Sepotong Nada Yang Hilang

Sepotong Nada Yang Hilang
Di ajak Jogging (Versi Formal)


__ADS_3

“Ternyata mendengar decihan sangat-amat riang saat duduk berdua diatas motor.”


 


♡♡♡


 


Akhir tahun kali ini terasa berbeda, tidak ada acara bakar-bakar atau menonton sebuah petasan menari di langit dengan meriah. Sepi sekali, hanya duduk bersama laptop. Seperti biasa, menulis yang belum tentu bagus ending cerita dan tulisan dituangkan Rara.


Masih saja absurt. Tetap dilakukan.


Ada notification bbm, dengan cepat buka, “yah..ku pikir apa kah, hanya tes kontak.” Rara langsung lesu.


Lagi. Luthfi hilang kabar setelah datang hanya tes kontak, apa tidak cukup buat Rara jengkel? Sudah begitu tidak ada pembahasan yang menyenangkan hanya singkat dan padat. Lebih baik tidak usah kirim tes kontak, buat gede perasaan saja.


Tidak tahu kenapa bisa membaca isi kepala gadis itu, dengan mengajak bakar-bakar di rumah. Wait..wait..dia melihat detak waktu di HP, “jam segini?!” Bercampur kesal dan kaget.


Yang benar saja sih, kenapa harus mengajak saat sedang tidak mendapati sebuah perizinan orangtua? Apa kali ini Luthfi ingin mengerjai dengan sengaja ngajak larut malam seperti itu?


Tapi, Rara belum berhenti mencoba dengan upaya buka pintu kamar mendapati ibunda sedang berbaring di sofa sambil nonton tv dengan seksama, meneguk ludah dan menggigit bibir bawah.


Otw


Mendadak buat detak itu berpacu seperti lomba maraton tanpa aba-aba sudah ingin meledak dalam dada.


Memang sudah membahas tentang pertimbangan ingin dapat jemput ke rumah, kan, Rara belum kasih fix kok cowok itu kebelet ingin jemput?


Semakin memperkuat keinginan dia minta izin ke Mama. Duh, irama-irama nakal masih saja berdenyut menggoda dalam dada, apa berhasil mendapati restu Mama?


Rara jelas panik dengan chat singkat terbilang irit ngomong itu dari cogan gitaris. Atau memang butuh cuaca bisa lihat mood Luthfi bagus? Tidak. Menggeleng, saat ini sedang dipikirkan Rara adalah restu Mama.


Sambil melihat ke arah luar modal mengintip, tunggu kak saya izin mmku dulu bersamaan masuk dengan PING!!! milik Luthfi.


Sempurna. Sekarang Rara gelisah mungkin cowok itu tidak main-main dan sudah berada di jalan buat mencari alamat lengkap dia.


Tidak lama kemudian..


Iya izin sudah...udah jalan masuk matoa nic...dibagian mana...masalahnya disini ada belok kanan lorong pertama dan kedua...


PING!!!


“Ma...Rara mau keluar, diajak bakar-bakar sama kakak kelasku, Luthfi.” Langsung to the point.


“Eh...kau sadar kah tidak?! Ini sudah jam berapa?! Tidak usah, lain kali saja!”


Ungkapan itu diberikan saat tahu keberadaan Luthfi sekitar jalan matoa, nihil. Gagal merayakan akhir tahun di rumah Luthfi.


Mendesah sangat lesu, menutup kembali pintu kamar. Jelas sudah mengecewakan cowok itu. Lagian kenapa ambil tindakan sebelum tunggu pertimbangan Rara direstu keluar atau sebaliknya.


Jadi, buat apa merasa bersalah sih? Tetap saja kan buat Rara tidak enakan.


Ih, siapa sih yang sebenarnya harus disalahkan? Kok buat Rara pengen timpuk sesuatu di kepala orang, sangking kesalnya dengan keputusan Luthfi yang tiba-tiba itu.


Hmm ya udah kalau gitu..gpp..

__ADS_1


Usai mengumandangkan tidak bisa keluar, Rara jelas mendapati makna kecewa dibalik chat itu.


Tidak tahu kenapa ingin meluruskan perasaan kecewa milik cogan tersebut dengan..


Sori yah kak, soalnya sdh malam baru kk mau jmput.


