Sepotong Nada Yang Hilang

Sepotong Nada Yang Hilang
Suara merdu Adzan Luthfi (Versi Formal)


__ADS_3

“Ternyata sekedar menarik perhatian kecil dari Rara saja, cowok itu tidak sungguhsungguh dalam mengejar sebuah aroma surga di lingkup halaqoh.”


♡♡♡ 


PING!!!


Rara, katanya kamu udah gak aktif di liqo k..


Cukup lama membungkam nafsi, kenapa ada sebuah pertanyaan menohok Rara prantara dari orang yang disukai?


Oh Rabb..maafkan hamba kalau masih saja khilaf saat belum istiqamah di jalan mengeja jannah-Mu. Sungguh, ingin benar-benar mendapati sebuah kekasih dalam mengaromakan artian surga-Mu dengan indah, tanpa harus lagi bersembunyi dibalik kidung palsu dari hubungan sementara.


Dan, Rara masih saja berusaha untuk bisa menyakinkan satu potongan nada yang diperjuangkan bukan sekedar just for fun di dunia melainkan juga sebagai simfoni terdengar merdu di pintu surga. Semoga dijabahkan oleh malaikat.


Saat ini Rara sedang sibuk bertengkar dengan isi hati, apa ingin menetap dalam keegoisan nafsi saat masih menginginkan sebuah lingkup penuh aroma surga tersebut?


Apa kurang cukup perhatian Mbak Jannah dalam mengajak kembali gadis itu untuk belajar istiqomah di jalan mengeja Jannah?


Rabb..masih belum bisa mengelupas arti bengis dibalik sorot intimidasi dari orangorang di sana. Sungguh, ingin sekali mendekap ukhuwah penuh hangat, sayang harus perlahan beranjak dari sana.


Dan, kenapa harus berhadapan dengan Luthfi yang sedang meminta dia kembali ke liqo?


Sabda Nuraindah Risya. Nama yang sangat indah tak seharusnya menyelipkan sebuah kedengkian sesama saudara muslim. Bahkan Rara sendiri bingung kenapa bisa ada sebuah catatan merah di jidat tentang dirinya sangat dibenci oleh satu akhwat tersebut.


Jelas, tak pernah mengusik atau membuat kesalahan. Kok bisa menciptakan sebuah benci dalam hati Sabda?


Bukan hanya benci melainkan kesombongan dengan pencapaian ditempuh, seperti mengolok lewat tatapan dan tutur kata, memang tidak secara terang-terangan lewat nama, tapi jelas dimengerti oleh Rara.


‘Kesombongan (al-kibr) adalah melihat diri sendiri melebihi al-haq (kebenaran) dan al-khalq (makhluk; orang lain). Jadi, orang yang sombong melihat dirinya di atas orang lain dalam sifat kesempurnaan.


Dari Abdullah bin Mas’ud, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau Shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda, “tidak akan masuk surga orang yang ada kesombongan seberat biji sawi di dalam hatinya.” [HR. Muslim, no 2749] -Diposting oleh almanhaj-’


Rara tak bisa berpikir panjang kenapa bisa ada sebuah wadah mengeja jannah bersama, masih menunjukkan sebuah sifat bengis.


Hah..sungguh tak bisa di deskripsikan kenapa bisa akhwat itu membenci Rara.


Jadi, cara aman dan tidak melukai satu sama lain, Rara lebih baik pergi dengan pelan-pelan. Sudah cukup puas dan nyaman tidak lagi tertindih oleh tatapan akhwat itu, mendadak terkejut dipanggil kembali ke halaqoh lewat prantara orang disukai Rara.


Memeluk lutut dengan menahan tangis, kenapa masih ingin lihat dia terjerumus pada lubang kebencian Sabda?


Cukup. Apa belum mengerti dengan gerak-gerik gadis itu sedang menyimpan sesak-desak dalam dada?


Tapi, Rara menghargai sebuah prantara itu. Murobbi sangat baik dan perhatian sekali sama murid liqonya. Tersenyum tipis, menghalau kabut pekat yang sempat mengepung wajah Rara.


Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa mengajak (manusia) kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa mengajak (manusia) kepada kesesatan maka ia mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.’


Mungkin kalau masih ada Avisa, tidak perlu berpikir sangat panjang saat cowok memiliki potongan nada mengajak kembali mengaji lagi.


Tersenyum sangat datar.


Betul juga, kehadiran dia baik di lingkup liqo, keluarga atau pertemanan sekali pun pasti tak lepas dari tatapan penuh dengki, benci tak menyukai keberadaan gadis itu lebih lama.


Murobbinya sangat baik. Masih begitu perhatian dengan kepingan ukhuwah yang hilang dan berbelok ke arah lain.


Memang masih bisa belajar mandiri, tapi Rara merasakan kalau murobbinya menginginkan dia kembali lagi.


Tapi, tidak semudah itu mengindahkan kemauan mereka juga menjelaskan dengan tegas ke Luthfi. Butuh waktu yang mungkin agak lama.


♡♡♡


Setelah lama memutuskan keputusan untuk kembali atau menolak secara halus undangan prantara murobbi sendiri.


Rara dikejutkan dengan sebuah kabar dari Luthfi, kok tumben sekali mengajak minum bersama di kafe jalan Kemiri.


Traktir kah? Tidak salah tangkap informasi dari Luthfi kan?


Orang sepelit cowok itu, bisa memiliki keinginan mengajak traktir minum di kafe? Rara masih meragukan dengan ajakan cowok menyebalkan dipenuhi kepalsuan itu.


Apa sudah menyesali diri selalu minta traktir di cewek disukai Luthfi? Oh, seperti itu kah atau sekedar permainan saja buat dia jatuh di perangkap php milik Luthfi setelah itu pergi setelah berikan kenyamanan?

__ADS_1


Ah, apa nih, ngaco saja pikirannya Rara.


Sambil duduk di kursi putar, sedang berada di rumah grandma, menunggu sang adik bangun. Mungkin tidak bakal bangun dalam waktu dekat, karena mendapati informasi kalau baru saja menutup mata.


Mendesah sangat panjang.


Kalau menunggu lebih lama lagi, tidak bakal duduk berdua dong dengan Luthfi. Lebih baik mengindahkan saja deh. Tunggu, ada SMS masuk dari..


Dek, bisa datang ke acara KAMMI sebentar sore?


Oh, begitu cara Luthfi mengalihkan sebuah perhatian?


Syukur murobbi lebih dulu menginfokan. Jadi bisa mengerti maksud dan tujuan Luthfi mengajak minum berdua di kafe. Ternyata..ada alasan lain yang terselubung, dasar..penipu! Kesal Rara dalam batin.


Sudah lama tidak duduk merasakan kelembutan di kajian atau acara tersebut, sejak hengkang dari halaqoh.


Setelah pamit di grandma dan bersegera berganti pakaian, sedikit kecewa dan sakit sih,


kenapa tidak jujur saja kalau ingin ngajak ke acara KAMMI? Harus yak, dengan taktik penipuan mampu buat Rara luluh?


Semakin membenci cowok itu, tapi tidak sepenuhnya karena sudah terisi rasa selama


ini di pendam. Dasar Rara.


Tapi, sungguh kali ini dia sangat membenci cara Luthfi mengajak ke undangan KAMMI. Kenapa tidak jujur saja, harus mengandalkan sebuah kebohongan demi kebaikan yang diberikan ke Rara?


Saya sudah dapat undangan yah dari Mbak Jannah.


Setelah menginfokan Luthfi, kenapa merasa nyeri di hati?


Apa karena gagal atau dibohongi tidak minum di kafe berdua?


Walau sekedar cincau, terbilang murmer, cukup buat hati perempuan bahagia bisa duduk bercerita dengan orang disukai. Tapi, itu hanya dibungkusi sebuah kebohongan.


Tersenyum sangat miring.


Mengelus dada, mengucap istigfar.


Rara memotret hanya sedikit peserta datang. Tumben sekali, kalau kegiatan seperti ini sebelum mulai paling sedikit seperempat seisi mushola, bukan hanya beberapa saja.


