Sepotong Nada Yang Hilang

Sepotong Nada Yang Hilang
42. Potongan Nada yang Hilang


__ADS_3

“Rara menyadari bahwa hal manis akan berakhir tragis. Juga mengetahui kalau tidak bisa lagi menggenggam sebuah sepotong nada yang pergi bersama romansa lain.”


♡♡♡


HARI ini mereka terlihat ramai dalam mobil, dan kompak tidak seperti biasa, harus menunggu kepulangan Avisa dulu biar komplit.


“Yakin nih, torang tunggu saja dalam mobil?” Vero menyuarakan, karena sudah sejak setengah jam berlalu belum juga turun ngantri di BAAK.


“Hm, tunggu yang lain su pada selesai trus sepi begitu kah, baru ke sana.” Rara menimpali sangat santai.


“Keburu mati kelaparan kalau lama-lama disini, kenapa tra sekalian trobos saja kah?” Vero mencak tidak jelas.


Rara hanya melihat dengan wajah lelah, “kalau ada kakting di sana, bisa-bisa dapat cibir depan adikting. Sa paling tra suka sekali sama sa kakting songong.”


Terlalu memprioritaskan sebuah senioritas menjadikan diri pongah depan adik tingkat. Merasa harus di hormati, paling tinggi dalam mendapati anggukan sopan dari mereka.


“Jih, apa urusannya coba? Dorang siapa jadi, mo balarang torang trobos antrean?!” Avisa berseru kesal.


“Lagian eh, Ra, mereka tra bayar ko pu spp mo, kenapa takut sama dorang? Sama-sama makan nasi mo, kalau sa lihat de makan batu pake daun kelor mentah-mentah, itu baru sa takuti dorang. Manusia biasa saja, belagu sampe ke ubun-ubun.” Kali ini Vero yang menimpali, sangat keki.


Mengacak-acak jilbab frustasi, sedangkan Adinda tertawa geli mendengar penuturan kedua sahabatnya itu.


“Baemana, Ra? Mo turun atau tunggu dulu di dalam?” Adinda kali ini yang buka suara.


“Eng..turun su, kalau begitu ko sudah yang temani sa ambil KRSM.” Rara pun fix-kan kalau perempuan itu yang menemani.


Tahu, kalau Avisa yang menggandeng jemari penuh luka telah mengetahui bakal ada deret paling merah di KRSM, spontan dicibir sampai diungkit-ungkit.


“Ko kenapa diam saja?” Adinda membuyarkan lamunan gadis itu.


“Eh, trada kok. Lama juga ternyata eh antreannya. Kenapa tadi tra trobos saja?” Rara menimpali dengan tawa getir.


Paling mengerti juga tahu cara membangkitkan diri dari kegagalan cita.


“Sa tahu ko lagi sedih pikir nilaimu.” Adinda berkata sangat hati-hati.


“Hehe, ketahuan juga.” Tertawa sangat hambar.


“Ada yang susah? Bilang saja ke sa, siapa tahu semester berikutnya bisa di ubah begitu? Em..seperti cara belajarmu yang mungkin salah. Insyaallah sa bakal bantu ajarkan.”


Rara memerhatikan ke arah mobil, berharap kedua sahabat itu tidak mendadak muncul kala bercerita serius ke perempuan yang sedang berada di sampingnya ini.


Dengan mantap menceritakan semua kendala selama ini dirasa pun tertumpuk sendiri di kepala.


“Maaf..kalau tra sempat bilang ke kam, takut jadi beban. Apalagi ko yang su mau penelitian.”


Rara acungkan jempol untuk sahabat yang satu ini, sedikit lagi menyelesaikan studi S1 di STIMIK. Memang karena otak terbilang cerdas melampaui Avisa.


Yah mau dibilang 3,5 tahun Adinda bakal one the way mengenakan toga serta baju wisuda dengan tawa-tawa haru berasal dari orangtua yang telah mendidik sempurna digolongan akademik.


