
“Tak mengelak mengetahui Luthfi yang masih berani mengajak jalan, bukannya waspada menjadikan jalber tersebut keterlibatan zona berbahaya.”
♡♡♡♡
Rara saat ini sedang menunggu teman-teman liqo, masih sepi dan hanya berdua saja saat murobbi sudah membukan pintu rumah, berbincang sedikit dan sibuk melihat beliau sedang memainkan jemari. Melongo dong.
Daripada tidak ada obrolan lagi, lebih baik..
“Mba, mau tanya, Luthfi itu liqonya dimana sih?” Rara pun membuka obrolan, dengan sedikit nada kepo sih.
Kenapa yak mendadak gelisah kala menangkap sebuah diksi sensitif menjadikan sebuah ancangan menanyakan perihal cogan itu di murobbi. Tidak takut berada di zona membahayakan hubungan mereka?
Ah, Rara sih, kenapa juga harus bertanya hal yang jelas bakal mengendus sangat cepat di pikiran beliau?
Sempat mengernyit, pertanda tidak baik bakal kena semprot ceramah nih sebelum teman liqo pada berdatangan.
Rara menampilkan senyum cengir, tak bersalah. Tapi detak berpacu sangat abnormal, harap bercampur cemas dimarahi oleh murobbi sendiri.
“Luthfi?” Rara melihat dua alis itu berkerut, bengong.
Selepas ketertakutan dalam sunyi dibuat oleh murobbi sendiri, bisa bernapas lega saat ini. Rara pun mengangguk mantap dan berusaha buat tidak menyelipkan sebuah kecurigaannya.
Dan, tumben sekali gadis itu datang liqo, kalau diajak murobbi saja sering lari dan banyak alasan terutama kuliah dijadikan bahan untuk menghindari kajian.
Apa karena Luthfi menyampaikan hal sensitif itu diatas motor? Makanya semakin buat Rara rutin ikut halaqoh?
Hua..Rabb, kalau pengen jujur dan berharap, gadis itu hanya menginginkan hati cogan terbilang cuek dan memiliki potongan nada dikagumi banyak cewek termasuk sahabatnya sendiri, sebagai kekasih mengeja jannah. Yup, bukan sekedar pacaran saja.
Apakah bisa?
“Oh..sih Luthfi itu toh anti, dia liqonya sama mas Andi, suami mba.” Mbak Jannah pun berucap sambil mengenakan logat jawa kental, dengan santai melihat ke arah Rara.
Yang dilihat pun langsung mengalihkan pandangan lain, mengupayakan sembunyi kegugupan.
“Gitu yah mba.” Masih melihat ke arah lain, yaitu atap-atap langit rumah.
“Kenapa? Anti ada sesuatu yah sama Luthfi? Makanya anti tanya-tanya?”
Deg. Kok bisa sih murobbinya menebak, tak meleset dari pertanyaan Rara? Pengen pamit saja deh, kalau sudah seperti ini. Takut terendus sebuah merah jambu diantara mereka berdua.
“Eh..hehe, tidak juga kok mba, dia itu kakak kelasku dulu di SMK. Makanya waktu acara ‘No Valantine Days’ dia ada.” Mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Oh..iya dia sudah lama gabung dengan FATIR, hanya saja baru nongol di liqo.” Mbak Jannah pun menginfokan, spontan buat gadis itu terkejut.
Oh, berarti selama rapat FATIR sebelum vakum, Luthfi tidak pernah hadir? Ih, pantas saja saat kali pertama membahas forum itu dengan songong mengatakan kalau alumni anggota forum tersebut. Yah, jelas buat Rara tidak memercayai perkataan cogan itu. Dari penuturan langsung oleh murobbi baru deh dia percaya.
Dasar, pemalas! Kalau ada maunya saja datang liqo. Pikir Rara dalam batin bersuara protes.
FATIR, salah satu forum yang meninggalkan banyak memoar hangat sesama anggota. Kalau saja Avisa tidak mengajak masuk ke sana, mungkin saat ini Rara belum juga mendapati hidayah mengenakan hijab.
Sahabatnya tahu persis kalau dia sangat keras kepala terima nasehat baik, dengan pelan-pelan mengajak ke kajian, tidak disangka ada bisikan lembut membasuh ruas sembari melantangkan keseriusan mengenakan hijab ke Mama. Sempat ada penolakan, karena beliau meragu Rara waktu itu masih tomboi jadi tidak mungkin akan bertahan mengenakan hijab. Tapi, diluar dugaan semakin rajin beli jilbab bersama sahabatnya itu.
Kalau mengingat kenangan itu, Rara tersenyum sendiri.
Tiga jam kemudian, mereka sudah pada berkemas untuk mengambil wudhu buat sholat mahgrib berjamaah, ralat terkecuali dua akhwat yang sedang berhalangan. Yuli dan Rara.
