Sepotong Nada Yang Hilang

Sepotong Nada Yang Hilang
23. Komunitas


__ADS_3

“Rara sangat terlonjak girang tak lagi memangku sebuah delusi, bakal menjadi kebanggaan destinasi imajinasi kala menjadi fisik, buku.”


 


♡♡♡


Antara delusi atau realita, tetap mengayunkan kaki penuh percaya diri dilapisi semangat dalam hati.


Sepotong nada masih abu-abu itulah menjadi prantara sodorkan apa yang bakal menjelma ingin telah lama di pendam sejak duduk di kursi smk kelas satu, gelar novelis.


Tak henti merapal-rapat syukur dalam batin, mengalir tanpa jeda.


Sempat hilang lagi, beberapa hari. Lalu, mengetuk-ngetuk penuh kabar dahaga imaji milik Rara.


“Ra? Mau gak gabung dengan komunitas menulis papua?”


Masih terekam tajam di kepala, kala itu balik dari gunmer temani Luthfi lari sore.


Spontan menimpali sangat penasaran, “dimana emang? Kalau di SMP, sa malas ikut! Su cukup sakit hati yah deng komunitas itu yang hanya anggap orang su lama dan yang baru dong lupakan dan tra rangkul sama-sama. Padahal su ajak gabung, baru dicuekkin.” Diakhiri dengan protes.


SMP adalah kelas literasi dikelolah oleh dua pasangan halal sedang merantau di papua. Cukup menyebalkan, ketika mengajak berkreasi di aksara justru terlantarkan begitu saja.


Apa waktu itu karya Rara terkesan buruk? Maka dari itu, tak pantas bersanding dengan mereka dalam grup komunitas tersebut?


Come one, jika menginginkan sebuah karya di produktifitas tanpa picik, pemimpin komunitas literasi yang telah terlanjur mengajak itulah seharusnya bahu-membahu, agar nilai diksi mereka jauh lebih pantas di cetak, bukan melantarkan pun hanya fokus pada anggota lama saja.


Pintu-pintu asa sudah terbuka, bukan beri kesempatan justru mentok pada anggota lama, anggota baru diabaikan.


Pernah, diberi tawaran menarik, bagi porsi nulis pemula seperti Rara, kala itu ..


“Dek Rara, belum pernah nulis cerpen yah?” Percakapan pertama dengan bunda, saat bertemu di cafe, waena, abe.


Sempat bingung mau balas apa, “sudah pernah sih, Bun. Tapi, hanya sekedar nulis saja. Emang kenapa?” Lalu diiringi oleh wajah bengong.


“Dek Rara mau nggak, kalau bunda bukukan cerpen ini bersama penulis alumni SMP?”


Kategori karya berada pada absurt, tentu bersorak riang, tulisan perdana bakal dibukukan, walau kolaborasi, cukup bikin imaji gadis itu bersiul senang.


Dan, dua bola mata memotret sebuah kertas hvs telah dikeluarkan dalam kertas, cerpen milik Rara dan banyak coretan di sana, dalam artian dia harus mandiri revisi usai diberi asupan kepenulisan dari beliau. Tak ketinggalan, panitia tersebut menyuarakan protes bagian dialog, peran laki-laki masih menjiwai peran perempuan.


Sempat merontokkan semangat nulis gadis itu. Namun, terus memberi senyum terbaik depan beliau walau hati sudah seperti taik.


“Bunda tunggu paling lambat tiga hari, kirim di email saja.” Beliau menutup percakapan mereka. Kala melihat Nuy, salah satu teman halaqoh Rara datang.


Bunda perkenalkan perempuan tersebut tak lupa membanggakan anak kesayangan sudah melakukan apa saja dalam komunitas SMP termasuk menulis puisi. Cukup setengah mati menelan slavina.


Mungkin tulisannya bagus? Sempat, ada pemikiran seperti ini dalam kepala Rara.


“Haha...ko nih, siapa juga yang mau masuk disitu. Sa juga pernah gabung disitu, tapi sa juga dicuekin. Mereka hanya pentingkan yang sudah memang dekat dengan bunda Delana aja.” Kata Luthfi, membuyarkan lamunan Rara.


