Sepotong Nada Yang Hilang

Sepotong Nada Yang Hilang
Usaha Luthfi (Versi Formal)


__ADS_3

“Kenapa gemar dalam hal menggantungkan perasaan pun kode sangat jelas tertangkap Rara?”


 


♡♡♡


“Saya senang sekali kalau Harris baca surah Ar-Rahman.” Rara terus memuji bule itu diatas motor.


“Ah, saya juga bisa hafal kok.” Terdengar nada angkuh milik Luthfi.


Kok seperti tidak ingin dinomorduakan oleh Rara? Hingga menyemburkan tawa mengejek.


“Dih, siapa juga mau kamu bacakan? Saya mau itu Harris, bukan Luthfi nyebelin ini!” Rara menekan setiap kata-katanya.


“Haha, iya eh? Awas kalau saya baca jangan klepek-klepek.” Luthfi membalas semakin buat gadis itu terpingkal.


“Ji.. Kenapa kau tertawa?!” Cogan tersebut terdengar protes.


“Haha...tidak ada.” Tidak tahu kenapa, masih ingin melanjutkan durasi tawa mengejek ke Luthfi.


“Lihat sudah nanti saya hafalkan, Ar-Rahman toh? Ah...kecil saja mo!”


Tersenyum. Kali ini Rara menghapus mengenai ingatan saat lempar ledek ketika keluar dari halaman kampus, lebih memprioritaskan..


“Oh...iya, saya hampir lupa. Bagaimana dengan nomor temanmu itu yang sudah kamu janjikan bakal kasih ke saya?” Rara selalu mengingatkan, tak kenal lelah.


“Aduh, saya lupa kirim, nanti sudah pas pulang baru saya kirim nomornya.” Melihat cowok itu menepuk jidat.


Ih, bukan kah cowok itu sendiri yang mengatakan kalau kali kedua Rara menghubungi langsung orang translation itu? Kok pengen timpuk sih. Kzel dah!


Sebelum balik rumah, mengajak arah kampus lebih dulu lalu Rara pun menampilkan ekspresi dengan melongo, “oh, mau kuliah mendadak lagi kah?” Rara bertanya.


“Tidak. Saya mau urus beasiswaku dulu, sebelum dosenku pulang.”


Rara pun mengangguk paham.


Cukup lama di dalam, saat ingin mengeluarkan notebook revisi naskah, “sudah?” Terdengar sangat kecewa.


Mungkin nanti saja saat sudah di rumah, baru deh Rara leluasa revisi sebelum nyetor ke Kak Syarif. Yah, semoga saja ada mood buat perbaiki kualitas tulisannya.


Sebelum memasukkan lembar itu, “tunggu, coba saya lihat kah?!” Rara mencegat secepat mungkin.


Penasaran, apa sih yang buat cowok itu lama dan menimbulkan bete dari Rara ketika menunggu di luar, “wih..semua ini beasiswamu?” Jujur, kali pertama mengetahui isi beasiswa Luthfi.

__ADS_1


Mendapati anggukan santai cowok itu, kok ada sesuatu sangat ngilu terasa bagian ruas otak sih?


Ah, benar juga. Rara menyadari tidak memiliki bakat apa-apa kecuali menyusahkan dari kecil.


Tersenyum getir, tapi berusaha semaksimal untuk sumringah, seperti biasa. Menanggapi tak ada yang berhak di kasihani, apalagi otak terbilang standart pun baru-baru ini mendapati nilai buruk di kampus.


Kenapa yang berhubungan dengan Rara, selalu pintar? Termasuk cogan yang disukai dalam diam.


Apa semesta ingin mengejek dirinya tidak pantas bergandeng dengan orang memiliki nilai tinggi melalui ipk?


“Saya lapar..” Rara merengek, berharap peka.


Dengan cepat, “kita makan di pojok sudah eh?” Uhuy, Luthfi menawarkan ke tempat makan.


Please..kali ini biarkan mereka bayar sendiri-sendiri, jangan ada traktir lagi di antara mereka berdua, siapa lagi kalau bukan Rara bayarin cowok menyebalkan itu.


Mustahil sekali kalau Luthfi bayarin, sangat pelit begitu kasih keluar duit, jangankan traktir makan, uang bensin saja minta di gadis itu.


“Saya temani kamu saja makan eh, Ra?” Penuturan Luthfi mendadak buat dia kesal.


“Ah, kalau kamu tidak makan, kita pulang saja sudah.”


Fix. Rara kecewa.


“Kau tidak mau makan jadi.” Malas memperdebatkan perasaan kecewa itu.


