Sepotong Nada Yang Hilang

Sepotong Nada Yang Hilang
Curhat Lewat Musikalisasi (Versi Formal)


__ADS_3

“Simfoni sangat manis, biarkan nada itu mengiramakan kidung lewat musikalisasi menjelma imajinasi mendekap sebuah sepotong nada yang diinginkan Rara.”


♡♡♡


Masih terekam jelas mengenai Luthfi yang mengenalkan kekasih sebagai calon mantu ke ibunda.


“Ah, saya dengan Luthfi hanya temanan kok, Bu.” Sanggah Rara dengan cepat.


“Kakak-ku itu..” Alvin berseru santai, saat terusik dengan nama yang masih terus disebut-sebut kedua siswi, Anisa dan Nurul.


Melongo, “eh? Luthfi kakakmu kah, Dek?” Rara masih belum percaya.


“Iya, Kak Luthfi, kakak-ku.” Alvin mengulanginya lagi.


Sempat juga Rara mendengar dari salah satu siswi, kalau Alvin sangat penasaran dengan isi buku Kenangan Putih Abu-Abu yang katanya ada kisah percintaan sang kakak dengan Rara.


“Mana..mana, coba saya lihat,” kata Alvin dengan penasaran membuka-buka halaman buku tersebut.


Dengan cepat menyanggah, “ah..siapa bilang lagi kalau buku Kenangan Putih Abu-Ab****u-nya kakak ada kisah cinta kakak dengan Luthfi. Tidak ada itu, Dek. Bukan Luthfi tapi ada mantan kakak, satu jurusan dengan kakak.”


“Oh, soalnya Nisa yang bilang jadi kak.” Nurul menimpali sangat santai, tapi cukup buat dia melongo heran.


Mengingat percakapan kemarin sepulang dari sekolah, cukup buat Rara tertawa.


“Bagaimana? Sudah mantap toh buat rencana kita?” Kata Adinda dengan semangat.


“Apa kabar Rai?” Kok mendadak gadis itu menanyakan keberadaan si doi sahabatnya?


Tertawa sangat ceria dan tersipu sangat malu, “tra usah tanya, karena dia masih sibuk dengan kesibukannya di sana.” Adinda menimpali sangat santai.


Lagian tidak mungkin juga kalau Rai ingat saya, Adinda pun langsung bergetir.


Melihat ekspresi yang sudah berubah, dengan cepat mengalihkan topik agar tidak ada sebuah nada-nada nestapa diantara mereka.


Cukup Rara saja merasakan ringkih itu setelah mengetahui kebenaran tentang Luthfi ingin mengajak nafsi ke taaruf, tapi memilih pamit sambil memamerkan kemesraan di sosial media, yang jelas sudah dilihat sangat perih oleh gadis itu.


Setelah mencorat-coret di atas kertas, tersenyum sangat lebar.


Fix bakal mengadakan beberapa hari mendatang, sudah menyebarkan brouser online juga offline di beberapa sekolah, baik SMP dan SMK sederajat.


“Saya kurang yakin eh? Kalau nanti bisa bicara fasih seperti ini ke kalian, takutnya mendadak kaku saya-nya.” Kata Rara sangat insecure.


“Sudah kah, tidak usah patah semangat sebelum mencoba. Lagian kan, kita sama-sama membantu dan diberikan jadwal berbeda-beda jadi mc kok.” Vero menimpali sambil mengirimkan kekuatan dan keyakinan.


Terdengar ******* sangat panjang berasal dari Adinda, sambil melirik ke layar benda pipih itu, tanpa disadari ada satu garis membentuk senyum manis diwajah perempuan tersebut.


Diam-diam Rara melirik sambil tersenyum tipis.


Pasti sahabatnya itu sedang mendapati kabar dari orang terkasih, tidak seperti dia telah melihat sepotong nada yang hilang.


“Uhuk..uhuk!” Rara pura-pura batuk, begitu mendengar sangat menggoda, perempuan itu pun berbalik sambil menggelitik perut sahabatnya dengan gemas.


“Kenapa sih? Tidak usah goda dengan begitu sudah.” Mendadak kedua pipi Adinda bersemu merah.


Vero yang masih belum ngeh, melongo sambil menganga memerhatikan tingkah kedua sahabatnya.


“Kalian kenapa nih? Mengganggu konsentrasiku saja.” Ketus Vero dengan wajah keki.

__ADS_1


Saat ini memang mereka sedang menunggu pesanan, karena perut dari siang belum diisi asupan.


