Sepotong Nada Yang Hilang

Sepotong Nada Yang Hilang
Kidung Delusi (Versi Formal)


__ADS_3

“Sebatas bersemuka lewat delusi, tak dipermasalahkan selagi bisa mendekap kidung tanpa batas bahkan pengetahuan sahabat sendiri.”


 


♡♡♡


 


Masih terbayang-bayang mengenai candaan yang tak sengaja bertabrakan lewat lorong koridor samping kelas akuntansi.


Tersenyum sumringah.


Kenapa sih, Visa, mamanya Reihan jahat sama saya? Apa..apa yang buat dia benci sampe nilai saya seburuk itu?! Lagian selama pacaran dengan dia juga, saya tidak pernah nuntut lebih kok. Apalagi suruh dia rajin beli pulsa. Tetiba saja kalimat itu terulang lagi.


“Ra..kenapa melamun?!” Suara itu mampu buat dia tertegun, meneguk ludah setengah mati.


Luthfi. Yang menengur cukup buat dia tertampar keras.


Hanya tersenyum membalas teguran itu. Kok masih saja di pandang lama-lama di bawah lalu balas dengan senyum ramah. Semakin buat Rara mengerucutkan bibir kesal.


Agak risi di pandang seperti itu. Walau sekali pun itu dari Luthfi.


Detik kemudian cowok itu pun masuk dalam kantin, buat Rara bernapas lega.


“Ra..” Ih, buat dia dongkol dipanggil lagi. Dengan cepat berdeham hm sangat manis menampilkan wajah itu.


Kok, “daa..” Dibalas cuek begini, buat Rara mencak-mencak kesal.


Rara pun bangkit dan berjalan kasar masuk kelas, menyumpal headset ke telinga yang diselimut jilbab.


“Ra..”


“Apa?!” Ketusnya.


“Dih, PMS kah? Sangar sampe..” Ujar teman sekelasnya dengan heran, Radit.


Rara melihat sekilas dengan sinis lalu kembali ke HP, ah daripada capek main lebih baik dia tidur saja.


“Ra..” Lagi, ada pengganggu semakin buat pemilik nama itu bangun dengan kesal.


“Ada Avisa cari kamu.” Mendadak lunak dan mengarahkan bola matanya ke pintu kelas,


tersenyum riang menyambut kedatangan sahabatnya.


Setelah duduk di panggung sekolah yang jauh dari kelas mereka berdua, cukup buat Rara tak bisa menutupi wajah palsu depan sahabatnya sendiri.


“Kenapa tadi kau badmood di kelas?” Akhirnya Avisa buka percakapan.


“Tidak ada, bosan saja duduk dalam kelas.” Sambil mengayunkan kaki dengan santai melihat pandangan ke lapangan lihat ade dan kakak kelas bermain basket.


“Kenapa? Soal Naura lagi?” Avisa mengambil jeda, “Ra? Sampai kapan kamu mau seperti ini? Teman-temanmu humble dan jurusan lain tidak punya itu!” Kesal Avisa dengan penekanan penuh tegas.


Dih, Rara berbalik tidak suka dengan penegasan sahabat sendiri, “kok tumben serius


begini? Bukannya kamu tidak suka sama Naura? Trus..siapa juga yang buat saya jauh sama mereka kalau bukan perempuan itu?!” Ucap Rara dengan ketus, tak mengalihkan pandangan dari lapangan basket.


“Ra, saya tahu dia yang buat kamu jauh dari mereka, setidaknya jan habiskan waktumu dengan penyesalan di lain hari. Karena masa-masa ini tidak bakal terulang dan asal kai tahu, suatu saat nanti kamu bakal rindu keributan mereka saat belajar di kelas.”


Benar, apa yang sudah disampaikan Avisa dan itu cukup buat Rara bungkam dan tak ingin menonjolkan perasaan peduli ke teman multimedia, karena nanti bakal ada cemooh tak terduga dari mereka.

