Sepotong Nada Yang Hilang

Sepotong Nada Yang Hilang
Sorry? (Versi Formal)


__ADS_3

“Kalau memang Luthfi ada perasaan kenapa sih tidak mengumandang dengan lantang? Saat ada cewek lain suka, ekspresi itu terhantam petir.”


 


♡♡♡


Rara merasakan keganjilan luar biasa, saat kali pertama terkumandang ikhlas namun setelah bertahun lama melepaskan seragam putih abu-abu, terus terusik ucapan sahabat sendiri.


Seperti menari diatas jemari sahabat sendiri, sadar ada ruas-ruas perih tapi tak terlantang dengan jujur. Apa demi kebahagiaan pun perjuangkan kidung ke Luthfi?


Huf, kenapa sih tidak bisa juga terkelupas dengan permanen? Tentang pertengkaran dalam kamar saat ingin merayakan keberhasilan sahabat berakhir miris hingga bertahun-tahun tak bercakap seperti biasa.


Sekarang setelah mendengar lantangan ikhlas, menjadi ingin posisi dalam hati sebagai spesial bukan kakak-adik.


Dan, kenapa saat ini Luthfi belum juga memahami isi hati. Dasar..gemar dalam bermain di friendzone lagian Rara beta sekali di gantung sudah seperti baju yang sudah jamur.


Ah, dasar cinta.


Memang sudah mendengar sangat jelas dari sahabat sendiri. Tapi tetap saja buat diri tidak enak buat bahagia utuh kala bergandeng ramah dengan Luthfi. Sungguh, tak mengelak simfoni bersiul sangat manis di jiwa.


Rumit buat menghilangkan rasa suka sejak masih duduk di smk, ketika tanpa sadar curhat dari sahabat menitipkan sebuah kidung dalam diam.


Sempat sejak prahara menghantam AVN, takkan kembali ceria dan hangat. Ternyata Rara salah menerka, sahabat membuka obrol lebih dulu dengan datang menyambut dalam kelas. Jemput tiba-tiba mengajak makan di kantin sekolah, jelas buat ruas-ruas itu bersenandung gembira.


Ra...besok ke kampus sama-sama eh?


Semalam cowok itu mengajak kampus bareng, sembari menutup bibir sangat rapat. Ada dentum aneh mengusik hidup Rara.


Benar. Bukan membicarakan kerelaan hati sedang proses tergapai, melainkan persahabatan dan kebahagiaan itu bakal mengundang banyak desak dalam dada.


Walau Avisa tak membicarakannya secara langsung, naluri seorang sahabat jelas merasakan.


“Kamh kenapa lagi?” Mendadak dilempari pertanyaan.


Yah, mereka sudah berada di jalan.


“I’m fine,” dijawab sangat pelan, ingin menangis.


Jujur, Rara sangat bahagia dengan keterdekatan itu dengan cowok disukai. Walau sempat nraktir bikin dada sesak sendiri. Kenapa melulu rupiah itu dikeluarkan Rara sih? Terkadang menciptakan kecewa, tidak mau berkorban balik.


Dalam perjalanan tidak banyak percakapan, mungkin waktu buat menyampaikan sesuatu ganjil dalam ruas kecil Rara ke cogan tersebut.

__ADS_1


Lagian Rara tahu kok hubungan itu entah ke mana arahnya, jadi lebih baik buat cowok itu memilih saja.


Sepulang kampus sudah menunggu kedatangan Luthfi di bawah tangga fikom, tidak seperti biasa yang selalu sumringah tak sabar melihat wajah menyebalkan sekarang dada Rara berdesir sangat hebat, sambil tersenyum miring membayangkan bagaimana ekspresi yang ditampakkan Luthfi sebentar.


Kalau kalut seperti ini,


“Dek, dengar..masalah itu jangan dipikul. Kasihan, nanti ade kelebihan beban. Berat, hidup itu santai dan soal kampus, tidak perlu ade pikirkan, santai saja.” Kata Andy kala itu melihat wajah Rara mendung.


Benar, apa yang dikatakan kakting itu. Semenjak matkul selesai sudah jarang juga lihat Andy berkeliaran di kampus. Mungkin sudah susun skripsi. Kalau masih berada sekitar kampus pasti Rara diajak makan atau paling tidak jalan sambil ngobrol hilangkan mendung dalam hati.


Sempat sebelum Andy tak terjangkau kedua bola mata, ingin masuk dalam kelas ikut matkul siang,


“Bro..bro, Rara masuk kampus tuh?” Kata Atri menggoda sambil melirik sekilas ke arah kelas.


