
“Rara lompat girang, tapi kenapa translation itu mengambil keputusan tanpa sepihak dari dia? Bikin jengkel, sembari menghentak tak terima, sisi lain senang sih.”
♡♡♡♡
Sejak kena intograsi dari murobbi tidak buat mereka berhenti jalber, semakin lengket seperti perangko. Pagi ini Luthfi akan datang jemput, seperti biasa.
“Ko tra takut kah kalau di jalan dapat ustad Andi?” Kata Rara kala itu, sepulang dari kampus.
Terdengar tawa sangat renyah, “bah, santai saja kah, mereka kalau mau arah-arah Abe, sa tahu. Jadi, santai saja tra usah tegang.”
Mengingat kembali percakapan itu, buat Rara menggeleng tak habis pikir dengan isi kepala Luthfi.
Duh, kok Rara grasak-grusuk lemari? Bukannya semalam sudah lihat pakaian apa yang bakal dikenakan hari ini?
Bisa terlambat sudah.
Tidak tahu sudah berapa jilbab diatas tempat tidur, sambil menggaruk kepala tak gatal itu lalu mencoba mencari ulang.
Deru mesin motor yang dikenali Rara sudah tiba di bawah.
Mengintip sekilas ke arah bawah, tertawa geli. Ternyata kalau memerhatikan dari kejauhan cukup ganteng juga.
Lah, Rara keasikan nonton pandangan di bawah bukannya buru-buru pakai jilbab.
Nah, tuh kan HP sudah getar dari tadi. Justru cengengesan malas menggubris panggilan itu. SMS sudah tertumpuk semakin memperlambat gerakan Rara.
“Sekali-kali buat ko jengkel,” gumam Rara tak lepas dari tawa derai depan cermin.
Siapa suruh, tadi bilang mau sarapan dulu sebelum datang jemput. Mendadak sudah jalan ke arah rumah gadis itu, jangan salahkan Rara kalau sengaja memperlambat gerakan.
Tra konsisten sih jadi orang. Kenapa juga mengambil keputusan abu-abu, labil.
“Ma, Rara berangkat!” Teriak gadis itu saat sudah mengenakan sepatu, siap menutup pintu rumah tinggal buka pagar saja.
Cengengesan memerhatikan wajah Luthfi yang menahan kesal. Menunggu sudah tidak tahu berapa lama, ah Rara juga malas menghitung berapa lama duduk diatas motornya. Siapa suruh buat orang kesal.
“Cie..yang tra jadi sarapan, karena mo jemput sa.” Rara pun menggodanya.
“Haha, apa nih? Nanti saja sudah kalau su pulang kampus baru sa sarapan, naik sudah. Potem, nanti hujan deras lagi.” Disambut dengan rewel.
Saat ingin menyalakan mesin motor, “dingin juga eh cuacanya?” Sembari mengusap-usap lengan. Bukan memberikan sebuah kode agar peka diberikan jaket.
Kok tumben dengan kadar peka yang tinggi, berbalik cepat ke arah belakang, “eh?! Ko kenapa tra pakai jaket?!” Kata Luthfi dengan protes.
Risi mendapati sebuah protes itu, bukan senang kok sebaliknya sih? Rara memang seperti cuaca. Kadang ingin di perhatikan atau tidak sama sekali seperti hari ini.
Permasalahan jaket atau tubuh merasa menggigil sudah terbiasa di rasakan oleh Rara, lagian buat apa mengenakan jaket? Sudah pakai baju lengan panjang yang cukup tebal juga.
“Ah, sa tra kedinginan yah. Sudah, ayo berangkat.” Bersikukuh malas turun dari motor.
Memangku dua tangan depan dada lalu menampilkan wajah cuek, “pakai cepat! Kalau tidak, kita tra jadi ke kampus.” Ih, kenapa Luthfi berubah menyebalkan seratus delapan derajat sih?
Mendengus sangat panjang lalu melirik sinis ke arah Luthfi. Bukannya mengindahkan kode itu, masih di posisi sama.
“Tidah usah, sa juga su terbiasa tra pakai jaket mo.” Menolak dengan cara halus tetap tak mendapatkan diksi bagus.