“Eh, ko juga sudah pernah gabung dengan komunitas itu?” Mengernyit dong, kali pertama dengar langsung cowok memiliki potongan nada tersebut pernah mengenyam komunitas SMP.


“Yah...tapi itu cuma beberapa hari saja, sa langsung keluar. Yah, kasusnya sama seperti yang tadi ko bilang.” Luthfi berkata dengan santai.

__ADS_1


Begitu toh, Rara pun mengangguk di belakang.


Hari-hari termungut batas seorang diri, sebab Luthfi lagi-lagi hilang kabar.


Apa itu adalah hobi Luthfi?


Cukup penasaran saja, pembahasan apa yang akan disampaikan dalam komunitas pun adakah deadline mengumpulkan karya ketika sudah mendapati jadwal menulis?


Hm. Mendesah. Sudah tidak sabar untuk duduk sembari berdiskusi mengenai tulisan dalam komunitas baru, tentunya bukan di SMP.


“Ih, betul kali! Nan kalau su jadi nih, sa bakal bazarkan buku-bukuku ah!” Rara berdialog sendiri, penuh sumringah. Bentar-bentar, kok ada yang terdengar nyeri berasal dari hati?


Mengingat karya masih jelek, apa pantas diperjual-belikan nanti ketika mengadakan bazar?


Karena, pernah ada tawaran menggiurkan dompet sedang tipis dari Nuy, untuk diikut bazarkan dalam acara mereka. Sayang, Rara terbentur dengan jadwal kampus yang padat, tidak memungkinkan untuk ke Sentani mengambil buku-buku itu.


 


♡♡♡


 


“Kam dua juga nih, sudah besar baru tra mau saling jujur. Apa salahnya dari salah satu pihak jujur saja, atau ko sudah Ra yang kasih tahu, kalau ko juga ada rasa sama dia! Kalau begitu trus, nanti Luthfi diambil orang lagi, ko datang lagi ke sa curhat ‘An...sa nyesal eh, Luthfi su duluan digait sama cewek lain’ Ko mau?!” Urai Anha dengan wajah kesal.


Bosan yak? Dengar curhat sama tanpa jeda milik Rara? Ingin sekali tertawa begitu miris, sembari duduk menonton hubungan nafsi tidak ada kemajuan sama sekali.


Tidak mungkin cewek lebih dulu menyuarakan rasa. Dih, harga diri jatuh! Hanya menunggu, sampai kapan?! Luthfi juga sih, terlalu gensi ungkapkan rasa, tidak sadar buat hati seorang disukai meringkih dalam sepi.


“Mau ko lihat Luthfi diambil cewek lain?! Kalau diantara kam dua saja tra mau jujur?” Hal percuma beri diksi protes, hubungan kedua orang itu tidak bakal maju.


Menggeleng tak habis pikir, kenapa bisa teman semasa kecil menyuarakan diri lebih dulu lantangkan rasa ke orang disukai? Apalagi ini cowok, mau di bawa sembunyi ke mana hati pun wajah Rara, kalau sepotong nada menanggapi sahabat tidak lebih dari itu?


“Ji? Dari pada ko disini curhat trus tentang dia, soalnya sa capek eh dengar tentang kam


dua pu kisah, tapi yang satunya gensi dan ko lagi tra mau jujur kalau ko suka sama dia!”


“Ais...Anha...sa gensi yah! Wajarlah sa gensi, yang tra wajar itu Luthfi gedekan gensinya! Kenapa kah de tuh tra kasih tahu kalau ada rasa sama sa?!” Rara semakin kesal.


“Hm...tunggu eh...” Anha sambil melayani pembeli yang baru saja masuk ke dalam konter sambil melihat-lihat etalase HP. Dan Rara sibuk main HP tak henti berdecak kesal.


Saat Anha kembali,


“Trus...ko maunya bagaimana kah?” Bertanya lagi sambil duduk di kursi tadi.


“Sa maunya Luthfi yang bilang ‘suka’ itu ke sa, bukan sa yang bilang ke dia!” Lalu dijawab sebuah diksi protes dari Rara.


“Kalau Luthfinya gensi dan begitu trus sikapnya, ko mau apa heh?” Kok, Anha justru menantang sih?


