
"Namun rasa ini masih tertanam. Karna sulit ku hapus semua kenangan. Meski sudah ku coba melupakan. Namun tetap sama, cinta ini tidak mampu untuk menghilang."
♡♡♡
Jika tidak salah ingat, waktu itu, masih di suasana sama, mendapati harap dalam mendahagakan imaji serta tampilan buku telah berada di versi english. Juga masih belum menyangka kakak translation meminta nafsi untuk datang ke kopi indonesia depan 751 sentani.
“Semoga..bisa terbang ke sana sama-sama Vero.” Gumam Rara sangat senang penuh harap.
Sekitar setengah jam hubungi kakak itu di mana juga melirik sahabat masih santai diatas kasur ditemani HP.
Dan, sudah berada dalam detak-detak di angka sembilan malam waktu indonesia timur.
Masih belum tercetus pulang dari vero.
Rara langsung minta temani, setelah berdebat berjangka panjang. Vero mengindahkan lalu langkah kedua perempuan itu pun telah sampai depan kedai kopi, “kamu masih lama toh pulangnya?” Mencoba memastikan.
“Yah..kalau kamu mau ketemuan berarti temani saya dulu toh! Nanti kamu diculik brondong di sana lagi!” Masih sempat ngeledek.
“Haha..kan nanti ada Luthfi yang jemput saya!” Rara berceletuh sangat lirih.
“Kamu gila kah, mau lihat pacarnya mengamuk!” Sergah Vero dengan wajah kesal.
“Tidak kenapa-napa toh, sekali-kali kasih cemburu pacarnya orang.” Rara membalas dengan cuek.
Saat melangkah satu kaki, “kamu yakin Kak Syarif sudah ada di dalam?”
Sebal. Kenapa tidak masuk saja? Pasti orang yang dicari sudah datang, lagian ini sudah malam. Tidak mungkin toh kalau kakak itu masih dalam perjalanan ke sentani?
“Kamu telpon dulu sudah.” Putus Vero, semakin buat kesabaran Rara malam ini diuji.
“Kenapa kita tidak langsung masuk cari saja? Kan, tidak terlalu luas juga tempat kopinya tuh..” Sambil menunjuk-nunjuk dengan gemas.
“Dia dimana, Ra? Kamu sudah tes SMS kah belum?” Salah kah kalau langsung masuk saja?
“Ah..dia katanya sudah ada di sini sama temannya. Kita masuk sudah.” Kata Rara dengan semangat.
Saat melangkah ringan, mendadak terasa berat ketika, “kamu yakin, dia bisa bantu kamu berangkat ke sana?” Pertanyaan sangat mematahkan mimpi-mimpi Rara bertemu Harris J.
“Sudah. Pasti dia kasih solusi itu.” Rara berusaha menjawab dengan enteng.
Walau hati sangat sakit.
Hampir bertemu dengan mulut pintu, dibalik jendela kedai. Sepertinya sa kenal orang itu? Pikir Rara dengan perasaan tumpang-tindih.
Setelah masuk ke dalam langsung to the point. Kok Kak Syarif bahas beasiswa sih? Bukan keberangkatan untuk sodorkan buku itu ke Harris J?
Permasalahan diskusi itu sudah habis. Karena Rara sudah terlanjur terjemahkan sendiri
bermodal google terjemahan.
Sengaja mengeluarkan dua versi ke atas meja, “Kakak yakin nih, buku yang warna kuning buat kakak, mana, Dek?” Kata Kak Syarif dengan santai.
“Ye..kakak GR! Itu bukan buat kakak.” Rara langsung cibir.
“Yah..trus buat kakak mana dong, Dek? Katanya waktu itu mau kasih kakak satu bukunya yang versi inggris.” Kak Syarif memasang wajah pura-pura sedih.
Hm, begitulah terjadi waktu bersitatap dengan Kak Syarif. Hanya bahas beasiswa tidak ada harapan lebih lagi buat bertemu dengan rambut mie london.
Dan, Rara saat ini bergetir hebat kembali lihat buku itu dengan tatapan ngilu.
Kalau saja kakak translation lebih dulu menegaskan ke Luthfi, sudah dipastikan tidak
berantakan seperti ini, walau sudah diperbaiki sesuai janji penerbit indie itu, tetap saja masih ada yang kurang.
“Kenapa Kak Syarif tidak minta Kak Luthfi buat hubungi kamu, saat HPnya hilang?” Sempat kok Vero menanyakan dengan raut penuh bingung itu.
Dan, tersenyum begitu getir sekali pun, masih belum di mengerti oleh sahabat sendiri.
__ADS_1
Andai ada Avisa disini, sudah lebih dulu peka dengan ekspresi juga intonasi tersampaikan.
Rara kembali teringat mengenai pulpen berharga juga flashdisk dalam kotak pensil yang sudah hilang, dalam aula. Mungkin pertanda tidak baik hingga buat dia sekarang memeluk semua dengan ringkih.