__ADS_1


“Kau tidak bakal bisa ngerti apa yang saya rasa, tapi cukup buat saya hargai saranmu.” Kata Rara dengan tulus.


“Saya ngerti dan asal kau tahu, mereka tuh masih care hanya saja kau selalu menutupi diri dari


mereka.”


Deg. Apa benar yang dicetuskan oleh sahabatnya sendiri? Tapi kok yang dilihat Rara cuek dan tidak mengajak ngobrol membiarkan dia terlantar dari family multimedia.


Tertawa miris.


“Kenapa?” Avisa justru bingung.


"Kalau memang mereka humble apa yang kau nilai, kenapa tidak kasih bukti kalau bakar-bakar tidak pernah ajak saya? Apa itu di sebut masih care sama saya? Sejak putus dengan om-mu, saya benar-benar terasingkan.” Bahkan..mereka lebih prioritaskan Mayland daripada saya, yang jelas-jelas perempuan itu bukan sejurusanku. Imbuh Rara dalam batin dengan perasaan berdesir hebat.


Reihan yang dipanggil om adalah nama panggilan dan tradisi orang Padang. Biar sekali pun di jelaskan berulang kali tetap masih buat Rara bingung sampai sekarang.


Avisa menggeleng sangat pelan dan tertunduk gemas, “hanya perasaanmu saja, Ra. Mankanya jan datang ke sekolah dengan wajah galak, kalau sama kita wajar karna sudah tahu sifatmu. Kalau kau bikin ke mereka mana mengerti,” jeda tiga detik, “berusaha untuk terbuka dengan mereka.”


Apa yang disampaikan sahabatnya benar adanya sudah tidak bisa menyangkal lagi. Karena kalau sedang badmood dan memasang wajah sangar ke sahabatnya sudah jelas kalau ingin di manjakan.


Apa Rara cukup dingin dengan teman sejurusan sendiri?


Yang jelas masih belum ingin terbuka apalagi tahu otak tak sepintar mereka dan kesulitan berbicara fasih makanya kebanyakan diam dalam kelas, namun diam-diam menyimpan asa mereka ngajak ngobrol atau nongking di sekolah.


 


♡♡♡


SATU hari ini tidak belajar, hanya asik bermain dalam kelas dan kerjaan Rara hanya tidur benar dugaan Avisa.


“Rara pingsan?!” Buat mereka panik, saat tidak berhasil membangunkan gadis itu.


Dan bangun-bangun sudah tiba di sofa kepala sekolah. Bodohnya kenapa ngigau memanggil nama Reihan semakin menjadi bahan lelucon mereka.


Sempurna. Apalagi lihat ekspresi pongah milik Reihan yang sedang berdiri di samping


pintu terhubung di ruang guru.


Arg. Gemeretak dalam hati, kenapa sih mereka mengambil keputusan membawa dia ke


kantor? Kenapa tidak meninggalkan Rara saja dalam kelas dan simpan kunci biar nanti


besok buka pintu kelas, susah kah?


Ih, sumpah..Rara jadi kesal sekali. Menjadi tontonan guru dan teman sekelasnya yang


masih ada beberapa tinggal menemani. Tiba-tiba teringat kata sahabat sendiri mereka


masih care sama kamu, tersenyum miring.


Di rumah,


Malas mengambil pusing mengenai hal memalukan tadi. Melainkan mengiramakan


sebuah not dalam imajinasi terbang begitu saja dengan manis lewat ruang pikir Rara sendiri.


Kembali memotret wajah penuh ramah itu, tersenyum.


“Visa, maaf..kalau saya mengkhianati persahabatan kita.” Gumam Rara, tersadar dari keasikannya sendiri.

__ADS_1


Tapi, selagi sahabat nafsi tidak tahu-menahu persoalan perasaan, tetap akan melambungkan irama simfoni bermain dalam kidung delusi.


Dan, Rara tahu juga sadar diri kalau kemampuan menulisnya masih absurt, tak masalah sudah menceritakan tentang membayangkan mengenai kidung dalam delusi miliknya.


