
“Dasar. Kaku membuka sebuah obrolan hanya sekedar tertawa menikmati cuplikan film terputar dalam teater.”
♡♡♡
Setelah gagal bawa raket beberapa minggu yang lalu, hanya temani cowok itu jogging dan balik ke rumah. Sangat bosan, really tidak bikin apa-apa selain temani Luthfi lari kalau tahu begitu tidak usah ikut.
But, happy. Bisa jalan berdua setelah memelihara kabut dan mendung seorang diri dalam kamar.
Jujur, Rara sangat sumringah tak percaya bisa duduk diatas motor dengan cogan sangat penasaran ingin menyumpal mendapati not-not mengalun indah dari petikan gitar Luthfi. Really. Tidak bohong.
Persoalan mengenai keikhlasan hati sahabat sendiri pun sempat menyinggung perjuangkan kidung, tak bisa mengelak kalau saat ini simfoni dalam kagum membuncah ingin memiliki hati seutuhnya.
Apa benar sedang berada dalam tahap pedekate? Atau sekedar penyenang hati Luthfi saat sedang tak ada satu nama dalam dada? Ah, entahlah.
Kalau membahas lebih dari kakak-adik semakin tertawa pongah dan retak-retak terdengar dari ruas-ruas kosong milik Rara.
Napas terdengar kempas-kempis, saat hosa lebih mendominan fisik Rara. Jarang olahraga seperti itu. Memilih berhenti dan beranjak duduk menikmati angin sepoi depan gedung bultang gunung merah. Diikuti oleh Luthfi dari belakang, “tra mau lanjut kah?” Ucap Luthfi yang masih ingin bermain tapi di tolak secara tegas dari gadis itu.
Kalau memaksa yang ada Luthfi bakal melongo dan terkejut tubuh gadis itu terpapar lemah tak berdaya akibat pingsan.
“Kenapa tidak lanjut?” Lagi, Luthfi berujar saat sudah mengambil posisi di samping gadis itu duduk.
“Nggak ah, capek..” Rara menjawab dengan ketus setelah itu terdengar kekehan dari mulutnya.
Diam beberapa detik sambil menikmati semilir angin, cukup menyejukkan saat lelah bermain tadi dalam gedung. “Kakak, ada film baru loh di bioskop. Nanti, kapan-kapan nonton kah?” Seru Rara.
Melirik dengan seulas senyum manis, “film apa?”
“Ada itu, pokoknya seru deh! Sa tadi malam lihat di instagram.” Jawab Rara berseru riang.
“Hm...nanti sudah.”
Seperti itu percakapan tiga hari lalu depan gedung bultang, tidak tahu kenapa Rara berharap lebih kalau perjanjian tersebut di wujudkan.
Yup. Perjalanan terpaut aksa ingin sekali merasakan moment hanya berdua diatas motor, sayang..terlalu gede kendaraan tersebut cukup buat paha Rara pegal.
Dan, setelah tiga hari berlalu Rara tidak sabar buat bersua kembali dengan membuka jadwal apa saja besok dipelajari dalam kelas.
Sekarang prioritaskan tugas-tugas kuliah, untuk bertemu kidung belakangan karena masa depan tidak terjamin terbuka dua kali saat mahasiswa terlanjur bermain dengan santai mengenakan waktu.
Be the way, yang Rara tak habis pikir adalah kenapa asdos selalu menampilkan sifat pongah dan belagu ketika adikting setengah mati menyerap ilmu di laboratorium? Bukan kah seorang asdos yang lebih dulu menimba ilmu harus sabar dan pelan-pelan buat adikting bisa mengerti praktikum itu?
Kok, setiap kali mendapati wajah itu melulu mengenakan masker. Belagu dan sombong duh..lebih-lebih gila hormat!
Dan, mendapati adikting tidak mengerjakan tugas diberikan. Oh, dipastikan tatapan membunuh serta terbang-menerbangkan berita menyinggung di seluruh ruangan laboratorium, cukup buat Rara berdecak dengan tingkah sok dewasa. Ok, usia sudah tua tapi tidak menjamin kedewasaan kalau masih menyindir apalagi menjatuhkan bukannya membahu dengan baik. Dasar, gila hormat.
