Sepotong Nada Yang Hilang

Sepotong Nada Yang Hilang
Luthfi Rewel (Versi Formal)


__ADS_3

“Kalau saja Rara tidak melihat dengan begitu jelas disorot mata terdapat sebuah rasa, kenapa masih menyuruh dia beli roti.”


 


♡♡♡


Mendadak meringis, kehilangan tenaga untuk kerja tugas yang tiba-tiba diberikan oleh asdos, katanya tugas besar mereka.


Menghentak kesal, kenapa saat sedang penting harus merasakan perih sih? Semakin buat dia memperpendek semangat kerja tugas tersebut.


Bukan waktu untuk mengeluh, tapi kalau terhimpit seperti ini susah buat mengelak memperbanyak motivasi belajar.


Memang saat ingin masuk kuliah Rara berupaya menyakinkan mama untuk tidak main-main dan serius dalam hal belajar, agar bisa melihatkan toga itu dikenakan dengansenyum haru.


“Ok, tugas dua hari lagi baru kumpul. Kalian boleh pulang.” Bernapas lega dong, saat asdos datang ke ruangan menginfokan.


Tapi bermasalah di jemputan.


Ah, benar juga Rara harus menunggu cowok itu datang menjemput.


“Kamu tidak pulang, Ra?” Ah, benar juga masih ada Vian belum balik.


Tadi sempat melihat sekilas, sedang bermain game sekarang sudah selesai dan bergegas pulang.


“Lagi tunggu jemputan nih, kau sendiri kenapa masih di kelas? Tumben? Biasanya kamu orang pertama pulang duluan baru.”


Ups, kok semakin banyak bicara terasa ada jarum tak kasatmata menusuk lebih tajam?


Ah..Rara berhenti ngomong daripada menyiksa diri.


Sebelum benar-benar menghilang dari pandangan gadis itu, “daa..Ra! Kalau kamu sakit, saya temani ke kantin. Itu pun, jika kamu mau sih?”


Rara mengira kurang peka, jelas-jelas menyembunyikan kesakitan itu kok bisa


menerawang secara detail sih?


Hm, hanya tersenyum tipis.


“Ah, tidak ada, tem. Jemputanku mungkin sedikit lagi sampai. Kamu duluan sudah, thanks eh, buat tawarannya?” Membalas dengan cengiran.


“Yasudah..kalau memang itu maumu. Saya duluan.”


Selepas kepergian teman angkatan, tidak tahu kenapa ingin sekali diberikan perhatian lebih sebagai teman. Sejak kejadian itu di Mega Futsal Abe, mungkin sampai sekarang Rara bakal lebih leluasa dalam menyuarakan perasaan ke mereka.


Sudah deh, tidak perlu membahas yang terjadi, itu pun Nava sendiri kan yang buat ulah sampai dia dijauhkan oleh teman seangkatan.


Beberapa menit kemudian, Luthfi sudah tiba depan parkiran E2, dengan cepat melangkah keluar menemui cowok itu dengan langkah lebar tersebut semakin memperburuk kondisi tubuh.


“Kamu kenapa?” Terdengar sangat khawatir.


Oh? Luthfi bisa merasakan kah, padahal sudah duduk di belakang kemudi. Tersenyum seulas, masih bisa menimbulkan kekhawatiran sejak kemarin Rara takut menyapa lebih banyak setelah Oyong terdengar begitu berisik di daun telinga. Memang cukup buat menghibur Luthfi, tapi menyangkut hobi pasti kena semprot.


Dan, hari ini bisa menunjukkan kekhawatiran sebagai orang spesial, bukan biasa.


Sebenarnya Rara marah kenapa masih saja berikan kenyamanan tapi belum mau melantangkan rasa itu?


Eh, bentar. Kok motor yang dibelokkan mendadak berhenti lalu melihat cowok itu berbalik ke belakang, lagi mengulangi pertanyaan belum dijawab Rara.


“Tidak makan.”


Sudah memastikan Rara tidak kenapa-kenapa, mendadak raut itu mengisyaratkan amarah yang ingin meledak.


“Kenapa kamu tidak makan kah?!” Tiba-tiba saja Luthfi rewel.


Jelas, buat Rara terkejut. Tidak biasanya.


“Hehe..tidak sempat.” Dibalas dengan nyengir kuda, tak bersalah.


Kenapa harus menampilkan wajah khawatir, kalau menahan lapar dan mengode ingin makan selalu saja ingin menemani kalau nggak minta traktir jika dipaksa.

__ADS_1


Kalau makan di kampus setelah pulang, yang ada bikin Luthfi menunggu lama depan parkiran jadi lebih baik menahan lapar sampai tak terasa perut tertusuk jarum takasatmata.


