Sepotong Nada Yang Hilang

Sepotong Nada Yang Hilang
6. Perjuangkan Cinta?


__ADS_3

“Persahabatan itu pulang dengan ramah tak ingin bahas topik lain apalagi menyangkut cinta terlebih perjuangkan kembali.”


 


♡♡♡


Dua tahun kemudian..


Persahabatan mereka masih kurang baik, selama itu kah masih belum ingin mengajak bicara? Dan sejak pertengkaran itu Rara kembali berteman dengan kekosongan, datang sekolah terasa ambyar.


Yang biasa melihat pintu kelas mendapati wajah Avisa sekarang sudah tidak ada lagi jemput di kelas sekedar makan di kantin sekolah atau makan bakso di kanjang.


Pengen minta pendapat teman sekelas kok Rara jadi tertawai diri sendiri? Siapa lagi sih menjadi ruang buat dia terbuka sembari melarikan luka kalau kehilangan sahabat terbaiknya itu?


Reihan? Oh tidak. Jangan sampai terjadi karena bisa buat kepala cowok brengsek itu mantul luar biasa.


Rara masih sayang sa, bakal terlantang dengan pongah di kalangan teman cowok multimedia.


Gadis itu pun memilih opsi mendengarkan musik sambil berbaringan di kelas.


Belum menikmati satu lagu selesai, perut sudah keroncongan. Dengan terpaksa berjalan keluar kelas duduk di kantin berharap tidak menemukan keberadaan Avisa, bisa-bisa merusak nafsu makannya.


Mendesah panjang. Menatap makanannya, begini eh kalau kehilangan selera makan jika bukan bersama sahabat duduk bergurau tanpa jeda.


Rindu.


Apa tidak salah kalau sama sahabat sendiri?


“Cie..makan sendirian, tra ajak-ajak eh..”


Mendengus kasar melirik ke sumber itu, “makan sudah, jan buat orang tra mood makan.” Ketus Rara.


“Haha, jan marah-marah kah, Ra, nanti ko cantik luntur.”


Ugh. Bisa tidak sih kata cantik jangan ditangkap daun telinga Rara? Itu sudah yang buat


persahabatannya hancur.


“Kenapa?” Perempuan itu bertanya bingung sambil duduk disampingnya.


“Biasa.” Kata Rara tak minat bicara panjang.


Oh, bisa ditebak tanpa harus lagi menceritakan dengan detail.


“Kam sampai kapan sih baku diam begini? Saat sa datang, eh kam tra baku tegur.”


Tersenyum hambar menimpali sambil mengunyah lagi makanannya.


“Soal Kak Luthfi kah, Ra?” Kok benar sih? Semakin buat gadis itu bergetir, menghentikan makannya.


“Ko tahu dari mana?” Jawab Rara heran.


Perempuan yang sedang bicara dengan Rara adalah sahabat selalu hilang-hilang sudah persis jelangkung. Kalau diajak jalan makan atau foto di tempat wisata selalu saja banyak alasan pengen main dengan teman-teman lain.


Vero. Nama perempuan itu.


“Oh iyo, Ra, sa juga sempat dengar kalau Avisa kangen makan sama-sama ko di *k*anjang, tapi anak itu takut tegur ko duluan.” Kata Vero.


Cukup buat Rara terkejut lalu menetralkan ekspresinya, memang pantas merasa takut


karena sempat meninggikan nada itu dalam kamar.


“Sapa saja kenapa sih? Kam nih macam tra tahu sa kah, kalau diam-diam begitu pengen

__ADS_1


kam say hello.” Ada getir dibalik intonasi Rara.


“Ko angin-anginan jadi, kadang di teriak juga pandangan lurus ke depan. Siapa yang


mau say hello kalau ko model-model begitu.” Kesal Vero cukup buat dia tertawa.


“Trus, Avisa kenapa tra ke kantin sama ko?” Rara penasaran.


Setelah bertemu satu sahabatnya ini cukup buat nafsu makan dia tidak berkurang kalau bahas nama Avisa lagi.


“Tadi sa lihat dia bawa bekal dari rumah, trus sa minta temani ke kantin dia tolak.” Jawab Vero dengan raut bengong.


“Mungkin takut eh ketemu sa?” Tawa Rara bermaksud bercanda.


“Makanya, Ra, jan pasang muka sangar begitu!” Kok Vero protes sih? Kan tahu sendiri kalau sudah watak dari sana.


Cukup berbincang lama bel masuk pun berbunyi mereka berpisah di kantin. Padahal Rara masih ingin ngobrol, karena mengusir sepi dan bosan Rara selama tak bicara dengan Avisa.


Duduk menunggu guru masuk kelas, keriuhan multimedia memang tidak bisa hilang. Bahkan sudah kelas tiga sekali pun.


Dua hari kemudian, masih sama tampak kabut hitam tak ingin perlihatkan pelangi indah itu bergandeng kembali dengan sahabat sudah lama ini tak bersua bahkan bercengkrama seperti biasa.


Tersenyum miring.


Lagi, Rara duduk sendiri dengan termangu berharap ada harapan tersisa sahabat datang


lebih dulu mengajak berbicara atau jemput di kelas begitu?


Mungkin tidak bakal terjadi. Dan siapa tahu sampai kelulusan nanti mereka tidak bakal


merayakan persahabatan mereka dengan perpisahan sembari lihat Avisa berangkat kejar cita itu di jenjang perkuliahan?


Ah, mendesah kasar.


Malas menggubris hanya mengabaikan.