Lalu terdengar kekehan khas, “biasa..” intonasi dibuat-buat lalu melirik jail ke Danang. Cukup buat Rara menggeleng dengan sikap itu.


Tapi, rindu dengan tingkah kakting menyebalkan sempat menjadikan nafsi sebuah plampias. Bukan menjadi masalah justru Rara ingin kakting itu memberikan tawa derai seperti biasa.


♡♡♡


“Luthfi..” Tumben, tidak biasa sekali memanggil dengan nama sering ‘kamu’ kali ini berbeda semakin buat pemilik nama berdeham agak tidak suka.


Walau pun risi, kok tidak menimbulkan sebuah kecurigaan dibalik intonasi Rara? Lucu.


Setelah pemilik nama berdeham, Rara pun mengecilkan volume musik diputarnya itu.


“Tapi..kamu jangan marah eh?” Kata Rara sambil mengontrol detak abnormal.


Justru buat Luthfi melongo, “kenapa kah? Bilang saja, bah! Saya tidak bakalan marah, kalau kamu belum kasih tahu apa yang ingin kamu sampaikan.” Terdengar kekehan dari Luthfi.


Sunyi beberapa detik.


Takut kalau sudah menyampaikan bakal tidak bisa jalber seperti biasa dan hubungan mereka retak tidak bisa terjalin hangat seperti ini lagi.


Yah, Rara takutkan adalah keretakkan sebuah komunikasi apalagi ngampus bareng seperti ini setelah menyampaikan penuturannya.


“Eng..kamu masih ingat Avisa?” Berusaha basa-basi dulu, sambil menghilangkan detak berpacu abnormal.


Tampak sedang berpikir dengan wajah santai, “oh, sih Avisa yang dulu anggota rohis kan di sekolah? Ingat, ingat sekali. Kenapa dengan dia?” Dijawab penuh semangat dong dari Luthfi, semakin buat gadis itu cemas melanjutkan penuturannya.


Tawa berderai getir, apa Luthfi tak mengerti simbol itu?

__ADS_1


Sudahlah, lagian cowok memiliki sepotong nada itu tak bakal mengerti, kan tidak peka.


“Eh, kamu tahu kah tidak, kalau soal Avisa suka sama kamu?” Akibat terlalu gugup menyampaikan. Spontan kalimat itu meluncur di bibir Rara.


Seperti petir, menghantam ekspresi Luthfi dan yang bisa dia teliti adalah kenapa harus sekarang menampilkan wajah lirih seperti itu?


Bukan kah hubungan dijalani batas friendzone? Terus ada yang salah dengan penyampaian Rara barusan?


“Oh, iyo kah?” Sekian lama tak bersuara, langsung berusaha mencairkan kebekuan suasana.


“Saya hanya ingin sampaikan saja ke kamu, karna saya gelisah sendiri kalau tidak sampaikan langsung ke orangnya.”


Benar. Tidak bohong. Tapi setelah itu apakah hubungan mereka bisa berlanjut seperti biasa, kala tahu sahabat sendiri juga menyukai Luthfi?


Lagian benar apa yang dikumandangkan beberapa hari lalu oleh Luthfi diatas motor dengan perasaan pun intonasi sangat menggebu, sumringah..


“Saya mau taaruf sama anak kuliah, semester baru. Saya juga sudah bilang sama ustad Andi.”


Wajar kan kalau kalimat itu terputar kembali di benak Rara dan menimbulkan rasa cemburu hebat dalam dada. Kalau benar dugaan gadis itu dijadikan sebuah friendzone saja?


Terus kenapa sih harus memberikan wajah tidak suka dengan penyampaian dia barusan?


Kalau memang ada perasaan, kenapa tidak ungkapkan saja?


Atau memang ingin taaruf sesuai kata-katanya beberapa hari lalu itu? Terus meninggalkan rasa nyaman terlanjur bersarang dalam hati Rara?


Ih, kok Luthfi terkesan jahat sih?


“Sudah sampe..” Tak ada ekspresi apapun, biar sebesar usaha Rara tersenyum mengembalikan mood itu, nihil.


“Thanks, hati-hati di jalan.” Menjawab sambil tersenyum lirih.


Tak habis pikir kenapa sih ada cowok yang pecundang seperti Luthfi? Menyampaikan perasaan orang yang juga suka dirinya, kok melongo heran seperti marah Rara kumandangkan itu?


“Sorry..” Setelah itu Rara mengatup bibir sangat rapat, menahan tangis. []


Notes :


Jalber \= Jalan Bareng😁


Maap kan yah kalau ada banyak kalimat disingkat hihi😁

__ADS_1


Semoga suka dan berbekas di hati pembaca.


__ADS_2