Sepotong Nada Yang Hilang

Sepotong Nada Yang Hilang
11. Selfie di Kampus Stain Al-Fatah


__ADS_3

“Seperti ada dentuman makna mengandung kode dari perhatian kecil terbilang cuek milik Luthfi, tapi kenapa harus gensi menutupi kalau sudah ada rasa?”


 


♡♡♡


 


Sebelum pulang dari bioskop mereka singgah di warung makan yang telah di rekomendasikan Rara. Sempat terdengar ko yang traktir eh? Dari mulut Luthfi.


Ugh. Segampang itu kah mengucapkannya?


Kenapa sih selalu saja mendapati posisi paling tersial, mentraktir cowok apa tidak terbalik kok mereka tidak memiliki urat malu? Jika memang sayang sudah dipastikan mengorbankan demi rupiah itu tidak dikeluarkan apalagi dapat traktir dari cewek yang disukai.


Ih. Menggeretak sangat jengkel, untung masih ada perasaan. Makanya bertahan di sekitar Luthfi.


“Sampe kalau mama dengar ko traktir Luthfi, mama tra habis pikir, bisa-bisanya tuh minta traktir sama cewek? Tra kebalik kah?” Pernah, beliau menyindir Rara ketika asik berkisah antar-jemput kampus dari cogan tersebut.


Kapan yak gadis itu merasakan hari-hari indah tanpa harus minta ditraktir kan sudah jelas cowok mesti memiliki kadar kepekaan tinggi jika jalan dengan cewek.


Menunggu pesanan datang, “Ra, bisa editkan ceritaku kah?” Sembari menampilkan wajah permohonan, jelas buat gadis itu tidak bisa memilih sebuah opsi menolak.


Penuh energi yang sangat kurang. Ingin segera bertemu kasur dan merebahkan penat seharian duduk diatas motor Byson milik Luthfi, cukup pegal linu hari itu juga.


Namun, “boleh. Tapi, disini trada tempat charger yah Kak.” Dijawab dengan santai.


Padahal kan sudah menahan kantuk setelah keluar dari ruang teater. Masih saja memberikan sebuah tebengan ingin mengedit. Kalau revisi sebuah tulisan membutuhkan pikiran jernih tanpa sayu milik tubuh Rara saat ingin segera istirahat.


Kalau sudah terlanjur nyaman, bakal terbius oleh kesenangan lalu kantuk pun beranjak dengan gampang.


Melihat sumringah milik cogan itu, mendadak ada sesuatu aneh yang bakal didapati Rara setelah makan dari warung mie ayam tersebut.


“Nanti kita ke kampusku sudah, di sana ada tempat charger, Ra!” Betul kan, yang diduga Rara.


Setelah membayar mereka langsung ke lokasi disebutkan Luthfi.


Jujur, kalau menerka lebih jauh sebuah ruas-ruas kosong tanpa nama terisi penuh kasih, apa tidak keberatan jika Rara menduga cogan itu menyelipkan rasa? Karena setiap kali ingin pulang dari jalan. Pasti ada alasan buat berada di sekitar Rara.


Really. Tidak bohong. Dan itu sudah dirasakan sebelum pergi nonton berdua, sudah sejak kali pertama diajak jogging berdua di gunmer.


Apa ini pertanda sinyal yang dikirim Luthfi agar peka dengan kode-kode terkesan cuek itu?


Duh, Rara susah buat menangkap sebuah kode kecil walau itu sudah samar di rasakan. Tetap saja merasa impossibel dalam memenangkan kidung cogan terbilang cuek dan tidak harmonis apalagi persoalan makan. Pasti Rara menjadi dompet mengeluarkan biaya makanan mereka berdua.


Tersenyum miris. Kenapa terlalu ironis sih kisah asmara yang selalu di dapati atau sedang terjalin dengan sebuah pedekate bersama cowok disukai, termasuk Luthfi? Perbincangan dalam sepi dan kagum atas dasar petikan indah ingin tertangkap daun telinga, ternyata memiliki sifat matre.


