Sepotong Nada Yang Hilang

Sepotong Nada Yang Hilang
Kehiran (Versi Formal)


__ADS_3

“Rasa sumringah sedang bersemayam dalam dada, kala kehiran dengan sepotong nada yang sempat beri dahaga luka. Cukup tahu diri hanya balas canda sesaat doang.”


♡♡♡


KEMARIN masih belum bisa melupakan hari yang sangat menyenangkan bagi Rara sendiri. Really!


Tunggu, kok terkesan lucu menggelitik perut, kala mengingat ulang A Dreams belum di revisi baik?


Mencari-cari waktu dalam merombak ulang diksi tersebut, agar tak terkesan absurt di mata bule london.


Bentar, ada yang mengusik sorot mata gadis itu sendiri.


“Luthfi sekarang sudah rajin lihat story wa-ku!” Seru Rara.


Walau batas lihat story whatsapp, kok sumringah sendiri sih?


“Ah, masa sih?” Vero masih tidak percaya.


Bukan lagi amarah di perlihatkan sahabat melainkan, “coba kek dia chat atau tanya


kabarmu.” Ucapan di luar dugaan gadis itu sendiri.


Mengaga masih sulit menerka isi kepala sahabat keras kepala juga garis terdepan tidak


menginginkan nafsi berada dalam nestapa, justru hari ini bawa kejutan.


Senang? Tentu tidak juga sih, melainkan hubungan telah terlanjur bergandeng dengan romansa lain menuju jenjang serius, untuk apa bahagia tahu sepotong nada telah mampir kembali walau batas lihat sw doang.


Apakah Vero tidak bisa menelusuri dengan baik isi hati sahabat, sedang terhiasi kabut pekat menggumpal memoar bersama sepotong nada labil tersebut dibalik ekspresi itu?


Menggeleng, menampik semua dengan ikhlas. Walau tahu berdesir-desir begitu ngilu dalam hati.


“Lihat dia rajin pantau sw-ku saja sudah buat saya girang setengah mati. Apalagi dia chat saya. Mustahil yah we, kalau Luthfi mau ajak chat duluan. Kan, dia sudah bahagia dengan Novi, apalagi dikenalkan ke ortunya.” Kok mendadak Rara terasa tidak terima?


Ah, sudahlah.


Pembasahan seputar cowok labil habis yang tergantikan oleh .. “Kamu tahu, saya jengkel apa


sama adik tingkatku tahun 2017 nih, eh..” Sembari berseru kesal.


“Kenapa dengan mereka?” Vero jutrsu melongo.


“Apa karena saya mengulang dapat mereka, seenak jidat perbudak kakting begitu?! Trus sih adik tingkat Linda bikin diri kek apa saja, bicara sama kakting tidak ada sopan-sopannya sama sekali eh..” Rara berujar masih dengan wajah merah.


“Haha..iya juga sih, masa waktu saya datang ke kampusmu, mereka lihat macam apa saja. Sombong sampe teman-teman kampusmu. Kalau adik tingkat saya tidak bisa bedakan yang mana.” Timpal Vero dengan santai.


Membuang napas sangat panjang, tak habis pikir kenapa bisa memiliki adikting sombongnya selangit? Apa karena otak terisi dengan kepintaran tiap kali dosen lempar pertanyaan bisa terjawab, dengan pongah memamerkan kecerdasan itu depan kakting yang baru kontrak matkul dengan mereka?


“Sudah ah, tidak usah pikir mereka. Memang begitu sudah yang namanya ade tingkat tidak ada adab semua. Apalagi bikin diri sok pintar, di tempat kerja tidak di pake seperti begitu yah.” Vero mulai mengerti kala melihat sorot penuh lirih mengenai keterbatasan otak tak bisa seperti mereka yang pintar apalagi adikting pongah barusan di cerita.


Perempuan paling tegar dalam memeluk pelik realita dalam atap-atap tak harmonis, yang selalu mencari jalan alternatif di rumah Rara, sekedar bercerita atau mendengar keluh kesah. Cukup melegakan dada.


Terkadang tersemat dalam ruas paling kecil, iri lihat kebahagiaan yang tak melulu merekam perulangan apa itu pukulan mendarat bertubi-tubi di tubuh.


Dan, Vero selalu berusaha berdamai dengan takdir yang begitu kejam tidak bisa mengayunkan kaki dengan santai dan nyaman seperti halnya sahabat-sahabat menikmati itu semua tanpa melihat tubuh sendiri lebam-membiru.


Cukup senang saja lihat senyum-senyum merekah di wajah mereka. Tanpa prahara tak ada ujung di nikmati penuh pilu oleh Vero sendiri dalam rumah.