Setelah meninggalkan halaman kampus, masih terasa sakit. Berusaha menahan sampai rumah. Kalau ingin minta makan sekarang, Luthfi mau traktirkan? Mana ada.


Kalau makan sendiri nanti kena sindiran harus belikan seporsi lagi. Lebih baik tahan lapar saja deh sampai di rumah baru ngunyah nasi.


“Masih sakit?” Terkejut, Rara sedang memijit perut dengan serius, tiba-tiba dilempari pertanyaan yang menghangati sekujur tubuh.


Tapi, kalau tidak sakit mana ada saya tahan perasaan di belakang saat kau injak batu dengan kecepatan diatas rata-rata, bukannya menghindar malah di injak. Ketus Rara dalam batin.


Tanpa sadar masih dalam mode kesal, pijitan hangat milik Luthfi spontan buat dia melongo. Melihat cowok itu memijit dengan tangan satunya lagi memegang stir motor.


Bermodal tangan satu memijit, menginstruksikan untuk mengulurkan tangan satu lagi buat Luthfi pijit.


Bentar..bentar, Rara berpikir sejenak yang sakit kan perut, kok tangan cewek itu di pijit sih? Ih..Luthfi modus!


“Duh..perutku semakin sakit!” Dengan cepat menarik tangannya lalu memegang perut, mengalihkan.


Duh, bukannya melepaskan justru kembali menarik dan terus memijit tangan Rara penuh dengan kelembutan tapi tak lepas dari, “makanya kau lagi nih, kenapa tidak makan kah di kampus?!” Rewel milik Luthfi dong.


Bukannya membujuk atas omelan cowok itu, kok Rara puas sekali tertawa sebagai balasan kerewelan Luthfi?


“Tidak mau tahu kamu harus makan!” Lagi, bentakan itu diberikan ke Rara.


Jiah..dasar cowok aneh, suruh makan kok masih diatas motor? Bukannya cari tempat makan, supaya Rara tidak tahan sakit dalam diam.


Memang yak hanya rewel tapi tidak peka buat cari cepat warung makan, cowok apaan tuh? Kok Rara masih beta sih berlama-lama disekitarnya?


“Eh?” Melongo dong, saat motor itu berbelok ke toko Nivenda.


Dengan santai mematikan mesin motor, “pulang sudah?” Berusaha merengek setengah manja ke Luthfi apa yang di dapatkan selain, “TIDAK?!” Dari Luthfi?


“Sudah mendingan kok, ayolah. Luthfi baik hati dan--” Ups, gombalan Rara terpotong cepat, “sudah..sana masuk ke dalam. Cari makanan!” Saat Luthfi kembali pada diksi protes.


“Tapi, kamu ikut masuk eh?” Dan, Rara bersikuku buat cowok itu ikut ke dalam.


“Sudah..biar saya tunggu disini saja.” Ok, fine, penolakan yang halus semakin buat Rara turun dengan wajah kesal.


 


Masih dalam toko, mengelilingi setiap rak memperlambat langkah agar menerbitkan sebuah wajah kesal Lutfhi saat menunggu lama diatas motor. Kok perut Rara terasa tergelitik sampai menyemburkan tawa ringan.


Memang benar yak, kalau Luthfi itu orang pelit.


Masa sih kasih tinggal dia sendiri dalam toko? Sudah jelas kasih perlihatkan wajah khawatir, memang wajar saja sih kalau tidak menginginkan lembar itu terpakai bahkan buat orang disukai? Oh begitu cara cowok itu menarik perhatian seorang cewek disukai, memperlihatkan wajah cemas tapi tidak membuktikan kesungguhan hatinya.


Rara tersenyum getir, berharap masuk ke dalam bersama dan lihat cowok itu yang memilihkan makanan dipilih Rara.


Percuma dan itu tidak mungkin terjadi pada Luthfi Pratama!


Tidak menginginkan duit terhambur, sebelum memutuskan mengambil dua barang. Melihat-lihat produk dijual toko tersebut.


Tersenyum jail lalu mengangkat dengan melambaikan ke Luthfi yang masih duduk diatas motor.


“Stop makan itu sudah! Cari makanan yang lain sana!” Teriaknya sambil tertawa kecil.


Tidak tahu kenapa Rara ikut tertawa kecil.


Sudah ah, malas berlama-lama juga, mengambil roti rasa moca serta milk favorit Rara.


Sebelum membayar, lihat tatapan penuh arti dengan tenang itu semakin buat dia ingin,


“kamu juga mau?” Terlihat datar tapi dengan cepat, “ambil sana sudah di kulkas apa yang


kamu mau. Sebelum selesai di scan nih.” Kok setelah mengatakan itu, Rara bergetir hebat.


Nah, sudah ketebak setelah melihat Luthfi turun dengan gesit dari motor dan mengambil minuman yang disukai lalu menaruh di kasir.