Berbanding terbalik dengan nafsi selalu terpatahkan mental cita oleh orang sekitar, keluarga sangat tak merestui kuliah.


“Kenapa tra bilang sih? Kalau tahu begitu, sa yang kerjakan saja, daripada nanti semester depan ngulang. Bukannya ko belum turun KP toh, Ra?” Adinda gemas sendiri.


Menggeleng, “kam su baik antar ke sini ambil formulir cukup buat sa senang kok.”


Menjerit dalam batin, mengetahui semester nanti memotret kesibukan teman seangkatan pada turun KKN, sedangkan diri? Belum turun Kerja Praktek di lapangan karena nilai sks belum mencukupi persyaratan.


“Jan bilang ini semua karna ko pu keluarga?” Sergah Adinda sebelum dia menceritakannya.


Mengangguk pelan, sudah menjadi jawaban Rara, “ko enak, Din, dapat dukungan dari orangtua yang jadikan ko bisa lulus tiga setengah tahun. Lah, sa apa coba? Jangankan berandai lulus tepat waktu, kalau orang rumah saja selalu patahkan sa mental cita. Sakit sih.” Bergetir sangat lirih.


Adinda mengusap-usap belakang sahabatnya, mengirimkan kekuatan mental cita terlanjur hinggap dalam dada yang rumit terkelupas begitu saja.


“La tahzan, innalaha ma’ana, karena gagal sekali belum tentu menjadikan kita kalah. Tapi..Allah mau kita belajar bangkit dari kegagalan itu dengan cara? Sholat dan terus berdoa ke Dia.” Menularkan semangat ke sahabat sendiri.


“Hm, insyaallah. Be the way, thanks eh? Kalau dapat-dapat Avisa nih, mungkin su dari tadi banding-bandingkan kuliahnya sebagai kebidanan. Makanya sa lebih baik gandeng ko dibanding Avisa atau Vero yang kerjanya ngomel dan protes.” Urai Rara begitu tulus.


“Yah..namanya persahabatan ada baik dan buruknya sikap orang, tergantung bagaimana kita mengimbangi kedua itu. Sa juga banyak kekurangannya kok, okay?! Jan sedih lagi.”

__ADS_1


Durasi percakapan mereka terlalu panjang, hingga tak menyadari antrean itu berkurang.


Usai mengambil nilai, benar dugaan Rara. Ada jilatan merah berbaris di sana, dua mata kuliah ganjil.


“Sudah..sudah, tra usah sedih. Kan, masih ada waktu untuk ubah erormu? Sekarang bagaimana kalau kita kembali ke mobil? Takut mereka berdua ngamuk lagi, karna kelaparan.” Kata Adinda.


Mengangguk sebagai jawaban.


Syukur mereka berdua tidak bertanya lebih detail mengenai nilai yang terambil tadi di BAAK. Apa efek kelaparan kah?


 


♡♡♡


Tak terbayang mengenai potongan nada yang hilang sudah hampir menuju kursi plaminan.


Apakah kedua orang itu sudah mempersiapkan bagaimana motif undangan yang bakal disebarluaskan ke teman-teman termasuk Rara?


Masih terekam jelas di benak mengenai calon mantu untuk mama diceritakan begitu geli oleh adik sepupu Luthfi sendiri, saat main-main ke rumah.


Kok ada senyum-senyum getir tercetak di sana? “Ra..su siap kah belum?!” Teriak Vero dibalik pintu kamar.


Mereka sudah pada datang, tinggal menyiapkan mental saja ketika datang ke sidang skripsi sahabat terkasih di STIMIK, yang sebentar lagi menyandang gelar komputer di belakang nama.


“Bentar..bentar, sa lagi pake jilbab nih.”


Oh yah, bukannya waktu sebelum balik ke rumah masing-masing Adinda bercerita kalau cowok bandung itu bakal datang ke sidang skripsi?


