
“Bukan tercepat dalam menjemput potongan hati menjelma halal, melainkan keseriusan untuk mengejar jannah bersama kekasih idaman lewat sepertiga malam.” -Adinda-
Rai kehilangan sayap menuju surga bersama perempuan pilihan sendiri, sebab ketakrestuan ibunda yang melantangkan begitu tajam dan tak berperasaan.
“Nak, lebih baik kamu nurut dan setuju dengan pilihan mamamu.” Begitulah yang sempat ayah menasehati, sebelum berangkat lagi ke jepang.
Kali ini bisa apa selain berkutat bersama sunyi lalu melihat sebuah angan-angan berkemas jemput sebuah pernikahan impian dengan perempuan pilihan.
“Kak?” Mitsuri memanggil dengan wajah melongo.
Tidak biasa sekali lihat kakak periang ini mendadak melamun tanpa sebab.
“Yah, ada apa, dek?”
Justru di balas bengong dari sang adik.
“Tumben murung, biasanya saya kerja kakak ganggu, ada apa? Kakak bertengkar yah sama Kak Adinda?”
Please..jangan sebut nama itu lagi, dek. Kakak patah harap jadikan dia kakak iparmu. Pikir Rai, begitu berdesir-desir dalam batin.
Menggeleng. Sekuat tenaga menyembunyikan luka di balik ekspresi.
“Lah, trus kenapa kakak kembali dari jayapura murung begini? Sudah dipastikan kakak ada sedikit problem yang nggak boleh saya tahu, yah kan?”
Duh, kenapa sih Mitsuri terus mendesak-desak sang kakak yang ingin menjeruji diri dari lamaran gagal itu ke Adinda?
“Dek, bukannya kamu bilang ke kakak lewat telpon, banyak pekerjaan menumpuk? Daripada kamu habiskan waktu ngobrol dengan kakak, lebih baik kamu gunakan waktu itu untuk selesaikan pekerjaanmu.” Urai Rai, berusaha mengalihkan semua isi pikiran yang masih berkelebat tanya itu dari sang adik.
Mendesah sangat nyerah. “Baiklah..baiklah, kalau memang itu yang kakak mau.”
Tersenyum tipis lalu mengusap lembut puncak kepala Mitsuri.
“Kalau gitu, kakak pergi ke luar, sebentar saja habis itu kita pergi makan, kalau pekerjaanmu sudah kelar, gimana?” Rai menawari sebagai ganti tidak ingin menjawab semua pertanyaan-pertanyaan dalam kepala adiknya itu mengenai Adinda.
Mengangguk sangat cepat lalu berjalan semangat ke arah ruang kerjanya.
Di lain tempat ..
Sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk workshop Rara di bandung. Kok menjadikan diri terpenjara oleh nostalgia milik cowok yang gagal menjemput keping itu ke plaminan?
Berdecak sangat kagum, melihat sahabat sendiri sudah bisa melahirkan kolaborasi bersama Harris J, Nada begitulah judul karya mereka yang telah terpajang manis di rak buku seindonesia.
Tak lupa, gramedia jayapura juga sudah ready.
Sempat mereka selfie di sana sebelum keberangatannya ke bandung.
Tentu Harris J juga ikut acara tersebut, lebih mengedepankan sebuah hobi gadis aksara
dibanding undangan beberapa negara memanggil untuk konser.
“Din, saya takut dia kehilangan karir sebagai penyanyi hanya demi prioritaskan workshop ini di bandung.” Sempat kok Rara merasa tidak enak hati.
“Tidak ada, Ra. Kan, kamu sendiri yang tahu toh, kalau Harris J sudah chat kamu juga kan, dia bakal ikut kita ke bandung? Lagian, dia juga bilang ke managernya dan di terima baik kok. Sudah ah, tidak usah di pikirkan begitu. Terutama.. Ini juga salah satu mimpimu toh? Kolaborasi dengan Harris J trus bisa dapat undangan workshop dari penerbit mayor?” Adinda mencoba menenangkan rasa ketakenakan hati sahabatnya itu.
