
“Apa tidak lebay kalau sebuah nama lelucon itu menyelipkan kesan panggilan istimewa bagi Rara sendiri?”
♡♡♡
Tidak tahu kenapa, sejak kampus bareng menjadi kebiasaan tersendiri dan sangat-amat menyenangkan bagi Rara.
Mungkin merasakan yang sama oleh cogan tersebut, hanya tertutupi gensi saja. Yah, mungkin saja sih.
Tujuan awal terasingkan hingga melebur dalam nyaman. Apakah Rara tak menyadari kalau bukan dirinya saja senang?
“Kalau bisa terus seperti ini, mungkin saja nanti Rara terima sa sinyal dari kode-kode selama ini sa kasih.” Gumam Luthfi sangat bahagia.
Luthfi sedang menghapal buat sebentar malam stor ayat ke murobbi. Tidak tahu kenapa sangat sulit konsentrasi, selalu saja tersenyum tidak jelas.
Untuk sementara waktu, biarkan cogan itu menghapal dengan khusyuk agar besok tidak digelantungi hapalan belum usai.
Selepas magrib, Luthfi tidak sabar buat berjalan ke tempat halaqoh dengan sunggingan merekah, tak biasa sebahagia itu.
“Mau ke mana, Fi?” Tegur Lina, ibundanya.
“Ke pengajian rutin, Ma. Luthfi pamit dulu, assalamualaikum.” Lalu menyium punggung tangan beliau.
“Jangan bawa motor balap-balap.” Pesan beliau yang di sahuti dengan iya dari Luthfi.
Lina jelas trauma dengan kecelakaan tragis menimpa ananda, kalau saja suami tidak datang atau melewati jalan sedang bermandikan darah oleh Luthfi, mungkin saat ini tidak bakal mendengar suara itu lagi.
Tuhan masih menyayang ananda dan memberikan kesempatan bisa sehat seperti dulu. Setiap kali melihat cowok itu pamit baik pengajian rutin, kampus atau jalan-jalan, trauma di kepala Lina akan bermunculan lagi.
“Mama tidak usah banyak pikir yang sudah lewat, Kak Luthfi sudah tidak kenapa-kenapa lagi kok.” Diva, ananda paling bungsu itu bisa menangkap lirih ibunda.
Tahu ibunda sedang menangkap trauma sang kakak, perempuan itu pun mengajak Lina duduk sambil ngobrol ringan, seperti seputar kegiatan sekolah tadi pagi.
Melihat senyum itu muncul, cukup buat Diva menghela lega.
Dilain tempat, Luthfi yang sudah tidak sabar setor ayat ke murobbi kok terbayang-bayang lagi dengan wajah menyebalkan gadis itu? Cukup buat ia tersenyum tipis.
Pengajian rutin itu berakhir lalu Luthfi segera balik ke rumah, tidak sabar melihat story Rara. Hanya itu saja menjadi rutinitas cogan tersebut tanpa harus melantangkan perasaan karena cukup mengirim sinyal dan berharap Rara peka dengan kode-kode selama ini diberikan.
Assalamualaikum, Fi besok kampus sama siapa? Bisa nebeng kah? Motorku besok dipakai ke tempat pajak.
Menghelakan napas. Bukan tipekal menolak atau mengabaikan, terlalu kurang enakan sama teman sendiri. Tapi sudah terlanjur janji dengan Rara.
Lebih mengutamakan perasaan dan mendapati kidung gadis itu, dengan napas yang terdengar sangat kasar waalaikumsalam, maaf besok sa kayaknya tra bisa deh.
Lita, teman kampusnya. Setiap kali ada kendala pasti menghubungi Luthfi. Dan kali pertama mendapati penolakan halus dari teman yang tidak lain sahabat sendiri.
“Sori..” Gusar Luthfi.
Daripada pusing pikir sahabat sendiri, lebih baik bertemu kapuk dan tidak sabar buat bertemu Rara besok. Mungkin mood kurang baik cogan itu akan berubah setelah bertemu dia.