“TIDAK!” Lantang tak terbantahkan, semakin buat Rara mendengus sejak turun dari motor.
Meledek dengan memanyunkan bibir, kesal. Daripada perdebatan membosankan daun telinga berlanjut, lebih baik segera mengambil jaket, sebelum masuk, “iyo..iyo bawel! Sa masuk ke rumah ambil jaket! Dasar..bawel,” Rara mencibir sangat puas.
“Cepat! Jangan pakai lama.” Dih, Rara pengen cubit tuh mulut.
“Sudah suruh. Dibilang cepat lagi, dasar..bawel!” Menghentak kaki masuk ke dalam rumah.
Hm, tidak ada jaket menarik mata gadis itu hanya sweeter tipis pun ketat. Daripada mengulur waktu lebih lama yang ada bisa masuk kelas terlambat.
“Ah, epen kah, pakai ini saja.” Langsung menyambar dan mengunci kembali pintu kamar.
Tumben tidak ngomel? Ganti yang lain lebih besar begitu? Gerutu Rara dalam batin.
Ternyata tidak ada protes sama sekali, mereka pun jalan sambil menikmati angin sepoi dan mendengar irama musik dibalik headset disumpal ke telinga masing-masing.
Sempat, “nah gitu dong. Kan bagus dan kita sekarang bisa berangkat kampus.” Disambut dengan santai pun tak lupa selipkan wajah pongah depan Rara.
Terkejut, saat siku itu mendarat mulus di paha, sekedar menghilangkan pegal memegang stir motor kali?
__ADS_1
“Ko capek kah? Makanya pake sa paha sandar ko siku.” Dengan cepat Rara menyindir. Karena risi lebih tepatnya.
Oh, jangan bilang Luthfi ingin di pijit seperti kali pertama mereka jalan berdua ke arah gunmer? Rara jadi ingin menyemburkan tawa, kok gensi sih buat berikan sinyal ingin diperhatikan dan manja oleh gadis itu?
Setelah mendapati sindiran halus Rara, cogan tersebut menarik siku dan memegang kembali stir motor. Bisa dirasakan kalau Luthfi sedang berada di suasana salting, tapi cukup dinilai sangat detail oleh Rara.
Hanya tersenyum tipis.
Dan, yang menjadi pertanyaan juga menghentak kesal. Kenapa kalau ingin jalber seperti ini, harus kampus bareng? Dasar..Luthfi tidak punya modal buat menyenangkan hati perempuan disukai.
Terbukti kan, saat ingin mengajak dia makan kok, “tapi ko yang traktir eh?” Disusuli oleh tawa riang Luthfi.
Huh, dasar..pelit! Kesal Rara dalam batin.
♡♡♡
0823xxx Rara nc nomornya kakak Syarif.
Ra, kamu sms dia udah, untuk cek nomornya benar atau tidak.
Ah, benar juga sudah jauh-jauh hari mendapati nomor yang diingini. Dengan cepat mengetik ‘Kak Syarif’ setelah itu tersave buat hati sedikit lega.
Oh yah, benar juga kenapa Rara tidak tes buat basa-basi dan bertemu diskusi naskah A Dreams untuk ke kuping english?
Ah, betul sekali. Dengan cepat mengirim assalamualaikum, apa benar ini dengan Kak Syarif? Temannya Luthfi? Setelah terkirim, sangat gusar menunggu respon itu.
Ya? Maaf siapa?
Mendadak gugup.
Kalau to the point, dibilang lancang tak tahu diri, baru kenal sehari dan tidak lihat orangnya sudah ngajak mengerjakan tugas berat.
Masih memikirkan cara apa untuk membalas SMS selanjutnya? Kalau lost begitu saja nasib naskah Rara bakal terlantar.
Menggigit bibir bawah, harap-harap cemas. Ah, benar juga kenapa tidak mengatakan sejujurnya yak?
Ini dengan Rara temannya kak Luthfi.
Tut..tut, ada SMS masuk,
Nah, kalau sudah ada yang bisa saya bantu mendapati lampu hijau dong buat gadis itu to the point saja tidak perlu terbelilit-belit.