Akan tetap terkemas rapi dan takkan menyiarkan ke Avisa.


Mengenai tulisan yang absurt itu adalah hobi Rara sejak SMP saat mengenal apa namanya merah jambu. Masih mengenakan buku dilabelkan diary cukup alay sih saat mengenang masa-masa just for fun saat bercerita dalam diary sendiri.


Dan kalau tidak salah ingat, Rara sempat diajak bersama teman SMP ke toko buku terdekat, melihat-lihat ada novel menarik perhatian gadis itu lalu dibawa langsung ke kasir.


Setelah pulang dari sana, dia tidak sabar buat baca dan menjadi kebiasaannya buat datang ke toko buku sampai sekarang.


Tetiba saja ada ide dalam memupukkan mimpi menjadi penulis, kala itu Rara ditunjuk oleh guru bahasa indonesianya, Bu Tri untuk ikut kompetensi menulis cerpen. Darisana sudah terproduksi banyak cerpen mengenai Reihan.


Sebatas kesenangan saja dalam menuangkan perasaan Rara, belum ada niat untuk dapatkan gelar novelis dan dijadikan mimpi saja dulu.


“Rara?” Suara yang berasal dari luar pintu kamar gadis itu.


“Kenapa, Ma?” Berhenti menulis lalu menutup buku tersebut.


“Avisa ada di luar itu.”


Eh? Bentar, kok Rara bingung sih sejak kapan anak itu bisa diizinkan orangtuanya keluar apalagi kan ini malam.


Kok Rara terkekeh lucu. Lalu membuka pintu kamar, sudah tidak melihat Fahmi, Mamanya. Mungkin di dapur, pikir Rara dengan santai.


“Cie..anak rumahan bisa keluar sendiri. Tumben, biasanya tunggu saya datang dulu baru


bisa keluar.” Disambut dengan ejekan dong.


“Yeh..kalau saya tidak disuruh beli sayur, mungkin saya tidak mampir di rumahmu. Mau ikut


keluar makan kah tidak nih?” Kesal Avisa tapi ujung-ujungnya ngajak makan diluar.


“Traktir nih ceritanya?” Kok Rara semakin meledek sahabatnya.


“Saya pulang nanti nih?!” Avisa semakin dongkol.


Masih terdengar tawa menderai tak henti masuk kamar buat pakai jilbab diekori sahabat sendiri.


“Kau pakai celana tidur nih, Ra? Tlidak salah lihat kah?” Kata Avisa protes.


“Kenapa jadi? Buat apa gaya-gaya kalau hanya mo makan saja diluar, bukan mo ke gramedia kok.” Jawab Rara dengan santai.


“Ayo sudah, keburu orangtuaku telpon suruh pulang, tidak jadi traktir tuh.” Avisa pun malas mengambil pusing dengan setelan sahabatnya yang benar-benar menurut ia aneh.


Dalam perjalanan tidak tahu kenapa Rara membahas tempat parkir perempuan itu.


“Paling beta eh parkir di depan panggung sekolah.”


“Malas yah kalau parkir depan SD susah keluar.”


“Haha..bilang saja tidak bisa kasih geser motor yang halangi kau buat keluar.” Ih, Avisa langsung menimpuk kepalanya yang terpakai helm itu.


Meringis sakit, “kepala masih di pake!” Rara berujar protes.


“Siapa suruh cari masalah trus.”


“Besok ke sekolah sama-sama kah? Saya jemput?” Kata Rara mengusulkan.

__ADS_1


“Boleh..boleh, tapi kamu jangan datang ngaret nanti yang ada kita bisa di hukum sama Pak Rizki karena terlambat. Besok upacara tuh.” Avisa mengingat.


Tidak tahu kenapa mendengar kegembiraan sahabat, ada satu ruas patah dan menyesal kenapa bisa menumbuhkan perasaan itu. Rara tidak bisa menghindari rasa suka yang datang dengan alami itu. []


__ADS_2