
“Memang tak lagi dirajut sebagai asa, karena benda berharga sudah lebih beranjak semakin buat dada mendesak.”
♡♡♡
Berdecak sangat kesal, saat memungut hari dengan nestapa datang tanpa bersalah sama sekali.
Sempat juga melayangkan sebuah protes ke mana sejak bercerita tentang penyakit itu di bawah bukit telettubis, hanya membalas dengan tawa khas cukup buat telinga Rara berdengung marah.
Mempermainkan sebuah rasa dan terlanjur nyaman sampai tidak sadar terkulai seorang diri memeluk nestapa. Apa dengan melukai Rara, mampu buat cowok itu keren?
Lagian, kenapa sih gadis itu tidak dengan tegas melantangkan protes, sudah dipermainkan seperti layang-layang, masih saja dengan senang hati membuka hati untuk mengindahkan ajakan itu ke kampus bareng.
Oh, ke kampus sama-sama lagi? Setelah memungut beberapa hari ini dengan galau, kenapa Rara masih belum juga sadar, kalau cowok itu sekedar menjadikan kesenangan sebelum benar-benar taaruf dengan pilihannya sendiri.
“Ra..ada temanmu di bawah.” Teriak art, tanpa dikasih tahu pun Rara cukup mendengar dengan jelas deru mesin motor tersebut.
Apa benar kita bakal berakhir? Setelah saya tahu kamu bakal taaruf dengan cewek lain? Getir Rara, sambil melihat pantulan wajah di depan cermin.
Ah, lebih baik bergegas ke kampus, mau taaruf dengan cewek lain itu bukan hak sepenuhnya Rara dalam melarang ia dekat dengan orang lain.
Kalau saja sahabat di padang tahu hubungan mereka sekedar permainan, sudah dipastikan kena semprot dan menyuruh Rara berhenti berharap lebih ke cowok itu yang terlanjur dijadikan sebuah sepotong nada.
Berdecak.
Melihat wajah yang sangat santai dan ceria itu, kembali terngiang dengan cerita tentang
penyakit terbilang menghalangi aktifitas Luthfi.
Kalau Rara di posisi tersebut, sudah dipastikan bakal setiap hari mengeluh kalau mendera sakit saat kambuh penyakit itu kalau tidak rutin olahraga.
“Siapa punya motor lagi kamu bawa?” Rara melongo, heran.
Kata siapa bangga dijemput dengan motor keren seperti Kawasaki, Byson atau lebih keren lagi di banding dua motor itu? Bagi Rara itu sangat risi karena bakal menjadi pusat perhatian orang yang berlalu-lalang terlebih tidak terlalu nyaman duduk diatas motor besar.
“Adeku, soalnya tadi motorku lagi rusak. Jadi, saya pakai motornya.” Menjawab dengan sangat santai.
“Lain kali pakai motor yang lebih nyaman kek.” Rara langsung mencibir, tidak peduli motor itu keren bagaimana pun kalau risi yah tetap tidak bakal memuji atau lompat jingkrak.
Karena memang dari sana Rara hanya ingin sebuah kesederhanaan bukan riya ke manusia.
“Haha..soalnya motorku kebetulan rusak jadi.” Apa salah kalau Rara susah move on dari sebuah tawa khas cowok itu?
Tapi kenapa Luthfi masih belum juga peka dengan gerak-gerik gadis itu? Apa memang benar yak, kalau Luthfi tidak menyukai sama sekali.
Hm. Berarti hanya sebagai kakak-adik tidak lebih dari itu.
Ah, benar juga tadi sebelum naik ke motor, Rara mendengar kicauan yang sangat mengagetkan, “aduh..stop sudah. Saya nih ngantuk sekali eh, bangun sholat shubuh.” Dengan keluhan.
Fix. Selama ini ibadah yang diperlihatkan ke Rara hanya secuil dari riya, kan? Yang lama kelamaan membukit ingin di puji.
Tadi Rara hanya bercanda, “lain kali tuh, coba jemput jam enam pagi kek.” Sambil tertawa pelan.
Tak disangka cowok itu benar-benar ingin sekali melihatkan ibadah yang bukan karena Tuhan yang telah menciptakannya melainkan ke orang disukai.
“Nanti kalau sudah mau pulang, langsung telfon, biar saya jemput.” Kata Luthfi yang dibalas anggukan kecil dari Rara.
Sempat melihat satu alis terangkat, bingung dengan sikap gadis itu.
Oh? Heran kah kenapa dia bisa berubah tidak banyak bicara sebelum balik ke kampus?
Jangan salahkan Rara, kalau bukan nafsi itu yang menyebabkan dia berubah.
Saat masuk dalam kelas, seperti biasa mereka tidak terlalu memedulikan kehadiran gadis itu, seperti orang asing yang tidak perlu diajak ngobrol. Hm, begitu yang ditafsir oleh Rara.
Beberapa jam kemudian, kuliah yang sangat padat sudah selesai, tinggal menunggu Luthfi datang jemput.
