Sepotong Nada Yang Hilang

Sepotong Nada Yang Hilang
26. Cerita tentang Penyakitmu


__ADS_3

“Ketika seputar intonasi sangat lirih, membuat Luthfi lebih memilih pergi dari gadis disukai. Semakin buat Rara tersakiti sendiri.”


 


♡♡♡♡


“Panas sekali, takut nanti sa penyakit kambuh,” pernah, sekali mendengar Luthfi mengeluh.


Justru di balas dengan cibiran pedas dong dari Rara, mengira itu hanya sebatas menjaga kulit putih luntur karena paparan sinar matahari yang memang cukup sangat membakar tubuh kala siang itu.


Sempat ada bentakan juga protes cukup buat Rara tercengang dilapisi sedih mengetahui cowok itu marah keluar jam mata kuliah terakhir terlalu lama. Melongo, tertampar sekali dengan diksi penuh menusuk hati.


“Jih, sudah jelas-jelas tahu masih kuliah, kenapa kah mo paksa sa pulang tempo?!” Rara berdialog sendiri diatas motor, syukur daun telinga cowok tra peka memiliki potongan nada itu sudah tersumpat headset.


Tahu, kalau kepala seperti tertusuk jarum tatkasatmata mengakibatkan cenat-cenut. Seenggaknya jangan melukai perasaan orang apalagi cewek disukai tapi selalu bilang menanggapi sahabat. Dasar.


Kebetulan hari ini sedang tidak enak badan, masih mengindahkan ajakan Luthfi pergi menemani. Apa karena sudah terlanjur nyaman dan terbiasa berada di sekitar cowok itu, jadi sulit untuk menolak?


Tersenyum getir, ngotot sekali memaksa diri untuk menemani walau tahu akan berakhir perih, masih saja menuruti keinginan Luthfi.


Berusaha menampik semua hal jelek dalam kepala. Karena .. Sekedar ingin lihat langsung pun mendapati perhatian dari Luthfi. Jujur, Rara sangat penasaran bagaimana ekspresi kalau tahu sedang tidak enak badan.


Karena, kali pertama mengingat wajah penuh khawatir tidak makan menyebabkan perut sakit, cukup buat Rara tersenyum mengembang.


Apakah kali ini akan ada wajah yang sama namun penuh dengan khawatir maksimal jauh lebih menyakinkan perasaan Rara nanti di gunung merah?


Wait. Ada kah traktiran kalau mengetahui nafsi sedang terbujur lemah tersebut? Mengangkat kedua bahu. Sebenarnya masih sakit hati persoalan undangan minum cincau itu.


“Sudah, ayo naik ke sa atas motor!” Melongo dong dengan keputusan Luthfi.


Hua..mendadak jadi lesu tidak sesuai ekspektasi Rara.


Memanyunkan bibir, tidak ada respon yang mengindahkan hati gadis itu. Padahal sebelum naik ke atas motor, beri kode kalau pengen di perhatiin lebih sebab sedang tidak enak badan.


Uh, benar-benar yak, cowok kurang peka dan cuek seperti Luthfi kudu di beri tahu dulu supaya disayang-sayang. Kalau diam santai saja, yang ada hanya makan hati doang.


“Ko duduk saja disini eh? Lihat sa lari.” Usai mengenakan sepatu, lalu pemanasan sambil lari-lari kecil ditempat.


Salah nafsi kan, sudah jelas Luthfi kurang senang kalau tidak diberitahui persoalan kesehatan gadis itu. Dan, sekarang tak dipedulikan. Pura-pura cuek, dalam hati sangat gemuruh ingin melempari kata pedas ke Rara, cukup di diamkan saja sudah bisa


dirasakan gadis itu.


Tadi dalam perjalanan, batuk yang menemani daun telinga cowok itu, semakin mengusik dan menahan kekesalan terhadap Rara.


“Ko sudah minum obat noge?” Luthfi lebih memilih bertanya dengan pelan-pelan.


“Belum,” setelah mendapati penuturan gadis itu, Luthfi hanya diam sampai di gunmer.


Jujur nih, jujur..Rara sangat kesal dalam batin tidak ada lagi kah hal-hal romantis berkaitan perhatian kecil dari cowok itu?


