
“Berenang di wajahmu lewat bola mata aksara yang menjadi bisu saat ku terluka, tak benar-benar merasakan kehangatan itu lagi.”
♡♡♡
Rara masih mengingat persis sebelum menuju tempat makan, ada sebuah cetusan mengiris satu destinasi penuh imajinasi itu.
“Oh yah, Ra. Kalau tidak salah ingat, kamu pernah bilang ke kita kalau lagi buatkan naskah buat siapa gitu? Em..Harris J kan? Ah, benar sekali! Iya kan, kamu sudah buat kah dalam bentuk dua bahasa, Ra?” Sontak buat Adinda berseru senang.
Yang buat Rai menoleh ke belakang, “serius? Kamu buat novel dalam dua bahasa, Ra? Wih.. hebat!"
Dapat pujian bukan berarti mendahagakan raga, melainkan ada keretakkan saat novel itu belum sampai ke tangan bule london.
Dengan berbagai alasan sang manajer dari indonesia tidak bisa menyempatkan waktu untuk menepati janji dibuat sendiri tanpa harus diminta oleh Rara.
“Haha, tidak usah bahas lagi. Sudah tidak penting yah.” Rara menimpali dengan tersenyum kecut.
“Lah? Kenapa tidak penting, bukan kah itu salah satu karya anak bangsa yang perlu di apresiasikan sama Harris J? Kamu kreatif loh, Ra.” Rai terus saja menyanggah penuturan pesimis gadis itu.
Kreatif kah? Hm, kenapa terlantarkan begitu saja di sana? Gumam Rara sedikit protes dan menyanggah dengan semua pujian diberikan ke dia.
“Ra?! Mau ikut kah tidak ke rumahnya tantemu?!” Teriak Mama dari lantai bawah, walau sedang dalam kamar, cukup buat Rara mendengarnya dengan baik.
Buru-buru membuka pintu kamar, “bikin apa ke sana, Ma?” Rara menimpali dengan wajah melongo.
“Anaknya aqiqah toh. Cepat! Kalau mau ikut ke sana, pakai baju sudah.”
Mengangguk paham lalu segera mengganti baju dan kesulitan mencari jilbab yang sedikit rapi, kebanyakan kusut.
Beberapa menit kemudian, gadis itu bertemu bola mata teman seangakatan Luthfi, sambil tersenyum ke arah dia, sedikit melongo dan desiran hebat itu kembali mengganggu detak-detak dalam dada Rara.
“Apa kabar dengan Luthfi?” Tercetus begitu saja.
“Yah, saya jengkel sekali sama dia!” Ninis menggerutu buat Rara mengernyit sambil terkekeh.
“Karna?” Rara kali ini menaikkan satu alis, bingung.
“Pacaran sama Novi, teman-temanku juga tidak suka sama dia, karena waktu pertama kali Luthfi kasih kenalkan ke kita, dia sombong sekali sambil nguyah permen.” Ninis menginfokan.
Rara tertawa miring, “saya kecewa yah..dia bilang mau ta’aruf kaget begini dia malah pacaran sama orang lain.” Gemuruh dalam dada berkecamuk lewat rasa, apa memang sesulit itu melepas kepergian Luthfi?
“Iya..saya juga waktu itu tarik dia dan bicara berdua saja, ku bilang gini ‘kenapa kamu tidak pacaran sama Rara saja kah?! Itu adikku, kenapa kamu lukai dia? Dia menangis itu karna kamu pacaran sama Novi!’ Baru dia bilang apa? Hanya tertawa saja.” Terus terang perempuan itu, dengan ekspresi gemas.
“Ah..kau nih, sembarang saja! Siapa lagi yang menangis karna dia sudah punya Novi!” Rara menyuarakan protes, tak terima dibilang seperti itu.
“Habis... Jengkel, kenapa dia kasih baper kamu, baru pacaran sama orang lain, baru dia bilang
mau ta’aruf lagi sama kamu.”
Benar, satu hal yang ingin dilakukan Rara saat ini, merogoh HP lalu..
Berenang di wajahmu lewat bola mata aksara yang menjadi bisu saat ku terluka, tak
benar-benar merasakan kehangatan itu lagi.
__ADS_1
Setelah buat status whatsapp dengan cepat mendapati balasan yang tidak lain dari salah
satu orang tersayangnya Rara sendiri.
Ih, bagus captionnya, Kak!