Wait, wait, Rara mengingat ada yang kurang. Kok merasa gugup dan lancang mengajak diskusi naskah? Bukannya pernah Luthfi mintol bersua dan bersedia menjadi translation naskah Rara? Dan, kebetulan juga Kak Syarif sedang ada kesibukan, pertemuan keluarga.
Ah, benar juga. Tapi kan, itu bukan dari Rara langsung yang minta terjemahkan tapi melalui prantara. Jadi, wajar kan kalau merasa nerveous seperti itu.
Hmm... Saya gak janji...agaknya itu butuh waktu... Boleh minta waktu?
Membelalak kaget. Masih belum percaya belum pernah bertemu tapi kakting Luthfi ingin membantu? Oh god ingin bersujud syukur naskah A Dreams itu segera terlabel bahasa asing. Really, ruas-ruas dalam dada Rara sangat bersorak gembira. Sudah tak sabar hari itu tiba.
Tak masalah menunggu waktu sangat panjang. Asal naskah diingini menjadi utuh dalam bahasa inggris.
Hua..Rara mau nangis haru. Ada orang yang benar-benar ingin membantu, kalau mau dibilang itu pekerjaan yang sangat sulit. Nggak bohong loh. Naskah Rara termasuk tebal seperti bantal.
“Haha..” Lah? Kok gadis itu tertawa sangat lirih?
Hm, benar sekali. Teringat dengan keseluruhan naskah yang masih banyak diperbaiki, apa hanya modal memberikan dengan diksi yang masih berantakan itu ke orang penting? Uh, yang ada ditertawai atas karya masih belum layak di transletkan.
Udah ah, Rara malas mengambil pusing.
Ok kak, boleh lagipula naskahnya juga saya mau revisi ulang hehe.
Tut..tut, ada SMS masuk,
Maaf, jawaban Anda tidak dapat diproses.
Berdecak kesal, please bayar satu SMS collet Rara setelah itu keluar isi pulsa. Tapi tak mengelak kalau gadis itu tertawa geli. Kok bisa, kali pertama komunikasi sudah membebankan biaya operator ke orang penting dalam menangani naskah terbilang rumit itu sih?
Dasar..Rara.
Asyik SMS-an, tanpa sadar belum menginfokan dengan waktu Rara, translation itu sudah membuatkan jadwal kapan bertemu.
Ih, kesal dah. Kenapa sih bertindak sebelum kasih tahu ke sa? Kesal Rara dalam batin.
Hmm... Nantilah kita jumpa, bercanda ditemani segelas kopi...
Rara rasa tak perlu lagi ada pembahasan, hanya menunggu hari telah dijadwalkan oleh translation itu.
__ADS_1
Esok hari,
Noge ntar ketemu sama kakak Syarif jam 6 atau setengah 7 soalnya saya ada acara jam 8 jadi, gimana...
“Eh? Kapan sih sa bilang sama Kak Syarif hari ini ketemu?” Mendadak Rara melongo.
Luar biasa. Dua hari berturut-turut mendapati kejutan tanpa sepengetahuannya.
Semalam hanya wacana kapan tepatnya jadwal mereka bertemu masih sangat samar-samar, ternyata hari ini? Hu..Rara pun mencibir dalam batin.
Padahal ingin mengumpulkan niat buat revisi, sudah dilabuhi oleh translation ingin lihat langsung naskah sama sekali belum dirombak itu, absurt.
Tertawa ngilu.
Ini kan harus spesial dan tra boleh ditertawai translation, trus bagaimana tanggapan Harris nanti kalau sudah baca? Getir Rara dalam batin.
Mengusap wajah dengan gusar lalu merespon SMS yang dari tadi dianggurin Rara,
Heh? Sa belum janjian kok sama Kak Syarif noge.
Tut..tut, ada SMS masuk,
Soalnya kata kakak Syarif ntar malam janjiannya...
Hm, mendesah sangat pasrah. Jujur, senang tapi sisi lain masih gelisah masa iya sih kasih lihat orang hebat dengan naskah blepotan itu? Lagian yak, kenapa Kak Syarif terburu-buru ingin diskusi? Kan, bisa ada hari lain dan ngundur beberapa waktu. Supaya Rara kasih lihat tanpa ragu.
