemarin."


Rara mengangguk-anggukkan kepala. "Bagus. Tadi malam, bagaimana keadaan Fian sebelum kamu tidur?"


Desi mengangkat kepalanya dan terlihat bingung.


"Eee…itu Nyonya. Saya… saya tidak memeriksa keadaan Tuan. Saya tidak berani masuk ke dalam kamar Tuan Muda." Jawab Desi dengan jemari yang bertaut.


"Hhhhh… Kalau Fian sedang sakit, masuk saja Des. Aku yakin dia tidak akan keberatan juga." Rara mulai memahami kalau Desi sepatuh itu.


"Fian demam lagi?" Tanya Sultan pada istrinya.


Rara menggeleng dan terlihat lega. "Suhu badannya stabil." Jawabnya disertai senyum. "O iya, Desi. Ini suami saya, Sultan. Ingat wajahnya ya. Jangan sampai kamu tidak tahu yang mana suamiku seperti kamu tidak tahu wajah Fian." Ada nada menggoda di dalam kalimat yang diucapkan Rara.


Desi tersentak kaget, menatap Nyonya Rara dan Tuan Sultan bergantian kemudian menunduk menahan malu.


"Baik, Nyonya."


☕☕☕


Desi membawa nampan kayu berkaki yang berisi semangkuk bubur, air putih hangat dan juga obat yang harus diminum Alfian. Ketika ia tiba di depan kamar Alfian, pintu terbuka dan Nyonya Rara berdiri membuka jalan untuk Desi.


"Ayo masuk."


Desi mengangguk dan mulai berdebar. Ia belum siap untuk bertemu Tuan Muda setelah insiden tak sengaja semalam. Namun jika ia tidak masuk, Nyonya Rara akan curiga. Ia diam-diam menarik nafas dalam kemudian melangkah masuk.


Aroma maskulin menyeruak memenuhi indra penciuman Desi. Wangi yang mampu membuat semua gadis terpikat. Diam-diam Desi mengamati kamar Alfian. Kamar Tuan Muda begitu rapi dan bersih.  Nuansa abu-abu dengan tema scandinavian membuat kamar itu terkesan sederhana namun tetap terlihat modern.


Alfian menatap kedatangan Desi, ia tidak berniat untuk menggeser tubuhnya ke tepi ranjang. Posisinya masih tetap duduk di tengah dan bersandar di kepala ranjang meski ia tahu saat ini waktunya makan pagi.


"Kamu jaga Alfian makan dulu ya. Saya mau lihat Ayahnya Fian di ruang kerja." Tanpa menunggu jawaban Desi, Nyonya Rara segera keluar tanpa menutup pintu.


Desi menatap kepergian Nyonya Rara dengan gugup. Tangannya semakin erat memegang nampan.

__ADS_1


"Mau sampai kapan kamu lihat Bunda?"


Suara Alfian membuat Desi tersentak dan menoleh. Ia lantas berjalan mendekat.


"Sarapannya, Tuan." Desi meletakkan nampan tepi ranjang kemudian mundur dan berdiri di dekat dinding.


Alfian memandangi nampan itu sejenak. Ranjang berukuran super king size yang digunakan membuat jaraknya duduk dengan tepi ranjang menjadi agak jauh. Alfian melirik ke arah pintu kemudian menatap Desi.


"Bagaimana aku akan makan jika jaraknya jauh?"


Desi mengangkat kepalanya kemudian menatap nampan dan Tuan Muda bergantian.


Ya kan bisa geser duduknya. Gimana sih Tuan Muda ini.


"Geser nampan ini supaya berada dalam jangkauanku." Titah Sang Tuan Muda.


Desi mendekat, ia menatap nampan dan tempat tidur Alfian.


"Kamu duduk, terus geser nampannya. Apakah aku harus mengajarimu juga?"


Ada nada kesal di dalam kalimat yang Alfian lontarkan. Membuat Desi semakin yakin jika ia akan dipecat.


"Permisi, Tuan Muda." Desi duduk di tepi ranjang Alfian, kemudian menggeser nampan agar lebih dekat dengan Tuan Muda.


"Kenapa semalaman kamu tidak memeriksa kondisi saya?" Alfian menatap Desi dengan tajam. "Apa karena malu sebab sudah gagal mencium saya?"


Desi menatap Alfian dengan netra melebar sempurna. "Say…saya tidak mencoba mencium Tuan Muda. Itu tidak disengaja. Saya tidak tahu kalau Tuan Muda menunduk."


"Benarkah?"


"Benar Tuan."


"Tapi aku merasa dirugikan, jadi kamu harus bayar ganti rugi."


Alis Desi bertaut. Meski takut membutuhkan uang dan takut dipecat, tapi ia tidak mau difitnah.


"Jadi berciuman denganku adalah bencana?!"


Ehhh…Desi bingung, otaknya tiba-tiba tak dapat memikirkan apapun.


"Kenapa diam?"


Desi menatap Alfian dengan bingung. Ia tidak tahu harus bagaimana menjawab. Apalagi saat ini wajah Alfian terlihat marah.


"Desi."


"Anu, itu Tuan." Desi cemas, ia menggigit bibirnya saat menjeda kalimat. "Bencana karena saya bisa saja dipecat. Tuan akan mengira saya sedang menggoda Tuan. Padahal kan tidak sengaja, hanya karena saya mau menolong Tuan yang hampir jatuh."