Membangkitkan kembali mengenai acara Pemuda Masa Depan, kala itu Sabda yang mesti menggiring peserta duduk di dalam, walau tak banyak masih memiliki kepercayaan diri untuk beberapa jam lagi dalam menjalankan acara tersebut dengan lancar sembari menunggu peserta lain datang dan alhamdulillah mulai banyak berdatangan.


Hm, terlalu banyak ingatan mengenai forum sudah lama vakum tersebut yang bergerak ke My Life telah di upgrade menjdaikan Rara malas untuk datang dalam pembentukan forum baru itu.


Terlihat ada Linggar dan Aldy duduk berjarak.


Mungkin mc dan ikhwan tersebut seksi acara.


“Ih? Ukhti Rara sudah datang, apa kabarnya? Kenapa baru muncul, Ukhti?” Sapa Rianti, Murobbi.


Tertawa miris, kalau boleh ingin sekali menyuarakan protes pun fakta salah satu diantara mereka menyelip catatan kebencian sejak masih bersekolah dulu hingga sekarang.


Seperti mengajak dalam kebaikan tak lupa benci menyeruak lewat sorot mata. Memang, tak mengelak kalau masih ada yang mengharapkan hadir Rara lagi dalam halaqoh. Tetapi terlalu banyak fake dalam lingkup beraroma surga lebih baikberdakwah lewat kreatifitas sendiri saja.


“Eh, Rara?! Tidak bilang-bilang lagi kalau kamu datang ke sini!” Seorang menyenggolnya, Eka.


Dentuman-dentuman mengiramakan sangat cepat, senang dapat teman ngobrol.


“Haha, ku pikir kamu masih kuliah kah, makanya saya tidak kasih kabar. Sudah..yang penting saya datang kah. Tidak perlu protes lagi disitu.” Celetuh Rara.


Tidak tahu kenapa saat acara berlangsung, Rara ingin tertawa terpingkal tapi berusaha di tahan dengan cara ngobrol dengan Eka.


“Eh? Kamu tahu Luthfi?”


“Anak mana eh?” Penasaran sambil menampilkan wajah bengong.


“Itu sana heh..alumni dari smk ypkp jurusan multimedia.” Menunjuk dengan pelan ke arah cowok itu yang sedang sibuk mengambil mic dekat ambang pintu masjid.


“Oh?” Mengangguk paham, “kenapa dengan dia? Kalian dua pacaran kah?” Imbuh Eka dengan menebak asal.

__ADS_1


Dibalas dengan gelengan pelan, semakin buat Eka protes, “ji..trus? Kenapa kamu bahas dia ke saya? Ah..pasti ada sesuatu nih, cerita! Jangan kamu sembunyikan lagi dari saya!”


Memang mereka sudah pada sunyi, hanya kedua akhwat itu saja duduk dalam mushola, peserta lain pada sibuk antri ingin mengambil wudhu.


Dan, tidak tahu kenapa Rara jadi salting di tempat. Bingung mau jawab apa lagi.


“Haha..akhir-akhir ini saya lengket saja sama dia.” Rara langsung ke pointnya dengan rona merah, malu.


“Cie..berarti kalian dua sudah jadian dong?” Kenapa Eka yang girang?


Pun mendengar diksi sudah lama ingin Rara dapatkan, terasa ada yang nyeri di hati.


“Ssstt..tidak jadian kah, hanya..” Rara menggantungkan kalimat, tidak perlu lagi kan


buat di lanjutkan bisa-bisa pulang dari acara, dia menangis.


Ups, tidak..tidak bakal terjadi. Hanya melamun paling atau pantau story Luthfi dengan senyum penuh getir.


“Jangan bilang kamu dengan Luthfi itu friendzone?” Aih, kenapa tebakan Eka benar sih?


Setelah itu, mendapati gelengan pelan, “lah, terus apa?” Semakin buat Eka bingung.


“Kamu tidak sholat kah?” Eka bertanya dengan bengong.


“Tidak yah, biasa cewek. Kalau kamu?” Rara justru bertanya balik dengan santai.


