
“Garis-garis tertarik sangat tertampil kecut, apa benar selama menikmati moment dengan Luthfi, dia yang tidak peka?”
♡♡♡
Saat ruas-ruas sempat pelihara sebuah nestapa seorang diri, kini Rara bisa merasakan kembali apa itu arti kebahagiaan saat mendapati kidung kembali. Walau tahu hanya sebatas kakak-adik cukup buat dahaga asa bernapas sangat lega.
Kebersamaan itu kembali terpotret indah dengan Luthfi.
Sembari menunggu jemputan, mendadak Ika sakit perut karena PMS, buru-buru pamit pulang dan minta maaf tidak bisa menemani sampai jemputan Rara datang. Hanya membiarkan sambil tersenyum.
Syukur, melihat ada beberapa kakting belum pulang dan terlihat mereka duduk santai di ruang E3. Dengan langkah-langkah lebar masuk ke dalam ruangan dapat sambutan sangat hangat dong.
“Iya, Ra, mau tahu, kita dulu tuh tidak dapat yang namanya PKKMB, kakting dulu tuh kejam-kejam eh, sampe kita di suruh jalan jongkok putar gedung ini sudah, Ra. Trus kamu tahu, wafer tango di suruh telan satu kali, tidak boleh di kunyah.”
Rara sendiri sudah terbiasa bergabung dengan mereka, bahkan kadang memanggil dengan sebutan teman sekalipun, tidak kena damprat oleh kakting. Yang dinilai oleh Rara adalah mereka tidak haus akan hormat.
“Bisa tuh? Di suruh telan satu kali? Tenggorokan tidak sakit kah?” Rara heran sendiri bergidik ngeri.
Tanpa sadar, Luthfi menelpon, “we..jemputanku sudah datang tuh!” Seru Rara sambil mengenakan tas. Lalu pamit ke mereka.
Rara yang mau naik ke motor, lebih tertarik dengan, “wih..bagus nih, buat saya eh noge?!” Seru Rara mengambil dengan santai pulpen itu dari saku tas tempat air minum Luthfi.
Luthfi menggeleng, sambil terkekeh, “haha, ambil sudah. Sekarang naik ke motor! Saya sudah mau pulang nih.”
Ah..ingatan itu lagi yang mengusik pikiran Rara saat ini.
Kenapa saat pulpen yang sudah diambil beberapa minggu lalu dan dengan cuma-cuma hilang begitu saja, apa karena ceroboh tidak bisa menjaga barang?
Napas terdengar kempas-kempis, menangis pun tidak bakal buat tempat pensil Rara kembali kan?
Astaga. Kenapa Rara berharap yang menemukan tempat pensilnya segera mencari pemilik benda persegi itu dan mengembalikan tanpa harus gelisah berhari-hari seperti ini.
Mirisnya, setelah benda itu hilang, pemilik pulpen tersebut ikut berkemas ulang.
Menyebalkan, bukan?
Rara sudah tidak memiliki sebuah ruang dalam melarikan sesak yang menyayat hati, hanya bisa memeluk seorang diri bahkan tak mampu menenangkan sebuah lirih yang bersiul amat-sangat angkuh.
Ke mana dua sahabat yang selalu menemani saat sedang terpuruk seperti ini?
Rara benar-benar butuh sandaran itu, terutama Vero yang mampu menenangkan desir dalam hati.
Hari ini terasa ada yang berbeda, benar, Luthfi mendadak tidak ada kabar lagi. Kenapa paling beta buat Rara berdecak kesal dan sedih tiap kali mendapati kabut pekat, cowok itu juga ikut menghilang tanpa sebab.
Tidak tahu kenapa saat mengeluarkan motor, memerhatikan depan pagar sesaat, yang selalu ditunggu oleh potongan nada dengan sabar kadang juga mendelik kesal karena berasa lama tidak lihat Rara nongol.