Sebut saja Lusiana Rossa, salah satu JJS sudah sangat mengenal gadis itu kali pertama buat antologi tentang Harris J. Perempuan berdomisil di bekasi itu mampu mengambil hati Rara.
Tersenyum sangat hambar, membalas haha, hanya iseng aja tuh, Dek. Setelah terkirim, menyimpan HP dan main dengan adik kecilnya sedang diletakkan di tempat duduk bayi.
Saat ku terluka seperti ini, kenapa harus mendengar berita yang tidak sesuai fakta? Kesal Rara sambil tertawa penuh luka sibuk bermain dengan adik kecilnya itu.
Ok, fine, kalau saat ini masih belum bisa melupakan kenangan yang sudah dibuat bersama Luthfi, tapi tidak seharusnya teman seangkatan cowok menyebalkan itu menceritakan tidak sesuai isi hati Rara.
♡♡♡
Minggu kali ini adalah giliran Rara menjadi mc, pengen sekali lari dari kenyataan, memiliki sebuah penyakit demam panggung.
“Belajar, masa saya saja bisa, kamu masih tidak mau usaha tuh?” Kata Adinda menyemangati.
“Aih, biar Vero sudah eh yang gantikan posisiku jadi mc?"
“Ah. Tidak ada! Saya di sini hanya selaku PJ komunitas saja, malas ribet seperti kalian berdua.” Vero langsung berkata ketus.
Mereka belum bergerak sama sekali, karena harus menunggu kepastian dari bintang tamu yang sudah diundang. Apa sudah diterima atau sebaliknya?
“Eh..eh, katanya sudah sampai di hotel, kita langsung ke sana yok?” Usul Vero dengan heboh.
Adinda melirik ke satu sahabatnya yang masih menggigit bibir bawah, takut tidak bisa menampilkan yang terbaik. Hanya tersenyum menanggapi kekhawatiran Rara.
Oh benar juga, “kan, katanya mau ketemu dia? Jadi..lakukan semaksimal mungkin untuk cetak sejarah depan orang yang selama ini kamu kagumi.” Lagi, Adinda mengusap-usap belakang gadis itu.
Tersenyum getir, “saya yakin tidak bakal bisa melakukan itu depan orang banyak. Ku akui memang saat ini senang bisa ketemu langsung, tapi kan, saya demam panggung dan tidak bisa dihilangkan dengan kedatangannya di sini.” Rara terus saja mengkilah, berharap digantikan saja untuk jaga bazar mereka lagi.
Menggeleng tidak terima, “kalau kamu seperti ini terus, melemparkan sesuatu hal baru ke orang lain, bagaimana buat kamu percaya diri dan gapai semua mimpi yang sudah lama ingin kamu pegang?” Adinda menjedakan beberapa menit, “katanya mau jadi mc waktu acara di sekolah dulu? Nah..sekarang waktunya buat kamu beraksi depan peserta. Pelan-pelan saja, pasti bisa kok.” Imbuh perempuan itu lalu mengajak berdiri dari kursi.
Menarik napas sangat dalam, setelah itu ikut masuk ke dalam mobil disambut sangat manis dari senyum milik Rai.
“Siapa?” Bisik Rara, saat melihat ada orang asing dalam mobil.
“Oh, lupa! Nih..kenalin adiknya Rai, Mitsuri. Dek..ayo kenalan balik sama teman kakak.” Adinda menyahut sambil mengode ke adik itu.
Tersenyum sangat hangat lalu mengulurkan tangan, tak ingin mengembang diudara secepat mungkin menyambut dengan senyum tipis, “Rara, senang ketemu sama kamu.”
Sedangkan Rai sangat risi dengan adik cerewetnya ikut datang ke Jayapura.
Tiga puluh menit kemudian, mereka tiba di hotel.
Beh, kali ini acara dilangsungkan bukan tempat terbuka lagi melainkan hotel, berlokasi di abe.
Langsung masuk ke tempat, terlihat peserta berdatangan sambil mengisi data yang sudah disiapkan beberapa panita.
Tersenyum, melihat komunitas mereka berjalan sangat baik.
__ADS_1
Rara sudah memulai aksi depan peserta, dengan senyum sangat bangga, Adinda sibuk meletakkan beberapa makanan di meja paling depan serta minuman buat tamu mereka.