“Kamu kenapa?” Tanpa sadar, Rara melihat ada ekspresi luka.


Menggeleng sambil tersenyum santai, seperti biasa dilakukan dalam menyembunyikan masalah.


“It's okay. Lihat kamu cerita begini saja, buat saya senang dengarkan.” Kilah Vero.


“Sebenarnya kamu anggap kita sahabat, bukan sih, Vey?!” Please, Ra jangan memancing luka itu lagi.


Perempuan itu cukup terkulai lirih di rumah, jangan sampai menceritakan sedetail sampai mendapati rasa simpati penuh iba dari sahabat sendiri.

__ADS_1


Tidak. Vero takkan mau lihat sahabat sendiri terbebani apalagi turun tangan dalam membantu prahara tak ada habisnya itu.


Mereka sudah cukup baik. Sangat. Hingga amnesia mengenai luka dalam rumah kalau


berkumpul cerita seperti ini.


“Saya anggap kalian semua sahabat kok, hanya saja tidak semua privasi di bagi, kan?” Ucap Vero, dibalik kedua bola mata itu memohon untuk jangan meneruskan bertanya lebih aksa.


Membuang napas sangat kasar, menyebalkan sekali bagi Rara.


Sahabat apanya kalau sedang susah saja tidak mau berbagi sedikit permasalahan itu.


“Serah dah, trus sekarang maumu apa nih? Nginap di sini dulu kah?” Rara berusaha melupakan pertanyaan yang sedari tadi menumpuk dalam kepala.


Mengangkat kedua bahu.


“Sepertinya sih begitu, Ra. Tapi..kamu tidak keberatan toh saya nginap sehari di sini? Saya janji, pagi-pagi sekali saya bakal balik ke rumah kok. Takut merepotkan jadi.”


“Vey..namanya sahabat tuh tidak ada di repotkan! Pengen jitak loh.” Greget Rara, ingin sekali memakan sahabat sendiri hidup-hidup saking kesalnya.


“Thanks.”


♡♡♡


Memoar paling di benci kembali terputar di atas kepala Rara. Mengenai gagal nonton sama-sama di bioskop.


“Dasar..” Ketus Rara tanpa sadar.


Arg. Tidak bisa membuang memoar tanpa sengaja itu mampir berlari-larian penuh riang terlapisi pongah di atas kepala.


Benar. Kala itu masih terekam jelas mengenai prioritas sahabat dibanding kidung sedang bersimfoni begitu manis.


Yang bukan berarti memamerkan romansa sedang di perjuangkan menjadi sepotong nada dalam bait-bait diksi depan sahabat sendiri, melainkan mempererat komunitas kedua orang tersebut.


Karena sempat Avisa berkicau mengenai perhatian ingin diam-diam menanyai kabar diri ke sepotong nada tersebut, kala sudah kembali belajar di padang.


Rara minta tolong untuk mampir sebentar di warung sekaligus rumah sahabat sendiri di jalan bandara sentani.


Setelah mendapati Avisa sudah mengode untuk duduk di dalam, “masuk ayo..di ajak tuh sama Avisa.” Rara menarik lengan cowok itu.


“Hm, duluan sudah, saya mau cari minuman dulu, haus.”


Selepas membelikan Luthfi fresh tea dan masuk duduk ngobrol ringan, ekor mata Rara lihat dengan jelas sahabatnya sedang mengaduk minuman untuk mereka. Kok, masih belum lihat sih kalau sudah beli?


Sudah begitu, mengaduk dengan ekspresi kesal.


Hm, mendesah lelah. Kenapa harus menggunakan perasaan lihat mereka? Sungguh .. Rara tidak sedang dalam pamer hubungan itu depan sahabat sendiri yang lebih dulu menyimpan rasa.


TIDAK SAMA SEKALI! Melainkan ingin mengajak nonton sama-sama, bukan bertiga melainkan ada Ammer, kakak kelas mereka.


Tapi, masih belum di diskusikan dulu sih, karena lebih lama mengaduk daripada ngobrol sama-sama.


Menunggu Avisa datang, sepotong nada melihatkan beberapa ceklist mimpi untuk lanjut S2 di luar negeri. Cukup menyayat hati gadis itu yang berarti tidak lagi dengan bebas jalber ataupun melihat sosok menyebalkan itu.


Tak hanya ceklist cita melainkan ingin menerbangkan ibunda ke luar kota. Dan, Rara


tanpa sadar berdecak kagum.


Luthfi membisik untuk segera balik, saat mereka sudah berdiri dari kursi warung tersebut, cowok itu lebih memilih duduk di atas motor.


Sedangkan dua sahabat itu berbisik-bisik mengenai ide tadi.


