
“Menjelma simfoni indah ketika nada diberi dengan ikhlas dibalik permintaan maaf ke Rara. Juga menawari sepotong nada baru penuh tulus.”
♡♡♡
Rai menyadari beberapa bulan telah berlalu, belum juga mendapati jawaban dari gadis disukai untuk di bawa dalam mengeja keping-keping jannah.
“Kenapa harus cewek bandung juga, Ma? Apa mama tidak mengerti kalau Adinda itu anaknya pintar dan insyaallah bisa menghormati mama sama papa.”
Masih terekam sangat jelas, sebelum kembali menemui sang adik di jepang. Rai bersikeras untuk mendapati restu. Nihil, semakin buat perempuan terbilang pintar itu menghilang tanpa sebab dari kolom chatroom whatsapp.
Salah diri sendiri juga sih, kenapa menginfokan kabar menusuk ruas-ruas yang sudah tergelantungi asa dibalik vidio di beri kala usai ujian skripsi.
“Kak..kenapa murung begitu? Tidak telpon Kak Adinda?” Mitsuri mengagetkan sembari bergelayut manja.
Dengan halus Rai melepaskan pelukan sang adik dan tersenyum tipis.
“Kan, nanti ganggu kesibukan Kak Adinda di sana, kakak juga sudah mau ke bandara nih. Paling kalau sudah sampai ke indonesia, kakak kasih kejutan saja, biar dia senang.” Berusaha menutupi diri dari rasa getir yang sudah menguasai hati.
“Oh, jadi ceritanya kakak mau kasih surprise gitu ke Kak Adinda?” Mistsuri masih penasaran.
Yang hanya di balas dengan anggukan cepat juga tersenyum.
“Ingat, kalau bosan telp kakak saja, siapa tahu ide kamu bisa kembali dengan dengar suara kakak saja?”
Sejak kapan Rai pandai dalam hal menggombal, semakin buat sang adik memukul lengan itu dengan kesal.
“Akibat terlalu kangen kan sama Kak Adinda, jadi gombal begini sama ade sendiri.”
Yah. Kakak memang kangen, sekali..sama dia, dek. Getir Rai dalam batin.
Getaran di HP mengusik pandangan cowok bandung itu. Dan mengetahui siapa yang
mengirimi chat, hanya tersenyum lalu mengecup lembut kepala sang adik, pamit segera ke bandara.
Mitsuri tidak bisa mengantar ke bandara karena pesanan komik membludak dari pelanggan tetap.
Sampai di bandara, seorang di balik chatroom whatsapp cukup mengobati luka dalam hati ketika rumit mendapati restu dari orangtua untuk menggandeng anak perempuan orang sebagai istri.
Syukur lagi tidak memiliki kesibukan di sana menjadikan kejutan berjalan sangat lancar. Juga mendengar kalau ingin menghadiahkan langsung depan kedua bola mata seorang di jayapura, papua itu.
Esok hari ..
Mereka berdua memutuskan untuk nginap sehari di jakarta, karena penat dalam perjalanan diatas pesawat.
Dan, hari ini sudah fix memesan tiket keberangkatan ke jayapura. Rai berharap luka dalam batin tidak lagi terbuka lebar, kala tak sengaja bertemu kedua bola mata sangat di rindukan itu.
Dalam perjalanan ke jayapura. Diatas pesawat kedua orang ini berbincang-bincang santai.
Seorang disamping Rai juga mengatakan untuk membranikan diri menelpon supayatidak ketahuan temannya.
Membuang napas sangat lelah, apa masih memiliki keberanian setelah mematahkan bunga asa perempuan itu?
Memijit kepala yang terasa pening.
Sebentar lagi mereka tiba di bandara sentani jayapura. Apakah masih sanggup mengabari atau sekedar ingin memberikan kejutan justru terabaikan begitu bengis dari Adinda?
Sudah. Tidak perlu berada dalam ketertakutan yang sedang menjeruji ingin untuk memberi terbaik sebagai permintaan maaf ke perempuan itu.
Pun membantu sebuah bola harap sedang terkemas rapi untuk tersampaikan dengan
ikhlas, tidak menginginkan semua persiapan menjadi brantakan hanya diri mementingkan egoisme nafsi.
Turun dari pesawat, sembari menenteng ransel.
Bismillah. Semoga segala hal-hal menakutkan dalam kepala tidak terjadi.
“Hallo? Assalamualaikum, kenapa?”
Oh rabb..suara yang sangat dirindui Rai, ingin sekali memekik sangat lantang sembari saya kangen tidak memungkinkan untuk saat ini.
“Em, waalaikumsalam, kamu sibuk?”
Loh, kok mereka terkesan kaku tidak seperti biasanya?
