Sepotong Nada Yang Hilang

Sepotong Nada Yang Hilang
24. Bekal Istimewa


__ADS_3

“Jika ditawari banyak kecewa, lebih baik tidak membuang waktu dalam kerepotan membungkus bekal untuk orang tidak peka.”


♡♡♡


Kenapa sih ketika tak sedang membawa kendaraan sendiri, mesti usul ke suatu destinasi, cukup bikin Rara mendengus jengkel.


Efraim memang teman penuh kejutan. Tapi tak lepas dari ruas-ruas berdecih emosi, takut nanti membebankan orang ditumpangi gadis itu tak lain adalah Luthfi.


Jika tolak bakal mendengar diksi protes hingga buat daun telinga geli dari teman sekelasnya itu. Sungguh .. Malas mengundang hal picik dari cowok tersebut.


“Duh, sa tra bawa motor nih.” Sempat Rara mengeluh.


Belakang ini memang selalu ke mana-mana dengan Luthfi, termasuk pergi kampus. Yang menjadikan rutinitas menyenangkan diantar-jemput walau tahu cowok itu sangat kurang peka persoalan rasa biar sekalipun sinyal sangat jelas dikirim Rara.


“Sudah, nanti ko naik sama sa saja.” Efraim menimpali sangat santai sambil memangku tangan depan dada.


Rara bukan permasalahkan hal itu melainkan takut merepotkan cowok yang sedang belajar di Stain Al-Fatah.


“Tapi..” Intonasi pertimbangan juga cemas dari Rara, takut buat cowok tra peka direpotin dua kali.


Seperti .. Sudah tiba di kampus tapi dialihkan lagi ke destinasi mereka sedang santai di sana.


“Bilang toh sama Kak Luthfi, kalau ko makan-makan sama temanmu di kfc. Biar nanti


de tra datang jemput di kampus.” Wah, sangat ringan sekali menimpalinya.


Bisa juga sih, hanya saja dalam kepala ingin sekali mengajak Luthfi makan di sana.


Wait, wait, bukan kah yang traktir itu teman sekelas bukan nafsi? Kok ada sesuatu yang


menggelitik perut Rara?


Menggeleng cepat. Jangan sampai itu terjadi, sebab Luthfi saja pelit dalam mengeluarkan uang, kalau dapat makan gratis dari teman gadis itu, jauh lebih keenakan diri.


Mencak-mencak tak jelas, penuh sebal. Masih terekam dalam kepala, mengenai diri jatuh sakit bukannya jauh lebih prioritaskan tidak berjangka perih, Luthfi melajukan motor terpaut aksa agar sampai di rumah. Coba cari tempat makan, meredakan perut yang belum terisi asupan sama sekali dari kampus, bukan antar pulang ke rumah


terbilang jauh itu tak lupa dihiasi dengan omelan tidak jelas.


Kalau khawatir yak carikan tempat makan bukan diasupin omelan tidak menjamin perut Rara mendingan.


Dan ingin memberi sebuah pelajaran sedikit ke orang tidak berperasaan itu, sambil makan enak dan ngobrol asyik lalu membiarkan Luthfi menunggu di bawah, tetiba muncul kembali sebuah kabut pekat kala gagal menjadi guru karateka di smk terbingkai dalam ekspresi cowok memiliki petikan gitar itu.


Sudahlah. Menghelakan napas panjang lalu mengindahkan sembari duduk di belakang motor.


Setiba di sana, teman lain pada duduk menunggu sedangkan Rara mengekori dari belakang walau tadi sudah di larang untuk antri pesanan dari teman sekalas, terus saja keuhkeuh tidak mau duduk.


Sebelum pergi mengantri di kasir, “pesan sudah,” kata Efraim dengan mengeluarkan dompet dalam tas.


“Ayo..berdua sudah? Kalian tunggu disini eh?” Dan gerakan cepat membalas sambil memerhatikan teman mereka satu per satu, setelah itu mengayunkan langkah dengan ringan ketika Efraim tak membantah ucapannya barusan.


Sekarang, mereka sudah memesan apa menu nanti di konsumsi. Mendadak Rara melirik sekilas, ada sorot penuh lirih juga aneh dari teman sekelasnya itu.


Berdecak kesal. Feeling itu kuat, ketika terbit senyum lega dari Efraim.


Ugh. Lembar-lembar dari dompet harusnya dibelikan keperluan untuk beberapa hari,


harus tertarik demi memprioritas kebersamaan hari ini.


Huf, sabar..sabar, astagfirullah, ikhlas..ikhlas, ini makanan, ndak boleh seperti itu. Mama bilang jangan perhitungan kalau soal makan. Rara berdesir sangat hebat dalam batin.


