Sepotong Nada Yang Hilang

Sepotong Nada Yang Hilang
Tukaran pin BBM (Versi Formal)


__ADS_3

“Rara sendiri masih kebingungan dalam secuil kidung yang samar-samar di dekap dalam dada, sekedar kagum lewat batas adalah impossibel.”


 


♡♡♡


Selepas perpisahan sekolah, Rara sudah tidak bisa berkumpul sesuka hati apalagi Avisa sudah mendarat dengan manis di Padang. Hua..pengen nangis. Dua sahabat sudah sibuk dengan kuliah masing-masing.


Vero yang keras kepala dan sering terlambat sekolah pun masih memiliki niat kuliah. Nah, Rara apa? Hanya menjadi pengangguran sembari mencari kerja layak.


Tak masalah berapa gaji nanti di dapati gadis itu terpenting menghasilkan uang sendiri tanpa harus minta uang jajan lagi di keluarga, karena sudah lelah daun telinga meneima cemoohan keluarga sendiri melulu minta uang.


Kurang banyak menumpuk pengalaman dengan sahabat, sekarang menyesal pengen terulang kebersamaan tanpa batas waktu yang telah mengekang bahkan terpaut oleh jarak.


Apa keberuntungan atau hanya semesta berikan kesempatan dia mengenyam bangku perkuliahan?


Yup. Tepat setahun kemudian Rara mengikuti jejak kedua sahabat kuliah.


Hua..pengen nangis haru, kali pertama menyelinap tanpa sepengetahuan dua sahabat, dia ikut seleksi masuk perguruan tinggi di Universitas Ahmad Jayapura. Kampus terkesan susah buat otak Rara, melangkah dengan yakin sepenuh hati bisa lulus tepat waktu. Intinya harus bisa mengenakan baju wisuda dan toga itu saja.


Juga kebetulan sedang libur panjang, tentu buat Rara lompat girang sudah masuk bulan puasa diajak teman halaqoh ngabuburit di bioskop, Rara semakin bersiul riang.


Ternyata tak melulu menetap di satu ruang, sunyi. Melainkan masih ada ruang-ruang kegembiraan salah satunya dengan teman halaqoh mengajak nonton ke bioskop.


“Lama sampe..” Gusar Rara sambil gelisah main permainan favoritnya, Candy Crush.


Sembari mempertimbangkan film yang sudah di fix-kan semalam, horor begitulah yang dipilih mereka. Rara kali pertama sekian lama tidak nonton horor lagi sejak masih kecil bersama teman cowok di rumahnya.


Tertawa miring, bakal bergidik ngeri atau biasa saja? Entah deh, yang jelas Rara nyesal pilih genre film yang sempat di sarankan teman halaqoh-nya itu.


Sudah hampir setengah jam orang ditunggu belum menampilkan batang hidup depan Rara, semakin berdecak kesal berulang-ulang kali.


Kalau tahu, tadi ngaret saja. Jadi lelah sendiri kan menunggu berjam-jam depan masjid begitu.


Begitu menunggu dengan badan cukup pegal, “eh..kakak sudah datang,” Rara pun mendesah syukur.


“Loh? Cuma kita berdua saja kah, Dek?” Jawab lain kek yang tidak mendenguskan kesal Rara lewat batin, sudah tunggu berjam-jam berharap ada orang lain ikut.


Kan, sudah jelas semalam mereka tidak bakal bisa ikut kalau hari minggu begini. Cari dapat timpuk betul tuh kepala. Rara berusaha menyembunyikan kekesalannya sembari mengulangi, “bukannya semalam sudah tahu yah, Kak? Kalau mereka tidak bisa ikut. Kalau minggu begitu kan pada sibuk bantu orangtua masing-masing di rumah, Kak.” Sabar..Ra, sabar. Ugh. Imbuh gadis itu dalam batin, dari tadi menahan emosi.


Cengir kuda diperlihatkan cukup mengundang layangan Rara ke wajah perempuan itu. Tapi..sabar, tidak boleh kasar kalau bukan dengan sahabat sendiri.