Terkesan bruntung sekali perempuan terbalut sahabat Rara tersebut, memiliki apa yang menjadi keinginan nafsi.


“Lama sampe..ko dandan kah, sa kaki pegal nih tunggu depan pintu kamarmu!” Ketus Vero.


Hanya menyengir tanpa bersalah.


“Cus..berarti sebelum Dinda keluar ujian, tong tanya Avisa ada mata kuliah kah ndak?” Kata Rara dengan ekspresi bengong.


“Oh betul juga eh, anak itu lagi paling susah kah terima panggilan, kalau su sibuk deng kuliahnya di sana.”


Mengetahui tidak ada tentengan sama sekali, akibat terlalu larut dalam nostalgia bertamu lewat sepotong nada yang hilang itu, tak sengaja mampir lewat beranda instagram.


“Aduh, itu lagi eh. Kenapa torang pelupa begini, su tahu ada hari penting baru. Trus, ko


tahu kah tra penjual buket bunga yang dekat-dekat kampusnya Dinda?”


Rara berpikir sejenak, “kalau tra salah ingat, dekat pom bensin ke depan-depan lagi dipadang bulan, waena ada deh?”


Ok. Mereka pun bergegas naik motor ke sana untuk mencari buket sebelum mampir ke STIMIK.


Memakan waktu dua jam untuk bisa sampai di STIMIK, karena lama di penjual bunga. Berdebat dalam toko untuk di bawa ke kasir.


Sekarang, mereka sudah tiba di parkiran kampus lalu masuk dengan langkah tergopoh-gopoh. Ini sudah waktunya Adinda masuk ujian.


Dan, mereka terlambat lima belas menit.


“Kalian baru sampai? Kok lama?” Rai menyambut kedatangan mereka berdua.


Ternyata benar, cowok itu menepati janji kala sebelum berangkat ke jepang.


“Iyo nih, tadi kita lama di toko bunga.” Vero yang menimpali.


“Bentar, ko tra bawakan Dinda buket? Nanti kalau de keluar dari ruang ujian, de ngamuk tuh.” Rara berceletuh.


Menggeleng sangat santai.


“Cukup kasih ini saja, pasti dia senang kok.” Sambil menunjukkan flash disk yang di


pegang.


“Emang isinya apa jadi? Ko yakin Dinda senang di kasih flash disk?” Kok Rara semakin kepo sih?

__ADS_1


Kalau Vero di posisi cowok bandung itu, mungkin sudah dari tadi kena damprat dan ngomel tanpa jeda. Berbanding terbalik dong, tersenyum manis menanggapi jawaban sahabat Adinda tersebut.


Derit di balik pintu yang bersamaan terbuka, cukup buat mereka ngobrol asyik pun menoleh, “bagaimana susah kah gampang?! Ada revisi berapa banyak, trus..trus dosji bilang apa saja di dalam?!” Seru Vero bertubi-tubi berikan pertanyaan.


Cukup buat Adinda menggeleng sangat malas.


“Kalau revisi, alhamdulillah banyak. Tapi su di acc kok, tinggal perbaiki trus kasih ke dosbim, sudah deh tinggal tunggu persetujuan trus cover lux saja.”


Rai mendengar hal itu, hanya tersenyum tipis.


Mereka sambil ngobrol juga dengan Avisa pun mengambil foto, berbeda dalam bingkai tersebut adalah Avisa berada di layar HP karena tidak bisa ke STIMIK.


“Selamat! Cie..sudah dapat gelar tambahan. Doakan sa juga eh disini semoga nyusul segera mungkin. Pen cari uang sendiri juga, kasihan orang tuaku banting tulang biayai sa kuliah.” Lah, kok Avisa jadi curhat?