Tapi kan? Mimpi-mimpi yang sudah terlanjur berada di kedua bola aksara, ingin disampaikan langsung ke bule london, tujuan mendapati prestasi dari hobi yang katanya tidak berfaedah oleh keluarga.
“Memang eh saya tidak pantas buat dapat prestasi, apalagi dari hobi yang sudah lama saya geluti.” Rara berdialog sendiri.
Bukan berarti sedih, menutup semua cerita mimpi itu. Dengan cepat mengambil sebuah kardus lalu melangkah ringan ke Kascha Mart, membeli beberapa kertas kado untuk membungkus novel itu. Ketika realita merentang sangat pongah, tanpa disadari ada satu titik pengharapan buat Rara menyimpan keajaiban.
Nanti pas Harris ke indo akan sya kasih dan videoin buat kmu.
Karena balasan DM itu yang buat Rara kembali bermimpi dan yakin sebentar lagi akan bertemu dengan bule london, karena sudah mengirimkan kado berbeda yang belum Harris dapatkan dari JJSnya.
♡♡♡
Rara masih belum menyangka dan apakah ini sebuah bunga mimpi yang sedang dialami penuh bengis?
Tidak. Ini sangat nyata dengan melangkah penuh ringan dan percaya diri menuju sekolah lama, smk ypkp.
Jangan tanya Rara mau bikin apa ke sana, bukan mengirimkan sebuah lembar brousur seperti Luthfi yah.
Ada sebuah kepentingan lain yaitu undangan mendadak mengisi sebuah workshop dari Bu Tri.
Menunggu beliau, dia duduk dibangku panjang depan koperasi. Karena sang guru masih ngajar di kelas X Akuntansi. Hm, mengingatkan banyak kenangan kalau duduk disini.
Saat itu sedang belajar sama-sama dengan Avisa, ingin latihan pelajaran Matematika sebelum masuk ujian kenaikan kelas dua smk.
Mengingat hal tersebut, buat Rara tersenyum tipis. Melihat perbedaan sekolah lama sudah maju seperti ini yang terdapat cctv, buat dia tersenyum miring. Dulu angkatannya suka bolos dan nangkring di kantin kalau bosan di kelas.
Sekarang? Tidak ada alasan buat lari dari jam pelajaran.
Cctv di mana-mana. Semakin buat Rara tertawa geli sendiri.
Ah, benar juga. Menghilangkan rasa bosan sambil mengeluarkan map berisikan sertifikat lomba menulis. Walau sebatas kontributor kenapa yak dia sangat bangga dengan selembar itu?
Mendesah sangat lega, melihat kedatangan Bu Tri sambil menenteng laptop serta ransel dipakai satu tali saja, tersenyum melihat ke arah gadis itu.
Ketika kembali melihat wajah beliau, mengingatkan diri di masa lalu, sangat tidak bisa
dihandalkan. Dan, saat ingin mencari mc pembawa acara beliau menunjuk Rumi, teman sekelas gadis itu termasuk pintar dalam berbicara. Fasih.
Padahal waktu itu Rara ingin mencoba, diabaikan begitu saja. Dan sekarang? Beliau mencari untuk diajarkan menulis novel.
Ah, bukan kah menulis butuh sekolah membaca dari penulis senior? Karena dia sempat
mengikuti pelatihan menulis, tidak ada ide sama sekali, buntu.
Ternyata menjadi penulis hanya satu, rakus membaca.
Sementara beliau sudah hampir dekat, mendadak dada bergemuruh hebat, nerveous kah?
Oh, benar juga. Kalau Rara memang memiliki demam panggung.
“Ayo, duduk dulu, Ra. Biar ibu panggil siswa lainnya dulu yang belum hadir.” Beliau
mengajak masuk sepenuhnya ke dalam ruangan.
“Oh yah, Bu. Nanti..siapa yang pembuka untuk kasih materi pertama?” Rara bertanya, dengan sedikit detak berpacu abnormal, gemetar.
“Ibu tidak menyiapkan bahan, karena sudah ada Rara yang akan bawakan materi pagi ini. Jadi..ibu hanya jadi peserta nanti. Nih..ibu nanti duduk sambil melihat materi yang akan di bawakan Rara.” Penuturan beliau dengan senyum arti.
Duh, mendadak semakin demam panggung.
Merasa selama ini melatih tulisan secara mandiri serta belajar otodidak, bagaimana nanti menjelaskan dalam ruangan?
“Bagaimana, Pak?” Kata Bu Tri.
__ADS_1
Saat masih sibuk melihat Pak Taufik memasang kabel kadaptor.
“Sudah bisa, Bu. Tapi laptop saya sedang bermasalah. Colokan ini tidak bisa disambungkan ke infokus.” Jawab beliau dengan menampilkan sorot keraguan.
“Pakai laptopku saja, Pak.” Sambar Rara dengan sopan.
