
“Ternyata, saat mengirim fotra tersebut Luthfi tidak lagi permasalahkan dan mengindahkan permintaan gadis itu buat kampus bareng.”
♡♡♡♡
Rara berpikir memerlukan durasi cukup panjang, kenapa bisa ada cowok melantangkan rasa secara diam-diam ke temannya sendiri dan mengumbar rasa nyaman di dia, tapi ternyata sebatas plampias karena belum move on dari mantan.
Menyebalkan.
“Kenapa sih ada cowok yang sa suka, ternyata gensi. Dih, satu lagi sudah jelas belum move on, masih saja buat sa baper.” Lah, kok Rara yang kesal?
Kaknis. Kenapa menjadi bengis dibalik senyum palsu diberikan hingga meluluhkan ruas-ruas kosong milik Rara?
Harus kah ada luka terpapar sangat lirih, saat satu kidung sulit diperjuangkan untuk menyumpal sepotong nada dari petikan gitarnya?
Arg. Apa ini karma bagi Rara sendiri? Pernah menyelipkan kidung tapi sahabat tak tahu-menahu sampai mengantarkan ke prahara cukup sengit. Dua tahun tidak buka obrol, cukup menohok perasaan Rara. Sungguh.
“Kak, siapa sih mantannya?” Pernah, Rara mencetuskan pertanyaan itu.
Daripada disimpan sendiri, semakin sesak dan tahan perasaan ingin tahu lebih dalam. Lebih baik dia melontari pertanyaan itu, saat sebelum Andy datang kampus.
Dan, diluar dugaan. Atri masih belum memberitahui nama mantan yang masih berhasil menguasi hati kaknis terlanjur disukai Rara itu.
Ih, miris sekali kisah percintaan gadis itu.
Andy harusnya merasa salah, kenapa berikan rasa nyaman dan tidak pertanggungjawabkan perasaan itu. Dasar, pecundang sekali.
Lucu sih, gadis itu justru masih beta berada di zona nyaman milik kaknis berlabel PHP.
Tiap dijemput makan atau jalan bareng dalam kelas, kenapa sulit buat menolak? Padahal hati sudah remuk, patah berulang-ulang.
Hati Andy bukan buat dia, kenapa masih juga berusaha mempertahankan pondasi itu?
“Ko kenapa kasih tahu dia?!” Andy menyempatkan marah pada sahabatnya?
Kalau tidak tahu persoalan hati masih netap di mantan, mungkin gadis itu terus produksi asa mendapati hati kaknis.
Tidak seharusnya marah. Sudah jelas, dan Atri tidak bersalah sudah benar dalam menyampaikan isi hati sahabatnya sendiri, karena Rara tahu kakting itu tidak tega di baperin saja sama Andy.
Dan, kalimat itu masih bisa ditangkap sangat jelas saat dipanggil Andy justru ngambek, kebetulan duduk di atas tangga FIKOM. Tergesa, gadis itu memilih balik ke rumah.
Hancur lebur.
Kenapa saat remuk tak berujung ketika bunga harapan layu, Luthfi tidak datang sekedar menghibur? Atau mengajak jogging hanya menemani cukup buat memompa hati sedang patah itu.
Rara sangat merindukan kicauan dari mulut cogan itu. Kenapa saat membutuhkan sandaran seperti ini, Luthfi justru susah buat di hubungi. Bukan susah tapi gensi untuk cipta obrol lebih dulu.
Karena yang Rara simpulkan adalah terlalu songong kalau dicari.
Ah, paling malas sekali kalau sudah begini. Kenapa sih kalau ada rasa yah perjuangkan masa cewek yang harus perjuangkan? Ih, tidak kebalik kah?
Kok Rara jadi gede perasaan mengenai isi hati cogan memiliki not-not dari petikan gitar yang masih belum di dengar langsung, berdua. Tanpa orang lain ikut mendengar.
Dan, jika benar cogan memiliki petikan gitar masih buat Rara penasaran ingin dengar langsung, menyelipkan sebuah asa mendekap hati kosong gadis itu. Bakal menjaga satu nama itu dan menolak cinta yang datang. Termasuk Andy.
Rara juga masih belum yakin sih. Karena cogan itu terlalu banyak bermain daripada serius menunjukkan suka ke dia.
Hm, menggeleng sangat tidak percaya.
Esok hari..Rara sedang tidak bersemangat apalagi melihat status sweet milik kaknis di sw semakin buat dada retak. Dia pikir setelah mengabaikan sebuah kebersamaan dengan cowok gensi, bisa menggapai hati cowok dipenuhi kehangatan. Ternyata, diluar ekspektasi, masih sayang mantan kekasih.
Egois? Tidak juga, hanya saja kecewa Andy tidak menjelaskan kenapa perilaku itu sangat manis ke dia. Ternyata ada hal terselubung, susah melupakan. Menjadikan Rara plampias. Bravo sekali!
Tertawa miris, sambil bermain game menunggu dosen masuk mengajar. Dan, tidak ada mood pergi bersama teman the gank ke kantin. Walau sudah di ajak, menolak dengan gelengan pelan.
