Sepotong Nada Yang Hilang

Sepotong Nada Yang Hilang
DC, Seriously? (Versi Formal)


__ADS_3

“Bukan saling menguatkan, melainkan sama dengan sebuah perbedaan nestapa dirasa pun dijalani saat ini.”


♡♡♡


Lanjut bikin novel lagi udah...ntar inspirasinya pudar lagi..wkwk..


Rara berpikir omongan itu sejak beberapa minggu berlalu bakal mengusik isi hati Luthfi, ternyata tidak ada sama sekali. Bahkan semakin rekat dan jelma sebuah kehangatan.


Apa karena tahu sahabat sendiri menyukai dirinya kah? Huh..dasar Luthfi pongah, pengen banget deh Rara menjitak tuh kepala supaya tertawa puas.


Jujur, sejak pulang dari kampus juga penuturan serius itu Rara selalu dikepung oleh kabut bakal mengakhiri hubungan mereka berdua. Ternyata salah menilai, masih berkomunikasi hingga kini.


Tersenyum samar, kok sikap menyebalkan itu belum juga terkelupas yak? Apa  jangan-jangan sudah dari lahir atau bagaimana sih, kok Rara jadi semakin gemas pengen cubit ginjal langsung deh.


Oh yah, sempat juga kejadian pulang dari kampus itu Rara bergetir sangat hebat mengenai keegoisan hati ingin perjuangkan kidung Luthfi. Kok, merasa bersalah sih? Sudah jelas, bukan, kalau Avisa sendiri melantangkan kerelaan hati buat sahabat untuk mendapati hubungan itu dengan Luthfi?


Yah, namanya sahabat pasti ada rasa nggak enakan juga kali.


Dan, Rara menyadari hal itu.


Oh, yah be the way Rara jadi teringat dengan sebuah naskah belum sempat tersentuh sejak mulai disibukkan oleh tugas kuliah.


Lagian buat apa juga diselesaikan cerita itu? Sudah tidak berguna dan layak untuk diteruskan kok. Absurt. Sudah ah, nggak mau di bahas lagi, yang ingin Rara perbincangkan saat ini adalah ikatan belum ada kejelasan diberi oleh cogan gitaris itu.


Bahkan, satu petikan nada digemari belum juga sampai di daun telinga dia sendiri. Really, ingin sekali memetik satu nada sembari mengalun manis depan mata.


Hm. Kembali lihat chat itu, kok Rara merasakan cogan gitaris menjadi alaram deadline tulisannya sih? Cukup menghargai sih sudah mengingatkan dengan hobi yang ingin diraih Rara menjadi novelis benaran, sambil lihat anak-anak berjejer manis di rak buku seindonesia. Ah, itu hanya angan saja. Karena bagaimana pun berlatih dalam mengupas keabsurt-an tulisannya tetap saja sama. Tidak ada perubahan.


Ditambah tidak ada penghasilan juga, jadi buat apa membuang-buang waktu untuk itu? Kalau produksikan kertas-kertas merah boleh, Rara ingin serius geluti kepenulisan tersebut hingga terjual ribuan ekslamper buku.


Berhenti sudah jadi penulis? Apa itu, tulis-tulis tidak jelas. Tak sesekali, tapi sering sekali mendengar diksi penolakan dari keluarga.


Benar. Yang dikejar tidak menghasilkan apa-apa melainkan letih dalam mengorbankan waktu duduk berlama-lama depan layar laptop.


Daripada menganggurkan chat Luthfi, nanti ditebak sedang ngambek lagi, tersenyum getir..


Haha tenang kak, inspirasi datang kapan saja. Lagi gak nulis juga.


“Buat apa juga sih, kau mau tanya atau jadi alaram deadlineku?” Kesal Rara sendiri.

__ADS_1


Selepas menggerutu kurang jelas, sambil asyik chat-an dengan Luthfi, sudah mengakhiri obrolan itu.


Udah dlu yah, Ra. Saya mengantuk nih, bsk ada kuliah pagi. Kalau msh mau begadang, monggo.