Petugas itu ternyata teman Luthfi, sambil sibuk scan mulut mereka berkomat-kamit sesekali tertawa ringan.

__ADS_1


Apa Rara tidak salah? Mentraktir orang yang bahkan bukan kekasih? Itu pun kalau pacar, mana mungkin kan membiarkan dia membayarkan satu kotak minumannya?


Sebelum selesai di scan, Luthfi memilih duduk menunggu di atas motor.


Berdecak kesal, tapi kok ada yang ngilu dalam dada?


Setelah tiba depan cowok itu, menunjukkan dengan kasar kantong kresek itu tepat


depan wajah Luthfi, “NIH..PUAS?!” Rara langsung berseru protes.


Justru dibalas tawa pelan dari Luthfi. Masih berada di depan toko, berdebat lagi. Kali


ini persoalan makan di tempat sebelum pulang ke rumah.


“Makan cepat?! Atau..kita tidak pulang.” Dengan nada tinggi.


“Jahat apa..” Rara membalas dengan nada ketus.


Percuma menolak dengan pupy eyes sekali pun tak meluluhkan Luthfi. Semakin buat gadis itu menghentak kesal.


“Idih..kamu ini seperti Avisa saja! Bawelnya minta ampun sekali kah.” Sudah jelas kesal, kok Luthfi membalas dengan senyum sih?


Pen timpuk loh.


“Luthfi yang baik, perhatian dan--” Duh, lagi deh gombalan itu tidak selesai, “eits..tidak


usah banyak alasan, makan cepat!” Huaa, tidak ada keindahan dalam melihat Luthfi mengantar dia pulang ke rumah, sebelum lihat Rara makan dulu.


Mengerucutkan bibir. Kesal.


Menusuk kotak itu dengan kesal, sudah pengen menerkam Luthfi saking emosinya tidak mau dipulangkan sebelum makan dan minum depan Luthfi.


Hanya satu sedot saja, “sudah nih?! Ayo..kita pulang.” Meminta buat Luthfi mengindahkan permintaan itu.


Berharap bisa naik cepat dan pulang rebahan, “kalau kamu tidak makan dan minum, kita tinggal saja disini, sampai kamu selesai makan dan minum tuh..” Justru ditunjuk tegas oleh Luthfi ke arah kotak dipegang gadis itu.


Semakin risi saat pengantar barang melihat mereka berdebat.


Dengan menyedot sekali lagi penuh amarah, “sudah nih?!” Berseru kesal.


Ih, kenapa masih menggeleng dan tertawa santai sih, “cepat makan sudah! Mau pulang kah tidak?!” Selalu saja menahan dengan pertanyaan yang sama.


Tidak tahu butuh berapa lama untuk menyakinkan cowok menyebalkan itu hari ini sangat rewel. Hua..Rara bisa pulang juga dengan hati tenang, setelah berdebat cukup memakan durasi panjang apalagi menjadi pusat perhatian tukang angkat barang itu, jengkel sekali dengan sikap Luthfi yang tidak mau memulangkan gadis itu dengan cepat.


“Thank kyu..oyong bawel, rewel sudah antar pulang!” Rara berseru mengejek.


“Haha, lain kali itu makan! Jangan telat makan lagi!” Luthfi masih saja melayangkan protes.


Dari tadi rewel saja terus, “hus..sana..pulang..pulang!” Rara mengusir dengan nada canda.


“Wih? Diusir kah ceritanya?” Terkekeh sangat pelan.


“Yo! Pulang sana!” Sambil mendorong motor Luthfi sekuat tenaga. Nihil. Berat sekali bagi ukuran fisik cewek seperti Rara.


“Pergi makan nasi sana!” Bukannya pulang, bersikap ketus lagi.


“Hm, sudah..kamu pulang sana!” Rara sangat kesal sekali hari ini, sungguh deh.


“Awas eh kalau kamu tidak makan!”


Saat masuk ke rumah, “itu dari mana?” Disambut mama sambil menunjuk kantong kresek ditenteng Rara.


“Eh? Ini, tadi saya beli pas pulang dari kampus sama-sama Luthfi, Ma.” Kok ngilu sih ‘saya


beli pas pulang dari kampus’ bukan kah seharusnya yang belikan itu Luthfi?


Sudahlah, buat apa harapkan cowok pelit dari Luthfi?


“Ma..mau tau, tadi tuh Luthfi bawel sekali. Suruh-suruh makan segala, ancam lagi kalau tidak makan, dilarang pulang.”

__ADS_1


Masih saja dibincangkan dengan girang depan mama, sudah jelas cowok itu kurang peka dan memaksa memakai uangnya bukan dibelikan dengan begitu bisa menunjukkan kalau Luthfi serius. []


__ADS_2