__ADS_1
Mengelus dada dengan senang. Besok Rara tinggal kumpul saja. Persoalan teman yang belum atau mendadak lupa kerja, diyakini telinga terbalut jilbab itu tidak mendengar dengan alasan menyumpal headset sangat kencang.
Biar tahu diri, kalau tugas dikerjakan secara mandiri bukan melulu copas dari teman sebangku.
Mau jadi apa nanti kalau mendapati gelar tinggi jika selama kuliah digunakan dengan copas tugas, kalau tidak diberi bakal mengintimidasi. Hetdah, mahasiswa instan tidak mengerti arti proses dan berjuang sendiri.
Setelah menyimpan tugas itu dalam ransel, Rara berbaring sembari melihat perkembangan cogan tersebut.
Menunduk sangat lesu, bibir pun mengerucut. Hilang kabar.
“Anak itu bikin apa sih sebenarnya di sana? Kok tra kasih-kasih kabar?” Eh, kok Rara yang sentimen sendiri yak? Kan..bukan siapa-siapa tidak ada hubungan spesial juga.
Tapi, tidak salah kan kalau sekarang ini Rara ingin berharap lebih memiliki hati cogan itu? Lagian tidak ada yang bakal marah dan larang kan.
Tunggu, Rara sadar diri juga kok kalau tidak memiliki sebuah kebanggaan selain menyusahkan keluarga. Terus ditambah lagi kuliah tidak sepenuhnya di restui keluarga.
Takut nanti Rara bakal menyerah di tengah jalan dan gagal mendapati gelar itu, cukup menohok hati dia dong. Kenapa sih orang terdekat sendiri tidak percaya atau paling tidak menyemangati biar lebih giat lagi dan bisa membuktikan dia bukan anak yang selalu gagal di sekolah, akan membawa sebuah perubahan salah satunya jemput toga begitu, dengan usaha sendiri?
Bahkan grandma yang selalu membela, “buang-buang uang saja. Kuliah itu..uangnya tidak sedikit, Nak.” Justru merentangkan ketakrestuan cucu mengambil kuliah.
Jelas..semakin buat dia hampir menyerah akibat cemoohan dari keluarga sendiri. Kalau saja tidak ada motivasi dari dalam diri, mungkin sejak semester satu berhenti dan mogok kuliah lalu mengikuti kemauan mereka, kerja.
♡♡♡
Kan punya otak, kenapa tidak digunakan dengan baik selama seminggu ini kan waktu banyak bisa dipakai mengerjakan tugas bukan posting foto makan di tempat sedang trend itu.
Ih, kurang kerjaan sekali mereka. Saat hari penting begini saja kenapa mau mengintimidasikan Rara? Hello..uang kuliah dipakai apa sih? Kok ingin instan melulu.
Bodoh wae. Rara melenggang santai ke kantin. Mengonsumsi sesuatu kerena lapar dengan tatapan tersirat iri itu dari teman jurusan sendiri. Pengen tertawa pongah deh depan wajah mereka.
Tapi,
“Ketika seseorang menghina kamu. Itu adalah sebuah pujian, bahwa selama ini mereka menghabiskan waktu untuk memikirkan kamu. Bahkan ketika kamu tidak memikirkan mereka.” -** Habibie-
Benar. Buat apa mementingkan perkataan buruk yang sekedar melemahkan semangat kuliah Rara, yak kan?
Esok hari, yang ditunggu pun tiba. Libur telah depan mata, sambil bernyanyi riang dalam hati. Tidak sabar dijemput Luthfi.
Rara mengira tidak bakal jadi pergi. Karena lihat cowok itu terlalu pelit dalam mengeluarkan uang. Mendesah syukur.
Deru mesin motor sudah terdengar depan rumah, dengan gercap menutup pintu kamar, “Ma..sa pergi nonton eh? Sama Kak Luthfi.” Kata Rara dengan intonasi manja.
“Yang mana orangnya?” Beliau menyahuti dengan nada penasaran.
Masih malu perkenalkan cowok itu depan Mama, “Ma..sa pergi dulu, sudah di jemput tuh.” Sambil menunjuk pintu dengan kegirangan.
__ADS_1
Beliau pun melihat siapa cowok yang dimaksud saat sudah menghilangkan penasaran, berasumsi kalau anak baik-baik.
Saat naik diatar motor, “semalam tidur jam berapa kak?” Langsung Rara to the point.
