
“Hua..Rara lompat sangat girang setelah mendapati penuturan tentang Luthfi, setelah itu kecewa kenapa lebih memilih berkemas dibanding jujur dengan perasaannya sendiri?”
♡♡♡♡
Setelah beberapa lama tidak berdiskusi sejak hubungan itu kurang bagus bersama Luthfi. Sekarang, mendapati kabar mengejutkan dari kakak translations tersebut.
Tapi kan, kemarin sempat noge masih diingat oleh cowok itu. Walau isi pesan sangat kejam tak berperasaan sih.
Terlalu sibuk dengan pikiran sendiri mengenai sesuatu yang memang bukan lagi milik Rara.
Luthfi sudah sangat jauh untuk digenggam.
Novi yang dilihat dari SK milik sepotong nada yang terlanjur hilang bukan singkatan nonton tivi yang sudah dicetuskan oleh Avisa beberapa hari lalu. Melainkan benar adanya, kekasih baru cowok itu.
Arg. Kenapa sesakit ini sih? Saat tahu orang yang kita sukai pergi dan menggandeng romansa lain?
Daripada pusing tidak bikin apa-apa, lebih baik berjalan santai culik sahabat di rumah dan kurung di kamar dengan segudang cerita, tidak sabar untuk dibagikan.
Eh, belum juga keluarkan motor sudah dapat telpon dong.
“Ra, ko lagi?” Suara sangat lirih, semakin meruntuhkan keceriaan dalam hati.
“Lagi rebahan nih, kenapa?” Rara menjawab sesantai mungkin.
“Oh. Bisa buka pagar rumahmu kah? Soalnya sa ada di bawah nih.” Kata Vero dengan nada yang tidak bersemangat.
“Bentar..bentar, sa turun ke bawah!” Dengan cepat buka pintu kamar lalu turun dengan tergesa.
Dengan sebuah perasaan luntang-lantung, menyadari rasa yang telah peka setelah kehilangan. Melihat sahabat depan mata, ingin sekali Rara berlari dengan menggelayutsangat manja.
Sayang..tidak dalam kondisi baik saat ini.
Menanyakan kenapa bisa mengantarkan langkah itu ke rumah, tanpa ada yang antar.
“Biasa..orang rumah bikin sa emosi, makanya lebih baik sa lari saja di ko rumah. Tapi, ko tra marah toh kalau sa datang main ke sini?” Terlihat mimik sangat tidak enakan.
Jelas, semakin buat Rara gemas sendiri pengen jitak tuh kepala. Sahabat itu apa sih bagi Vero? Figuran saja kah?
Ih, begini sudah kalau ada masalah di rumah, dengan santai datang merebahkan nyeri dengan bermain HP tanpa mau berbagi. Itu sudah yang buat sahabat-sahabatnya geram, seperti tidak menganggap sebagai sahabat.
Setelah beberapa jam melihat ekspresi sahabatnya mulai membaik, juga sudah tukar
kabar dengan kakak translation.
Bersorak sangat riang.
Melihat Vero dari tadi main HP, dengan senyum sumringah melirik tapi masih belum disadari oleh sahabatnya itu.
Ah, pasti de mau temani sa ke sana. Pikir Rara dengan santai.
Memang sempat meragu, kalau sahabat menolak buat temani ke sana. Tapi menepis semua hal yang buat dada sesak.
Tersenyum, lalu ceplas-ceplos mengatakan buat temani ke lasehan.
Dengan malas Vero membalas untuk menanyakan dimana posisi kakak itu. Oh, dengan cepat menunjukkan SMS itu ke sahabatnya, tanpa ditutupi lagi.
“De katanya ada di sana! Sama temannya, ayo su Vey..” Seru Rara.
Sedangkan Vero tampak terkantung-kantung, hanya mengindahkan dengan nada malas.
Bagi perempuan itu, buat apa pulang tempo kalau rumah berasa panas dengan senjata amarah? Lebih baik menemani sahabat saja bertemu kakak translation. Tidak tahu dah, naskah apa yang bakal diterjemahkan Rara.
“Sebentar saja toh?” Kata Vero, sedikit malas menanggapi.
__ADS_1
Dengan cepat mengangguk, “ayo su..Vey, ko bangun. Temani sa ke sana!” Rara sudah tidak sabaran.
Sambil menarik-narik lengan sahabatnya, karena masih saja rebahan di kasur Rara, eh di tepis dong, sembari, “ko pakai jilbab dulu sana! Biar sa tunggu dulu di sini.” Setelah itu kembali lagi ke layar HP, setelah membalas dengan intonasi mager.
