
“Apa bisa Rara mendapati sebuah kebanggan buat nafsi pun keluarga? Duh, kok semakin buat dia tidak yakin bawa prestasi.”
♡♡♡
Apa masih punya mimpi dan keberanian buat terjun ke impossibel raih gelar sahabat itu? Sedangkan sulit mencintai aksara tersebut. Ah, jangankan belajar bahasa, matematika saja hampir bikin stress kenapa mau berusaha ingin bersua juga?
“Haha..” Tawa sangat miris, Rara yakin tidak ada hal yang bisa di raih kecuali mimpi disiang bolong.
Kan, sudah jelas payah sejak kecil. Gegayaan pen tampil kreatif dengan karya, masih absurt saja bangga.
Tapi kenapa semakin ingin melepas justru erat tanpa aba-aba. Padahal Rara sudah tidak ingin merawat sebuah angan, karena bakal melukai harapan tidak sesuai realita diinginkan.
Tersenyum miring. Beranjak, melihat Luthfi sudah datang jemput depan parkiran fikom.
Tumben, kali ini tidak ada sebuah ejekan seperti biasa Rara tangkap diatas motor. Tidak berbicara sepanjang perjalanan, setelah melewati lampu merah waena, “noge, ko ada kenalan atau teman yang pintar bahasa inggris kah?” Rara berkata harap-harap cemas.
Belum mendapati respon sangat bagus, butuh pertimbangan serta decihan dehaman cukup buat Rara semakin gelisah.
Sejak naskah A Dreams selesai di tulis, sudah menjadikan diri mager buat revisi lagi, justru ingin menyegerakan ada tampilan fisik.
Hu..Rara keras kepala sekali. Sudah jelas tahu sendiri naskah perdana absurt karena terburu-buru menerbitkan, kok masih belum kapok juga sih?
“Kenapa kah?” Kok Luthfi yang mengernyit.
Pen teriak kencang, antara bahagia dan sedih. Karena belum tentu bakal dilirik manis oleh seorang translation.
Tertawa sangat getir di belakang.
“Ah, sa ada naskah untuk Harris J dan harus di translet ke bahasa inggris. Ada kah tidak?” Lagi, Rara menanyakan dengan penuh harap.
Butuh waktu lima detik menjawab, semakin buat dia kesal di belakang.
“Em, ada sa kakak tingkat.” Dijawab sangat singkat tapi dengan ekspresi pongah, ingin sekali Rara menjitak tapi mencibir saja dari belakang.
Dengan tenang dan terganti senyum sumringah Rara, “ah..iyo kah?! Siapa namanya?” Uh, sangat menggebu ingin tahu nama kakting Luthfi.
Rabb. Harapan itu bakal bergelantungan sangat indah di jari seorang translation, saat bingkai-bngkai imajinasi segera terpangku manis di genggaman Harris.
“Kak Syarif.”
Cukup menenangkan perasaan gadis itu. Semoga tidak terlalu sangar, dan bisa beradaptasi secepat mungkin. Karena sudah tidak sabar lihat bentuk dalam kuping version.
__ADS_1
Tersenyum sangat lega. Sungguh, Rara tidak bohong kalau bahagia mendapati tujuan hampir tersegerakan dalam genggaman bule tersebut.
Ah, benar juga. “Mau kah kenalan deng dia, noge!” Berseru heboh.
“Hm, nanti sudah sa kasih nomornya.” Kok terdengar datar? Sempat melongo, heran tapi selepas itu menghiraukan.
Merasuki lagi jiwa-jiwa tak bersalah milik gadis itu sendiri, lalu meringis. Tahu penyebab kenapa datar ditangkap oleh Rara hari ini.
“Ko tahu? Harris J yang penyanyi Salam Alaikum? Sa ada buatkan novel kah untuk dia, trus..yang buat sa tertarik buat novel tuh..karna hapalannya.” Benar juga, tercetus beberapa hari lalu.
Mendesah. Apa sih yang harus dicemburukan? Rambut mie dari london itu kah? Hah, pen sekali tertawa dengan ekspresi datar Luthfi.
Lagian, gadis itu mencari mimpi bukan sekedar teman kesenangan seperti fans Harris di luar, mengumpulkan foto atau hal unfaedah. Melainkan Rara ingin mendapati gelar sahabat. Apa benar bisa?
“Oh? Iyo sudah, kalau begitu..semoga ko bisa ketemu langsung sama Harris J.” Jauh sebelum lompat sumringah pun mendapati ekspresi beda berbanding terbalik dari Luthfi, pernah kok cogan itu memotivasi dia.
Tapi, kenapa harus ada intonasi terdengar datar, seperti kehilangan nafsu makan dari Luthfi?
Walau demikian, Luthfi sempat menanyakan sudah makan setelah itu Rara ingin mengajak makan bareng di warung pangsit pasar lama hanya ditanggapi oh dan sudah tidak ada lagi percakapan. Hanya sunyi dan semilir angin memainkan jilbab Rara.
“Terima kasih eh?” Kata Rara dengan canggung.
“Sa balik dulu.” Aih, kenapa belum membaik sih mood Luthfi.
♡♡♡♡
3,76. Sempurna tapi terlalu banyak wajah-wajah tak terjeruji, membuat langkah Rara terplanting sangat aksa.
Kalau masih semester awal, kesempatan terbuka lebar dalam menyusun kegagalan agar tidak merangkak lagi.
Tapi pesimis itu mendominan hati. Apa sanggup mengejar ketertinggalan di semester dua satu mata kuliah? Bisa! Tentu saja bisa. Namun, belum tentu menyakinkan masing-masing mereka yang ingin lebih berjuang keras. Karena berbeda-beda dalam bangkit.
