Sepotong Nada Yang Hilang

Sepotong Nada Yang Hilang
Mulai peka Setelah kehilangan (Versi Formal)


__ADS_3

“Terlihat Rara terkesima lewat hening selalu saja mencari arti kidung dibalik rasa yang telah pergi bergandengan dengan yang lain.”


♡♡♡


“Kamu itu kalau ada cowok yang dekat sama kamu, harus pikir dua kali!” Kesal Eka di seberang telepon.


“Kenapa?” Rara justru mengernyit.


“Kamu itu sudah dikasih kode jelas juga tidak bakal peka, yang ada cowok yang suka sama kamu sakit hati duluan.”


Ada tawa hambar menyelimuti wajah Rara. Apa benar kode yang keras sekalipun sama sekali tidak peka?


Bukan kah yang disalahkan adalah Luthfi tidak jujur dengan perasaan sendiri ke gadis itu? Kok disalahkan sih, sambil menunding tidak peka dengan perasaan cowok yang menyukai dia?


Ra, apa belum cukup puas curhat kemarin dengan sahabat-sahabatnya kemarin? Kan sudah ada Adinda sambil ngobrol dan makan bareng seperti masa-masa sekolah dulu. Kenapa mencari tempat curhat lagi di Eka, teman halaqohnya itu?


Ah, gadis itu tidak bisa curhat di sahabat kalau diberi protes tegas ketika cowok disukai telah melambai pergi ketika terlanjur di kasih nyaman. Sebab, bagi Adinda buangbuang waktu saja.


Maka dari itu, Rara ingin teman halaqoh jadi tempat curhat alternatif saja. Kan, Eka juga orang yang asik diajak bercerita apalagi menyangkut cinta.


Pakar cinta sudah itu Eka.


Durasi cukup panjang, dari tadi Eka menggoda dan mengejek kalau dia terlalu lambat dalam menerima kode cowok, yah mau dibilang kurang peka begitu sih.


Tetap saja disanggah dengan Luthfi salah tidak kasih tahu dengan lantang, sudah begitu main pergi tanpa alasan. Semakin menjadi buncahan sindiran dari Eka.


“Ah..Eka kah, saya tidak salah kok, lagian kenapa sih Luthfi yang tidak kasih tahu kalau memang suka sama saya.” Diksi suka disebut Rara, seperti teriris sangat perih.


“Aduh, saya kasih tahu saja eh, Luthfi itu suka sama kamu hanya saja kamu-nya yang tidak peka nih saya bingung juga sama kamu, Ra. Saat dia hilang begini baru kamu mau cari.”


Rara bingung bercampur senang diberitahui kalau sepotong nada yang terlanjur hilang itu menyukai diri. Tapi menjadi pertanyaan adalah kenapa selama bergandeng penuh canda gurau, Luthfi tidak pernah memberikan sinyal sangat kentara agar dia bisa peka.


Kan, dia tipekal cewek cuek, mana bisa secepat itu mengerti isi hati apalagi kode keras selama ini diberikan oleh Luthfi.


Susah kah kalau kasih sinyal sangat kentara? Apa malu setelah mengumumkan penyakit itu dibawah teletubbis?


Hm, mengambil napas lalu membuang dengan sangat kasar. Dada semakit terhimpit sesal. Tidak salah kan, kalau sekarang mulai peka setelah kehilangan?


Kok dengan santai berujar.. “Ah..saya tidak cari dia lagi kok. Lagian dia sudah bahagia dengan pacar barunya di sana.” Arg. Kenapa sakit begini sih? Kesal Rara dalam batin.


“Ah..macam tidak tahu perasaanmu saja, Ra. Kamu ketawa itu simpan air mata, paling nanti setelah telepon saya, kamu menangis dalam kamar.” Eka mencibir, karena sudah gemas dengan tingkah temannya sedang terluka, terus-terusan mengelak soal perasaan itu.


“Ji?! Siapa yang nangis coba?! Seorang Rara itu tidak bakal menangis hanya karena cowok.” Ah, kenapa sih tidak jujur saja sama perasaan itu? Harus yah tertawa hambar, menutupi luka di depan pakar cinta?


Ups, lewat telponan deng, bukan meet secara langsung.


“Iya, kamu bilang begitu, karena kamu tidak mau nangis di depan saya toh?!” Mendadak menelan slavina agak kerepotan, setelah Eka memberikan nada menantang seperti itu.


“Haha...buat apa nangis depan kamu, lagian saya bisa menulis apa kek dari pada harus nangis karena Luthfi.”


Berusaha saja sampai napas terdengar kempas-kempis pun mata sudah panas, hampir


meluncurkan bening sebesar kacang hijau dengan sombong menerobos sampai jatuh ke bawah. Tapi, terurungkan dengan tawa-tawa riang, menyembunyikan luka.

__ADS_1


“Trus..kalau kamu tidak nangis, berarti kamu cemburu nih pakai telfon-telfon saya segala.”


“Ah..tidak ada, cuma kasih tahu saja.” Berubah menjadi nada lirih, kan.


“Itu toh..apa saya bilang, kamu itu ada rasa sama Luthfi hanya saja kamu gensi kasih tahu ke


orangnya! Nadamu saja sudah kek begini, sudah eh intinya kalau jalur kuning belum melengkung kamu gait kembali Luthfi ke dalam hatimu.”


“Haha..siapa lagi yang suka dia, saya tidak ada rasa yah sama dia.”