Begitulah percakapan beberapa hari lalu dan sekarang mereka berada di salah satu hotel bandung.
__ADS_1
Seperti .. Masih berada dalam kedua bola mata aksara, berhalusinasi lewat imaji. Mengalun-ngalun sangat manis menjadikan mimpi bermekar indah lewat realita sembari ditemani oleh sahabat baru yang juga telah memberikan potongan nada baru di kafe.
Rara masih ingat dengan baik mengenai keterlukaan ide terobral sangat murah di kalangan JJS lewat sosmed beberapa tahun lalu.
Padahal meragu mengenai realita menjemput manis setelah mengetahui kebenaran pahit yang disalahgunakan ide berasal dari Rara oleh JJS di luar sana.
Yah bagaikan mereka semakin menjauhkan mimpi-mimpi sempat tertidur di pangkuan lemari DNA Production, sudah begitu lupa di bawa pula oleh manager indonesia Harris J. Batas beri vidio ucapan terima kasih tok, tidak lebih dalam menerbangkan kembali mimpi di bangun lewat deret huruf-huruf indah itu, telah menjadi dua version.
Kalimah kun fayakun sangat mudah Dia berikan apalagi untuk pejuang mimpi seperti gadis aksara teralamat pada Rara itu.
Bukan sekedar mengejar sebagai sahabat lewat aksara melainkan berdakwah bersama Harris J dibalik larik tercipta.
Oh yah, masih tidak lupa dengan sebagian JJS selalu ada dalam keterlukaan kala tahu ide termanipulasi sangat instan, Lusiana Rossa, Nanda Mulyaning, Nanda Badi, Intan Widiya, masih ada beberapa dari mereka tidak bisa tersebut, selalu berikan tumpukan motivasi, dukungan saat sedang viral ide Rara terpakai mudah JJS di luar sana.
Walau nama-nama itu sebagian dari bagian JJS, tidak meninggalkan bunga mimpi Rara apalagi mencuri ide dengan cuma-cuma melainkan merangkul penuh jemari ikhlas.
💕💕💕
Adinda merasa rindu bertamu dalam pikir yang telah lama mengurung kidung mengenai gagal lamaran itu.
“Arg. Kenapa sih harus tersiksa begini?!” Kesal perempuan itu sendiri.
Dua hari lalu kembali ke kajian halaqoh, menampar nafsi begitu tegas bahwa menginginkan sesuatu harus bersujud sangat romantis di sepertiga malam.
Bukan menyerah pada semesta apalagi ketakrestuan manusia.
Kalau menjadikan pernikahan sebagai ibadah paling terpanjang bersama pilihan terbaik juga menjanjikan sebuah aroma-aroma surga, kenapa tidak bangun di sepertiga malam untuk mengadu romantis pada Rabb?
Tidak ada yang tidak mungkin, selagi penuh keyakinan hati insyaallah mendatangkan hal tak terduga.
Berusaha menyibukkan diri dengan pekerjaan baru selama di Islandia. Tetap saja namanya rindu bakal bertamu tanpa terundang sekali pun.
Masih belum menyangka mempertahankan ibadah sepertiga malam itu, ternyata keajaiban terbentang mata, sangat nyata.
Adinda saat ini sedang make up wedding. Melihat kicauan sahabat-sahabat memandang iri, tentu kembali ngilu kembali teringat kenangan susah mendapati restu dari ibunda Rai.
Mungkin menunggu kesempatan kedua ada setengah tahun, hampir menyerah dengan cinta dalam doa sembari mencari pasangan baru jika tidak mencoba ikhtiar hingga mengantarkan mereka ke kursi plaminan.
Menghelakan napas, begitu nervous. Akad di masjid Al-Aqsa sentani setelah itu mengambil photo wedding dan menuju ke gedung pernikahan di 751 sentani.