“Trapp nih ke kampusmu?” Rara berkata, takut ada yang melarang saat mereka sudah tiba di sana.

__ADS_1


Bakal menjadi orang asing di sana. Terutama malu, karena bukan sebuah kampus umum seperti Rara belajar, melainkan prioritaskan agama, mendalami ilmu-ilmu tersebut.


“Ah, santai kah. Kampusku tidak ada orang jahat kok.”


Bukan persoalan tersebut tercetus dengan santai, melainkan ukhti yang berpenampilan tertutup sedangkan dia? Sudah berjilbab masih saja duduk lengket berdua diatas motor, bisa-bisa dinilai buruk oleh mereka disana yang sedang mengenakan opsi asrama kampus.


Kok hati Rara ngilu sih? Saat hampir masuk di wilayah kampus Luthfi?


Memang, sudah lama juga tidak menganyunkan langkah ke halaqoh sejak Avisa berangkat ke Padang lebih tepatnya.


“Tapi?” Rara berujar dengan setengah berpikir untuk sekedar menenangkan perasaan gelisah masuk ke sana.


Luthfi terus saja keuhkeuh mengajak gadis itu main-main di kampus dan apa tidak memedulikan tatapan aneh diberikan oleh ukthi sedang berkeliling sekitar asrama kampus? Ih..kenapa tidak peka dari intonasi gadis itu sendiri kah? Pen timpuk loh pakai buku harry potter, really!


“Sudah, santai saja. Dosenku tidak larang orang luar datang ke sini kok.” Kok dengan santai motor itu belok ke gank tertulis nama kampus mereka, mendadak detak-detak berirama sangat cemas dalam diam.


Terpaut jauh juga untuk bisa sampai di kelas, “kata sih Ayu, dia sering jalan kaki dari atas, kalau teman-temannya sudah pada pulang duluan.” Ah, Rara teringat obrolan dengan teman halaqoh disebut Ayu itu dan menceritakan kembali ke Luthfi.


“Bah, kenapa tra bilang sa saja? Biar sa antar sampai ke rumah sekalian.” Ih, kenapa menyuarakan protes sih?! Memang benar-benar kepala Luthfi perlu ruqyah deh, sudah jelas Ayu hijrah masa iya mau berduaan dengan cowok yang bukan mahram sih?


Kalau Rara sih masih banyak khilaf. Wajar saja sering terbentur tuh kepala buat berduaan terus dengan cowok.


“Haha, tra tahu dia. Katanya sih risi kalau di gonjeng sama cowok.” Kok Rara berujar dengan lirih sih? Lalu tak dijawab cowok itu, tampak sedang berkelebat dengan diri, harus bisa menahan sikap apalagi Ayu sudah hijrah. Dan, pasti Luthfi sudah memahami itu.


“Woi, Luthfi! Bawa siapa itu di belakangmu?” Teriak salah satu teman cewek, tidak tahu berada di arah mana.


Tunggu, arti kata itu apa? Kok mendadak Rara ingin gede perasaan sih?


“Oh, Luthfi, sa tahu itu siapamu?” Lagi, terdengar godaan dari suara sama.


Hati itu berdesir. Tidak tahu kenapa, padahal Luthfi hanya membalas kekehan bukan sayang untuk menjelaskan kepenasaran teman kampusnya itu.


Seulas senyum terbit sangat manis dari balik punggung Luthfi.


Jadi, ke sini buat ingin pamer kalau sudah punya gandengan baru? Oh, mungkin seperti itu lah isi kepala Luthfi.


“Kita mau ke mana?” Rara tersadar dari lamunan.


“Sudah, tenang saja. Nanti juga ko tahu.” Luthfi menimpali sangat santai, sambil melempar senyum ke teman cewek yang ternyata masih di kawasan kampus.


Tentu menimbulkan rasa penasaran gadis itu, “mereka kenapa belum pulang?” Tercetus dari mulut Rara.


“Ada sebagian yang masih ingin main di kampus ada juga yang tinggal di asrama. Sana tuh.. Gedung asrama mereka, yang sana...putri dan yang sana...putra.” Sambil menunjuk gedung-gedung bertingkat itu bergantian.