“Tidak juga sih, kenapa kah?”
__ADS_1
Pengen merutuki diri sendiri, mendengar intonasi Adinda saja cukup menjelaskan tidak ingin terlalu panjang untuk ngobrol dengannya.
Ah, daripada bertele-tele seperti ini menjadikan mereka asing di sebrang telepon, Rai memutuskan untuk ke point utama.
Cukup terkejut terdengar berasal dari Adinda.
“Maaf, kalau kedatanganku juga mendadak dengan dia.” Rai pun mengatakan rasa bersalah itu.
“Hm..yasudah kalian tunggu disitu, biar saya jemput.”
Tidak butuh waktu lama, sudah tiba di bandara lalu menelpon ulang menanyai keberadaan mereka di mana.
“Kantin.” Kata Rai singkat, setelah itu terdengar tut..tut.
Secepat itu kah Adinda membenci dirinya sebagai seorang di cintai dalam doa?
“Ayo.” Tanpa basa-basi, Adinda langsung menginstruksikan mereka berdua mengekori ke mobil.
Lagi, Rai tersenyum miring, sangat sakit sekali melihat perubahan drastis perempuan dicintai itu tidak bisa termiliki seutuhnya karena terhalang oleh ketakrestuan orangtua terutama mama.
Dalam mobil, Adinda bertanya sesingkat mungkin tanpa menatap ke spion kaca mobil. Tidak menginginkan memoar itu berbincang dengan kidung telah lama di kubur dalam-dalam.
“Oh, jadi nanti saya ajak Rara begitu ke kafenya kita?”
Rai pun mengangguk.
“Ok, nanti biar saya suruh Vero yang kabari ke kamu. Biar saya bisa akali semuanya untuk bawa Rara ke kafe.”
Tapi, ketika ingin membawa mereka ke hotel, tertolak halus dong.
Ingin bertemu langsung sama Rara.
“Bentar, ku telpon dia dulu.” Merogoh tas lalu menekan nama kontak sahabatnya itu.
“Hallo, kenapa zayeng? Kangen kah, telpon saya segala? Komba.” Disambut sangat heboh dong.
Adinda langsung menjelaskan secara to the point. Tapi tidak memberitahui ada seorang ingin bersitatap dengannya.
“Bentar, berarti kamu lagi di komba? Bikin apa di sana?”
“Yang ku maksud komba itu kamu mau bilang apa bukannya saya ada di jalan komba. Gaul dikit napa sih?”
Karena memang sedang di luar tentunya bukan di jalan komba yak, tapi beli pangsit di tempat lain. Rara meminta tunggu sebentar selagi pesanan itu di bungkuskan.
Beberapa menit kemudian, Rara turun dari motor dan mendekati ke arah mobil sahabatnya itu.
Dengan cepat turun dan mencegat Rara tidak mendekat sepenuhnya.
Mengernyit dan memicingkan mata dengan curiga.
“Siapa sih yang mau ketemu saya?” Rara berseru protes.
“Ada deh, sebentar lagi kamu tahu sendiri kok.” Sembari mengode ke mereka berdua turun dari mobil.
Ketika sudah tiba depan dua perempuan hijabers itu, tidak heran kok kalau Rara biasa saja. Tapi..tunggu saja di kafe nanti.
“Harris J?! Kenapa bisa dia datang ke sini?” Rara bertanya sangat heboh dan heran.
Rai pun menjelaskan kedatangan bule london ke indonesia.
Oh, liburan toh. Pengen keliling jayapura ternyata. Gumam Rara sangat santai.
♡♡♡
Sore yang menyenangkan. Sudah tidak bisa berkata-kata selain syukur mengalir dalam hati mereka masing-masing, telah memproduksi komunitas hingga dapat mendirikan satu kafe impian mereka yang terdapat sebuah perpustakaan tersimpan juga karya Rara dan Adinda sebagai bacaan pengunjung.
Kafe ini berdiri sejak empat bulan lalu.
Oh benar juga, mengingat cerita A Dreams sangat menginginkan moment di mana ngobrol asyik dengan Harris J di kafe menjadi realita manis.
Harris J meminta untuk diberikan sebuah mic dan menyumbangkan sebuah lagu tak lupa gitar di pangku. Kok Rara berdesir sendiri menikmati alunan penuh makna itu dari bule london?
Tetiba saja, “Din, kok saya nggak ngerti yang Harris J bilang? Tapi, seperti.. Nggak asing kah lirik ini.” Bisik Rara, bertanya penuh penasaran.
Justru dibalas senyum-senyum geli dari Adinda.
__ADS_1
“Ih..Din, nyebelin sekali kah! Orang tanya juga, malah senyam-senyum, nanti jadi gila baru kaget lagi.” Ketus Rara.