♡♡♡♡
Iya, Kak. Nanti juga kita bantu revisi dan perbaiki grammernya yang salah. Nanti tim editor yang tangani.
Masih terekam sangat jelas saat kali pertama iseng DM penerbit indie, melompat sangat sumringah tidak sabar naskah itu diterjemahkan supaya bisa disodorkan ke Harris J.
Ah, mengingat jadwal kedatangan bule london ke indonesia, sudah tidak ada waktu lagi untuk revisi, walau memang sangat perlu untuk dirombak ulang aksara terbilang banyak cukup buat mata sakit. Kenapa tidak pelan-pelan dulu revisi?
“Sudah ah, lagian Kak Syarif su tunggu sa datang.” Gumam Rara pelan, sampai sahabatnya tidak mendengarkan.
Setelah mengirimkan SMS ke kakak translation, tidak ada respon sama sekali. Buat bibir itu bergetir, takut tidak menjadikan mimpi itu bersemuka lewat kedua bola aksara Rara.
Setelah dua minggu berlalu,
“Eh?” Rara melongo sangat hebat, desiran rindu itu kembali mengusik rutinitasnya hari ini.
Tumben sekali dapat telpon. Setelah itu di matikan kembali, bikin Rara berdengus sangat emosi. Daripada penasaran, sambil menanyakan knp telpon? Setelah terkirim tidak lama kemudian dapat balasan..
Tdk, tdi mau ksh info saja tntng Kak Syarif, HPnya hilang, nih..nomor brunya 08xx
Setelah mendapatkan nomor baru kakak translation, baru saja selesai ikut ujian di kampus.
Kok ada ruas tak ikhlas dengan perubahan sepotong nada yang hilang itu?
Hm, pantas dari kemarin Rara SMS tidak ada respon sama sekali, ternyata HP itu hilang dan kenapa saat sudah tidak memilik banyak waktu, Luthfi baru kasih kabar?
Sedikit kecewa. Sambil memanyunkan bibir, menekan aplikasi musik setelah itu menyumpal headset lalu berjalan santai ke parkiran motor.
Cukup. Tidak perlu lagi berharap sama Kak Syarif lagian masih malu juga dengan isi naskah terbilang absurt. Kasihan nanti mata kakak translation itu sakit.
Tersenyum sangat miring.
Terlalu apes sekali sih harapan yang sudah digantung tinggi oleh Rara lewat kakak
translation, ternyata HP hilang baru dikabari sekarang sama cowok PHP milik Novi itu.
Berdecak sangat kesal. Terasa dada sakit.
Bermodal google translet, tidak bisa menghubungi untuk diskusi lagi.
Dua minggu berlalu begitu cepat, begitu juga dengan kedatangan Harris J ke Jakarta. Sesuatu yang harus diperjuangkan bukan lewat hal-hal unfaedah, dan Rara saat ini ingin membuktikan bermimpi tinggi tidak perlu takut terjatuh, karena dengan karya bisa menjelajahi dunia tanpa harus mengeluarkan rupiah.
Pernah, ditegur sangat pelan, “Dek..kalau mau ketemu dengan kakak, minimal bawa teman cewek, supaya kita ngobrol tidak menimbulkan fitnah dari orang lain. Kakak begini, karena ingin menjaga kehormatan ade sebagai perempuan.”
Juga kali pertama bertemu di kopi indonesia, “kalau bukan Harris J, mana mau bantu
terjemahkan.”
Flashback on,
Ketika sudah selesai siap-siap mereka sudah tiba depan kedai kopi indonesia, sedangkan sahabatnya masih saja meragu dan terus-menerus memaksa Rara menanyakan kabar kakak translation tersebut.
Saat sudah hampir berada di mulut pintu, melihat ada seorang yang sangat tak asing bagi gadis itu sendiri.
Oh, ternyata dia. Gumam Rara santai, tapi cukup buat hati itu terpompa sangat cepat.
Sempat, “ini kamu buat sendiri kah, Dek?” Nanik memandang tak percaya. Lalu dibalas anggukan cepat dari Rara, “iya, kak, bahkan sa sendiri yang translet bukunya.”
Intonasi mengejek ke arah Kak Syarif sambil menatap ke samping, sinis, terdengar ia terkekeh dengan singgungan Rara.
__ADS_1
“Wih..mantap, sa kapan eh buat bukunya?” Jawab Nanik sambil diiringi kekehan pelan.
Tetiba membahas tentang Luthfi, setelah itu melihat teman semasa smk beserta the gank masuk ke dalam, mengambil tempat kosong.