“Ra..” Suara ini, sangat dirindukan Rara.


Tertegun. Berhenti di paragraf tengah lalu menutup novel mengarahkan pandangan ke pintu kelas.


Sebisa mungkin tak kaku berhadapan dengan sahabatnya yang sudah lama mogok bicara.


“Sudah makan?” Kalimat pertama setelah dua tahun tidak bicara dari Avisa.


Dapat gelengan sambil melipat kedua tangan depan dada.


“Kantin yok.” Tanpa persetujuan Rara langsung ditarik lengan itu dengan ramah.


Pandangan tersebut sudah dirindukan oleh Rara, diam-diam menyembunyikan senyum senang.


Syukur mengalir tak henti-henti dalam batin Rara, apa ini delusi? Tidak. Avisa sudah berada dalam genggaman kerinduan gadis itu.


 


♡♡♡


Apa yang buat kesenangan seorang Rara kembali? Cinta mendapati petikan gitar sempat diceritakan dengan alunan indah dari sahabat sendiri atau ikatan tanpa harus mengucapkan selamat tinggal? Tentu Rara lebih memilih ikatan di mana Avisa takkan pernah lagi pergi.


“Ra, kenapa sih tra mau belajar dengan serius? Sedikit lagi kita UN loh.” Kesal Avisa lihat gadis itu santai masih belum ingin belajar.


“Kenapa sih ada pelajaran matematika? Belum lagi tuh..Fisika semakin buat setengah mati pahami.” Rara tak habis kesal dengan pelajaran itu dan lagi-lagi kedua sahabatnya menuntut buat memahami pelajaran yang dibencinya.


“UN juga masih ada enam bulan mo, kenapa su sibuk belajar kah? Nanti saja deh, lebih baik tong main atau makan di luar begitu kah.” Karena Rara paling malas ribet dengan pelajaran yang belum kejar hari H buat bekal UN.

__ADS_1


Kalau saja Avisa protes dan memaksa lagi, sudah dipastikan Rara bakal mengusir mereka secara kasar.


“Yasudah, kita makan diluar dulu.”


“Setelah makan jalan ke mana kek, biar tra sumpek di kamar terus.” Jawab Rara dengan riang.


Avisa hanya memutar bola mata dengan jengah.


“Ra, kenapa ko tra perjuangkan cintamu?”


Ih, kok lagi moment asik begini Avisa bahas cinta yang sudah tidak berada di sekolah?


“Tra penting lagi.” Rara menjawab dengan ketus.


“Kenapa? Bukannya ko pengen toh jadi pacarnya Kak Luthfi?”


Vero hanya menjadi pendengar saja. Tidak mau mencari prahara saat mereka membahas perasaan masing-masing.


Sedangkan Rara hanya diam. Malas membahas.


“Ra, sa su ikhlas dan minta maaf waktu itu langsung main pulang. Alamia kan, kalau sa


ngambek karena di marah-marah?”


Rara tertawa pelan.


Buat apa membahas Luthfi yang sudah lulus dan perjuangankan cinta sedangkan orang itu tidak berada di sekitar sekolah lagi?


Mungkin cowok itu sudah memiliki romansa baru. Pikir Rara dengan tenang.


“Sa kan pernah bilang kalau cinta tuh sa tra mau ambil pusing, sekedar menyenangkan hati saja, buat ingin dapati de hati impossibel sekali.” Rara tertawa lebar.


Buat apa membahas kidung terlebih perjuangkan cinta? Oh, Rara ingin tertawa lebih lebar lagi.


Motif dibalik penuturan sahabat sendiri apa coba? Lagian Rara tahu kok dia bukan hanya gagal dalam pelajaran tapi susah buat mendapati hati cowok yang terlanjur bertamu di hati.


Batas kagum. Yah, itu sudah tersemat dalam dada Rara. Lebih dari itu adalah impossibel.


“We, katanya besok ke pizza hut kah?” Vero pun mengambil alih saat suasana jadi kaku.


“Oh iyo, betul sekali. Ra..besok eh, pulang sekolah kita ke sana?” Avisa langsung menepuk jidat.


Kemarin saat Vero kembali saat bertemu Rara di kantin, perempuan itu mengatakan kalau sudah ngobrol dengan Rara bakal traktir ke Pizza Hut dan sempat dapat protes dari Vero karena kemahalan kalau di sana.


Tetap buat Avisa keuhkeuh ke sana. Dan, Vero pun mendesah menerima keputusan sahabat sendiri.


“Ih..su lama kah sa tra makan barang itu!” Rara menjadi kekegirangan.


Ok. Fix besok pulang sekolah mereka berkumpul kembali di Pizza Hut, dan hari ini cukup dalam meluangkan waktu bersama, karena orangtua Avisa menelpon balik segera mungkin kalau menunda-nunda lebih lama, jangan harap besok jadi ke lokasi.


Saat sampai di rumah apa yang pertama kali dirasakan Rara? Berpikir kembali mengenai perasaan yang sudah lama dipendam buat Luthfi.


Mengenai nada dari sebuah petikan gitar cowok terkesan cuek, lalu menjelma penasaran dari seorang gadis bernama Rara. Sampai menaruh hati.


Perjuangkan cinta? Jangan bertindak bodoh demi mendapati apa yang sedang dikemas rapi oleh hati.


Cukup mengagumi keindahan petikan gitar tanpa didengar langsung oleh daun telinga Rara. []


Notes :


Kam \= Kalian


De \= Dia

__ADS_1


Dong/Dorang \= Mereka


__ADS_2