“Ok, kalau begitu tidak perlu menunggu lama lagi, kita sambut tamu istimewa kita. Bunda Asma Nadia, untuk beliau dipersilahkan maju ke depan untuk mengisi materi pertama hari ini. Beri tepuk tangan yang meriah untuk beliau.” Kalimat terakhir diucapkan setelah melihat beliau mulai berjalan sangat percaya diri depan peserta.
Asma Nadia memberikan apresiasi dengan komunitas mereka. Jelas..buat mereka tersenyum malu, senang bercampur haru, kali pertama mendapati sebuah hal luar biasa pun pujian manis dari penulis termuka.
Setelah beberapa menit mengisi materi pertama, beliau pun mengucapkan terima kasih lalu duduk kembali ke tempat dan melihat beberapa acara yang meliputi, musikalisasi puisi, drama dan games menarik.
“Kalian sangat kreatif buat acara seperti ini, diusia kalian yang terbilang muda sudah bisa produktifkan uang. Bunda bangga sama kalian. Terus menginspirasi anak-anak muda dalam berkarya, kalau begitu bunda pamit balik ke Jakarta. Terima kasih banyak yah, sayang, dengan undangannya. Insyaallah kalau ada waktu, kita ketemu lagi.” Sambil cipika-cipiki, setelah acara usai.
Tim lain pada sibuk membereskan barang-barang lalu memasukkan ke dalam mobil.
Setelah selesai, mereka merayakan keberhasilan penjualan buku yang meningkat sangat pesat di Solaria Jayapura sekalian cuci mata di Mall Jayapura.
Menikmati hasil jerih sendiri memang sangat menyenangkan apalagi itu bersama
sahabat-sahabat terkasih.
Tadi juga Asma Nadia memborong buku mereka, “ah..bunda ambil gratis aja, sebagai tanda terima kasih bunda sudah datang memenuhi undangan kami di Jayapura.” Kata Rara yang diangguki oleh kedua sahabatnya itu.
“Jangan, begitu, Dek. Lebih baik bunda beli daripada di kasih gratisan. Karena bunda tahu bikin satu karya aja susah, imajinasi nggak gratis.”
Hm, sangat terharu mendengar penuturan beliau. Menjadikan Rara kembali berdetak lewat imaji batas murah apalagi di nomor duakan oleh manager indonesia. Juga simfoni lewat big thanks vidio telah diberikan Harris, batas kesenangan JJS mencicipi dengan cara mengupload perulangan di media sosial, seperti itu kepunyaan mereka.
Jari-jari tersebut mengambil lembar-lembar merah dari beliau dengan rasa ketakenakan dalam hati.
“Terima kasih banyak yah, Bun!” Seru mereka bertiga.
Sampai di Solaria Jayapura,
“Yakin nih, kamu nggak mau jadi mc minggu depan?” Rara menggoda sahabatnya itu yang masih sibuk dengan HP.
Vero mendengus lalu melirik kesal, “saya tuh jadi PJ saja sudah bersyukur karena bisa menghasilkan uang sendiri tanpa harus ambil cuti kuliahku.”
“Kan, ini juga komunitas kita, masa sih tidak mau coba walau sekali saja?” Lagi, Rara menggoda.
Menghelakan napas sangat panjang, “iya-iya, nanti setelah saya pikirkan deh. Mungkin.. Tunggu Avisa balik ke sini baru saya mau jadi mc.”
“Ah..berarti kamu tidak mau terima tawaran dari kita semua yah, aih..kecewa. Masa mau tunggu Avisa datang dulu sih?” Kali ini Adinda berseru protes dan emosi.
Mengingat sahabat di padang masih lama datang liburan, disebabkan oleh kesibukan tugas-tugas di sana. Jangan kan pikirkan liburan, angkat vidio call dari mereka berempat saja, paling setengah mati. []
.
.
"Berharap sih bisa buat sebuah komunitas kepenulisan dengan sahabat-sahabat, karena ini adalah salah satu mimpiku, untuk bisa menghasilkan uang sampingan saat masih kuliah awokawok.
Mengingat minat baca dan menulis di daerahku sangat minim, ditambah sebagian sahabatku kuliah diluar jayapura semakin mempersempit mimpi itu dan tidak bisa dijadikan sebagai realita😄
Biar saja menjadi imajinasi serta bersemuka dengan satu sosok inspirasi dalam hal travelling lewat prestasi juga berkarya lewat aksara."
Salam Online,
__ADS_1
♡♡
-Dinn-