“Ih, Ra? Ko bikin apa di sini?” Kata Feri, yang dijawab gadis itu sambil melihatkan novelnya.
“Wih..ko yang terjemahkan sendiri ini, Ra?” Ucap Feri dengan wajah takjub.
Sempat Rara menawarkan mau beli lalu dibalas gelengan dan dikembalikan ulang.
Lalu daun telinga mendengar kedua orang itu belajar bahasa inggris.
“Ve..ko dengar dong pakai bahasa planet lagi, ko mengerti?” Blak-blakkan dong.
“Haha...ada nih terjemahannya di bawah ini.” Jawab Vero sambil pergerakan tangan seperti menggambar kotak persegi panjang.
Usai belajar, kembali ke topik tentang Luthfi..
“Waktu itu Luthfi datang ke kakak dan bilang gini ‘Kak, sa mau ta’aruf dengan Rara’
kakak langsung marah dia ‘kamu itu yah Juliet kalau mau serius sama anak ceweknya
orang langsung datang ke walinya, bukan dengan cara ini ajak dia jalan terus. Kakak tahu sifatmu itu Juliet.’ Jadi kakak tuh suka marah dia, Dek.” Ungkap Kak Syarif.
“Tapi, sa kecewa saja sih kak, sih Luthfi pernah bilang mau ta’aruf tapi tahu-tahunya pacaran sama orang lain.” Berusaha sekuat mungkin menyembunyikan hati yang masih terluka itu.
“Iya..itu yang tadi kakak bilang, sifat Juliet itu gak bisa kakak percaya Dek.” Dengan wajah dingin.
Terkekeh mendengar Juliet dari mulut kakak translation.
“Waktu itu juga kakak bilang dan tegasin sama dia ‘eh Luthfi kalau memang kamu ingin ke tempat kajian hanya karena ada cewekmu di sana, itu hatimu bukan ke sana melainkan lirik cewekmu!’ Juliet susah juga sih dek dibilangin, pernah dia ingin jebak temannya karena dalam persahabatan yang dia buat sendiri tidak ada yang boleh pacaran, justru temannya melanggar janji yang sudah dibuat sama Juliet, jadi sih Juliet ini buat permainan kasih cemburu sama teman ceweknya dan kakak pernah ingatin sama dia ‘eh..Juliet kalau kamu buat permainan ini kamu akan terjebak sendiri dengan permainan yang kamu buat.’ Pernah tuh kakak tendang dia karena acara penting, rapat ospek berantakan, dia gak hadir dan kakak dapat kabar kalau dia lagi jalan sama
temannya Fitri ke Koya. Saat Juliet tiba di kampus kakak langsung tendang dia, karena tidak bertanggung jawab dengan jabatannya sendiri.” Jelasnya panjang kali lebar.
Setelah puas mendengarkan tentang Luthfi, mereka berdua pamit.
Dalam perjalanan, sangat girang sekali.
“Ko tadi dengar kah tidak yang Kak Syarif bilang?! Kalau Luthfi mau taaruf sama sa?!” Seru Rara sendiri.
“Dengar sih, tapi..samar-samar.” Mendengar ini, buat Rara mendengus kesal.
“Ah..coba tadi ko tra mengantuk. Mungkin dari tadi nih diatas motor ko yang duluan cakadidi dibanding sa.” Gerutu Rara hanya dibalas kekehan dari perempuan itu.
“Yah..matlam.” Saat tiba depan kios omnya, pengen ketemu Mama, keburu matlam.
Dan, kabar gembiranya lagi sahabat bermalam di rumah sambil menelpon orangtua kalau pagi-pagi bakal pulang sambil mencuci baju yang sudah menggunung di rumah. []
Notes :
Matlam \= Mati Lampu
"Hallo your poems, banyak cerita tak terduga yak? Ternyata..kamu menyukaiku dan ingin taaruf dengan saya. Hehe..lucu sih, saat kamu sudah lebih berkemas dan bergandeng dengan romansa lain, saya baru tahu kalau kamu ada rasa sampai ke jenjang serius.
Haha..karena ketakpekaan saya gait kodemu, jadi seperti itu, lebih pilih pergi dengan kidung lain yang lebih peka dan tahu isi hatimu.
Salah sendiri kan? Kenapa dulu sempat pengen taaruf tidak mau pacaran dulu yah..saya tanggapi dengan bercanda juga.
Walau sebenarnya saya mengerti dari kode keras yang kamu kasih, wkwk."
Salam Sayang Online,
💕
__ADS_1
-Dinn-