
“Terlihat pongah mengetahui tautan rasa sebatas memeluk cintamu lewat aksara.” -Adinda-
♡♡♡
“Din, beberapa hari lalu sa lihat status facebookmu, itu siapa yang buat? Ko kah? Trus untuk sa toh?”
Aik. Mendadak susah menelan slavina setengah mati. Mendesah begitu gusar, akibat sahabat tak ada akhlaq itu.
Ugh. Ingin sekali menampol dengan sayang karena saat ini tidak begitu mudah dalam mencari jawaban untuk menyakinkan Rai.
Tahu kok, kalau cowok bandung itu menginginkan diri menciptakan sebuah musikalisasi karena terlanjur jatuh hati dengan aroma-aroma nada sempat dipelajari beberapa minggu itu lewat komunitas mereka.
Padahal selama Rai petik gitar, tidak terpikirkan mengenai kombinasi puisi dalam musik.
“Trus, kalau bukan kamu yang buat, siapa dong?” Mendadak Rai lesu dong.
Adinda menelan slavina susah payah, kedua kali. Menerobos dua bola mata cowok bandung terselip sebuah kecewa, cukup buat diri tak enak hati.
“Sebenarnya..” Menggantung, sembari lihat ulang wajah Rai, apakah nanti protes dengar penuturannya?
“Kenapa?” Rai berkicau, tak sabaran menunggu kelanjutan cerita perempuan itu.
“Eng..itu yang buat bukan sa, tapi Rara.” Fix. Kata-kata yang sangat rumit di lontarkan juga sempat nyangkut di tenggerokan, bisa dengan lancar menyampaikan walau hati lagi was-was.
Tidak butuh waktu panjang untuk mendapati jawaban cowok bandung tersebut.
“Oh, it’s okay, tapi..kapan-kapan bagaimana kalau kita bikin berdua? Kamu pintar bikin puisi juga kan?” Langsung menawari produksi project musikalisasi dong.
Spontan buat Adinda terkejut.
Sampai di depan pagar STIMIK, sebelum turun dari mobil, “sudah..tidak usah pikirkan, sekarang kamu fokus belajar saja. Nanti telpon kalau sudah selesai, soalnya habis dari sini kemungkinan saya agak lama, karna mau temani Mitsuri belanja.”
Masih terdiam.
“Tenang, insyaallah saya jemput tepat waktu, tidak bakal buat kamu menunggu lama kok.” Bukan, bukan itu yang sedang di pikirkan Adinda.
Menggeleng sambil menampilkan wajah kecut, “kalian jalan su, soalnya kelasku mau mulai lima menit lagi jadi. Ok sip, nanti kalau kelasku selesai sa hubungi. Take care. Assalamualaikum.” Lalu menutup pintu mobil dengan pelan.
Setelah melepas kepergian mereka berdua, melangkah dengan perasaan berkecamuk parah.
Kenapa bisa, kembali dengan ingatan-ingatan mengenai lomba novelet yang tak memungkinkan diri menang?
Decih-decih terdengar sangat lirih berasal dari Adinda sendiri.
Tidak salah juga kan, jika diri ingin mengharapkan lebih dari sebuah event lomba terbilang menggiurkan isi dompet, apalagi seperti Adinda, sebagai mahasiswi yang terbilang butuh duit banyak untuk bayar segala keperluan. Seperti uang spp, kost dan makan sehari-hari.
Memang sudah berada di tahap akhir, hanya tunggu jadwal ujian skripsi saja keluar. Beberapa minggu lalu sudah teracc judul proposal jadi tidak perlu lagi ikut ujian ulang dengan mengganti topik penelitian.
Kalau ngulang yang berarti biaya keluar lagi.
Sambil nyusun skripsi, perempuan itu juga jadi asdos di kampus sendiri, menambah pemasukkan walau tidak terlalu banyak, bersyukur sekali.
Drrt..Drrt.., lamunan itu hilang ketika ada notifikasi dari benda pipih yang sedang di pangku beralaskan ransel.
Dengan cepat membuka pola kunci tersebut dan bernapas lega ..
Assalamualaikum, jgn prgi ke tmpat lain. Kita sdh mau sampai.
Ketika tak tanam pantat terlalu lama di kampus, membosankan juga yak. Apalagi tadi habis ngajar di ruangan, berasa ingin segera jemput pulau kapuk, letih. Walau tadi diisi dengan murottal, fisik butuh istirahat juga kan?
Waalaikumsalam, hati-hati, jgn ngebut.
Menerbitkan seulan senyum lalu memasukkan ponsel itu ke dalam ransel.
Tidak tahu kenapa sejak di beri pertanyaan sebelum melepas kepergian dua adik-kakak
itu belanja keperluan, mendadak ada dentum-dentum mengiramakan sesak.