Orang baru dikenal tidak boleh langsung nyolot, bisa-bisa Rara tidak ada teman. Lagian dua sahabat sedang sibuk kuliah, siapa lagi yang ajak dia jalan seperti ini, yah kan?


Sempat, “hehe..iya sih, tapi saya pikir nanti ada yang ikut mendadak begitu.” Kok tertangkap tidak ingin jalan berdua saja dengan Rara sih?


Tersenyum lirih, memang benar yah kalau sudah dari lahir tidak disukai keluarga. Jelas..semesta bakal menjauhkan orang disekitarnya yang ingin bertahan dengan dia hanya dua sahabat itu. Bahkan Rara sendiri bingung kenapa masih beta berikan label dan terbaik dalam hal pertemanan.


Atau mereka berdua ingin menjaga perasaan Rara saja? Agar tidak tersinggung begitu akibat sifat kurang baik itu melayani mereka?


Rara mengusulkan buat simpan motor di depan masjid saja, “tidak papa kah taruh motor disini?” Yuli, teman halaqoh itu menyuarakan pendapat dengan wajah ragu, takut hilang.


“Ah, tidak usah khawatir, depan masjid mo..” Lalu Rara memasang helm dengan santai.


Setelah lihat Yuli kunci stank motor, naik ke atas motor, “ayo sudah, Dek.”


 Lega. Bakal menuju bioskop.


Hal yang paling dirindukan dari Avisa adalah datang ke rumah minta ijin dengan segala cara supaya bisa menginjakkan kaki ke MJ. Terkadang buat Rara senyum-senyum tidak jelas kalau mengingat hal itu kembali.


Dan itu bakal membutuhkan waktu panjang bisa bersua lagi seperti biasa. Karena kesibukan sahabat berbeda dengan waktu sekolah dulu.


Saat berjalan naik ke lantai paling atas, Rara kembali diputarkan mengenai ingatan, “saya tidak jadi ambil disini, karna minatku bukan di bahasa inggris.” Ucap Avisa saat menginfokan diterima salah satu universitas Jogja.


“Trus, kamu sekarang di mana nih? Balik kah ke Jayapura?” Rara berujar bengong tapi dalam hati berharap sahabat kembali kuliah disana.

__ADS_1


Justru .. “Tidak ada yah, saya mau lanjut di Padang saja. Ambil bidan, yah walau disini ada Nena juga masuk jurusan bidan, sifatnya beda sekali kah.” Avisa kala itu memang masih berada di indikost Jogja dan memilih berangkat ke Padang.


Nena adalah teman yang baru-baru ini dikenal oleh gadis itu sendiri, memang sebelum mengenal perempuan itu cukup baik namun jiwa sosialitanya terlalu tinggi. Tidak menginginkan teman apa adanya, toh..Rara juga bodoh amat dengan perempuan itu apalagi penampilan ingin menarik hati cogan.


Hampir dekat dengan pintu masuk bioskop, membuka lalu menghilangkan percakapan mereka yang sebatas telepon. Tersenyum. Sekarang bukan memberi waktu egoisme pada sahabat, sebab sudah bukan lagi anak sekolahan yang kudu menetap di satu ruas nyaman. Mereka harus bisa berhadapan dengan tantangan diluar sekolah, salah satunya dunia perkuliahan yang sangat tertantang bagi mereka terlebih Rara baru-baru ini duduk di perkuliahan, mungkin sedikit mengurangi bermain dan fokus di matkul.


Usai kertas itu dalam genggaman, memutuskan buat berkeliling MJ sambil Yuli lihat sepatu tapi ditolak secara halus oleh Rara, sebab kanker kantong kering tidak memungkinkan buat memanjakan bola mata yang sering nakal ingin membeli barang.


Dan, Yuli menyetujui pendapat gadis itu dengan senang hati.


Tiba mereka di kasir Amazon, lalu berjalan masuk ke ruang karoke minimalis tersebut, kenapa bisa teman halaqoh Rara mengikuti kemauan itu, “disana ada tempat karokenya nggak, Dek? Kalau ada kakak mau deh main di sana.” Yuli bertanya penuh harap.