“Aih, kenapa cepat sekali tidur kah? Saya masih mau chat-an lagi baru.” Mendadak Rara jadi lesu.


Daripada bosan tidak bikin hal seru dalam kamar, dia pun kembali buka chatroom mereka saat masih di akun BBM, ada senyum miring tercetak.


Luthfi : Hmm, ntar kalau udh ada kontrak untuk novelku...hehe


Tertohok. Seperti ingin melihat royaliti gadis itu sendiri. Jelas, karena itu sebuah kode buat Rara terbuka menceritakan bagaimana bisa menerbitkan karya perdana dan berapa bagi hasil dengan penerbit.


Kalau jujur itu lewat jalur alternatif, pasti di semburin tawa mengejek dari Luthfi.


Benar juga, sempat Rara ditanyai kali pertama mereka bertemu ingin main bultang di gunmer. Tapi, selalu di hindari dengan mengalihkan topik pembicaraan lain.


♡♡♡


“Visa, kamu tahu? Kak Luthfi yang kamu bilang cuek itu, ternyata kau salah. Dia tuh cerewet dan nyebelin sampee eee!” Celetuh Rara.


Sejak jalber dengan Luthfi dan tidak pernah komunikasi dengan sahabat disebabkan oleh kesibukan Avisa yang sangat-amat padat di sana, jadi tidak memungkinkan untuk Rara mengganggu sekedar bercerita tentang keseruan hari itu jalan terus-menerus dengan Luthfi. Disisi lain, Avisa juga masih menyimpan rasa jadi belum ada waktu buat bercerita.


Saat ini baru deh bisa blak-blakkan tanpa batas. Rara merasa juga sahabat sudah melepas asa jemput hati Luthfi, jadi tidak ada beban kalau curhat bebas dengan sumringah.


Mengangguk mantap setelah itu menceritakan tentang perasaan perempuan hijabers berada di padang ke Luthfi dengan tertawa seru.


“Ji..kenapa kau kasih tahu kah, Ra? Tidak kenapa-napa sudah biar saya pendam sendiri saja, kenapa mesti kau kasih tahu sih?” Avisa tidak terima.


“Eng..itu karna saya terbebani trus sama kalimatmu. Jadi saya sampaikan saja langsung, daripada saya sembunyikan trus. Daripada saya di sini tertekan sendiri, baemana?” Rara berusaha membela diri.


“Iya...saya ikhlaskan dia sudah untuk kamu, Ra...asal kamu jangan jual mahal sama dia! Saya tidak mau tahu kalau saya balik ke jayapura, kalian dua sudah jadian! Apa...saya tidak mau tahu!"


Setelah itu mendengar helaan napas pasrah, mungkin saja sudah tidak bisa bersabar atas pengumuman mendadak bagi Avisa. Sungguh ia sangat ingin mencaci gadis itu, tapi masih sahabat. Tidak boleh mengedepankan sebuah egoisme yang bisa mengembalikan ikatan itu lebur kesekian kali.


Tapi berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan Rara, kala mendapati penuturan sahabat sendiri.


Pacaran? Tunggu Luthfi tembak sa kah? Pikir Rara berulang-ulang, sampai hening tak menanggapi kicauan sahabat sendiri diujung telepon.


Terlalu miris. Yang sedang diperjuangkan lewat diam, justru gensi menyelusupi tindakan cowok disukai. Hanya bergandeng dengan arah tak jelas dan terlanjur jatuh pada kenyamanan diberi oleh Luthfi, setelah itu tidak ada kejelasan dibalik hubungan yang sudah dijalani berbulan-bulan. Seperti kredit motor saja.

__ADS_1


“Haha..sip beres itu!” Berusaha kembali tersadar dan menjawab sekenanya saja. Jelas, raut itu menyimpan perih hebat tak bisa dilihat sahabat sendiri.


Cukup puas curhat dengan sahabat, mereka pun mengakhiri obrolan. Terasa plong dan tidak terbebani lagi. Dan, Rara tersenyum senang.