Menggeleng sekuat tenaga, membuang semua pikiran-pikiran tidak ingin terundang dalam kepala. Bisa memproduksikan hal nestapa saja.
“Lama sekali kah tunggu kita jemput?” Rai bertanya, tidak seperti pribadinya sekali.
Tersenyum tipis, “tidak juga kok. Yasudah, kita balik saja. Pasti, kalian juga capek kan? Habis belanja?”
__ADS_1
“Kak..makan dulu yuk?! Kan, tadi kakak janji tunggu Kak Adinda selesai ngajar dan bimbingan, kita makan sama-sama.” Mitsuri menagih janji sang kakak.
Cukup buat perempuan itu terkekeh geli.
“Emang kamu janji dia makan yak, Rai?” Menaikkan satu alis, bingung.
“Hm, begitulah,”
Kok Rai berubah tidak seasyik dulu sih? Apa ada problem di pekerjaan makanya menutupi keharmonisan dalam diri itu?
Menghelakan napas pelan lalu masuk dalam mobil.
Menit-menit waktu terbungkus hingga tak menyadari telah berada di angka empat sore
waktu indonesia timur.
“Rai, nanti cari masjid dekat dulu baru pulang yak?” Pinta Adinda.
Hanya di balas dengan anggukan serta senyum kecil dari cowok bandung tersebut.
Aneh. Perasaan Adinda saja atau memang lagi lelah pikiran dengan aktifitas seharian ini di kampus?
Tidak. Mana mungkin perubahan Rai secepat itu, seperti orang asing dibalik bola mata perempuan itu sendiri.
Usai sholat Ashar, mereka pun mengantar Adinda balik ke kost.
Kok, belum balik sih? Justru mengekori dari belakang sedangkan adiknya duduk manis dalam mobil.
Mengernyit sangat bingung ingin minta penjelasan dibalik ekspresi tersebut.
“Maaf..”
Diksi paling ditakuti hingga menyergapkan semua hal ketertakutan dalam kepala Adinda saat ini.
Memicingkan mata, menatap lamat-lamat bola mata yang telah terlanjur berada di ruas sayang yang bahkan tidak tahu kejelasan hubungan itu.
“Mungkin, ini terdengar mendadak, tapi..Mitsuri sudah di terima salah satu kantor komikus di jepang.”
Wait. Yang berarti .. “Kamu juga ikut dia ke sana, begitu?” Dengan cepat terbalas tidak rela melepas.
Menunduk lesu. Sebisa mungkin menetralkan ekspresi depan cowok yang terlanjur jatuh hati dalam doa, supaya tidak melihat sedang dalam masa kalut.
“Saya tahu kamu sedih, tapi tidak mungkin biarkan Mitsuri ke sana sendirian.” Rai memiliki kadar kepekaan paling tinggi yak.
Menggeleng dengan menampilkan senyum samar, “nggak kok, selagi itu baik buat Mitsuri, kenapa harus minta maaf? Kan, kita bukan siapa-siapa, selain sahabat?” Dibalik intonasi tersebut, terselip getir tak tertandingi.
“Jadi, selama ini kamu anggap saya sahabat, Din? Tidak lebih dari itu?”
Membelalakkan mata, terkejut.
Selama ini Rai menanggapi status itu apa? Teman spesial kah atau memang sekedar menenangkan rasa sedang bergemuruh hebat, tak rela melepas kepergiannya ke jepang?
“Rai, sa butuh istirahat, ngantuk. Tuh..kasihan Mitsuri dari tadi tunggu ko dalam mobil. Sudah..tra perlu khawatir, sa senang kok kalau hobinya ademu tercapai sebagai komikus.”
Justru Rai menampik, “insyaallah sidang skripsimu, saya datang. Tanggal 7 Juli kan,
mau buket apa?”
Menggeleng lemah, “sa tra butuh buket apa-apa, hanya lihat ko datang di sa ujian skripsi, su cukup buat sa.”
Please..air mata jan tumpah-tumpah dolo, biar Rai pulang baru ko banjir di sa pelupuk mata. Getir Adinda, menguatkan rasa sedang terombang-ambing nestapa.
“Kalau begitu saya pulang dulu, tapi sebelum berangkat ke jakarta, boleh kan, kita habiskan waktu jalan-jalan disini, dengan sahabat-sahabatmu juga?”
Adinda hanya mengangguk, sebagai jawaban juga mengantar kepergiannya balik ke kost.
Apa benar yang telah terproduksi dalam aksara, menjadi realita terbentang oleh mata?
Mata yang panas juga napas tersendat-sendat, mengatup ruas-ruas sesak dalam dada seorang diri.
Jangan bilang kalau novelet yang diikut sertakan dalam lomba seperti kisah cintanya dengan Rai?