Tersenyum sangat desir. Semua batas delusi saja dalam mengharapkan apa itu arti kidung serta kata-kata manis tentang taaruf, ternyata benar adanya.
Luthfi bakal menjemput kekasih impian lewat taaruf dan meninggalkan memoar berharga bagi gadis itu sendiri.
Hanya nafsi memahami arti penting sebuah memoar bersama orang disukai dan itu tidak bakal berlaku bagi cowok yang benar-benar tidak peka.
Tunggu, apa benar Rara tidak peka yang menimbulkan hubungan mereka berkarat tidak sampai ke kursi plaminan?
Ah, benar juga. Rara mendesah sangat kasar, hanya sebatas teman dalam hal bersenang-senang sebelum cowok itu serius dalam menjalankan taaruf.
__ADS_1
Sampai di kampus, tidak banyak obrolan yang ingin dibagikan ke teman seangakatan.
Aneh. Kenapa saat kidung yang ingin diperjuangkan Rara dari sepotong nada terlanjur
beranjak, teman seangakatan mendadak baik dengan dia.
Hm, pasti ada something yang ingin mereka dapatkan dari Rara. Maybe, kalau tidak kenapa bisa dengan mendadak tidak ada petir, jadi baik seperti ini.
Kalau hanya ingin melukai sebuah kepercayaan, lebih baik jangan manipulasi sebuah kebaikan lewat senyum palsu mereka.
Karena Rara paling benci hal dibohongi dengan cara mengambil sesuatu yang tidak disadari gadis itu sendiri.
Apa belum cukup puas buat Rara retak dengan pertemanan yang dianggap sahabat ternyata musuh dibalik senyum palsu.
Sudahlah, kalau memang tidak suka dengan keberadaan Rara, jangan merepotkan diri bisa mendapatkan apa yang diinginkan dari dia.
Apa mereka tidak takut dengan karma?
♡♡♡
Benar. Sangat kehilangan keberadaan Luthfi.
Tawa khas yang sering transit di daun telinga mendadak tergantikan dengan hirukpikuk kota swis. Tersenyum miring, kenapa terjebak kembali dengan situasi menyebalkan seperti ini?
Seharian di kampus cukup buat kepala Rara penat, ingin segera rebahan dalam melupakan sejenak luka dalam dada.
Drrt..Drrt.., menyebalkan! Baru saja ingin menutup mata dengan nyaman, getar HP milik Rara mengganggu tidur siangnya.
“Hm..kenapa?” Intonasi malas mengangat HP.
Apa karena terlalu baik kah?
“..”
“Oh iya saya ke situ, tunggu sebentar sudah.”
“...”
“Hm, saya memang baru pulang kampus, rencana mau tidur tapi kau sudah duluan ajak saya ke sana.” Rara bersungut dengan wajah terkantung-kantung.
Daripada tidur dengan pikiran lari ke mana-mana, lebih baik memenuhi keinginan seorang yang barusan saja menelpon. Lagian, perut juga lagi nyaring ingin diisi makanan.
Setelah tiba disana, kok mendadak buat dada Rara bergemuruh?
“Kau lama sekali kah, saya sudah mati kelaparan tunggu kamu nih!” Disambut dengan wajah kesal dong.
Tidak bersyukur sekali Rara datang dengan mata terkantung-kantung ditambah dada terhimpit, sakit sekali. Karena napas tak beraturan, kepala ikut pusing.
Kalau tahu memiliki teman yang sangat angkuh seperti ini, lebih baik Rara tidur dengan pikiran ke mana-mana daripada dapat sindirian sangat pedis seperti ini dari teman kecil sendiri.
Setelah mendapati kata-kata kasar, tidak ingin tinggal diam lalu dengan cepat menyuarakan protes saat sedang ingin istirahat dapat ganggu, bukannya minta maaf masih saja melayangkan nada protes.
Malas menggubris lebih lama, lebih memilih diam lalu menampilkan sorot tidak suka dimarah saat sudah berkorban kala tubuh benar-benar ingin istirahat.