Selepas mengatakan ke Luthfi datang jemput sekitar jam lima sore, agar menghindari semprot pun penolakan perizinan dari ibunda, cogan itu mengindahkan. Mendesah syukur dalam batin.
Sebab, kalau tidak jemput sekitar jam disebutkan Rara, bakal kembali terngiang penolakan ibunda dalam kepala.
Usai mengirim SMS ke cowok memiliki sepotong nada tersebut, ada SMS baru pengirimnya dari kakak translation,
Assalamualaikum... Dek, juliet udah ngomong belum kalau malam ini kakak bisa ketemu sama kamu. Kalau bisa malam ini dilasehan, (Kopi Indonesia) jam 7.30 WIT.
Sempat terperangah dengan Juliet kok bisa menjadi bahan lelucon kakting itu? Tiba-tiba saja perut Rara tergelitik lalu menyemburkan tawa lepas.
Malam pun tiba, mereka berdua tadi berangkat agak sore tapi tidak kena marah juga sama mama. Yang penting tidak pergi menjelang magrib, pammali katanya. Dan, saat menunggu butir-butir kedatangan Kak Syarif, mereka memutuskan untuk singgah cuci mata di Karisma.
Rara melihat sekilas Luthfi memegang asal buku yang diambil dari rak. Tersenyum.
“Eh, Luthfi? Sama siapa ke sini?” Seseorang menyapa, lebih tepatnya membelakangi Luthfi.
Luthfi pun berbalik, “ko sendiri bikin apa disini? Itu..sama Rara.” Luthfi menunjuk keberadaan cewek itu berada di rak kelima dari posisi cowok itu.
“Oh?” Memberikan kode pacar atau bukan seperti itulah yang bisa ditangkap dari daun telinga Rara setelah itu terdengar tawa derai santai milik cogan tersebut.
Setelah membayar di kasir, mereka pun memutuskan ke lokasi.
Karena, “cepat eh, soalnya Kak Syarif sudah otw dari rumahnya.” Luthfi menginfokan.
Duduk dengan santai melihat kantong belanjaan sangat riang, “ah, Kak Syarif ke mana lagi? Katanya sudah mau sampai.” Luthfi berkicau sangat gusar.
Lalu memilih duduk dan ngobrol seputar kuliah sempat juga berargumen mengenai S1 dan D3 memiliki gelar yang sama saja. Luthfi tetap keuhkeuh menjelaskan perbedaan itu, tak sadar kakak translation sudah datang berdiri dibelakangnya.
“Kenapa duduk disini?! Kan, kalau hujan laptopnya basah. Jadi, kamu yang kakak salahkan!” Melongo dong, Rara jadi bergidik ngeri kesan pertama bertemu seorang translation adalah galak.
“Ah, kalau kita duduk di dalam, nanti kakak tidak lihat kita sudah datang kah belum.” Luthfi berusaha membela diri depan gadis itu.
“Iya, kalau hujan bagaimana? Kamu itu loh juliet, kalau ajak anak gadisnya orang jangan duduk di luar sini?!”
Tak lepas dari kekehan milik Rara, mereka akhirnya duduk dalam kedai kopi sambil memeluk laptop melindungi dari rintik hujan.
“Dek, mau pesan minuman apa?” Tanya Kak Syarif dengan lugas.
“Ah, nggak usah repot-repot.” Rara membalas dengan senyum pahit.
Lalu, mereka pun membuka obrolan pertama yang ingin Rara sampaikan dengan lugas. Mengingat hari juga sudah larut tidak memungkinkan untuk mengulur banyak waktu ditambah Luthfi ada kajian di masjid. Jadi, tidak bisa berlama-lama di sana. Cukup buat Rara bersorak gembira dalam dada, menunggu kabar naskah itu diterjemahkan saja. []
Notes :
Potem \= Cepat *Bahasa Gaul Papua*
Pammali \= Tidak Bisa Dikerjakan *Istilah Bahasa Bugis*
Mintol \= Minta Tolong
Epen adalah Malas Tahu *Bahasa Gaul Papua*
__ADS_1