Duduk disudut sebuah kafe baru swis dengan sebuah perpustakaan buku minimalis, semakin buat Rara beta berlama-lama nangkring bersama sahabat-sahabatnya. Kalau ada Avisa, mungkin sudah setiap hari mampir ke kafe itu.


Tidak tahu kenapa kalau membahas sebuah buku-buku berjejer sangat hangat, menjadikan hal ketakrestuan terbentang oleh keluarga?


Memang Rara tidak memiliki sebuah keistimewaan selain bermain dengan sebuah


destinasi aksara, walau masih saja absrut. Masih terus berusaha jadikan lebih bermutu.


Saat kedua sahabat masih sibuk diskusi, Rara asik sendiri dengan sebuah coretan di notes HP, tidak tahu menuliskan sebuah hal apa.


Melihat Adinda yang menuju toilet meninggalkan HP, dengan cepat buka layar kunci itu dan mendownload aplikasi.


Rara pun terkekik sendiri, “kamu kenapa tertawa sendiri begitu? Bikin saya takut saja.” Vero bersuara, buat dia terkejut.


“Ah, tidak ada, just for fun.” Sambil menyimpan kembali HP itu dan menunggu sahabatnya kembali ke meja makan.


                              ♡♡♡


Bazar sekalian, dengan kardus lumayan banyak. Rara hanya memiliki karya Kenangan Putih Abu-Abu dan Silent Love, sedangkan sahabat satunya terbilang cukup banyak.


Dalam perjalanan ke lokasi, mereka bercanda ringan. Dulu tidak bisa seperti ini, kumpul sangat lengkap.


Karena Adinda semasa sekolah bukan di smk ypkp melainkan smansa. Makanya jarang nongol atau makan siang kala jam istirahat, karena smansa sangat terbilang banyak tugas pun PR.


Setelah lulus pun perempuan itu mengambil kuliah di stimik jayapura, semakin mengurangi perkumpulan lengkap dengan sahabat.


Mendesah sangat syukur semester ini Adinda balik ke Sentani, meninggalkan kost untuk beberapa minggu. Karena sudah dipanggil pulang juga sih oleh orangtuanya, liburan juga mau buat apa di kost?


“Ra, kamu kenapa sih? Dari tadi dalam mobil tekuk wajah jelek seperti itu?” Kesal Adinda, saat melihat kepergian Vero mengatur tempat peserta juga meja minimalis buat panitia duduk.


Yang disanggah oleh sahabatnya itu, “tidak usah tutupi apa yang sedang kamu pikirkan, bukan itu yang kamu rasa. Saya tahu ini pasti..ada kaitannya dengan Kak Luthfi?” Mendengar hal itu semakin buat Rara tersenyum sangat getir.


“Tuh toh, sudah dibilang juga! Tidak usah tutupi hal itu dari saya sudah, Ra! Cerita, kenapa lagi dengan kakak itu?” Adinda mendesak buat sahabatnya bercerita.


“Coba deh kamu bayangkan sudah di kasih rasa nyaman trus sudah begitu tidak ada kepastian dari hubungannya kalian. Eh? Tiba-tiba ngilang dengan pamer pacar baru sudah begitu pengen di halalkan.” Kata Rara lirih.


“Trus..hubungannya sama kamu apa?” Adinda menimpali sangat malas.


“Jih? Coba kamu bayangkan dapat undangan dari orang yang masih kamu sayang? Yang dulu


pengen ajak kamu taaruf, tiba-tiba hilang dan ajak perempuan lain menikah, sudah begitu dikasih kenalkan ke mama sebagai calon mantu, pikir tidak sakit hati kah?!” Loh, kok tiba-tiba Rara menaikan nada itu sih?


Buru-buru Adinda langsung membekap mulut itu, “sst..jangan ribut, nanti Vero marah lagi, kita bicara orang yang sudah bikin kamu sakit hati.”


Rara pun mencak-mencak kesal, “lagian kenapa kah kamu tidak mengerti, kalau saya masih sayang dia?!” Penuh getir.


“Ra, ku kasih tahu eh, kalau memang Kak Luthfi jodohmu, suatu saat nanti dia bakal datang dengan sendirinya. Santai saja, paling calon mantu buat mamanya, hanya bercanda doang.” Kata Adinda menenangkan.


Adinda memutuskan buat segera turun membantu perempuan itu yang masih sibuk mengatur meja-meja.


“Sori, lama..biasa lagi sibuk nyusun buku mana yang bakal di tata diatas meja.” Ucap Adinda sambil nyengir. Menutupi rasa curiga juga sih lebih tepatnya.