“Iyo..ko fokus sudah bawa motornya.” Kedua bola mata Rara mengikuti jari telunjuk tersebut tetap saja menegur dengan kesal ke Luthfi.


♡♡♡

__ADS_1


Rara sudah tidak kuat menahan kantuk di pelupuk mata hampir terpejam sempurna ditambah lelah berjam-jam duduk di kursi bioskop.


Sebelum balik, menyempatkan waktu buat selfie di stain al-fatah dengan pemandangan dipenuhi potret sejuk, alam indah. Bisa melihat pepohonan dari atas rektorat kampus.


Kalau dulu mengambil kampus di sana, sudah dipastikan menjadi destinasi favorit dalam menulis saat boring atau suntuk kala tugas menumpuk.


Semilir angin meniup penuh lembut ke wajah Rara, ingin berlama-lama kalau sudah seperti ini ceritanya.


Sempat, saat sampai di sana dan melihat Luthfi memarkir motor samping taman mini depan rektorat kampus, turun dari motor penuh kegirangan, “wih..indah sekali.” Rara memuji keindahan pemilik semesta.


Fabiayi ala irobbikuma tukadziban.


“Makanya sudah dibilang toh? Pemandangan di sa kampus tuh bagus!” Ih, kenapa sih belagu memamerkan keindahan itu hanya bisa terpotret jika bukan diatas bukit kampusnya? Dan lebih parahnya lagi Rara harus mendengar kekehan menyebalkan milik Luthfi.


Melirik sinis, “yo..UAJ tidak punya, trapp sudah.” Ketus Rara lalu mengambil kamera dalam slim bag.


Setelah puas menikmati pandangan diatas rektorat kampus, Rara merengek buat balik cepat karena bola mata sudah tidak kuat menahan. Ingin segera rebahan.


Sesuai janji tadi di warung makan kok, sebelum jadi model gadungan Luthfi, memenuhi permintaan cowok menyebalkan dengan mengedit seadanya saja. Sambil duduk di depan rektorat melirik cowok itu sibuk masuk ke dalam ruangan untuk mencolok cas laptop.


Dan, pamit ke dosen yang baru saja tiba mengenakan mobil. Rara hanya tersenyum menunggu disamping motor Luthfi.


“Jangan lupa makan,” mengingatkan lagi, karena hanya makan mie tentu tidak kenyang bagi perut Rara.


Memang, Luthfi sudah mengantar sampai depan rumah.


“Sudah, sana..pulang, bawel!” Justru dibalas ketus oleh Rara.


Apa itu hobi Luthfi, saat ingin menutup riben helm diiringi oleh kekehan puas? Justru gadis itu berdecak ketus.


Apa sih yang lucu? Selalu saja tertawa kalau mengantar balik ke rumah.


Menggeleng lalu masuk ke rumah, sebelum benar-benar bertemu pulau kapuk. Jadi teringat tadi di kampus. Tuh..kan, Rara jadi senyam-senyum salah tingkah sekarang.


Tidak tahu kenapa hubungan itu masih saja seperti kemarin. Belum ada arah tujuan pasti, apa sebatas kakak-adik? Dan, bukan menjadi kenyataan sebagai kekasih begitu?


Rara kan pengen merasakan petikan cogan itu, seperti .. Menembak dengan satu lagu pakai gitarnya. Romantis dan sederhana, asal jangan terlalu lebay.


“Ra, foto berdua kah?” Kalimat itu cukup buat Rara kembali tersenyum salah tingkah.


Ih, kenapa juga sih sok jual mahal tadi? Sekarang gelisah pengen foto berdua dengan Luthfi.


Gegayaan mengarahkan kamera HP buat selfie.


Oh, benar. Rara jadi tersadar kalau sedang menyimpan sebuah satu hati lagi. Cukup menyebalkan sih.


Sudah dekat seperti permen karet dengan Luthfi, ada saja satu kidung ingin diperjuangkan. []

__ADS_1


 


__ADS_2