Esok hari, pagi yang sangat cerah dan tidak bakal menandakan turun hujan, cukup buat gadis itu bersiul riang tak sabar dijemput lagi sama cogan gitaris.
Tidak tahu kapan mendapati petikan mengalun lembut di daun telinga. Yang jelas, Rara ingin perjuangkan dan menyemogakan ekspektasi itu dari Luthfi.
__ADS_1
Saat dalam perjalanan, kenapa masih saja saling tidak bicara? Kan, sudah melulu kampus bareng.
Rara yang sibuk dengan lagu disumpal pakai headset sedangkan dalam hati ingin sekali cogan itu menanyakan tentang apa saja, bakal di jawab dengan senang hati.
“Ra, nanti ko berapa mata kuliah?” Tercetus juga sambil fokus ke jalan.
“Eng..sepertinya ada dua deh.” Rara tampak berpikir di belakang kemudi.
“Apa-apa saja?” Kok jadi kepo sih?
“Akuntansi II dan Algoritma pemograman II.” Membalas dengan padat.
“Oh, nanti kalau ko su pulang, SMS eh? Biar nanti sa jemput.” Ada intonasi gamang tapi tak terlalu jelas di tampakkan.
Usai mengatakan seperti itu langsung seperti biasa ledek tercipta dari mulut Luthfi, “aw..sakit noge!” Meringis sembari mengusap bekas cubitan Rara.
Kok ada desiran hangat saat noge terselip menjadi sebuah nama panggilan istimewa? Terkesan lucu sih, selera Rara memang sangat aneh. Cukup buat dia tersenyum riang dalam hati.
Tidak terima dengan ledekan cogan itu. Kenapa sih paling hobi buat Rara emosi tiap pagi? Apa tidak takut kalau sewaktu-waktu bakal darting karena ulah Luthfi?
Lagi ngobrol serius dibawa bercanda ingin sekali Rara timpuk tuh mulut pakai baygon. Tidak bisa sekali diajak serius sehari saja sudah cukup buat Rara tenang bisa menjadi pendengar setia.
“Makanya, dari tadi cari gara tross..orang dar tadi serius juga.” Rara berseru ketus.
“Haha, jangan marah-marah kah, nanti cantiknya luntur.” Dengan gerakan cepat Luthfi memutar motor, kalau tidak perut itu bakal membiru setelah pulang mengantar Rara ke rumah.
Menghentak kesal duduk dalam kelas.
♡♡♡
Menggigit bibir bawah, semakin gusar. Apa mereka mau menemani beberapa menit saja? Atau bakal lebih pilih balik duluan?
Hua..Rara galau! Soalnya sangat tidak terbuka dengan mereka atas dasar sifat yang sangat sulit ketebak. Seperti abu-abu, kalau mood baru mau ngobrol dengan Rara begitu pun sebaliknya.
Ah, daripada pusing sendiri, lebih baik mencoba dulu. Kalau memang gagal, berusaha tidak memaksa kehendak mereka juga sih.
“Ika, masih lama kah di sini?” Terucap dengan ragu.
Mendengar hal itu lalu balik dengan wajah bengong, “em..sepertinya masih, kenapa jadi?”
Rara melihat lagi ke arah teman yang sedang telponan itu di belakang sudut kelas, sambil cas HP juga.
Setelah usai ngobrol lewat HP, terlihat ia sedang berkemas.
Ika pun ikut berdiri, “kam..tunggu sebentar dulu kah? Soalnya sa jemputan belum datang jadi.” Pinta Rara dengan nada memelas.
Jujur, ini adalah pilihan terburuk diambil dia. Karena bakal menohok hati, saat tak terduga Risna mencetuskan tanpa perasaan.
Arg. Kenapa juga sih cogan itu mendadak ada kuliah tambahan? Jadi buat Rara mengambil pilihan dengan terpaksa pada dua teman kelasnya itu.