Sulit dalam mencari teman peka persoalan traktir. Ok fine, Rara akui teman sekelas yang satu ini cukup pengertian menjadi titik kesalahan adalah kenapa ngajak traktir mesti uang pribadi ikut berkurang?


Sebelum tiba di sana, Efraim harus cek ulang uang itu, agar tidak seperti ini. Apa tidak bisa buat gadis itu senang sekali ini saja, lihat ada teman traktir tanpa menambah uang pribadinya itu?


Hal percuma. Karena teman sejurusan pada matre. Hah..pen tertawa takut di tatap intimidasi.


Be the way, sekilas informasi saja, kalau teman sekelas gadis itu cukup kepedean dengan paras sendiri. Apa karena mengenakan kacamata menambah kegantengannya gitu. Terus buat dia jatuh hati? Oh, ingin sekali Rara tertawa.


Rara melihat sorot penuh sesal dengan cepat menggubris ..


“Sudah..intinya kita makan sama-sama. Tra usah pedulikan sa uang juga ikut keluar. Su dapat traktir sama ko saja cukup buat sa senang, tapi..” Rara mengambil jeda tiga detik lalu menengok sekilas ke belakang, “jan kasih tahu mereka kalau kita berdua patungan?”


Kok terdengar miris juga terasa ngilu ketika dentuman itu berasal dari Rara?


Terdengar tawa kecil, “thanks? Maaf sekali eh, rencana mo traktir kalian, baru sa uang yang kurang. Trus, ko uang yang tertarik.” Efraim merasa tak enak hati.


Kala kedua orang itu kembali ke meja, “wih..enak apa ditraktir sama Efraim? Nanti lain kali begini lagi eh?” Sambut Vian antusias. Hanya dibalas kekehan kecil dari keduanya.


Tapi, mengendus banyak aroma luka berasal dari ekspresi teman sejurusan tersebut. Sebab sebuah sorot transparan memang rumit di lihat dari mereka selain Rara.


“Iyo, betul sekali. Cobanya dari semester kemarin kek ko seperti ini ke kita. Baik apa!” Ini suara Irja.


Dentum-dentum tak enak mengisyaratkan amarah dalam layangkan kepalan tangan ke wajah Irja.


Sabar..sudah menjadi pilihan gadis itu dengan ikhlas.


Su pulang kah?


Auto terserang diksi panik, kala mendapati kabar dari Luthfi. Rara bingung memilih opsi untuk menutupi alasan lagi makan sama teman-temannya di KFC.


Pengan abaikan. Tapi tahu adalah hal dibenci oleh cowok kurang peka tersebut.

__ADS_1


Blm om, ko di mana?


Fuh .. Daripada berdebat dengan pikiran, merespon SMS jauh lebih membaik. Agar


menenangkan gelisah dalam batin.


Lagi duduk di saga nc..


Sempat terkejut, apakah cowok itu mengikuti secara mengendap-endap? Ah, mana mungkin, Rara menggeleng sangat kencang.


Ingin menelpon sudah kedeluan Luthfi. Menghelakan napas penuh gusar .. Berdecak


paling merah, kebiasaan yang tidak bisa di hilangkan.


Butuh diisikan pulsa lagi kah?! Rara bersuara emosi dalam hati.


Menarik napas pelan, lalu telpon balik Luthfi si matre ketika tersambung ingin muncratkan kata kasar. Sudah tidak sabar dalam menahan situasi menyebalkan sifat Luthfi.


“Ko di mana kah om? Kita ada diatas nih, di kfc. Ke sini sudah!” Rara to the point.


“Oh, iyo tunggu sudah sa ke atas.”


“Sip...sa tunggu eh.”


“Ko disana sama siapa-siapa saja kah, Ra?”


“Sama sa teman-teman cowok nih, sa sendiri cewek.”


Hening.


“Tidak jadi sudah, lain kali saja. Kam lanjut sudah, sa tunggu saja dibawah.”


Efraim langsung menyambar percakapan mereka, “ke sini saja kakak, kita-kita saja mo...tra usah malu.”


Tertawa kecil dan segera mungkin jauhkan benda pipih tersebut, “yakin nih ko tra mau makan sama kita-kita?” Lagi, Rara mengajak, siapa tahu berubah pikir.


“Hm..kam makan sudah, sa tunggu saja dibawah.”


Tut...tut..


“Ais..Luthfi tra mau naik ke atas, katanya de tunggu saja di bawah. Ayo sudah, kita makan.”


                                      ♡♡♡


Kecewa. Kenapa menolak untuk makan bersama tadi di atas sih? Ingin memamerkan orang istimewa depan teman sejurusan, masih saja tidak peka sama sekali.