Yah, belum ada respon baik. Mungkin lagi di jalan, Rara berusaha berpikir positif. Lalu mengirim chat baru lagi..


Kalau sore janjinya mamaku izinkan keluar


Mendesah. Rara berharap dua kali kirim chat bisa dimengerti dengan baik, toh dia juga cewek jadi tidak memungkinkan keluar saat sudah pukul sepuluh malam. Dan, benar kalau sore sudah lebih dulu janjian mungkin Rara sedang merayakan akhir tahun bersama cogan itu.


Tapi, semesta berpaling dengan cara bijak karena memang Rara harus duduk santai di rumah, waktu pun malu bertemu semesta saat memperlihatkan seorang cewek kluyuran tengah malam.


Tersenyum tipis, semoga ada hari lain mengganti mendung Rara malam ini.


Dulu 2016 akhir tahun, sempat merasakan dengan hangat saat itu Alikha mengajak jalan-jalan bersama teman smk dulu, Rizky yang dulu masih sepasang kekasih dan Indra menjadi tumpangan gadis itu.


Bukan hanya duduk depan ruko Pasar Baru, salah satu dari mereka mengusulkan buat jalan-jalan di swis lalu berhenti di samping jembatan sentani, melihat kembang api dengan cantik bertebaran di langit.


Indra berbalik ke arah belakang, “tidak kenapa-napa toh kalau saya gonjeng kamu?” Bertanya dengan penuh hati-hati.


Jelas, buat dia menautkan satu alis, bengong apa yang dilontari teman semasa smk Rara itu.


“Yah..takutnya siapa tahu pacarmu lihat begitu, kita satu motor.” Dengan cepat Indra menjelaskan dari kebingungan terhias di wajah Rara.


Dia pun terkekeh sangat geli dengan penuturan Indra barusan, “haha..tidak kenapa-napa, saya juga tidak ada pacar kok.” Jujur, dalam hati Rara lompat sumringah bisa duduk bersama diatas motor dengan cowok dingin tak banyak bicara saat masih sekolah dulu.


Potret yang sangat langkah, harus diabadikan lewat aksara. Ups..itu pun kalau Rara bisa menceritakan dengan kelembutan dan tidak absurt. Dalam diam, sembunyi-sembunyi tersenyum masih ada teman cowok yang perhatian persoalan hati sedang dijaga atau tidak oleh Rara.


Trus? Ingin buat Rara menyesal? Memang ada secuil rasa itu, tapi waktu yang sudah tak bisa dikembalikan, dia harus apa selain bersyukur bisa menikmati sedikit hari-hari dengan mereka walau tidak lengkap sudah lebih dari cukup dalam mengobati rindu ingin bersua lagi.


Syahril, ayah gadis itu sedang melihat pandangan diatas langit. Memang kompleks mereka tempati terbilang sepi dan beberapa warga merayakan akhir tahun.


“Coba bakar-bakar kek seperti tahun kemarin.” Rara berujar lirih justru sang ayah tidak menimpali.


Hanya menginfokan kalau sudah capek nonton kunci pintu rumah dengan baik. Ah, daripada berdiri kesemutan diluar lebih baik Rara mengikuti jejak ayah masuk rumah, lalu buka pintu rumah belakang dan menarik kursi untuk duduk melihat kembang api masih meledak-ledak memenuhi langit.


♡♡♡


Mendapati foto profil yang sedang berada di jayapura city, cukup berdurasi sangat panjang saat mereka kembali main lempar ledek di kolom komentar foto profil milik Luthfi.


Sampai.. Kakak nanti kasih saya oleh-oleh yang banyaaak usai memberikan no HP ke cogan itu lewat inbox.


Cogan itu menyampaikan kalau ada salah satu teman kampus tidak dapat karena kebanyakan membelikan oleh-oleh buat Rara, tetap tidak membuka sebuah negosiasi bagus dari dia. Tidak ingin mengulur waktu terlalu panjang, Luthfi pun memberikan janji bakal membelikan tapi tidak banyak, cukup buat kedua pipi Rara bersemu senang.


Ah gak ya, masih di gorontalo nc... kenapa mau ajak kakak kah ke jayapura city..


Menjadi kebingungan Rara, kok bisa membahas sebuah oleh-oleh dan cogan itu sangat bersemangat ingin membelikan dia. Oh, ada pantas sedang berada di sebuah kota jauh dari tempat tinggal Rara.