Menyebalkan sekali.


“Hei, Luthfi? Apa kabar, kamu ke sini sama siapa?” Mendadak susah menelan slavina dong, kok bisa bersemuka di tempat sama? Rara jadi kikuk.


“Biasa..siapa lagi kalau bukan dia.” Dih, dibalas dengan santai dong oleh Luthfi.


Nanti kembali ke liqo, sudah dipastikan cowok itu terperangkap sebuah tausiyah dari murobbi.


“Kalau begitu, saya duluan yah, Luthfi.”


Nanik, teman FATIR gadis itu dulu. Sejak masuk di forum, tidak berani terang-terangan memunculkan orang yang disukai karena nanti kena ceramah murobbi.


Melihat Luthfi kembali ke arah gadis itu, “noge...ko duduk saja disini eh, sambil lihat sa lari. Jaga sa tas eh?” Setelah itu lari putar lapangan.


Setelah tiga kali putaran, menghampiri Rara, “ko minum air putih sana!” Mendapati kicauan sangat menyebalkan dari Luthfi, buat dia memutar bola mata dengan jengah.


“Ado noge, sa malas minum yang tra berasa yah! Jus alpukat boleh tuh.” Sambil memamerkan gigi.


“Stop! Ko minum sana!” Luthfi langsung membentak, tak berperasaan sekali.


“Luthfi!” Teriak seseorang dibalik badannya. Rara mengernyit, dia mengenal suara itu.


Ah, Ando yak, teman sewaktu masih sekolah sempat mengutarakan rasa tapi belum


memantapkan jawaban dan mengetes seberapa cinta cowok itu ke Rara, terkejut mendapati pasangan baru lewat sosmed.


Dan, hari ini Rara bersitatap kembali dengan cowok itu.


“Ko deng Luthfi ehm kah, Ra?” Ando bertanya sangat antusias.


Sebenarnya pengen jawab sesuai isi hati, sayang belum ada hubungan pasti.

__ADS_1


“Ah. Haha, trada apa-apa yah, bro!” Sambil tersenyum kecut.


“Baru ko sekarang kerja atau kuliah, An?” Kali ini Rara yang berbalik tanya. Berusaha menghindari dari diksi sensitif tersebut.


“Sa ada mo tes masuk polisi nih, doakan eh!”


“Cie...yang calon polisi!” Rara menggoda, maksud bercanda.


Tawa khas yang tidak bisa dilupakan oleh gadis itu, “haha..sudah ko doakan saja semoga lolos.”


“Ando!” Ih, lagi asyik cerita kenapa harus ganggu sih?


“Ko sudah selesai main?” Ando membalas dengan melempari pertanyaan, memastikan.


“Oh, simpan di sana saja sudah.” Sambil menunjuk ke arah teman lainnya sedang duduk jauh dari mereka berdua duduk.


“Itu ko pu sepeda kah?” Tanya Rara dengan cepat.


Rara mengira bakal ditinggalkan sendiri sementara Luthfi masih lari sore. Ternyata hanya modal teriak saja lalu menaruh kembali sepeda tersebut.


Ando mengangguk, “sa pinjam kah!” Rara berujar sangat girang.


“Pakai sudah.” Jawab Ando dengan santai.


 


♡♡♡


Rara sangat senang bisa mengayuhkan sepeda, semenjak pindah rumah tidak tahu ke mana sepeda itu diberikan ke orang lain.


Mendengus jengkel kalau mengingat sepeda kesayangan diberikan dengan cuma-cuma oleh Bapaknya ke orang lain.


Belum beberapa putaran, sudah mulai hosa. Tidak tahu Luthfi lihat atau sebaliknya yang jelas Rara main dengan puas dulu baru dikembalikan ke Ando.


Setelah merasa cukup puas bermain, memotret keberadaan Luthfi sedang duduk santai bersama Ando. Aih..jadi malas mengayuhkan sepeda ke arah mereka.


Kena omel nanti nih, pikir Rara dengan kesal.


“Ado..sa hosa eh?” Rara mengeluh, sambil duduk di samping cowok itu.