Dijawab cepat kalau ada, akhirnya mereka bisa menghabiskan waktu sekitar satu jam lebih agar tidak bosan menunggu waktu untuk duduk di depan pintu teater.


Keasikan bermain saat sudah ingin masuk. Mendadak panik, berusaha merogoh tas dan dompet. Nihil. Tidak ketemu sama sekali.


Menggigit bibir bawah, kenapa sih amanat itu tidak terjaga baik oleh Rara? Memang yak, kalau sudah sering di cap gagal bakal terikut biar sekalipun sedang menghabiskan waktu santai seperti ini dengan orang lain.


“Coba cari di tempat tadi kita karoke, Dek.” Yuli mencoba menghalau rasa bersalah gadis itu.


Mengusulkan tetap masuk ke dalam dan masih rezeki mereka, sempat petugas menghubungi customer yang bertugas dalam ruangan, dipersilahkan masuk dan mengingat angka tadi dipilih.


Saat duduk, jelas..mereka berdua menatap orang yang datang, “ah..pasti tempat ini kosong kok, Dek. Mungkin nomor di tiket kita disini sudah.” Yuli berujar menenangkan. Tetap buat Rara tidak berhenti gelisah memerhatikan orang yang sudah masuk dalam ruangan.


 


♡♡♡


Tak habis pikir dan hal pertama dialami mereka berdua, terutama Yuli. Sangat ceroboh sekali gadis itu. Gumam Yuli dalam batin terdengar menggeleng tak percaya kali pertama bertemu seorang gadis yang teledor seperti Rara.


Hanya menggeleng lalu tersenyum melihat punggung Rara dari belakang, setelah itu merangkul dengan ramah.


“Bisa tuh dek, tiketnya hilang?” Yuli terkekeh tak percaya, saat keluar dari ruangan.


“Haha tidak tahu juga tiketnya di mana.” Rara menjawab dengan cengiran lebar.


Dan, syukur Yuli tidak keberatan dengan penawaran dia. Tersenyum lebar dan melangkah panjang-panjang sesegera ke sana, sambil Yuli berdiri disampingnya dan memilih donat dengan bingung. Terlalu banyak varian rasa.


Mereka berdua berbuka dengan air putih saja, hanya numpang duduk dan membeli donat. Karena kalau ingin ditambah minuman bakal habis tak terduga rupiah di kantong Rara.


Andaikan dia sudah bekerja sambil kuliah seperti sahabat keras kepala, mungkin tidak bakal terhimpit apa itu sulit dalam mengeluarkan kebahagiaan dari upaya sendiri. Lah, Rara masih minta uang jajan di orangtua. Itu pun kadang tidak cukup yah memang anaknya boros.


Kalau ingat tempat donat itu jadi teringat sahabat yang sudah di Padang. Biasa kalau sedang tak banyak tugas, mereka meluangkan waktu ke sana, terkecuali Vero yang terlalu tidak enakan bahkan dengan sahabat sendiri.


Rara pun berseru riang membentangkan kenangan bersama sahabat di tempat sedang mereka singgah sekarang. Pun tak lupa persoalan protes milik Avisa kalau masih di Jayapura lalu upload foto bakal oh iyo eh ke Jayapura tidak ajak-ajak lagi makan donat tuh, enak sampe, ih..Ra, saya mau juga! Tercetus dengan lantang, telah Rara sampaikan juga ke teman halaqohnya itu.


“Siapa kah sahabatmu, Dek?” Eh, Yuli langsung bertanya dengan ekspresi penasaran.


“Avisa, Kak.” Rara menjawab dengan santai.


Jujur, ingin menikmati kebersamaan itu kembali, sayang mereka harus belajar merawat sepi saat sedang serius mengejar masa depan masing-masing.


Usai berbuka modal air putih pun satu gigitan donat, “makan apa nih, Dek? Dan di mana?” Buru Yuli tak sabar mengisi perut yang sudah keroncongan.