Rara mengernyit sambil menempelkan dagunya diatas etalase konter. “Sa tra tahu bagaimana lagi, untuk buat de kasih kata-kata yang sa mau dengar.” Berkicau sambil memanyunkan bibir.


“Ya sudah, ko yang turun tangan sana! Ko bilang ‘Luthfi sa suka sama ko!’ Beres toh?” Anha menjawab dengan sangat enteng, ringan kata tapi susah buat Rara menjalankannya.


Dtg su..

__ADS_1


“Ana..” Teriak Rara dengan nada dibuat manja.


Nama terpanggil merasa risi, “kenapa?! Tunggu bentar, sa bikin laporan pemasukkan dulu.” Usai mencakar, berjalan dengan gontai ke arah Rara.


“Sa pergi dulu eh?” Dengan cepat mengenakan ransel lalu duduk diatas motor.


Anha hanya berdecak pinggang. Sudah buru-buru cakar laporan, dikira ada masalah baru ternyata hanya mau pamit.


Coach. Kalimat aneh dari planet mana lagi itu? Sampai buat kepala Rara berputar untuk mengartikan.


Belum mau pergi, kalau Luthfi tidak kasih kabar pun mendapati search location. Sebab, tidak ada percaya diri tumbuh berasal dari Rara untuk mau tiba di lokasi.


Setiba di sana, mendadak satu orang pura-pura tidak melihat kedatangan Rara.


Cih. Bodoh wae, emang ko siapa jadi?! Sa tra ada urusan juga sama ko! Gerutu Rara dalam batin.


Sabda. Nama dibingkai indah tak menjamin karakter tersebut mencerminkan namanya.


Whatever. Malas mengurusi hidup orang yang tidak terlalu penting dalam pikir.


Terkadang lucu sih, mereka yang sudah paham agama, tapi masih saja melakukan sebuah kesalahan, seperti menyinyir atau melirik penuh bengis, padahal tidak mengusik paling keki, kok mereka seperti terbebani lihat kehadiran kita?


Luthfi mengantarkan gadis itu langsung pada ketua komunitas, duduk ditemani obrolan


kecil hingga .. “Oh, kebetulan sekali, Ra. Kami disini belum punya minat hobi di jalur


sastra, nanti kamu bisa buka pendaftaran trus jadi ketua sastra yah?” Langsung di tunjuk sebagai ketua dong.


Buat Rara lompat girang dalam diam.


Komunitas terdiri dari beberapa bagian telah dibuat jadi grup tersendiri, musik, bahasa korea, matematika dan fisika.


Mereka berada dalam rumah honai, papua, terbuat dari kayu. Dengan semilir angin sore, semakin menyejukkan asa Rara dalam memberi asupan ilmu kepenulisan sesegera mungkin.


Sabda berarti bukan bagian grup musik.


Sempat bingung, kenapa bisa ada perempuan bengis disitu?


“Yang masuk grup bahasa korea siapa-siapa saja?” Sabda menyambut beberapa siswa baru datang.


Oh, dia jadi coach bahasa korea? Pikir Rara dengan santai.


Sedetik kemudian, kok ada yang menggelitik perut gadis itu sih? Menahan tawa, sungguh.


Coach adalah ketua dalam grup komunitas baru-baru ini di bangun oleh mereka.


Komunitas cakep. Di mana terisi oleh anak-anak muda, paling rendah golongan SMP, walau masih belum memiliki pengalaman dalam organisasi, mereka cukup aktif dan semangat dalam berkarya, bukan hanya lewat tulisan melainkan banyak jalur yang sudah ada dalam komunitas tersebut.


Oh yah, ada salah satu panitia dalam grup musik, seumuran dengan Luthfi. Sedang duduk melihat karya Kenangan Putih Abu-Abu dibawa oleh Rara.


Berbincang sedikit, pengalaman apa yang akan di tuangkan nanti dalam komunitas baru, sastra, yang akan mendatang.


Cukup tertawa getir dalam hati. Pengalaman memiliki karya perdana batas duduk manis saja dalam kardus di kamar, tidak ada pembeli sama sekali. []

__ADS_1


Notes :


Gunmer \= Gunung Merah


__ADS_2