Samar gelengan itu diperlihatkan juga senyum terpaksa, “maaf eh? Soalnya saya buru-buru jadi ke sekolah. Dapat panggil ngajar sama ustad Andi, di SD IT.” Luthfi berujar meminta maaf, tetap tidak bisa mengembalikan mood gadis itu membaik.


“Sudah ah..ayo antar saya pulang.” Rara langsung memutuskan buat naik ke atas motor.


Setelah sampai depan rumah, “besok ke kampus bareng lagi?” Luthfi berusaha mengambil hati gadis itu.


“Hm,” yah, dibalas sangat datar dari Rara.


Tersenyum sekena lalu pamit.


“Kenapa sih tidak mau peka sedikit saja?! Kan, pengen habiskan waktu berdua.” Sambil mencak-mencak tidak jelas, memegang perut dari tadi keroncongan.


 


♡♡♡


Tanpa pertimbangan langsung dari Rara, tetiba saja melantunkan dengan indah. Sempat buat dia tertegun, hanyut dalam intonasi penuh kelembutan.

__ADS_1


Dua potongan ayat surah Ar-Rahman di lantunkan sangat indah oleh Luthfi, saat mereka keluar dari kampus UAJ. Itu pun Rara tak menyadari kalau bakal menunjukkan usaha dan janji ke dia.


Tak mengelak. Usaha Luthfi itu sungguh buat hati Rara berdebar, kagum.


Ternyata selain jago menyanyi, tak kalah merdu dengan lantunan ngaji Harris. Lebih baik memilih cogan itu sholawat deh, tapi masih belum ingin lepas dari tujuan awal sepotong nada yang sudah lama diinginkan Rara terpetik dari gitar.


“Saya baru hafal enam ayat, nanti pulang baru saya hafalkan lagi selanjutnya. Apa...sudah saya bilang toh, kalau itu gampang saja dihafal.” Setelah selesai baca, intonasi itu terdengar riya.


Memerhatikan dengan sinis.


Motif dibalik itu semua serta usaha Luthfi selama ini sekedar pamer?


Ya Rabb..cowok itu mengira Rara bakal memilih siapa yang pantas di kagumi? Sudah jelas bukan, kalau mengejar rambut mie london bukan sekedar kesenangan melainkan prestasi.


Kenapa juga sih Luthfi tidak bisa lihat dengan teliti?


“Lut, tahu kah tidak? Kalau yang saya kejar dari Harris bukan karena hapalannya,” menjeda perkataan itu, sambil memejamkan dua bola mata dengan sedikit kesal dan kecewa.


“Apa?” Buru Luthfi, tak sabar menunggu gadis itu melanjutkan kata-katanya.


Hm, mendesah sangat panjang.


“Fine, memang saya kagum dengan hapalan indahnya tapi bukan itu tujuanku. Karna saya ingin jadikan dia sebagai sahabat.” Berharap kami mengerti apa yang saya maksud, imbuh Rara penuh harap dalam batin.


Luthfi tampak melongo, masih belum memahami isi kepala gadis itu.


Apa benar usaha itu berakhir sia-sia, merasakan tidak ada keistimewaan atau apresiasi dari Rara.


Seperti .. Melukai tanpa melakukan apa-apa hanya lewat diksi yang sulit di terka oleh cowok tersebut.


Luthfi merasakan tertandingi oleh bule london, selalu di kagum-kagumi diatas motor, tiap kali berangkat kampus berdua dari gadis itu.


“Saya paham,”


Mendengar penuturan Luthfi, cukup buat dia tersenyum sedikit lega.


Karena Rara tahu cogan itu belum sepenuhnya ikhlas melepas usaha dalam memamerkan ke dia. Ok, Rara sangat menghargai usaha itu tapi tidak dengan terang-terangan melainkan dalam doa.


Semoga apa yang diamalkan Luthfi hari ini berganti pahala, bukan karena tujuan riya akan menarik perhatian manusia.


Takut kalau menyampaikan jangan melibatkan kebaikan dengan manusia, besok-besok Luthfi hilang kabar. Ah, tidak. Rara malas mengurusi hal itu.


Cukup tidak mendapati pegangan tulus dari teman kampus, jangan lagi biarkan sepotong nada itu ikutan pamit.

__ADS_1


Mengingat komunikasi dengan Avisa sangat jarang karena sudah disibukkan tugas di sana, tidak memungkinkan juga dalam berbagi lewat telepon. Yang ada mengganggu konsentrasi belajar sahabatnya di padang. []


__ADS_2