Yuli sambil membenarkan tas slim bag-nya dan beranjak dari kursi, pertanda bergegas isi perut dengan makanan berat.


“Eng..bagaimana kalau kita makan bakso kota dekat kampusku, UAJ.” Rara mengusulkan dengan riang.


“Enak kah? Soalnya saya belum pernah rasa jadi.”


“Enak Kak! Kita ke sana sudah! Sebelum malam.” Rara semakin girang, sudah lama tidak makan bakso itu lagi.


Sejak sibuk dengan tugas dan masuk libur panjang sih.


“Berarti kita tidak sholat terawih nih.”

__ADS_1


Mendesah dengan lesu dalam dada, benar juga kenapa tidak bawa mukena dari rumah? Supaya bisa sholat di masjid sekitar Jayapura. Agar tidak absensi dari terawih yang terbilang setahun sekali.


Lalu Rara memasang wajah tawa-derai, menghalau rasa ketertakutan pun bersalah saat sehari tidak sholat sedangkan telah diingkatkan oleh teman.


Rara juga berpikir kalau ngabuburit terpaut jauh bakal pulang tengah malam yang tidak memungkinkan dalam mengejar waktu untuk ikut terawih di masjid sentani.


Duh, kenapa sih tidak berpikir bawa mukena saja? Apa terlalu senang dan bisa jalan lagi setelah sahabat sudah tidak di sentani? Oh Rabb.. Maafkan hamba yang khilaf ini, gumam Rara setengah berdesir.


Padahal saat sedang jalan bareng teman halaqoh gadis itu paling semangat dengan hal ibadah apalagi diluar. Sayang, tadi benar-benar tidak ada kepikiran buat bawa mukena dan ingin sholat di luar.


Wallahi. Benar-benar lupa bukan disengajakan.


“Sudah..sudah, lain kali saja. Tidak papa toh satu hari absen?” Yuli merangkul sembari menghalaukan rasa sedih di wajah gadis itu.


“Trus..siapa nanti nih yang bawa motornya?” Tanya Rara.


“Dari saja, Dek.”


“Soalnya kalau saya yang bawah nih, rossi jadi kak.” Dengan intonasi canda.


Karena Rara tidak bisa terlalu capek apalagi balik lagi ke Sentani. Cukup buat kadar kepekaan Yuli kuat saat melihat instruksi kunci motor dalam genggaman perempuan itu. Tersenyum tipis.


“Haha..aduh saya yang bawa sudah.” Begitulah yang terlontar dari bibir Yuli dengan kekehan.


Setibanya mereka di sana, sudah tak sabar mengunyah kuah dirindukan gadis itu. Bukan karena kepenatan kuliah buat dia jarang mampir ke tempat itu melainkan harga terbilang mahal cukup buat Rara hanya meneguk ludah menahan perasaan saat balik ke rumah melewati depan bakso itu.


Kadang ingin masuk beli, takut uang habis atau tidak cukup buat makan di sana. Tunggu uang terkumpul baru bisa makan disitu.


“Ih, Dek kenapa makan sambel banyak sekali? Tidak sakit kah perutmu itu?” Yuli menganga tak percaya lihat sambel itu tertuang tak terkira semakin buat dia cengengesan.


Sudah terbiasa. Toh, buat apa merasa sebuah kepedulian seseorang? Kalau semesta pun seperti mempermainkan kehadiran dia di dunia? Terlebih orang rumah melulu menyalahkan diri tidak pernah menempati diri dengan prestasi menonjol di sekolah.


Yah, bukan masalah juga sih kalau perut sakit atau malam itu masuk rumah sakit terus di opname semakin menjadikan Rara tertawa hambar bakal menemukan sercecah kepedulian keluarga. Apa perlu sakit dan tertidur di brankar rawat inap baru merasakan kasih sayang dan kepedulian keluarga sendiri? Miris.


“Tidak pedis jadi kalau sedikit.” Cengiran lebar milik Rara buat perempuan itu hanya menggeleng tak percaya bisa sekuat itu makan sambel.