__ADS_1
“Ih, kita kok bisa samaan dapet sih, Dek?” Kok Yuli menyambut dengan sumringah yah? Gadis itu hanya menggeleng sambil terkekeh.
Saat teman lain sedang sholat berjamaah di dalam kamar, kedua akhwat ini ngobrol sambil curhat dengan suara sepelan mungkin agar tidak menimbulkan keributan, yang mengganggu sholat mereka.
“Ganteng kah, Dek?” Kata Yuli dengan penasaran.
Tercipta sebuah senyum miris.
Kenapa gemar menceritakan hubungan manis itu ke orang lain, sedangkan dia sendiri tidak mengerti kapan bakal mendapati sebuah pengakuan indah dari Luthfi?
“Kurang tahu sih, Kak.” Karena memang Rara tidak bisa memberikan sebuah jawaban sesuai penilaian sendiri kalau nanti berbeda pendapat dengan orang lain.
Asyik bercerita, tertegun. Mendadak darah seperti membeku dalam tubuh.
“Ehem, anti bicara apa? Awas tuh kalau ghibah.” Tertohok, saat murobbi keluar dari kamar, tidak menyadari kalau beliau sudah selesai sholat.
Mbak Jannah pun menggeleng, saat mendapati kedua akhwat itu melirik jaim dan menyibukkan diri mengalihkan pandangan ke al-qur’an.
“Sudah. Ayo, sambil nunggu yang lainnya selesai sholat. Mari kita lanjutkan saja tausiyahnya.” Mbak Jannah pun mengintruksikan.
Belum ada lima menit, sudah terdengar deru mesin motor di bawah, “ayo..kita tutup saja, diakhiri dengan bismillah dan bacaan majelis.” Setelah menutup kajian, murobbi mereka pamit dan turun menyambut sang suami.
“Langsung pulang, Dek?” Kata Yuli.
“Iya, kak, kenapa? Mau ajak ke MJ lagi kah?” Rara membalas dengan senyum jaim.
Sebagian teman halaqoh sudah pada turun membawa barang-barang murobbi, “Ukh, saya duluan yah?” Sembari cipika-cipiki.
“Ok, hati-hati.”
Yang barusan pamit itu adalah Tia. Rumah berlokasi Doyo, dan kurang berani untuk pulang larut lebih memilih lekas balik dan tidak mau duduk nongki dengan teman halaqoh lainnya.
Sudah ramah, kok wajah itu masih tegang sih? Oh, akibat ketangkap basah saat bercerita asyik sampai lupa kalau ada murobbi melarang ghibah apalagi mengenai ikhwan.
“Eh, ini udah mau pulang kok, Mbak.” Rara pun menjawab dengan kaku.
Melihat sekilas, suami Mbak Jannah kedatangan tamu, sedang duduk di dalam rumah. Tidak ingin berlama-lama, mereka berdua ikutan pamit ke murobbi.
♡♡♡
“Luthfi?”
“Yah, ustad?” Yang dipanggil mengurungkan niat menyalakan mesin motor.
“Kamu ada sesuatu yah sama ukhti Rara?”
Duh, jawab apa eh? Mendadak wajah Luthfi menegang bercampur panik.
“Kira-kira, sesuatu apa yah, ustad?” Berusaha terkekeh menanggapi.
Beliau pun menggeleng lihat tingkah murid liqo-nya itu.
“Antum jangan pura-pura tidak tahu, dosa.” Melihat beliau menjeda tiga detik, “apa antum sering jalan dengan ukhti Rara?”
Skatmat! Dari mana informasi itu di dapatkan murobbinya? Duh, mendadak Luthfi hampir saja salah tingkah depan beliau.
__ADS_1
“Afwan, ustad. Ane tidak ada hubungan apa-apa dengan ukhti Rara.” Sebisa mungkin menyingkirkan wajah kecurigaan ustad Andi.
Menghelakan napas sangat panjang, “kalau ustad tahu kamu jalan berdua dengan ukh, Rara. Antum bakal tahu apa konsekuensinya.”
“I-iya, ustad. Kalau begitu ane pamit pulang dulu.” Setelah pamit dan tidak berada di lingkungan rumah murobbi, Luthfi bernapas sangat lega.
Duh, jantung cogan itu hampir saja copot karena mendapati penuturan murobbi yang tidak tahu dari mana, sangat mendadak.
Sedetik kemudian, ia tertawa malu. Dan, besok bakal jemput gadis itu ngampus bareng lalu menceritakan kejadian malam ini.
Setibanya di rumah, dengan cepat mengeluarkan HP tidak sabar hari esok. Tapi, tidak tahu kenapa mendadak apa mungkin Rara anggap sa sebagai kakak saja? Melintas dibenak Luthfi.