Karena belum memiliki photo wedding untuk di pajang samping pintu kedatangan tamu. Usai ijab kabul terucap mereka bisa mengambil sesi pemotretan.
Masih teringat jelas mengenai .. Dimana adanya ikhtilat adalah terjadinya campur baur antara laki-laki dan perempuan, sedangkan khalwat adalah ketika laki-laki dan perempuan yang bukan mahram berdua-duaan. Hal tersebut dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam dalam salah satu haditsnya,
“Janganlah salah seorang di antara kalian berduaan dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya) karena setan adalah orang ketiganya, maka barangsiapa yang bangga dengan kebaikannya dan sedih dengan keburukannya maka dia adalah seorang yang mukmin.” (HR. Ahmad)
Sudah tiba di gedung pernikahan. Sedangkan sahabat-sahabat mengambil tempat duduk di depan pintu masuk, sebagai pagar ayu.
Tanpa sadar, dua bola mata Rara melihat sekilas potongan nada bergandengan dengan calon istri sedang mengisi nama di buku kedatangan tamu.
Ups..ketahuan menatap, segera mungkin memutuskan pandangan dengan memainkan
HP, menundukkan kepala.
Bisa tertangkap samar, Luthfi tersenyum tipis lalu menggandeng tangan perempuan bermata sipit, seperti orang china itu ke dalam gedung pernikahan.
“Sudah, Ra. Lupakan dia. Banyak kok yang jauh lebih baik daripada dia.” Avisa mencoba menghibur.
__ADS_1
“Hm, begitulah, Vis. Semoga saja tidak dapat cowok plin-plan seperti Luthfi.” Membalas dengan intonasi greget.
Tadi, Harris J sempat ngobrol dengan mereka setelah itu pamit ke dalam untuk sumbang lagu baru khusus sebagai kado kedua pengantin itu.
“Memang eh, saat bule london sudah nyanyi paling the best. Merdu sampe..” Vero berdecak kagum.
Setidaknya rambut mie london itu penawar terbaik ketika tahu sepotong nadaku pergi bergandeng dengan romansa lain. Batin Rara bersuara, kali ini tidak menyesal melepas semua memoar yang pernah tercipta bersama Luthfi. []
♡Ending♡
‘Saat saling suka dan pendam rasa,
Hanya luka di rawat lalu menyalahkan waktu
Dan cinta tak ada timbal balik
Bergandeng dengan yang lain
Sajak pun dipelihara dalam sepi
Waktu tak perlu dipermasalahkan
Melainkan kode harus jelas diperlihatkan
Bukan sekedar menggantungkan perasaan Menimbulkan luka tanpa sadar.
Saat masih menyimpan rasa sama-sama.'
-Rara Fairus Ardiani-
.
'Kalau memiliki kidung tidak jelas ke mana arahnya, lebih baik melepas dan ikhlas sembari memantaskan diri untuk mendapati pasangan mengaromakan surga di waktu tepat. Atau .. Paling tidak mencoba untuk membranikan diri dalam mengirimkan cv proposal taaruf? Jodoh adalah ceminan diri, and maybe sebaliknya, jika ingin mendapati imam terbaik versimu teruslah berdoa. Insyaallah mendapatkan imam yang selalu mengingatkan pada surga, jika marah tidak berkata kasar atau bahkan ringan tangan. Insyaallah mendapatkan pasangan yang terjauhi oleh sifat tersebut yak ukht. :)'
•
•
•
Sampai berjumpa lagi di cerita Luthfi dan Rara di sekuelnya, Simfoni Tersembunyi.
°
°
°
Be the way .. Yang sudah setia sama novel ini, thanks yak!!
Yey!! Akhirnya.. Readers bisa di sajikan cerita Sepotong Nada yang Hilang oleh author dalam versi formal!!
Prok..Prok!!
So.. Happy Reading My Readerss😘
Peluk sayang online yok😘
__ADS_1
Big Hug!!💕🤗