“Oh..iya pakai laptopnya Rara saja, Pak. Mana Ra...” Bu Tri intruksikan untuk memberikan laptop itu.
Saat semua sudah terpasang dengan baik, “ok.. Rara silahkan isi materi pertamanya.” Beliau panggil Rara yang duduk berjarak.
“Eh..disini saja kah bu? Saya duduk atau gimana?” Mengernyit.
“Berdiri aja, Ra. Biar lebih enak dilihat.” Beliau mengintruksi agar berdiri.
Dalam ruangan terdapat beberapa siswa dan siswi, Anisa, Nurul, Yube, Alvin, Nanda dan dua guru Bu Tri juga Pak Taufik. Duduk sangat manis sudah tidak sabar menunggu mantan siswi menyampaikan materi kepenulisan itu.
“Puisi yang dimana adalah ungkapan perasaan orang yang bisa jadi karya lalu dituangkan ke dalam bentuk kata. Contohnya saya sedang bahagia dan tuangkan ke dalam bentuk puisi dan akan saya berikan satu puisi yang sudah saya tulis. Dan puisi ini saya ambil tentang...
Sahabat adalah matahari
yang selalu berikan kehangatan
Mereka sulit dijelaskan dengan kata-kata. Nah...sampai disini, ada pertanyaan mengenai puisi?” Sambil mengangkat tangannya sebagai intruksi dari peserta.
“Kak..mau tanya nih, kata kakak puisi itu sebagian dari uangkapan perasaan seseorang, tapi kok saya kesulitan dalam menulis puisi, kak?” Ucap Nurul.
“Sudah itu saja pertanyaannya?” Tanyanya lagi.
Nurul mengangguk dengan mantap.
“Saya akan simpan pertanyaan dari Nurul..apa ada lagi yang ingin bertanya selain Nurul?”
“Bagaimana cara atur porsi menulis?” Kali ini Bu Tri mengajukan pertanyaan.
Mendadak kikuk, mengajari guru sendiri?
“Dan untuk kali ini saya akan menjawab pertanyaan dari Ibu Tri dulu, mengenai gimana sih ngatur porsi nulis supaya nggak cepat bosan. Mari...kita simak bersama...”
Sambil menampilkan slide materi sebelumnya.
“Nah..disini sudah saya jelaskan bahwa porsi penulis pemula tidak ada namanya ‘Mogok nulis’ Dalam artian mereka bisa menyelesaikan tulisan mereka versi nyaman sendiri-sendiri. Saya pribadi dalam mengerjakan suatu naskah perlu namanya musik. Supaya apa? Mengusir bosan dan tidak mogok nulis.”
Setelah merasa cukup puas dengan jawaban mantan siswi, beliau hanya melongo tak percaya bisa semaju itu dalam kepenulisan.
“Terima kasih, Rara.” Kata beliau sambil melempar senyum.
Tidak tahu kenapa Rara selalu melempari pendapat itu ke Alvin.
“Nah..menurut Alvin mengatur porsi menulis itu seperti apa sih?” Karena memang cuma adik kelas itu menyimak dan tidak bertanya.
“Hm..menurutku sih karena saya sering nulis di blog dan tanggapan teman-teman dumay juga senang dengan puisiku. Jadi menurutku itu sebagai tanggungjawab untuk menyelesaikan suatu cerita baik puisi atau cerpen.” Jawabnya dengan cepat.
Tra hanya ganteng, ternyata dia pintar. Rara berdecak kagum.
Setelah selesai mengisi materi, mereka duduk melingkar.
“Untuk saat ini, kita hanya bisa bentuk komunitas menulis segini dulu, Ra. Kedepannya nanti bisa kita tambah dan buat buku.” Bu Tri menginfokan bakal dedikasikan satu buku untuk smk ypkp.
Tiba-tiba tercetus sebuah diksi menyayat hati, cukup buat Rara sadar diri bukan lagi prioritas hati.
“Iya..saya waktu itu sedang main game di kamar, baru Kak Luthfi datang teriak-teriak. Saya heran dan bangkit dari kasur dan saat itu dia cari Mamanya dan saya bilang ada didalam dapur. Terus dia juga bilang mau kenalin ceweknya ke Mama. ‘Ma...ini calon mantu untuk Mama.’ Saya tertawa dengarnya. Geli sih sebenarnya, tapi..”
Ah, belum juga selesai mendengarkan dengan cepat Alvin mendapati kode lewat siswi bernama Anisa.
“Oh..sorry, ada yang cemburu.” Alvin melanjutkan dengan santai.
Spontan dan tersadar dari lamunan, “ah..apa sih? Tidak kok.” Menimpali dengan wajah bersemu, salting. “Lagian, saya tidak ada apa-apa kok dengan dia.” Imbuh Rara.
__ADS_1
Tunggu, ada satu hal yang mengganggu, “kakak-ku itu.” Alvin bersuara sangat santai. []