Ah, malas ditanggapi dengan pikiran jelek. Dengan gesit mengirim chat itu ke Rara. Lalu bertemu pulau kapuk.
Di tempat lain, saat sedang sibuk mengerjakan tugas kampus, Rara mendapati satu chat yang berasal dari cowok menyebalkan. Terbit sebuah senyum sumringah di sana.
Hm, oke deh, klw mmng lgi sbuk, jgn tdr larut, bsk sa dtng jmput, kmpus bareng eh?
Memang sebelum mendapatkan balasan tersebut, sempat chat asyik dengan Luthfi. Sungguh kabar sangat menyenangkan bagi gadis itu, seperti meringankan beban tugas ketumpuk milik dia malam ini yang mesti tertuntaskan.
Esok hari,
Luthfi sudah menunggu depan pagar rumah, membosankan sekali. Tumben lama, biasanya kalau sudah menginfokan sampai, tidak lama kemudian Rara keluar dari rumah. Kok sekarang berasa lama? Ingin sekali mengumpat kekesalannya menunggu gadis itu terlalu lama. Tapi selalu saja terurungkan dengan mengelus dada, sabar. Hanya diksi itu tersemat dalam hati Luthfi.
Terlalu asyik memerhatikan jendela kamar Rara, tak menyadari decihan lari seseorang dari lorong, “doar! Haha, ko tunggu lama kah?” Mengagetkan dengan wajah cengengesan.
Syukur, cogan itu tidak jadi pergi kampus sendiri. Karena tadi pagi mendapati kabar kalau grandma menitipkan sesuatu untuk dibeli. Lagian sudah selesai mengenakan baju, Luthfi pun agak lama datang jemput memilih untuk pergi beli obat lalu mengantarkan ke rumah grandma.
Dengan gerakan buru-buru, parkir motor depan kios omnya lalu berlari dengan merapalkan harapan Luthfi masih ada. Mengelus dada, dan senang lihat ia setia menunggu.
“Ah..ko lama sekali kah, noge nih! Tidak juga, cepat naik sudah!” Jah, kok lucu sih? Tidak konsisten sekali. Tapi senyum itu selalu menyembunyikan sebal, saat menunggu orang lama.
Lagian Rara tidak berharap bakal ditunggu lama seperti itu, kalau mau pergi duluan juga tidak bakal marah kok.
Setelah naik diatas motor, kok teringat kembali dengan percakapan hampir buat Rara blak-blakkan mengatakan dengan sejujurnya hubungan itu ke murobbi.
Murobbi oh murobbi. Buat Rara cengengesan diam-diam di belakang Luthfi.
Dalam perjalanan, tak lepas dari obrolan yang selalu mengalir tanpa disergapi oleh diam satu sama lain diatas motor. Sejak perasaan sahabat disampaikan dengan detak-detak takut bakal kehilangan tawa hangat Luthfi, ternyata semakin rekat.
Bahkan sudah ketahuan murobbi sekalipun, mereka tetap jalber. Walau tidak dengan terang-terangan murobbi mereka memberitahui, jelas sudah bisa ditebak dari tutur kata kedua murobbi pasangan halal, telah menangkap basah lewat tingkah kedua pasangan sejoli itu.
Mantap jiwa kali eh, Luthfi..Luthfi, masih punya nyali ajak sa jalan berdua. Su jelas-jelas kena intograsi sama murobbi, pala batu kali nih anak. Gumam Rara sambil terkekeh.
Feeling Rara kuat, saat mereka bertukar cerita yang sama.
“Ra, ko ada di tanya-tanya kah sama Mbak Jannah, tentang hubungannya kita?” Kata Luthfi.
“Iyo, sampe-sampe sa tra bisa jawab eh? Tapi sa bilang kalau kita trada hubungan apa-apa sih, kalau ko?” Loh, Rara bertanya balik.
Sudah jelas berada di zona membahayakan mereka. Masih saja menanggapi intograsi itu sebagai candaan saja.
“Iyo nih, kemarin sa dapat tanya. Tapi sa bilang kita hanya sebatas teman.” Luthfi menjawab dengan tawa derai.
Mendadak ada yang retak, ngilu mendengar penuturan Luthfi atau sekedar menutupi intograsi murobbi? Ah, tidak tahu pasti.
Yang jelas, saat mengumandangkan taaruf dengan anak kuliahan, cukup buat hati berdesir cemburu tapi tetap saja dijalankan mereka berdua.
Rara juga sudah tahu hanya ditanggapi adik tidak lebih dari itu, masih saja menggantungkan sebuah harapan cogan itu mengungkapkan rasa ke dia.
__ADS_1
Tertawa miring. []