“Mulai peka setelah kehilangan toh?!” Sindiran yang sangat halus. Dan, mampu menohok hati Rara.


“Haha...tidak ada, saya rasa tidak kehilangan dia koko, ada nomor HPnya nih dalam kontakku.”


Tidak, saya tipu! Kesal Rara dalam batin, sudah mulai habis kesabaran karena terus menerus di desak karena tidak peka dan mulai peka setelah kehilangan, menjadi cibiran Eka sekarang, kan?


Mana ada saling tukar kabar seperti biasa dilakukan mereka berdua. Kalau Luthfi sudah ada yang baru di hati.


“Iya sudah, kalau begitu saya pulang dulu, bye! Thanks eh, sudah temani saya curhat.” Mereka pun mematikan secara pihak.


Karena sedang berada di rumah grandma, main bersama adik-adik kecilnya di sana. Terutama waktu sudah larut, kena teguran halus juga maka dari itu Rara langsung pamit dan mematikan sambungan secara pihak.


“Ah..lega.” Kata Rara bergumam, setelah menyalakan mesin motor.


♡♡♡♡


Apa harus yak menghubungi Luthfi lebih dulu, supaya komunikasi tetap lancar tidak renggang?


Benar. Ada satu hal yang buat dia percaya diri akan mengembalikan sosok menyebalkan Luthfi. Sambil tersenyum tipis, sangat tidak berharap lebih seenggaknya semoga berhasil.


Dan, kalau memang tidak bisa mengembalikan sikap nyebelin cowok itu. Fix, mereka sudah tidak ada hubungan apa-apa selain teman biasa.


To : Luthfi PHP Rewel


Rayakanlah romansa indahmu, sahabat,


Namun kau datangkan prahara


Menghancurkan moment indah kita


Lalu menyelinap pergi bersama cinta.


Tidak mengerti tentang cinta


Yang seringkali menghancurkan kebersamaan.


Asa mengharapkan kau sama seperti dulu


Tapi tak mungkin terjadi karena kau telah dimiliki orang lain.


Hah..lagi-lagi rasa yang sangat menyiksa ruas-ruas sepi itu. Kenapa sih Rara belum


juga bisa pergi setelah sepotong nada benar-benar hilang dari pengharapan gadis itu?

__ADS_1


Rara masih sakit, mengingat pandai memberikan sebuah kode tapi tidak kasih kepastian. Namun, sangat berdesir saat sudah menangkap dengan pelan, mendadak pengen taaruf saja tercetus begitu santai dari mulut Luthfi.


Apa tidak salah kalau dia ikut cuek juga? Dan menanggapi sebagai main-main saja, sekarang mulai menyesal saat sudah hilang dan kesulitan untuk menyapa. Dulu tidak perlu mempertimbangkan banyak alasan agar ada kabar.


Sekarang? Sangat tampak jelas keraguan terbentang pongah di kontak nama yang sudah diubah menjadi asing, semakin mengiris-iris hati Rara.


Tidak tahu kenapa, ada ruas-ruas nyeri dalam hati. Saat kembali lihat pesan terlanjur dikirim lalu membaca ulang puisi buatan mendadaknya itu.


Ada satu garis tercipta, sangat samar penuh luka.


Butuh waktu sangat panjang dalam menunggu balasan Luthfi, tidak seperti biasanya selalu direspon sangat cepat.


Semakin buat dada Rara sesak. Sungguh, rasa cemburu pun timbul dalam hati.


Kmu kenapa noge..


“Eh?” Tiba-tiba detak-detak abnormal terdengar dari dada Rara, semakin menjalar ke seluruh tubuh.


Tersengat sangat pedih.


Dari balasan Luthfi saja sudah benar-benar terasa asing di mata gadis itu sendiri. Really. Mendadak irama dalam batin menyeruak kesal, masih belum ikhlas dengan perubahan drastis Luthfi.


Sudah jelas tuh puisi, gak usah nanya lagi.


Berdetak abnormal, semakin tersulut emosi, Luthfi masih saja tetap tidak peka dengan isi puisi dikirm gadis itu?


Semakin buat Rara tercengang, ketika..


Jii, orang gak ngerti y...sudah jelas apa nc...


Sekarang gadis itu bingung mau menjelaskan apa lagi kalau isi pesan Luthfi sudah menjadi asing.


Aaa..noge nih.


Cukup SMS itu terkirim ke Luthfi. Tidak ada hal yang harus dijelaskan secara rinci tentang perasaan juga kode keras selama ini jalber ke kampus.


Jii, km bikin orang bingung km yang marah sendiri lagi...


Pengen nangis sekarang. Suer deh? Rara sudah tidak sanggup berpura-pura tegar seperti itu, apalagi mendapati sederet balasan Luthfi yang sangat tak berperasaan, kejam! []


Notes :


"Ketika meminta sepotong nada itu kembali, batas jadi sahabat, lewat kode puisi, mendadak jadi amarah.


Karena memang tidak menjelaskan, tidak semua orang paham isi puisi tercipta tersebut. Andai .. Waktu itu menjelaskan maksud isi puisi, meminta kembali sebagai sahabat maybe, mendapati sebuah petikan nada dari gitarnya.


Tapi, sekarang .. Kita sudah menjadi dua orang asing yang tak pernah kenal. Padahal .. Dulu dengan santai lempar canda sekarang kaku."


Salam Online,


💕


-Dinn-

__ADS_1


__ADS_2