“Rara..” Suara dibuat-buat manja ini ingin sekali gadis itu melempari batu tela, kalau tidak ada hukuman dari dosen sudah dipraktekkan langsung.
Malas menggrubis, masih asik dengan HP.
Duduk disamping dengan cengengesan dan suara khas sampai di daun telinga Rara, sabar..pengen nangis saat bergumam sangat lirih.
__ADS_1
Berusaha tidak menganggap siapa-siapa berada di samping tempat duduknya.
“Dek, makan yuk? Pasti ade dari pagi belum makan kan?”
Trik yang sangat licik. Tidak bohong, ada yang menjalar ke seluruh tubuh gadis itu menjadi perasaan hangat.
Benar. Dia belum makan sama sekali akibat mood rusak karena cowok itu sendiri.
“Dek, ade kenapa? Marah kah sama kakak?” Andy berusaha memancing ngobrol, nihil tidak ada respon indah dari gadis itu.
Su jelas salah, masih saja batanya! Gerutu Rara dalam batin.
Bakal rumit kalau mengatakan sebenarnya ke kaknis itu. Lebih baik mengangkat pantat dan menggandeng ransel. Keluar kelas tidak tahu ke mana langkah itu pergi, yang penting tidak mendengar suara hangat tapi beri benalu dalam dada.
“Bro..bro, Rara kenapa eh?” Andy melongo. Saat mendapati dua sahabatnya baru datang, bersamaan gadis itu keluar dari kelas.
“Makanya Andy, anak perempuannya orang jan ko sakiti. Tobat toh!” Atri berseru terkesan mengejek.
Dan, masih bisa Rara tangkap obrolan mereka. Setelah itu menghilang tidak tahu ke mana. Semakin sulit buat Andy merekam jejak gadis itu untuk mengejar.
Beberapa bulan kemudian, pengambilan KRS baru.
Saat sedang menunggu antrian, kedua orang itu berdiri di bawah sambil berbincang-bincang.
“Salma itu siapanya kah, Kak?” Tercetus juga.
Danang terlihat menaikan satu alis, bengong. Kok bisa menanyakan hal itu sekarang?
Jujur, sejak keberangkatan kaknis ke Merauke sudah memiliki feeling kurang bagus dan mengonsumsi potret manis di beranda Line milik Andy.
Tidak tahu kenapa jari itu terarah begitu saja dan mendapati bingkai manis bersama cewek lain. Dan, menjadi pertanyaan adalah masih sayang mantan beda keyakinan sudah ada yang baru?
“Ko tra tahu, Ra? Oh, em..Andy tra pernah cerita?” Danang berbalik tanya, ke arah tidak ingin menyinggung perasaan gadis itu sih.
Danang mendapati gelengan kecil juga ekspresi ringis dari Rara. Melongo, masih tidak tega buat menyampaikan. Sambil memegang KRS milik Andy dan melihat dengan pertimbangan lebih. Daripada lihat adikting ini penasaran, lebih baik memberitahui saja yang sebenarnya.
“Salma itu teman SMAnya Andy dulu. Mantannya juga sih, kenapa jadi?”
Screnshoot foto mereka di Line dan sempat mengirimkan ke Luthfi. Apa benar cogan itu hilang kabar karena marah atau cemburu?
Arg. Rara tidak tahu persis perasaan cogan gensi menyukai dia atau tidak.
♡♡♡
Fotra yang beberapa minggu ini dikirim.
Tuh lihat ceweknya, jadi buat apa dia bilang susah lupakan mantan dan takut pacaran kalau udah dapat pacar di sana? Lalu kembali di baca Rara, meringis. Sangat ngilu.
Memegang sangat erat benda persegi panjang itu, dengan perasaan campur aduk.
Hua..Avisa, sa butuh ko sekarang! Berdesir dalam hati.
Kenapa juga sih Rara sangat bodoh dan merutuki diri sendiri, coba waktu bisa ditarik kembali, tidak bakal mengirim foto itu ke Luthfi.
Sekarang baru cari cogan itu kan.
Ra, dimana? Klaw nggak sibuk mau dtg ke tempat latihanku? Lihat sy latihan karate?
Rara mendadak lompat sumringah, mendapati kabar tersebut. Dengan cepat membalas one the way. Tidak tahu kenapa suka lebay saat cogan itu mengirim SMS masih beta juga berada di sekitar Luthfi. Apalagi mendapati kabar saat sedang kalut seperti itu.
Setiba di sana, mendadak melongo dong.
“Loh? Sudah selesai?” Intonasi sangat kecewa.
Tetiba merasa lesu ulang. Padahal dalam perjalanan pengen lihat penampilan Luthfi latihan karateka baru, tahu-tahu saat sampai sudah bubar barisan saja.
Uh, menyebalkan sekali Luthfi itu!
__ADS_1
“Iyo, kenapa ko lama datang kah?” Eh, kenapa Luthfi yang tidak terima sih?
Lagian kenapa jadi cowok terlalu plin-plan kasih kabar mendadak begitu jelas buat Rara kudu berpikir datang atau batal, karena agak sorean dikasih kabar.