♡♡♡
__ADS_1
“Din, kenapa nangis? Ada masalah?” Rara bengong sendiri juga kaget kedatangan sahabat yang mendadak ini ke rumah.
Vero yang sibuk dengan HP ikut melongo, tetiba saja sahabat datang dengan air mata.
“Ko kenapa, Din? Siapa yang bikin ko menangis begini?!” Spontan Vero marah. Masih bungkam, dengan rasa berkecamuk parah.
Memang Rai belum berangkat, kok sesaknya sampai berhari-hari yak? Padahal sudah membatalkan dari keinginan sendiri, tetap menjadi pikiran.
“Rai besok berangkat ke jakarta.”
“Lah..sa pikir apa kah, bikin panik saja. Mungkin de temu kangen deng orangtuanya kapa di sana.” Vero pun menghelakan napas lega.
Menggeleng. “Bukan. Tapi de ke jakarta pamit ke orangtuanya untuk antar Mitsuri ke jepang. Dia keterima di salah satu kantor komik di sana, jadi Rai harus ikut.”
“Kok mendadak begini sih, Din?! Trus..trus, Rai sebelum berangkat sempat ajak ko jalan-jalan ndak?” Rara heboh sendiri dong.
“Sempat dia ajak, tapi..sa tolak.”
“Hadeh..ko lagi nih, su tahu mo berangkat ke jepang, pi acara tolak lagi.” Ketus Vero.
“Rai juga sempat bilang ke sa kalau ajak kalian juga jalan-jalan.”
“Heh?! Kok tra kasih tahu torang sih, Din?!” Rara semakin keki mendengar penuturan sahabatnya itu.
“Ko tahu kah tra, kalau jalan habiskan waktu sama orang yang ko sayang trus tra tahu kapan lagi ketemu, pasti sakit toh?”
Bentar..bentar, menjadi menarik dan perhatian adalah .. “Ko suka sama Rai?!” Spontan buat kedua sahabatnya heboh dan kompak dong.
Ups. Adinda langsung menutup mulut rapat-rapat.
“Ada pantas, setiap kali kegiatan, pasti ngajak Rai. Oh..begitu rupanya, cie..ada yang diam-diam suka nih yeh.” Rara menggoda.
“Bentar, ada yang telpon sa nih, nomor baru.” Menginstruksikan mereka untuk silent sesaat.
“..”
“Oh, pengirimannya dari mana yah kalau boleh tahu?” Adinda bingung, sambil lihat satu per satu wajah sahabatnya itu yang ikut penasaran.
“..”
“Hah?! Ok, makasih, biar nanti saya singgah ambil saja di kantornya.”
Tut..tut.., panggilan pun di akhiri sambil melihat mereka dengan wajah sumringah.
“Sa menang! Sa menang lomba novelet!”
Kedua sahabat ikut senang dengar kabar tersebut, diam-diam ada yang menyimpan rasa sakit. Selama ini ikut event lomba puisi tidak pernah menang pasti selalu jadi kontributor.
Memutuskan untuk segera ambil paket itu, sedangkan Vero duduk manis dalam kamar Rara.
Beberapa menit kemudian, mereka bertiga pun unboxing paket hadiah tersebut.
Alhamdulillah..dapat piala yang sa idamkan selama ini, trus uang yang tra sedikit ini
bisa nambah-nambah keperluanku. Gumam Adinda sangat senang.
“Eh..eh, bagaimana kalau sa traktir kam di Solaria Mall Jayapura?! Sekalian nonton?!” Adinda berseru senang.
“Boleh..boleh. Yey! Dapat makan gratisan dulu.”
“Tunggu, sa malas nonton yah, dingin. Lebih baik makan saja di Solaria.” Vero menolak halus.
“Aik. Tra seru sekali kah, ayo su sekali-kali, Vey? Kapan lagi torang bisa nikmati hasil menang dari hobiku nih?” Adinda berujar sangat lesu.
“Eng, bagaimana kalau nonton kita ganti dengan main di Amazon?” Rara mengusulkan dengan cepat.
“Nah. Boleh juga tuh, kalau ko pendapat?” Kali ini Adinda beralih lagi ke Vero.
Ok fix. Adinda pun membereskan barang-barang itu lalu ke rumah ambil mobil, setelah mendapati persetujuan sahabatnya.
Kok, tetiba saja ada senyum getir tercetak ketika kembali lihat cover itu?
Kenapa, baru sekarang rasa dalam memeluk cinta itu lewat aksara dan hanya diri sendiri saja menghadirkan aroma kidung tersebut? Ketika Rai tidak berada di sekitar perempuan itu lagi?
__ADS_1
Benar kan, kalau cinta dalam doa sungguh menyesakkan dada.
Jika benar kata-kata Rai kala itu, berarti besar kemungkinan sama-sama mencintai dalam doa. Semoga. []