Memang sih seharian bermain game saja, tidak banyak bicara dengan Ika yang di mana adalah teman kepercayaan dia. Tapi, kok semakin baaikut mendadak ada sifat yang diam-diam disembunyikan Ika. Tidak tahu apa, selalu seperti itu. Yang diinginkan Rara adalah keterbukaan bukan ketertutupan seperti ini.
Jujur. Sangat mendesak dada Rara, kalau di kacangin.
Makanya lebih pilih diam dan menunggu mereka mengajak bicara lebih dulu.
__ADS_1
Oh yah be the way tadi asik bermain game ketua kelas datang mengusik semakin merusak mood Rara. Dan, sekarang Yongki sudah balik ke kost sejak beberapa jam yang lalu.
“Siapa kah?” Kok wajah itu sangat jelek sih saat Rara tangkap?
Intonasi tak terkesan bersahabat, semakin buat Rara berdecak dalam dada.
Sabar..Ra, sabar! Berusaha menenangkan emosi yang hampir saja meletup tak terkontrol itu.
“Sa teman toh,” menjawab dengan sesantai mungkin.
Terkadang menjengkelkan kalau ngobrol dengan teman satu itu, ceplas-ceplos tak bisa tersaring dengan baik. Jika sedang butuh, memelas melebihi gadis itu lakukan.
Melihat mereka menyetujui dengan selfie, Rara justru duduk dengan gelisah sampai kapan harus menunggu cogan itu menjemput?
Drrt..Drrt..getaran HP diatas meja tersambung kursi cukup buat dia terkejut, membuyarkan lamunan saat sedang melihat dua teman asyik selfie.
Dengan perasaan tenang mengangkat telpon itu,
“hallo, Ra, ko dimana? Sa su di depan parkiran nih.”
Huf, berhasil merontokkan gelisah Rara.
“Oh, tunggu sudah sa ada keluar kelas nih, noge.” Rara lalu mengajak keduanya keluar kelas, saat mematikan sambungan telepon dari Luthfi.
Mereka sedang berdiri di pintu kelas, memerhatikan seseorang yang bakal jemput Rara. Cukup buat penasaran tapi tidak berlaku buat Ika, karena bodoh amat dengan kehidupan teman jurusan walau itu sahabat sendiri.
“Itu siapamu, Ra?” Kok Risna mendadak kepo?
“Ada deh,” menjawab dengan malu-malu lalu pamit dan menghampiri Luthfi.
Disambut, “ko belajar kah tadi noge?” Oleh Luthfi.
Entah kenapa Rara lebih senang menjadikan cowok di depannya sekarang bias terfavorit dibanding artis korea sedang dibincangkan penuh semangat oleh teman-teman sekelas sampai ada mengatakan calon suami segala. Menggeleng sangat geli.
“Em, tra belajar yah, trada dosen jadi.” Ih, lebih tepatnya lagi sa bosan tunggu ko mata kuliah tambahan yang mendadak itu. Imbuh Rara dengan kesal.
“Oh, ko sudah makan kah belum?” Memang terdengar dengan khawatir, tapi cukup buat Rara mempertahankan pondasi tidak menawarkan rupiah lagi buat traktir.
Dasar cowok kurang peka.
“Belum. Ko sendiri?” Rara pun berbalik tanya.
“Belum juga sih.” Diiringi tawa, apa berharap gadis itu ngajak nraktir?
Ogah.
Sibuk naik ke atas motor, terheran-heran dengan sikap cowok itu. Kenapa harus menunggu dia menyuarakan ayo makan sudah, tenang nanti sa traktir. []
Notes :
Dar \= Dari
Darting \= Darah Tinggi.
Baaikut \= Terus Menempel *Bahasa Gaul Papua*
*Logat papua terkadang menyingkat kalimat yang panjang, bahkan 'dari' saja bisa dihilangkan 'i' hihi.*
__ADS_1