Tertawa begitu ringis. Tetiba .. Lamunan buyar ketika ..


“Cepat apa..” Rara pun membalas dengan bengong dong.


Secepat itu kah kalau cowok makan? Sedangkan teman lain masih belum selesai, menggeleng tak habis pikir.


“Luthfi?” Mendadak lompat girang, di telpon lagi.


Tunggu, berubah pikiran secepat itu kah? Sedangkan sedikit lagi makanan mereka habis. Fuh, sangat sulit mengartikan isi kepala cowok terbilang kurang peka itu.


“Nomor ini melakukan panggilan yang biayanya akan dibebankan kepada anda sebesar 600 rupiah per 30 detik untuk menjawab panggilan tekan satu.”


Arg. Menggeretakkan gigi. Selalu buat dia dalam mode amarah. Gegayan ingin telpon, tapi membebankan ke orang lain.


“Yah..ada apa?!” Sengaja, beri intonasi protes.


Kesabaran sudah pada batas rata-rata di kepala.


“Ko su selesai kah belum? Sa sudah selesai dibawah nih.”


Kok, terdengar ngamuk sih? Harusnya yang protes itu Rara bukan cowok kurang peka sepertinya.


“Oh iyo, tunggu sudah...sa sedikit lagi selesai, eh maksudnya sa tunggu sa teman-teman yang lainnya selesai makan nih.”


“Oh...iyo sudah kam lanjut dulu, biar sa tunggu dibawah dulu.”


“Kenapa?” Efraim yang baru datang dari wastafel kfc itu menyambar pertanyaan dengan ekspresi kepo.


“Ini, Luthfi sudah mau pulang.”


“Oh...ayo sudah, sa cuci tangan dulu, baru selesai makan juga nih.” Ucap Vian dengan cepat.


“Ini, kasih ke kak Luthfi saja, Ra. Ayamnya juga lebihnya banyak.” Kata Efraim, menunjuk ember itu.


Mengambil box kecil lalu plastik di kasir. Hanya meninggalkan ember di atas meja, Rara juga sempat belikan nasi satu.


Sorot mata mendapati Luthfi telah menunggu depan pintu Mall, “woi..sa duluan eh?!” Berseru girang.


Eh, bentar kok teman yang tadi traktir begitu girang dengan senyum licik, “tong ramai-


ramai su ke parkiran. Kakak punya motor bagian mana kah?” Nada penuh menggoda mereka berdua.


Tanpa kata, hanya menunjuk.


“Kam..sa duluan eh! Daa..Efraim, thanks su traktir kita!” Rara pamit, walau masih berada diarea parkiran.

__ADS_1


“Sudah dibayarkan, mba.” Ucap petugasnya. Saat Rara ingin mengulurkan rupiah itu.


“Oh..sudah kah?” Rara mengernyit. Dan melihat Efraim yang ingin masuk ke jalan raya, ia tersenyum simpul. “Ko yang bayar kah?” Tanya Rara sedikit berteriak.


Rara jadi tidak enak, “ko nih..” Kesal Rara.


Sudah tak terlihat lagi teman-teman mereka, “eh, noge? Sa ada buatkan ko bekal nih. Oh iyo, sa juga kasih ko ayam nih. Dapat kasih sama Efraim.” Ucap Rara.


Tidak tahu kenapa ada rasa desak dalam dada, mengetahui kali pertama berhasil buatin bekal, justru dikasih ke teman kampus.


Padahal Rara sudah lompat sumringah kotak bekal itu diberikan depan kaknis, kenapa harus disodorkan lagi ke orang lain, tidak menghargai bekal Rara sekali.


“Wih..simpan saja dulu. Nan sa ambil pas antar ko pulang.” Luthfi memberikan senyum manis.


Semoga dengan bekal istimewa ini ko suka eh? Pikir Rara dengan riang.


Sebenarnya saat diantar ke kampus pengen sekali menyodorkan ke Luthfi, tapi takut nanti di kasih lagi ke orang lain. Ugh, kalau mengingat hal itu kembali ingin sekali dia menimpuk kepala Luthfi sangat keras, agar peka sedikit dengan bekal dibuatkan buat dia bukan di kasih ke orang lain!


Saat sudah sampai di rumah, Luthfi juga menginfokan kalau buru-buru ke rumah keluarga di Jayapura, tenang kok, telah beri kecup janji bakal mencicipi bekal dari pemberian gadis itu. Bernapas lega.


Luthfi Rewel : Tante makasic rotinya enak...cuman kenapa rasanya kacang...aku gak suka kacang cuman aku udah makan kok satu enak juga...dan aku kasih papa sama mamaku, mereka senang dan bilang enak..