“Makanya su tahu masih sakit, masih saja naik sepeda! Minum air putih sana!” Luthfi menggerutu.


“Oh..kalau ko tra minum kita tra usah pulang sudah.” Lalu, Luthfi pun mengancam.


“Idih...dasar nyebelin!” Kesal Rara dengan pelan.


“Makanya minum sana, sa mau lanjut lari lagi.”


Bravo! Berhenti lari hanya datang mengomeli gadis itu? Jadi pengen minta Ando temani pulang saja. Lagi sakit bukannya di perhatiin, kok keterbalikannya sih?


Dan, Ando hanya melongo melihat dua temannya berdebat persoalan air putih doang.


Rara melihat cowok itu kembali lari, “ko mau?” Menawari ke Ando.


“Ah..ko nih disuruh minum itu, sudah ko minum kas habis.” Tepis Ando secara halus.


Menyengir dong lalu, “sa buang sudah eh, supaya Luthfi mengira sa minum, tapi sa buang.” Inisiatif sangat licik.


“Ah..ko nih kepala batu sekali kah!” Kok Ando yang gantikan cowok itu mengomel sih?


“Asal ko tra kasih tahu dia saja.” Rara nyengir lagi.


Berdebat lagi persoalan air putih. Dan, Ando tampak geram tidak diperdulikan oleh gadis itu, malas tahu.


Sudah membuang sedikit air putih itu ke arah belakang, sambil diam-diam memerhatikan Luthfi sedang lari, aman.


“Ko nih dikasih tahu baru, sini sudah biar sa yang minum!” Kata Ando penuh geram.


“Ah..jangan nanti kalau Luthfi lihat sa tra minum, sa dapat ngomel lagi.” Rara panik dengan tatapan protes.


“Makanya, ko minum sudah!”


Tidak lama kemudian, Luthfi datang menghampiri dengan wajah melongo menatap keduanya. Sedangkan Rara hanya santai menanggapi sorot itu.


“Ko minum cepat! De belum minum sama sekali kah?” Sudah marah, berbalik tanya ke Ando segala.


Lalu, teman cowok itu pun menggeleng semakin buat Rara kena semprot.


Sambil merapikan barang-barang, terdengar kicauan sangat menarik animo Rara, “sa


rencana mo ke bukit teletubis.”

__ADS_1


“IKUT!” Spontan buat Rara girang di tempat.


Terlihat ada senyum tipis tercipta dari wajah Luthfi.


“Kalau ko tra minum sampai habis, tra jadi pergi.” Kenapa kalimat andalan itu selalu menempati ancaman bagi Rara?


Mendengus sangat panjang, lalu memanyunkan bibir dengan kesal, “nih...sa minum kas habis sekarang juga!” Tapi, tidak semua diminum juga sih.


“Itu tra habis, minum lagi atau tra usah ke bukit teletubis sudah eh?” Rara justru mengerucutkan bibir malas menanggapi, selalu saja ngomel.


“Ayo sudah. Bereskan barang-barangmu.” Hua..Rara lompat girang.


Dalam perjalanan masih saja batuk-batuk.


“Makanya, kalau masih sakit tuh tra usah naik sepeda!” Kata Luthfi, naik pitam.


Mendelik sebal, “apa sih?! Sa kan pengen naik sepeda, su lama tra main jadi.” Rara membela diri. Lalu mengatakan kepala sakit, karena dari tadi batuk.


“Sandar di sa pundak sudah.” Kata Luthfi dengan pelan, tumben.


Menempelkan kepala di tangan, merasakan pergerakan cowok itu, tertawa? Dih..sudah


sakit kena omelan plus diketawain, bukannya perhatian sedikit kek, bikin hati Rara senang napa?


Setelah tiba di sana, tidak tahu kenapa perasaan Rara menghangat lihat wisata tersebut.


“Duduk disana saja.” Luthfi sambil menunjuk tempat dipinggir bukit.


Sembari menukar sebuah cerita, “kalau penyakit itu bisa disembuhkan, kenapa tidak? Sa ini, penyakit tra bisa sembuh dari lahir.” Ungkap Luthfi dengan nada lirih.