Mendengus sangat panjang.
Daripada ngambek dengan cowok susah peka di depannya itu, “besok ada mata kuliah apa kah? Em, kira-kira besok kita bisa kampus bareng? Sa mau kerjain kakak tingkatku saat lihat ko antar sa.” Rara langsung berseru senang.
Memang belum aktif kuliah masih urus KRS saja. Tapi tidak tahu dengan kampus Luthfi.
“Em, boleh sih. Jam berapa?” Hua, menjadi kegembiraan Rara dalam batin dan mencoba menjaga ekspresi girang itu.
Menginfokan buat jemput delapan pagi, karena ingin mengurus KRS tidak mau antri lama. Langsung diindahkan oleh cogan tersebut. Walau tadi sempat kecewa belum melihat Luthfi latihan karateka, sebagai ganti besok bakal kampus bareng.
Ciee.. Sorakan dari junior Luthfi, cukup buat kedua pasangan itu bersemu malu. Ingin segera pulang kok Rara masih tertahan di sana sih dan tidak bicara lagi?
“Kak, pelatih panggil tuh!” Teriak salah satu adik perempuan yang berdiri dibalik pintu terbuat dari tripleks.
Luthfi menoleh sebentar, “oh, sabar eh?” Menyahut sekena lalu berbalik ke Rara sekilas.
“Kenapa?” Disambut bengong, ada dentuman tak rela cogan itu pergi dari pandangannya.
Sebelum pergi ke pelatih, “Ra, bisa antar sa pulang?” Merengek sambil mengangkat kaki kanan dan kiri bergantian, salting.
Ingin sekali menyemburkan tawa. Jujur Rara juga salting saat berhadapan seperti itu, “boleh, tapi ko yang bawa eh? Trus..motormu ke mana jadi?” Rara celingak-celinguk.
“Sa tra bawa motor.” Dengan santai menjawab.
Usai mengambil sepatu dari dalam dan berjalan mengarah Rara, “Kak, Kak Luthfi punya motor ada disini!” Teriak adik perempuan itu lagi.
Kok saat dengar penuturan adik itu, ada rasa kecewa berasal dari hati Rara sih? Ah, sudahlah Rara langsung melambaikan tangan lalu balik ke rumah dengan perasaan sedih. Kan, pengen tahu alamat rumah cogan itu.
Saat sudah menunggu hari esok, tidak sabar buat mengenakan jilbab dan jujur cukup buat jantung itu berpacu sangat abnormal. Canggung sekali, kali pertama di jemput buat kampus bareng Luthfi.
Dan, selalu bertanya dalam benak apa benar cogan gensi itu menyukai dirinya yang tampil apa adanya tanpa olesan make up pun lip gloss? Rara dengan spontan mengangkat kedua bahu, tak tahu.
Kali pertama buatkan sebuah bekal, surprisse for Luthfi. Senyum itu terbit sangat hangat. Tidak sabar buat kaknis cemburu saat menyodorkan kotak bekal itu ke Luthfi.
“Loh, sini Ra. Biar bibi yang buatkan. Rara mandi saja.” Art masuk dalam dapur lalu menyuruh dia mandi justru menolak secara halus.
“Tidak usah, Bi. Biar Rara saja yang buat, lagian tidak susah kok buat bekalnya.” Sambil melempari senyum tipis, melihat art tersebut mengambil sapu.
Setelah selesai, HP bergetar berkali-kali, buat Rara hanya cengengesan sambil mengenakan jilbab.
“Ma, Rara berangkat kampus dulu!” Rara berteriak, sambil membuka pintu rumah.
“Sama siapa?” Membalas dengan intonasi menyelidiki.
Mendapati cengir ananda, “sama Kak Luthfi. Daa..Ma, assalamualaikum.” Lalu Rara menutup pintu dengan berisul riang.
Luthfi hanya menggeleng lihat tingkah Rara, “sudah dari tadi kah?” Berbasa-basi berusaha menenangkan degup aneh ketika mengunci pagar rumah.
Bukan kali pertama berduaan diatas motor, kok irama itu semakin sulit terkontrol diri sih?
“Sudah. Ayo, naik. Nanti terlambat lagi.” Luthfi berujar ketus.
Pen tertawa deh lihat ekspresi itu. Jelas. Luthfi juga menyimpan kecanggungan yang sama dengan gadis itu.
Satu setengah jam kemudian, saat turun depan parkiran FIKOM, membuka ransel lalu menyodorkan ke depan dada Luthfi, disambut melongo dan apa ini? Cetusan dari cogan tersebut.
“Sudah..kakak bawa saja, bekal.”
Kebetulan sekali kaknis itu duduk di indihome lalu tanpa diduga berbalik ke arah mereka, memerhatikan saat Rara menyodorkan kotak bekal itu.
Yes, berhasil! Dalam batin lompat girang, satu senyum pongah tercetak berasal dari bibir Rara. []
Notes :
Fotra \= Foto Mesra.
Batanya adalah Bertanya *Bahasa Gaul Papua*
__ADS_1