Esok harinya,


Huf .. Luthfi sangat menghindari dari selai kacang, lebih tepatnya tidak suka mengunsumsi. Sudahlah, menggantikan selai salah dengan buat bekal kali kedua tanpa sepengetahuannya.


Sudah siap kah noge? Sa sudah selesai sarapan nih.


“Ah..rotinya belum selesai lagi!” Gadis itu jadi panik sendiri trus berlarian ke arah kompor memanggang rotgul dengan mode tergesa. Fahmi belum bangun, hanya art lagi bersih-bersih rumah.


Hari ini memang sengaja tidak memberitahui, kejutan manis untuk Luthfi karena waktu itu salah produksi selai diatas roti.


Detak-detak menit terpungut, sekarang ..


“Maaf eh kemarin sa buatkan ko roti gulungnya kacang tapi ko tra suka deng kacang.” Ucap Rara.


“Haha...trapp, sa orangtua bilang juga enak mo. Sa suka tuh selai coklat.” Ungkapnya.


Tanpa di beritahui kedua kali, Rara sudah paham dengan selai salah kemarin di berikan.


Saat sudah tiba di kampus, “apa ini?” Disambut bengong dari Luthfi.


“Sudah...ko bawa saja, itu bekal buat ko makan di kampus!” Sambil meletakkan kotak itu ke tangan Luthfi dan mendorong ke perutnya.


“Hehe...terima kasih noge. Janji, sa akan makan!” Senyuman yang tak ingin menerbangkan harapan.


Seharian duduk saja bersama kakting di kampus. Menyebalkan, kenapa tidak pernah ada dosen masuk mengajar sih? Nanti kalau sudah pengambilan nilai, kaget angka-angka merah berjejer sangat pongah. Shit!


“Ra..ko su pulang kah?” Bernapas sangat lega, bisa pulang tepar.


“Bentar eh, sa ada absen saja nih, dosen tra masuk lagi. Ko sudah pulang kah?” Rara bertanya balik.


“Sa jemput ko sudah, noge. Soalnya sa masih lama urus sa beasiswa, takut nanti ko


sudah pulang sa masih urus ini lagi.”


“Hm...datang jemput sudah, sa tunggu di kampus. Kalau memang ko masih sibuk urus, sa tunggu sebentar di kampus su.” Tidak ingin membebani Luthfi juga sih.


“Ah...jangan, nanti ko diculik orang lagi haha.” Sempat-sempatnya bercanda.


Saat jemputan tiba depan FIKOM tapi tak melihat keberadaan gadis itu, dengan cepat keluar dari kelas lalu menyambut girang.


“Ko masih mau urus kah?” Kata Rara sambil naik ke atas motor.


Anggukan tersebut diberikan oleh Luthfi, “tapi kayaknya sa tra bisa lama-lama di kampus..” Nada Luthfi menggantung buat Rara bengong.


“Kenapa?” Kali ini Rara menjawab dengan nada memburu.


“Sa bawah anak perempuannya orang jadi.” Celetuhnya.


Ih..menyebalkan sekali.


“Aduh, noge, sa mau bilang sesuatu nih sama ko. Tapi, ko jang marah eh?” Kok tiba-tiba susah menelan slavina sih, Ra?


“Duh, bagaimana eh..” Lagi. Luthfi buat dada Rara tak enak.


“Kenapa kah noge?! Bikin penasaran saja.” Kesal Rara, dari tadi putar-putar kalimat saja.


Terdengar sebuah gelak tawa, “maaf eh? Tadi ko pu bekal sa tra makan. Sa teman-teman tadi rampas eh. Pas tadi roti terakhir sa mau makan, tiba-tiba sa teman datang bilang ‘Luthfi iyo eh? Ko tra bagi-bagi ke sa tuh, tega sekali’ dengan wajah permohonan. Jadi..sa tra enak juga, yang lain makan tapi de sendiri yang tra makan.” Urai Luthfi.


Fix. Bekal istimewa kedua kali tidak dihargai sama sekali. Kecewa!


“Oh? Padahal tadi sa buatkan untuk ko baru. Dan isinya tuh..selai coklat.” Ada getir dibalik intonasi Rara. Pengen nangis, tidak dihargai sama sekali bekal buatannya sama orang disukai.


“Ah...noge nih, kenapa ko tra bilang tadi saat ko kasih ke sa? Biar tadi itu roti terakhir biar sa makan. Aduh...noge nih.” Keluhnya disusuli tawa.


Rara hanya tersenyum lirih, “kalau sa bilang isi rotinya apa, itu bukan kejutan lagi noge!” Nada Rara sangat pelan. Seakan menahan tangis. []


Notes :


Nan : Nanti *Logat Papua*

__ADS_1


__ADS_2