“Ko sakit apa kah?” Rara penasaran hebat.


Karena dari tadi sunyi menyergap mereka, setelah penuturan Luthfi sangat jujur yang sempat buat gadis itu terkejut sedikit.


Mendengar tawa-tawa sumbang, kok semakin buat Rara melongo heran?


“Dari kecil tuh mamaku stres karena hamil duluan, dan pas itu beliau ngandung sa. Cari cara untuk gugurkan kandungan.. Mamaku akhirnya konsumsi obat-obat sembarang agar lihat janinnya tidak lahir. Tapi, alhamdulillah mungkin Allah masih ingin lihat sa lahir ke dunia-Nya. Itu sudah, sering sakit-sakit. Kadang kalau tidak


olahraga pasti penyakit datang dan kalau kena sinar matahari siang saja kepala sudah sakit sekali.” Ungkapnya.


“Oh, begitu? Trus.. Kenapa dorang sering panggil ko oyong?” Betul, Rara sangat penasaran dengan panggilan ini.


Luthfi tertawa dengan khas, “yah..itu sudah, yang tadi sa bilang. Dari kecil itu sudah berobat ke mana-mana dan alhamdulillah ada dokter yang obati sa namanya oyong. Makanya, sa teman-teman cari gara dengan sebutan oyong. Karena dokter itu yang kasih sembuh sa. Yah, walau tidak sepenuhnya sembuh. Tapi, sa bersyukur allah masih sayang sama sa.” Urai Luthfi, dengan nada yang bergetar. Sehebat apapun intonasi getir disembunyikan cowok itu, cukup dengan jelas Rara membaca nestapa dalam dada Luthfi.


“Iyo eh, kalau ko tra sembuh. Mungkin sa tra ketemu ko!” Berusaha mencairkan suasana beku.


Tiba-tiba saja teringat satu hal, “bisa tuh, sa jadikan referensi novelku nanti!” Langsung Rara berseru heboh.


“Ah..tra perlu.” Terdengar Luthfi menolak sangat halus.


“Kenapa? Bagus dong, penyakit yang sulit disembuhkan dan sa bakal ubah alur ceritanya juga kok. Menarik juga buat sa sih.” Rara bersikuku tetap berada di pendiriannya. Tetap mantap dengan keputusan itu.


Dua hari kemudian..


Sejak duduk bercerita tentang penyakit serius dialami oleh Luthfi, kenapa tiba-tiba tidak ada kabar? Rara hanya bisa menunggu sepotong nadanya kembali seperti dulu, ngampus bareng lagi tapi kok mendadak sakit sendiri? []


Notes :


Kas \= Kasih *Logat Papua*


Hosa \= Sesak Napas


Dorang \= Mereka *Logat Papua*


"Be the way..duduk berdua dibawah senja bersama orang disukai menjadi satu memoar indah. Desir-desir lirih dinikmati dengan ruas penuh arti.


Semilir angin menyapa pipiku semakin mendahagakan rongga asa dalam kidung bungkam.


Memoar yang sangat ku rindukan, diajak duduk bercerita di bukit telettubis, walau belum memiliki hubungan pasti, yang jelas sangat berharga untuk di kemas dalam aksara.


Untukmu yang sempat menjadi perbincangan simfoni sunyi, terima kasih sudah pernah mengajak berkeliling kota swis hehe, terutama kicauan sangat rewel kalau saya telat makan atau sedang tidak enak badan.


And sori for story mengenai penyakitmu, telah ku arsipkan di aksaraku, seenggaknya menjadi potret luas dalam sisi syukur bagi mereka diluar sana masih merasa insecure dengan diri mereka sendiri. Semoga yang masih insecure pada diri sendiri, setelah membaca bab Cerita tentang Penyakitmu di Sepotong Nada yang Hilang ku ini mengubahnya jadi syukur🙃


Kamu hebat, kamu tercantik, terbaik, tersegala-galanya dalam menerima diri menjadi rasa syukur dan menjadi apa adanya tanpa harus menjadi orang lain. Tetap berbuat baik pada diri sendiri dan jangan menyakiti diri."


Salam Sayang Online,


💞


-Dinn-

__ADS_1


__ADS_2