Dan, Rara salah satu orang yang sangat rumit bangkit dari gagal. Walau pun itu bisa di ubah dengan kesempatan di lain waktu.
Arg. Kenapa sih terpengaruh dengan sekitar? Begini sudah kalau terbiasa dengan nyaman dua sahabat selalu beri manja setiap kali Rara bertemu kerumitan pelajaran dengan santai dan malas tidak ingin terlibat oleh permasalahan tersebut.
Sekarang? Dua sahabat tidak sedang berdiri disisi, kenapa sih masih berharap ada orang yang menggantikan dua posisi itu?
Susah!
Saat ingin mendorong diri sendiri, terasa sulit. Karena tidak ada orang lain yang akan melakukan itu buat dia. Kenapa Rara masih belum juga tersadar kalau teman palsu sekedar ingin lihat dia terjatuh dan berhenti kuliah, menyerah begitu saja.
Avisa : Yah, sa berharap ko semakin rajin belajar dan masuk kuliah, dosen kasih nilai seperti itu, supaya kalian lebih semangat lagi kuliahnya.
SMS yang sudah beberapa tahun belum terhapus, kembali buat Rara ingin menangis. Sungguh, sudah menelantarkan kepercayaan serta keinginan kuat buat kuliah.
__ADS_1
Duh, kenapa sih teman-teman palsu gemar menjatuhkan? Kalau ingin mendapati ipk terbaik, bersaing dengan sehat bukan mencemooh kurang enak di belakang atau gerakan cukup Rara nilai pongah.
Diabaikan. Kok semakin melunjak?
MAU MEREKA APA?!
“Fokuslah capai tujuan, walau banyak krikil tajam di dalam perjalanan.” Ah, kalimat ini kembali terngiang.
Avisa sudah sadar kalau sahabat tidak bisa berdiri seorang diri, bukan kah sukses butuh waktu panjang? Kenapa Rara tidak mau bersabar sebentar dan hidup akan selalu berdampingan dengan kegagalan dan usaha. Kedua hal itu bisa di lakukan asal usaha diperbesar dan perkecil pesimis.
Tak mengelak kalau semester satu, rajin masuk bahkan terbaring tak berdaya, malaria plus tiga di dapati Rara. Terlalu capek dan bersemangat juga sih. Sekarang, jangankan rajin, masuk kampus saja kudu kumpulkan niat saat lihat wajah-wajah belagu dalam kelas.
Kalau memang tidak suka, kenapa harus mengusik sih dengan ekspresi pun nada terkesan mengejek saat mereka ngobrol.
Rara tidak bodoh. Hanya saja lebih memilih diam tidak ingin menimbulkan sebuah kekacauan dalam ruangan.
Apalagi ada sih bocah, bakal tidak bisa memenangkan perihal diri tak salah.
“Ma, Rara janji bakal serius kuliah, tidak bakal beli-beli buku sembarang. Suer?! Please.. Ma, Rara mau kuliah?” Sempat Rara berkata dengan sungguh-sungguh, dalam mengambil hati beliau.
Lulus di UAJ saja cukup buat Rara lompat sumringah. Tapi setelah lihat ipk ada yang linglung, semakin buat dia hilang nafsu kuliah.
Syukur, masih ada Luthfi disisi saat ingin kampus bareng tidak pernah menolak buat datang jemput walau seringkali ko nanti belikan bensin boleh? Tercetus sangat gampang dari cogan itu.
Ih, kenapa sih harus menjatuhkan diri depan cewek? Apa memang benar Luthfi itu matre? Uang beli bensin saja tidak mampu?
Oh, sudahlah. Terlalu ironis sekali hidup Rara.
Tidak pernah mendapati kebahagiaan utuh, masih banyak patahan dalam realita yang dijalani belum bisa menemukan yang setia dan tulus.
Rara pernah mendengus kesal, saat curhat mengenai teman kampus yang mempermainkan ikatan pertemanan dibalas dengan kekehan geli dari Luthfi, cari gara-gara betul dengan gadis itu.
Tapi, setelah puas buat Rara marah, “sa kalau jadi ko, Ra? Lebih baik cari jawabannya sendiri. Buat apa mengharapkan mereka? Kalau kita bisa sendiri?” Ah, benar juga sih.
Kok, Rara sangat sulit mendengar saran itu?
Seperti sejak kecil dikutuk sendiri dan ketika ada satu keberhasilan tercapai, dengan otomatis tanpa aba-aba, mereka menjauh tanpa sebab bahkan mencemooh pedis pun tatapan bengis.
Ra, katanya Kak Syarif hari ini tra bisa ketemu karena ada acara keluarga.
Oh yah, benar juga mengenai naskah itu sudah disepakati saat pulang kampus. Dan, Rara sendiri tidak percaya secepat itu bakal diskusi mengenai karya yang terbilang masih absurt, sama persislah dengan karya perdana Rara.
Tertawa miris.
“Kenapa kah, nak, ko kuliah? Ndak kasihan sama mamamu yang hanya penjual kue seribu, kasiang.” Ah, kenapa saat sedang asik menyusun mimpi, kalimat grandma mengusik imaji?
__ADS_1
Apa benar, sudah mengecewakan mereka juga yang telah membiayai kuliah Rara? Uh, kenapa sih tidak cuek dan jalan dengan santai tanpa memedulikan komentar teman sekelas yang iri atas pencapaian ipk terbaik itu saat semester satu? []