“Samaan, berarti kita duduk di sana sudah, Ra. Kasihan nanti yang lain mau sholat disini kita pakai duduk.” Eka mengajak ke tempat sholat cewek.


“Trus..trus, kamu ceritakan lagi tentang Luthfi.” Eka tidak bisa membiarkan cerita itu mengambang begitu saja lewat kegantungan cerita Rara.


Saat asik ngobrol, “eh..sepertinya yang adzan nih, Luthfi deh?” Rara berusaha menebak.


Oh, benar juga sebelum selesai. Segera mengambil benda pipih, “ah, masa sih?” Eka


langsung bersuara penasaran.


“Hm..kamu lihat sudah sana, kalau tidak percaya.” Kata Rara sambil mengisyaratkan lihat dibalik gorden, sambil mengintip.


Memang sangat peka, berdiri dengan cepat, “tunggu eh, saya lihat di depan dulu.” Setelah lihat, kembali dengan wajah girang, “iya, itu Luthfi yang adzan. Cie..kok tahu?” Imbuh Eka dengan intonasi menggoda.


“Tahulah. Saya dengan dia setiap hari jalan. Jadi hafal suaranya.” Dibalas santai dari Rara, tapi tak mengelak kalau dalam hati tersipu malu.


Ah, betul juga hampir lupa karena asik bercerita, “tunggu sebentar. Kayaknya saya harus rekam suara adzannya ah. Biar jadi teman dalam tidur.” Sambil terkekeh terus buruburu buka layar kunci di HP setelah itu menekan aplikasi perekam suara.


“Cie..” Ah, Eka kenapa semakin buat dia tersipu malu.


Rara tersenyum sangat penuh arti, “saya kalau adzan tuh merdu, makanya suka dipanggil di masjid.” Ucap Luthfi kala itu datang jemput Rara di kampus.


Oh, benar juga ingatan itu terulang lagi. Semakin buat Rara berdecak kesal.


Jadi, kedatangan Rara hari ini sebagai pancingan Luthfi, sekedar ingin riya persoalan ibadah itu ke Rara? Oh Rabb, kenapa bisa ada ikhwan yang ingin dipuji manusia dan menginginkan hati mereka luluh, bukan karena ingin mengaharapkan ridho-Mu?


Rara langsung menggeleng, mengerti tujuan SMS itu dilayangkan penuh kegirangan serta kepalsuan mengajak minum di kafe berdua. Tersenyum sangat miring, kecewa. []


Notes :


^^^"Bagi kalian memiliki ukhuwah, jaga dan terus tingkatkan ketaqwaan kalian bersama friends till jannah. Jangan prioritaskan sebuah ego dan benci dalam hati, karena Rasulullah sangat membenci orang yang dalam hatinya terdapat benci walau sebesar biji sawi. Dengan adanya sebuah halaqoh adalah merangkul saudara seiman dengan sabar, ikhlas, berfaedah bukan kebalikannya.^^^


^^^Jika ada yang retak, segeralah diluruskan dengan bermusyawarah kenapa menyebabkan satu orang menghilang dari lingkup penuh kelembutan saat ingin serius mengeja Jannah? Bukan semakin tebar bengis, rangkul, bahu-membahu dengan kelembutan, kesabaran.^^^


^^^And buat yang terlanjur membenciku, saya tidak mengerti kenapa bisa menyelipkan sebuah kebengisan buat saya, sedangkan saya tak berbuat apa-apa yang menyebabkan sebuah kebencian dibalik sorotmu. Be the way, thanks? Mengajari arti melepas dan ikhlas.^^^


^^^Guys..jangan larut dalam kesedihan karena banyak orang menebar kebencian ke kita. Kita hidup untuk memperbaiki kualitas diri terhadap yang menciptakan kita bukan buat menyenangkan semua manusia. Karena tidak semua orang menyukai kita, sebaik apapun kalian, selalu saja ada yang tidak menyukai kita. And, keep smile, terus berprasangka dengan ketetapan-Nya."^^^


Peluk Sayang Online,


💞


-Dinn-

__ADS_1


__ADS_2