Selepas makan sudah ingin segera keluar dari tempat makan, “jam berapa kah?” Kata Yuli.


Rara yang duduk di belakang menyahut, “setengah sembilan nih, Kak.” Sembari memperlihatkan menit itu lewat HP.


Beberapa jam kemudian, mereka sudah tiba depan masjid dan berpamitan tak lupa mengucapkan terima kasih untuk hari ini, yang mungkin tidak bakal terulang dua kali karena memang Rara bisa menerawang jauh perempuan itu tidak mau berdua saja jalan dengannya.


Di kamar,


Sangat sumringah tak sabar lihat respon sahabat di Padang mengomentari foto yang sudah di upload ke facebook. “Eh?” Justru buat Rara bengong bercampur kaget.


Wicc tidak ajak-ajak eh..


Bukan dari Avisa melainkan cowok yang menjadi perbincangan manis dan keceriaan sahabat sendiri. Mendadak lompat sumringah, eh? Kok baru kali pertama merasa sebahagia itu hanya di komen oleh Luthfi?


Tercipta sebuah sesama ledekan di kolom komentar lalu beralih ke inbox dan Rara menyinggung persoalan foto profil di salah satu wisata jayapura city. Bukan hanya itu saja mereka sudah tukaran pin BBM.


Rara semakin bingung saat galau y mbak.. di chatroom bbm dari Luthfi.


Apa sih yang buat dia galau? Melihat dinding profil, menepuk jidat ternyata status itu sudah lama tidak diubah. Pantas menjadi bahan perbincangan Luthfi. Rara langsung mengatakan tidak sedang dalam mode galau lalu beralih ke promosi novel perdana yang terbilang absurt tapi sempat menjadi kebanggaan nafsi pun warga sekolah tak tertinggal family multimedia sempat mengapresiasikan dengan ramah. Kenangan Putih Abu-Abu begitulah judul karya perdana Rara.


Luthfi Pratama : Wicc hebat..aku aja baru mau buat novel juga udah jadi 30 halaman kemarin buat berapa halaman...


Duh, Rara jadi malu saat dilempari hebat dari cogan terbilang pintar itu. Sempat juga ngobrol mengenai nulis bareng dan meminta gadis itu ngedit naskah Luthfi judulnya stay with me hmm boleh-boleh, rumahmu di mana kah? Hingga tercipta menanyakan alamat.


Rara membuang PD sudah tinggi itu dan mencari topik lain, mengelus dada saat Luthfi tidak menanyakan kembali alamat rumah dia. Sempat Rara menanyakan kenapa tidak dilanjutkan saja judul cerita itu, masih terkendala inspirasi jadi, kamu gak ada niat buat novel lagi.. Pengen nangis, karya absrut perdana cukup buat dia malu, kenapa harus ditanya lagi sih?


Toh, memang Rara tak pernah membanggakan dalam membawakan sebuah karya bahkan hobi sendiri. Hua..pengen teriak atas kegagalan dan kebodohan diri sendiri. []


Notes :

__ADS_1


(Halaqoh) Liqo 'secara bahasa halaqah artinya lingkaran dan liqo` artinya pertemuan. Secara istilah halaqah berarti pengajian dimana orang-orang yang ikut dalam pengajian itu duduk melingkar. Dalam bahasa lain bisa juga disebut majelis taklim, atau forum yang bersifat ilmiyah.


Istilah halaqah ini sangat umum di timur tengah dan biasa dilakukan di banyak masjid. Materinya bisa berkaitan dengan kitab tertentu seperti aqidah, fikih, hadits, sirah dan seterusnya. Contoh yang paling mudah bisa kita dapati di dua masjid Al-Haram, Mekkah dan Madinah. Setiap hari selalu dipenuhi dengan halaqah yang diisi oleh para masyaikh/ustaz yang merupakan pakar di bidangnya.' -Sumber dari https://ukmagama.weebly.com/liqo-akhwat.html-


__ADS_2