“Insyallah, secepat mungkin di mudahkan sama Allah urusanmu di sana, tetap jaga sholat dan ngaji. Ingat juga tuh, jan sering telat-telat makan, kalau ko sakit sa tra bisa rawat karna ko jauh dari kita.” Jawab Adinda.


“Eh, be the way, sori tra bisa kasih secara langsung buketnya. Trapp toh lewat


prantara mereka berdua?” Avisa berucap merasa bersalah.


Menggeleng, “tra masalah kok, cukup lihat ko muka di vidio call gini pas sa keluar ujian saja sa senang.”


“Din, boleh kasih nyala laptopmu?” Kata Rai, usai vidio call-an dengan Avisa.


Mengernyit dong, “eng..itu, sa ada sesuatu untuk ko. Bisa di lihat lewat laptop jadi.” Rai menyengir.


Oh, dengan cepat mengeluarkan laptop dari ransel.


“Memangnya apa sih yang ko mau kasih lihat ke sa? Mencurigakan sekali.” Adinda memicingkan mata, seperti kesan mengancam cukup buat cowok bandung itu terkekeh geli sendiri.


Sambil melirik ke mereka berdua, “trapp kah kalau sa sahabat ikut lihat?” Imbuh perempuan itu.


Mengangguk dan tersenyum merekah.


Yang ternyata isi vidio adalah will you marry me Adinda? Dihiasi dengan beberapa animasi di buat sendiri oleh Rai.


Uh, sweet sekali. Tak mengelak kalau saat ini Adinda terharu campur bahagia.


“Serius ko lamar sa nih, Rai?! Trus..bagaimana dengan pekerjaannya ademu di jepang?” Adinda masih belum percaya hal indah ini.


Ternyata .. Selama berkemas lewat aksara dalam mencintai cowok itu, diam-diam menyimpan rasa juga.


Rasa terbalaskan. Sekarang ingin menjadi teman hidup.


“Sejak kapan kamu lihat saya bercanda, Din?” Di sahuti dengan santai penuh penegasan dong dari Rai.


“Thanks, tapi..” Kata-kata itu menggantung, “masih ragu dengan keseriusanku?” Diteruskan dengan cepat oleh Rai.


Menggeleng, “bukannya orangtuamu tra suka kalau ko nikah sama perempuan yang bukan satu suku dengan ko?” Ini yang menjadi penghalang Adinda menjawab apa isi vidio di produksi Rai itu.


Kali ini giliran Rai terdiam. Kembali menyerapi kata-kata perempuan yang sudah dilamar dengan serius.


“Kalau soal itu, biar saya pikirkan untuk membujuk mereka terima kamu sebagai menantunya.”


Terdengar gampang tapi sangat susah dijalani.


Disisi lain, ada ruas terdengar patah berasal dari Rara.


Seperti menggambarkan kedua orang itu Luthfi dan Novi yang akan melangsungkan pernikahan dengan cara melamar lewat potongan nada yang memang terlanjur hilang.


Meringis. Lalu permisi dari mereka yang sedang merayakan kebahagiaan.


“Ko kenapa, Ra?” Vero yang tumben peka dengan isi hati gadis itu, hanya tertawa hambar.


“Sa seperti lihat sepotong nada yang hilang lamar Novi.” Getir Rara.


Vero ingin menyeruakkan amarah, tapi bukan waktu tepat saat melihat sahabat terjeruji oleh memoar yang memang bukan lagi milik hati.


Hanya memberi motivasi terbaik yang di punya, walau tak sehebat Adinda dan Avisa dalam memberikan semangat. Setidaknya bisa membantu luka itu beranjak. []

__ADS_1


..."Kita pernah menggoreskan kisah yang abu-abu, berharap ada kepastian menyapa. Namun, tetap saja pada akhirnya, takdir menggariskan kita untuk berjalan masing-masing. Kau dengan dia yang diidamkan, sementara aku dengan kamu yang tak tergapai."...


...-Cinderella Sarif, pada kutipan buku Orion-...


__ADS_2