Siapa sih yang tidak emosi kalau lagi tidak enak badan memaksa buat terjaga tidak dapat untung apa-apa, lagian malam itu juga Luthfi tidak sedang mengerjakan tugas. Hanya pantau status Rara.
“Cie..perhatian apa.” Ih, orang tanya dengan serius diledek dengan kekehan dari Luthfi.
Setelah melempar diksi itu, “pegangan.” Hampir tak terdengar oleh Rara akibat angin yang cukup kencang.
Jujur, kok Rara yang kaku sih? Karena merasakan motor itu diatas rata-rata, cukup buat jantung sedang berirama tidak normal.
Saat belokan, bukannya memeluk Luthfi justru perpegangan di belakang motor dengan sangat kencang, mungkin kalau ada kendara lain berlalu-lalang melihat kampungan sekali naik motor, tidak bakal dipedulikan oleh Rara. Asal bisa menjaga keseimbangan tidak oleng.
Setiba di MJ, setelah memastikan terkunci stank mereka pun masuk ke dalam langsung naik lantai paling atas.
“Kak, mau beli pop corn dan minuman kah?” Kata Rara, bukan traktir tapi uang masing-masing.
“Ko beli sudah, pop corn satu, biar nanti di dalam makan berdua.” Timpal Luthfi dengan santai.
Oh, berarti de tra suka? Pikir Rara dengan setenang mungkin tak mau ngundang pikiran jelek.
Hanya beli satu dan minuman masing-masing, itu pun yang membelikan Rara. Tuh kan, ih..sudah ditebak kalau cowok itu pelit, dasar..kenapa sih harus cewek yang membayarkan saat sedang jalan berdua?
Dan, pernah terjadi saat Rara jalan dengan mantan kekasih, melulu minta jatah uang bensin. Bukan perhitungan tapi kok urat malu mereka tidak ada, apa sudah putus karena Rara berduit begitu? Jelas dia sangat berkecukupan kalau kurang pun pasti kena marah jika ingin mendapati jatah lebih.
Bukan rasa menyenangkan saat menunggu pintu teater dibuka, ketika, “buat apa ke sini hanya buat nonton? Sa mama pasti tra suka kalau sa ke sini. Karena..cuma menghabiskan uang saja. Mending uangnya dipakai apa kah. Tapi, trapp kalau sekali-kali saja.” Tercetus sangat sadis oleh mulut Luthfi.
Sempat ada desir kecewa. Kalau memang tidak ikhlas uang biru itu dikeluarkan kenapa tidak dari kemarin menolak biar bisa menjaga perasaan Rara.
Menit-menit dipungut hanya makan perasaan atas perkataan sadis dari Luthfi. Apa tidak respect dengan usulan Rara sekali ini saja? Lagian tidak bersyukur ditraktir minuman yang terbilang mahal, tetap melempari diksi pedis ke gadis itu.
Memang yak, kalau dia itu tidak pantas di bumi. Tidak ada yang memerlukan kehadiran Rara dengan tangan terbuka. Bukan hanya keluarga tidak menyukai atas dasar kebodohan pun sifat yang kurang bagus, orang selama sekolah terselip kagum dan sekarang menyimpan asa buat jemput kidung pun pasti sangat ilfil.
Setelah menunggu beberapa jam, mereka sudah duduk dalam teater.
Rara menyadari kalau cowok itu mengangkat kaki dengan tidak sopan, “Kak! Kaki tuh. Kasih turun!” Menggerutu sambil mengintruksikan kaki itu diturunkan.
Mencoba lihat sekitar, mengelus dalam diam. Tidak ada yang memerhatikan. Saat film terputar setengah perjalanan, lagi melihat kaki itu diangkat dan Rara mencoba menegur.
Yang harus diketahui Avisa adalah bukan hanya cuek dan datar, sangat berisik pun telah memberikan ruang nyaman bagi Rara sendiri.
Mengenai cetusan pedis tak berperasaan tadi mungkin hanya pendapat saja. Dan, itu cukup berpengaruh terhadap hati Rara juga sih, karena sudah dari dulu di kucilkan dari orang terdekat, keluarga. Makanya menimbulkan sebuah trauma kalau tak layak di hargai atau diinginkan disekitar lingkup dia. []
Notes :
MJ \= Mall Jayapura
__ADS_1
Bodoh wae \= Bodoh Amatlah