Vero hanya mengangguk paham.


Setelah beberapa jam kemudian, tampak kedatangan peserta lumayan banyak diluar perkiraan mereka. Menghelakan napas sangat lega.

__ADS_1


Rara duduk menjaga bazar buku mereka, saat acara sedang berlangsung sesekali melirik ke arah Adinda yang sangat antusias pun fasih dalam berbicara sebagai mc.


“Kak..buku ini berapa?” Tanya salah satu peserta.


“Yang ini?” Kata Rara mengulangi.


Peserta tersebut mengangguk cepat dan memberikan senyum. Lalu bergabung dengan


yang lain sembari menyimak materi pertama. Berjalan tanpa hambatan, sesekali Adinda melempar pertanyaan, sangat antusias diterima oleh peserta.


Tiga jam berlalu begitu cepat, mereka bertiga pulang sambil membereskan barang-barang serta buku-buku ke dalam kardus. Setelah sudah masuk ke dalam mobil, “kak..boleh minta nomor pribadinya? Kapan-kapan saya mau ngajak kakak ketemu dengan teman-teman saya yang juga suka sekali buat tulisan.” Kata salah satu peserta,


ternyata masih belum semua pulang.


“Oh? Nomor kakak kah dek?” Kata Adinda bingung.


“Maaf, Dek, kalau mau minta nomor pribadi tidak boleh, karena mengganggu kesibukan Kak Adindanya nanti.” Mendadak Rara menolak dengan halus.


Terlihat peserta itu cemberut, “sudah..sudah, tidak apa-apa, insyaallah saya bisa bagi waktu kok.” Adinda menengahi lalu memberikan nomor HP di secarik kertas setelah itu menyodorkan ke peserta tersebut.


Melompat sumringah, “eh..maaf kak, kelewat senang. Kalau begitu, saya pamit dulu yah kak, makasih sudah kasih nomor trus buat kelas literasi ini.”


“Nama kamu siapa, Dek?” Kata Adinda lembut.


“Saya kak? Nama saya Noni, kak.”


Adinda mengangguk lalu mengohkan setelah itu masuk ke dalam mobil dan melihat beberapa peserta yang lain ikut pulang, melihat kedatangan Noni ke arah parkiran.


Oh, teman-temannya toh? Pikir Adinda santai.


Dalam mobil mereka mengusulkan buat makan di kfc sempat di kena protes oleh Vero dan menginfokan buat putar modal usaha mereka saja tanpa harus menghumbar-hambur duit tersebut ke tempat mahal.


“Ih..kapan lagi kah kita makan enak dari hasil sendiri?!” Ketus Rara.


“Haih..iya sudah, ayo..dari senangmu saja sudah.” Vero pun mengalah.


Sampai di sana tiba-tiba saja ada sebuah ide yang barusan muncul juga tentang aplikasi sudah di download Rara. Setelah melihat kedua sahabat pergi lebih dulu ke wastafel mencuci tangan.


“Haha..” Tidak tahu kenapa perutnya sangat geli sekali.


Selang beberapa menit kemudian mereka balik, kedua perempuan itu masih belum merasakan keanehan ekspresi yang ditampakkan oleh Rara.


Saat mendapati notifikasi sangat mengusik Adinda.


“RARA!” Pekik Adinda sangat emosi.


“Bhuahaha!” Spontan tawa itu pecah sambil memegang perutnya yang terasa sakit.


“Kamu nih, ih! Kebiasaan sekali kah bajak orang punya akun! Kalau Rai tanya gimana? Saya mau jawab apa nanti?!” Cerocos Adinda yang masih tak terima.


“Apa kah yang kalian ributkan, hah?” Vero bingung sendiri, lalu perempuan itu menunjukkan caption serta screenshoot yang ada.


Vero juga ikut ketawa. Semakin buat perempuan itu mendelik sebal.



“Kamu curhat lewat musikalisasi kah, Ra?” Kata Vero yang masih belum bisa menghentikan tawanya.

__ADS_1


Mengangguk sangat santai.


“Soalnya kan aplikasi itu bagus buat dijadikan musikalisasi, trus..Dinda kan punya HP baru. Yaudah saya pakai buat tes percobaan, ternyata hasilnya lumayan bagus dari suara insecureku mendadak jadi sempurna gitu.” Rara berterus terang dengan nada yang dibuat-buat semakin menjadikan rasa emosi meninggi dari Adinda. []


__ADS_2