Tapi, mendadak ada kabut pekat setelah beberapa menit yang lalu bercerita panjang lebar dengan Avisa.


Ada apa dengan isi kepala sahabat sendiri? Bukannya tadi baik-baik saja, kan? Kok harus berdecak kesal ingin kunyel kepala Avisa sekarang sih?!


Ih, Rara tidak bisa mengerti jalan pikiran sahabatnya itu.


Saya sudah DC Luthfi haha.


DC, Seriously? Rara sembari mengerjap-ngerjapkan mata, bukan bercanda kan? Arg, sekali lagi Rara menggeleng paling merah di bola mata.


Sahabatnya kalau sudah mengambil keputusan tidak bakal diubah kedua kali. Sifat terburuk yang sangat tak disukai dari Avisa adalah menilai sesuatu dengan perasaan.


Jika memang sudah ikhlas, tidak perlu lagi mengikutkan dengan perasaan apalagi delete contact di BBM. Jelas itu adalah satu tindakan anak bocah, lari dari sebuah permasalahan yang katanya dibalik bibir ikhlas tapi dalam hati tersemat pelik.


Astaga kenapa kamu DC?


Mendadak kepanikan berhias di kepala Rara saat ini. Kenapa harus tercipta sebuah kesenangan ingin tahu hubungan mereka menjadi kita tapi terjadi sebuah keki sembari mendelete kontak Luthfi.


Tidak salah, benar. Cogan itu tidak terlibat dalam sebuah kesalahan melainkan ruas-ruas patah berasal dari dada Avisa-lah yang menyebabkan kontak itu hilang dari kontak BBM sahabatnya.


Haha astaga Luthfi itu sebenarnya baik hanya saja cara ambil hatinya jangan kebawa emosi, di bawa enjoy.


Butuh memungut-mungut waktu agak panjang, supaya Avisa percaya dan membalas chat dia. Semakin buat Rara berdecak kesal, tidak seperti pribadi Avisa dikenalinya.


Ah baik sih tapi setidaknya jangan cuek sekali, tahu jo dulu saya yang ungkapkan perasaanku tapi jangan begitu juga. Saya hanya mau tanya kau kabar dan mau buat kolamu lebih senang walaupun saya tidak sepenuhnya dengarkan keluh kesahmu. Tapi apa? Dia hanya read saja sudah berapa kali bilang sama dia ubah sedikit cara sama orang yang belum kenal, ok tapi btw saya sama dia lumayan kenal kan dari SMP sampai SMK tapi tetap begitu.


Setelah lega apa yang diinginkan Avisa, mencoba buat mengubah karakter cuek berasal dari cogan itu. Tapi, mendadak menahan geram kala mengingat kata-kata dalam chat Avisa. Kenapa sih harus nilai dari cover dan terpancing perasaan sendiri?


Iya sih tapi setiap saya korek kau di dia, dia macam gak banyak bicara, malah alihkan pembicaraan ke saya ‘mau jalan ke mana lagi’, haha macam saya tidak pernah lari ke kamu saja kalau saya ada masalah.


Setelah Rara membalas dengan jujur, tidak ada respon indah lagi. Just read from Avisa. Sahabat sendiri yang sedang pelihara gelisah.


Apakah Avisa mengerti posisi sahabat sendiri kalau masih bernestapa berharap kakak kelas mereka melantangkan perasaan menjadi kekasih, tapi belum ada kode yang pasti?


Memang, setiap kali jalber dengan cogan itu tak lepas buat ingin menyatukan mereka sebagai sahabat. Tapi melulu Luthfi mengalihkan pembicaraan atau tertawa mengejek agar Rara berhenti mengoceh tentang Avisa.

__ADS_1


Disisi lain, ruas-ruas masih sepi itu terbang sangat bebas, ternyata tujuan Avisa ingin chat dengan cogan memiliki potongan nada indah tersebut menyelipkan perhatian lewat prantara Luthfi.


Sayang, cogan itu sangat susah buat dibujuk, semakin ngeselin di mata Rara. Really! []


__ADS_2