“Haha..ok fine, itu lagu khusus dibuatkan untuk kamu, Ra. Trus..Harris J bilang ke Rai jangan kasih tahu ke kamu dulu. Biar kejutan.”
Hue..pen nangis suer deh.
Kok mendadak Rara sangat senang hari ini yak?
Juga .. “Soal lirik yang kamu dengar seperti tidak asing itu, memang puisi yang kamu kirim di DM-nya Harris J, kan kamu pernah cerita toh kalau Kak Syarif pernah terjemahkan puisimu ke inggris?” Persoalan sempat dikacangin bule london, tidak merespon DM terbilang menjamur hingga dua tahun, kini dijadikan lagu oleh Harris J.
Sungguh, tidak bisa berbohong kalau dentum-dentum dalam dada sangat sumringah.
Sebuah sepotong nada baru diberikan oleh Harris J. Mengaromakan simfoni dibaluti ketulusan sebagai sahabat bukan fans.
“Thanks..” Kata Rara ketika melihat kedatangan Harris J ke meja mereka.
Justru dapat gelengan cepat dong dari bule berambut mie london itu. Dan, mengutarakan kata maaf telah menduakan perjuangan sebagai gadis aksara mengejar diri untuk terakui sahabat bukan fans.
Cukup menjadi apresiasi begitu nyata.
Sulit terbentang oleh mata mengenai lukisan batas senang sesaat yang di lakukan oleh JJS-nya di luar sana untuk menarik perhatian Harris J hingga memutuskan berangkat mencari keberadaan gadis itu.
Dan, bukan sebuah delusi bagi Rara ketika di berikan sebuah tiket keberangkatan liburan ke london.
Oh benar juga, Harris J sudah memberitahui kalau lagu itu sebagai permintaan maaf telah menelantarkan imaji sangat berfaedah pun perjuangan tak bermain dengan waktu, sudah terbalaskan begitu tulus dari dia.
Soal tiket liburan ke london menggantikan luka sempat menjeruji kreatifitas luar biasa tidak sempat tersapa oleh bunga harapan Harris J kala melakukan konser tour di indonesia.
Sangat mendadak sekali bagi Rara. Mendapati kejutan luar biasa yang bukan lagi menidurkan luka dalam pangkuan deret-deret sempat merusak destinasi dengan sajak paling merah, melainkan bunga-bunga selama ini layu, mekar sangat harum di genggaman bule london berambut mie itu.
“Cie..dapat tiket liburan ke london. Kapan lagi coba ko bisa jalan-jalan ke sana? Supaya berhenti berjelajah lewat aksara, sekali-kali di realita toh.” Bisik Vero sangat bangga dan senang dengan prestasi sahabat sendiri.
“Em, boleh kah kalau kalian ikut saya juga ke sana?”
“Tentu saja boleh, siapa yang larang mereka ikut?”
Eh?! Mendadak terpaku dong, kok bisa sih Harris J fasih dalam berbahasa indonesia?
“Yeh..dasar, curang. Pake google translet lagi!” Rara langsung berseru protes.
Dibalas dengan senyum hangat.
Mimpi setinggi apa pun itu, kejar dan terus semangat konsisten merawat hingga mekar dan membeli mulut-mulut menjatuhkan mental kita. Karena, tidak ada yang instan butuh proses. Fighting dreamer!
Rara merasa bukan hanya mimpi menjadi nyata melainkan ..
Makasih sudah gantikan sepotong nada yang baru sebagai sahabatmu. Gumam Rara begitu gembira.
Dengan begitu Rara tidak lagi memungut banyak memoar kala ingin mendapati petikan gitar dari cowok terkesan labil seperti Luthfi.
Walau tahu tak sengaja menyebut nama paling tak berperasaan, seenggaknya tidak terlalu bergantung pada kenangan lagi apalagi petikan gitar dulu di kagumi Rara. []
.
.
.
.
.
Hello readersss baik hati dan ndak sombong, jangan lupa promosi lapak saya dan tinggalkan kritik dan saran kalian yak!!😉
Oh yah sempat naskah ini saya up di ******* tapi sudah saya hapus karena beralih ke NovelToon.
Be the way ada satu part bonus ehehe, sebenarnya part ini ending, tapi ku kasih part bonus.
Thank kyu for reader yang baca sampai habis di ceritaku yang Sepotong Nada yang Hilang ini. Please..jangan nyepam promosi, belajar menghargai dengan cara komen mengenai dan seputar karya ini bukan ke topik lain.
Dan, ini adalah versi formal yang ku upload buat readers setiaku dengan cerita Sepotong Nada yang Hilang ini, yang memang masih belum paham dengan isi dialog bahasa papua.
Salam Online
😘🥰
__ADS_1
-Diinn-