Kan, bahas oleh-oleh sekedar canda menjelma keseriusan Luthfi. Rezeki, pikir dia dengan senang.


Setelah beberapa minggu kemudian, melihat postingan status Luthfi telah kembali ke Jayapura.


Pun, pernah sekali ingin ke gunung merah bermain bultang tak pernah call padahal Rara sudah memberikan nomor HP. Tapi itu gagal karena hujan turun dan cuaca juga mendung tidak mendukung mereka saat itu pergi.

__ADS_1


Dasar..cowok kaku. Sempat terlintas dalam benak dengan decakan kesal, kenapa sih Luthfi masih juga menelpon gratis lewat bbm? Kan sudah ada nomor.


Yang semakin buat gadis itu kesulitan mendapati nomor HPnya kan. Ih, kenapa sih tidak mengerti kode perempuan?


Memang benar yak, kalau dapat cowok kaku dan cuek susah buat romantis apalagi ingin buat mereka peka, impossibel!


Oh yah, benar juga sudah lewat beberapa hari akhir tahun kok cowok itu masih mengirim promosi di chatroom Rara?


Lebay


Langsung dibalasi dengan menohok. Memang sih apapun status milik cogan itu kok terkesan geli dan lebay sih? Kekanakan lebih tepatnya.


Masih saja beta bertahan dengan cowok seperti itu. Ah, namanya juga cinta kadang buta yak kan?


Tidak lama kemudian, mendapati sebuah chat yang cukup buat Rara tertegun sendiri. Apa benar itu tertuju buat dia atau hanya sekedar bercanda? Kan, Luthfi seperti itu gemar buat orang kesal kalau itu batas main-main.


Hmm besok mau ikut jogging gak...


“Serius?!” Sontak Rara lompat senang diatas kasur.


Atau itu salah satu opsi dalam menyenangkan hati Rara saat akhir tahun tidak jadi merayakan bersama? Padahal sudah ingin ke sana.


Ah, benar juga. Rara tidak mau over dalam menilai ajakan cogan itu. Mungkin saja ingin memberikan kesenangan saat sedang mendung dalam kamar.


Dan di lain tempat, kok Luthfi senyam-senyum tidak jelas tidak sabar menunggu respon itu dari Rara.


Rara : Jogging di mana?


Di gunung merah..mau gak..


Rara : Mau...sekalian main bultang boleh kak, biar seru...


Tidak tahu kenapa menjadi hobi tersendiri bagi Luthfi, saat sudah berseru riang lewat chatroom bbm, kenapa sih hilang lagi? Coba kek kasih kepastian dan dipastikan Rara di sana sangat berdecak kesal karena lagi Luthfi hilang kabar.


Uh, bukan sengaja melainkan motor yang tiba-tiba minta di servis mandiri bersama sang ayah depan teras rumah. Sori..Gumam Luthfi, merasa bersalah sudah meninggalkan chatroom itu dengan Rara.


Kok sangat senang sih buat gadis itu kesal sendiri?


Beralih ke Rara yang tidak sabar menunggu waktu sore tiba, “duh..jaringan lemot sekali kah!” Gerutu gadis itu saat chat-nya berikon seperti jam.


Sebelum wifi ikut menyebalkan, sedikit lagi mati lampu segera mungkin menginfokan ke Luthfi kalau sudah mau jalan langsung telepon atau sms saja.


Ah, menghelakan napas lega. Terkirim dan tercentang dua.


Beberapa menit kemudian sudah tertera nomor asing, semakin buat Rara sumringah di atas kasur.


Assalamualaikum, Ra jadi gak lari sore bareng..by Luthfi.


Spontan buat Rara lompat jingkrak bisa mendapati nomor cogan gitaris itu. Lalu bola mata terarah ke jendela melihat cuaca sedang tidak membaik, padahal ingin bawa raket pasti di sana banyak angin.


Lima belas menit kemudian, mendapati kabar kalau cogan itu berhenti di depan tegu kompleks. Tersenyum merekah.


Tunggu sdh, kak, saya ke depan. Setelah kirim SMS itu, Rara pun melangkah dengan ringan menuju tegu tersebut. []


Notes :

__ADS_1


Bultang \= Bulu Tangkis


__ADS_2