“Kayaknya besok saya tidak jadi ikut deh, Ra.” Avisa membisik tepat di daun telinga sahabat.


“Bah?! Kenapa tidak jadi? Tadi malam bilang mau baru?!” Rara berseru protes, tapi dengan nada sepelan mungkin tidak menimbulkan kecurigaan Luthfi.


“Hehe..ku pikir cuma kita berdua saja yang pergi jadi.” Avisa membalas dengan cengir kuda.

__ADS_1


“Oh..yasudah, kalau begitu saya balik dulu eh, soalnya Luthfi buru-buru mau jadi bilal di


masjid Jalan Pasir.” Tidak tahu kenapa ada dentum amat-sangat ngilu.


Sedikit ragu, ketika sudah berada diatas motor, jalan pulang untuk menyampaikan pembatalan mendadak dari sahabat sendiri tadi.


Dengan rasa berdesir sakit, “noge..” Akhirnya Rara memanggil walau sedikit menggantung, menunggu respon lebih dulu.


“Hm..” Dehaman ini saja cukup buat dia mengerti akan ada ruas patah, setelah menyampaikan pembatalan nonton.


“Besok, Avisa tidak jadi ikut nonton, gimana? Besok tetap jadi kah kita pergi nonton?” Kok, di balik intonasi tersebut terselip asa lebih untuk planning itu jangan gagal.


“Oh..besok lihat-lihat sudah.”


Aik. Mendadak lesu dong, sudah bisa di jelaskan kok besok batal.


Menggeleng sambil tersenyum. Berupaya menghilangkan ingatan mengenai nobgal tidak jelas itu. Meraih jaket, karena iklim malam ini begitu dingin.


Gerimis. Tidak melindungi kepala dengan payung. Karena merasa sebentar saja beli pangsit. Ada jilbab yang sedikit melindungi kepala dari bulir-bulir terjatuh dari atas langit.


Mendadak ingin makan pangsit sebab nonton anime yang barusan pamer kuah mie, makanya ingin terobos gerimis bermodal jaket doang.


“We..noge!” Suara femiliar kembali bermain di daun telinga.


Malas menghiraukan atau mencari sumber suara, kok lebih mengutamakan panggilan dalam hati? Hua..tak mengelak kalau kepala Rara sedang mencari-cari sosok tersebut.


Dasar..kehiran! Gerutu Rara dalam batin.


Kemarin hilang eh mendadak datang. Tidak tahu kenapa saat kedua bola mata mereka bertemu, ada gerumuh dalam dada, terasa mendesak, apakah Rara sedang merindu sosok menyebalkan itu yang memiliki potongan nada?


“Dari mana?” Bertanya dengan sedikit berteriak.


Tersenyum kikuk, sambil jalan pelan, “nih..dari beli pangsit. Kau mau?” Menimpali sambil menunjuk kantong tersebut.


Jangan. Biarkan rasa perih serta napas tersendat-sendat ingin mengeluarkan bulir


sebesar kacang hijau, Rara sendiri yang menikmati.


“Saya duluan eh, daa..” Kata Rara lagi, sambil melambai pergi.


Stelan baju tidur, secepat mungkin melangkah lebar-lebar dan masih bisa merasakan lewat ekor mata kalau Luthfi masih melihat dia.


Membuang napas sangat kasar, detak-detak berpacu sangat maraton kala dua bola mata


mereka bertemu lagi.


Tidak tahu kenapa ketika menikmati pangsit, mendadak ulu hati sakit.


“Kau kenapa?” Kata sang adik, sedikit risi dengan pergerakan aneh Rara.


“Perutku sakit eh..” Rara mengeluh sambil memijit perut itu dengan pelan.


“Tobat! Makanya, siapa suruh makan sambel banyak-banyak.”


Adik akhlakles bukannya bantu cari minyak kayu putih malah di ejek kesakitan begitu dong.


Dengan langkah gontai, pelan-pelan menginjak anak tangga agar segera sampai dalam kamar. Membaringkan diri sembari meringis sakit, naik ke dada.


Kehiran dari singkatan kemarin hilang sekarang datang.


Aku mencintaimu tanpa syarat, aku rela menunggumu dengan sangat lama, karena ku percaya bahwa kamulah cintaku satu-satunya.


Semakin mengiris hati tak sengaja lihat screenshoot lama postingan Luthfi, sekitar seminggu lalu.


Mana mungkin caption itu untuk Novi. Karena cuek tak peduli, memungkinkan cowok memiliki petikan nada dibalik gitar itu merindu sosok Rara. []


Notes :

__ADS_1


Kehiran adalah singkatan dari kemarin hilang sekarang datang.


Nobgal adalah Nobar Gagal.


__ADS_2