Eh? “Tunggu saya ambil tasku dulu.”
__ADS_1
Kok teman kecil Rara masih berdengus kesal?
“An, kamu mau ke mana?” Tanya teman kerja Anha, yang barusan saja keluar dari gudang belakang.
“Saya mau pergi makan pangsit dulu, saya lapar eh.” Melasnya.
“Oh..saya titip kah, An.” Dari intonasi itu, ingin mengharapkan Rara buang suara begitu untuk traktir?
Ogah! Yang kerja siapa kenapa minta kode ke orang tidak memiliki pekerjaan sih Dasar.. manusia-manusia aneh yang mengelilingi Rara.
“Edede, jangankan beli dua porsi untuk tambah pentolan saja uangku tidak cukup.” Lirihnya dengan wajah canda.
“Haha...iya sudah, kalau begitu kamu pergi makan sana sudah. Biar nanti saya masak mie saja di dapur.” Terdengar perempuan itu tertawa, seperti mengejek ke arah Rara yang hanya bungkam dari tadi tak menggubris.
Lah, mendadak Rara melongo dong? Harus kah dia yang berikan sebuah tumpangan makan gratis? Sadar diri dikit napa sih?! Mendadak gadis itu bergemuruh.
“Kamu mau pakai pentolan kah tidak?” Tanya Rara.
Mereka sudah tiba di sana, sementara itu Anha berjalan masuk mengambil tempat.
“Ais..saya mie ayam biasa saja, soalnya uangku tidak ada untuk tambah pentolan.” Membalas dengan lemas.
“Ini kamu makan saja, biar nanti sisanya saya bayarkan.” Ucap Rara saat makanan mereka datang.
Gadis itu tidak pernah mempermasalahkan berapa rupiah dikeluarkan, yang penting
sebuah kepercayaan tidak dirobek dengan kasar.
“Kamu yang kasih kabar duluan toh, yah.. basa-basilah tanya dia bikin apa atau kamu sudah makan kah belum, kalau dia hilang nanti kamu menyesal lagi.” Anha mencibir.
Haha, terdengar sebuah tawa lirih dalam batin Rara.
Kenapa setiap kali curhat mengenai Luthfi yang seperti abu-abu, selalu saja kena cibiran bukan solusi atau bantu sebagai prantara begitu, supaya hubungan mereka ada kejelasan sedikit.
“Ais...saya tidak yakin sekali kalau dia balas chatku atau SMS nanti.” Rara mulai patah semangat.
“Kamu juga susah, orang sudah kasih kamu kode keras tetap saja kamu sok jual mahal disini. Nanti
ujung-ujungnya Luthfi diambil cewek lain, kan tidak lucu toh kalau seorang Rara yang tomboy ini menangis hanya gara-gara cowok yang tidak penting untuk ditangisi. Karena yang saya kenal dari kamu itu.. Orangnya ceria dan tidak mudah mewek hanya soal cowok. Yah...walau saya selalu panas dengar curhatan bodohmu yang tidK jelas ke mana arahnya, setidaknya saya tidam mau lihat air matamu hanya karena tidak tahu Luthfi sudah dimiliki orang lain. Karena saya juga bosan kasih tahu ke kamu, kalau kamu juga harus bertindak jangan sembunyikan hatimu trus.” Cerocos Anha.
Siapa yang tidak peka sebenarnya? Kok saya yang disalahkan Anha sih? Rara menggerutu dalam batin.
Diam. Hanya ini pilihan terbaik sambil menghabiskan mie pangsit mereka dengan perasaan campur aduk, masih belum tahu kenapa Luthfi selalu main sebuah putak umpet dengan gadis itu. []
Notes :
Swis adalah singkatan dari Sekitar Wilayah Sentani.
"Be the way, kamu yang selalu buat harapan tapi pergi tanpa penjelasan. Sakit cuey..haha becanda."
Peluk Online,
❤
-Dinn-
__ADS_1