"Jadi, kalau tidak dipecat, kamu mau berciuman dengan saya?"


Apa sih? Kok malah bahas ciuman. Emosi Desi mulai terpancing.


"Tidak Tuan."


Alfian menahan senyum. Dia mulai marah.


"Kalau saya memaksa? Lagi pula, kamu berada di dalam kamar saya." Alfian terus menyerang Desi.


Alarm tanda bahaya berbunyi, Desi segera beranjak. "Permisi Tuan, saya mau masak untuk makan pagi Tuan dan Nyonya." Desi cepat-cepat keluar tanpa menoleh lagi.


Ia bahkan tidak ingat akan perintah Nyonya Rara untuk menjaga Alfian. Dadanya berdebar kencang, tangannya mencengkram pinggiran bak pencuci piring dengan kuat.


Ini kamarku.


Kamu memancingku?

__ADS_1


Jangan harap bisa keluar tanpa aku sentuh.


Kepala Desi dipenuhi dengan kalimat-kalimat Bagas yang kala itu berusaha melecehkannya. Dada Desi bergemuruh, teringat akan wajah Bagas yang terlihat bersemangat dan tanpa malu-malu menunjukkan tatapan mesumnya.


Saat itu Ibu meminta Desi membangunkan Bagas. Siapa sangka ternyata Bagas sudah bangun dan mendengar perintah itu. Ia sengaja bersembunyi di balik pintu dan menjebak Desi. Beruntung saat itu Wiji mengetuk pintu dan berkata akan mengajak Bagas pergi ke kota.


Desi segera mengambil segelas air putih dan meneguknya. Padahal tadi posisi Alfian tidak berubah sama sekali. Tuan Muda bahkan hanya berbicara. Namun bayangan masa lalu langsung menyergap Desi hingga ia merasa ketakutan.


Sedangkan Alfian, ia masih termangu melihat kepergian Desi. Apalagi wajah gadis itu yang terlihat begitu ketakutan. Kalau gadis lain dengan senang hati pasti akan melompat ke tubuhnya setelah mendengar ucapannya tadi.


Apa yang dia pikirkan? Apa dia mengira aku sudah terpancing godaannya hingga aku berbicara seperti tadi?


Padahal, beberapa hari bekerja sedikitpun dia tidak pernah menggodaku.


Apakah dia terlilit hutang yang sangat besar? Sampai-sampai sangat takut dikira menggoda dan dipecat.


"Kamu mikirin apa sih Fian? Kalau lagi sakit nggak usah mikir kerjaan."


Bunda yang tiba-tiba muncul mengagetkan Alfian.


"Lho? Desi mana?" Bunda kembali bertanya setelah tidak melihat sosok Desi di dalam kamar Alfian.


"Lagi masak Bun. Fian yang suruh, kan Bunda sama Ayah harus sarapan juga." Jawab Alfian berbohong. Ia mulai menyendokkan bubur ke dalam mulutnya.


"Oh gitu." Bunda percaya dengan jawaban putranya. "Mau Bunda suap?" Kedua alis Rara bergerak naik turun menggoda Alfian.


Alfian berdecak. "Fian sudah besar Bun. Masa disuap."


"Tapi kalau sama Desi mau." Rajuk Bunda.


Alfian berhenti mengunyah, ia ingat bagaimana kemarin Desi menyuapinya sebelum minum obat.


"Ya, kan kemarin lemes Bun." Alfian membela diri.


Wajah Rara berubah sendu. "Maaf ya, kemarin Bunda tidak bisa langsung datang. Kami tidak bisa langsung kembali karena Kakek belum mau makan."


Rara menjelaskan penyebab ia tidak bisa menjaga Alfian kemarin.


"Fian mengerti Bun. Lagipula sudah ada Desi." Alfian tersenyum menyentuh tangan Rara. "Sekarang bagaimana kondisi Kakek?"


"Kakekmu sudah mau makan, sudah mau minum vitamin sama obatnya. Makanya Bunda sama Ayah bisa kembali."


Alfian mengangguk-anggukkan kepala kemudian melanjutkan makannya.


"Fian, kamu menikah ya. Biar ada yang urus."


Uhukkk…uhukkk…uhukkkk


Alfian memukul-mukul dadanya. Rara segera mengangsurkan air putih, berharap air itu bisa menghentikan batuk Alfian.


Setelah batuknya reda, Alfian menatap Bundanya datar. "Jangan bahas dulu ya Bun."


Hhhhhh


Rara menghela nafas kasar. Kalau membicarakan soal pernikahan, Alfian selalu berkata seperti itu.


Dering panggilan milik Alfian terdengar. Rara segera mengambil benda pipih tersebut.


"Wulan?" Tanya Rara setelah membaca nama yang tertera di sana.


"Nggak usah diangkat Bun."


"Tante-tante baru lagi? Kayaknya waktu itu namanya Sima." Bunda menampilkan wajah kesal.


"Iya, baru. Sima sudah tamat Bun." Jawab Alfian dengan enteng.

__ADS_1


Bunda Rara kembali meletakkan smartphone milik Alfian. Dan ia enggan kembali berkomentar. Dendam Alfian, entah kapan baru terpuaskan.


...****************...


__ADS_2