Syukur, masih ada beberapa kakting yang di kampus, duduk bersama sambil mendengar cerita santai yang dibawakan mereka. Tak sadar Rara tertawa sangat renyah. Tiba-tiba saja HP itu bergetar, semakin buat dia segera balik ke rumah dengan bertemu pulau kapuk, karena cukup lelah seharian di kampus tanam pantat.
“Ra..di mana? Saya sudah sampai nih.”
__ADS_1
“Oh, tunggu sudah,” menjeda sambil menjauhkan benda pipih itu dan melirik ke arah kakting yang masih serius cerita, “guys..saya balik duluan eh?! Jemputanku sudah datang jadi.” Rara pamit dengan perasaan sumringah.
“Cie..siapa yang jemput, Ra?” Ini suara Yesil, kakting.
Rara membalas dengan senyum saja lalu melambaikan tangan dan menuju ke parkiran.
“Sori, tunggu saya lama kah?” Cengengesan sambil siap-siap naik ke motor.
“Tidak ada. Naik sudah.”
Saat melihat sesuatu yang menarik perhatian Rara, “wih..pulpen dari mana nih, noge? Buat saya eh?!” Tanpa persetujuan si pemilik, dengan cepat mengambil dari kantong air minum ransel Luthfi.
Menggeleng dengan pelan dan tertawa kecil, “ambil sudah, pulpen itu hadiah dari hotel grand alison.” Luthfi menginfokan.
Hua..Rara lompat girang dalam batin, menjadikan pulpen itu sebagai benda berharga yang bakal disimpan dengan baik-baik.
♡♡♡
Sejak mendapati sebuah benda berharga milik Luthfi, sifat itu semakin menjelma hangat dan selalu antar-jemput, yang mengejutkan gadis itu adalah tidak meminta sebuah uang bensin buat patungan beli.
Hm, mendesah syukur. Rara tebak, cowok itu sudah bisa beli karena hasil dari guru karateka di SD IT.
Daripada menggantungkan sebuah harapan di sekolah lama mereka yang tidak menghasilkan apa-apa, lebih baik Luthfi fokus dan tetap menjadi guru karateka di sana, setidaknya bisa beli HP baru dari hasil sendiri, bukan?
Tersenyum sangat bangga, melihat anak muda yang mau berusaha tanpa harus minta uang jajan lagi di orangtua.
Dan, Rara sih pengen seperti itu juga. Sayang selalu saja dihalangi oleh orang rumah.
Salahkah kalau ingin pegang uang hasil jerih payah sendiri? Giliran lihat dia minta uang jajan banyak, kena omelan karena tidak berusaha buat cari pekerjaan sampingan.
“Ra..” Panggil Luthfi tapi dengan nada menggantung, semakin buat pemilik nama
melongo dibelakang.
“Ah..tidak jadi, oh iya kalau kamu sudah pulang, info eh?”
Hm, pasti ada sesuatu yang ingin disampaikan tapi ditarik kembali sama Luthfi. Ih..semakin buat dia penasaran hebat kan.
dulu datang. Duduk disamping teman seangkatan sambil menyapa, “Ra..tugas yang minggu lalu kamu bawa toh?” Ika mengingatkan.
“Bawa kok, kenapa jadi?” Rara justru membalas dengan wajah bengong.
“Tidak ada, hanya ingatkan saja, soalnya kamu pelupa jadi.” Sambil cengir pelan.
Memang hari ini hanya mendapati sebuah tugas kecil, matkul agama. Tugas terbilang disukai oleh Rara.
Tunggu sebentar, kok dengar dosen menjelaskan di depan mendadak Luthfi mengusik konsentrasi gadis itu sih?
Klw km tdk ada, saya tdk pnya tmn buat diajak ngobrol.
Sungguh, benar-benar dah cowok itu ada saja yang bisa buat pipi Rara merona merah,
tersipu sendiri dalam ruangan.
Lalu dengan menghalau rasa sipu di wajah, mengatakan kalau teman Luthfi banyak pastikan punya bahan untuk ngobrol agar tidak suntuk saat di dalam ruangan?
Krn km orgnya asik diajak ngobrol.
Ah, tidak..tidak. Masa sih ingin izin hanya karena ingin ikut Luthfi dengan teman-temannya karoke? Lebih baik prioritaskan kuliah saja deh.
Aih, kayaknya tidak bisa deh? Soalnya sya masih ikut kelas, baru saja masuk.
Luthfi membalas dengan loyo tidak bisa memotret moment bersama gadis itu. Hanya tersenyum tipis lalu menolak ajakan teman-temannya.
Sebelum pulang kampus, dosen meminta buat maju ke depan untuk baca surah quran yang bakal dipilih.
Setelah giliran Rara, dengan gugup maju ke depan. Mungkin..ada lima menit atau lebih duduk mengaji dengan melagu. Disambut penasaran dong sama teman seangkatan dan mengatakan kalau dosen memuji bacaannya.
“Bagus dong, kalau saya tidak bisa seperti kamu, trus hanya satu ayat saja saya baca.”
__ADS_1
“Haha..sudah, tidak usah berkecil hati. Saya juga masih belajar kok.” Yah, memang seperti itu, saya belum fasih lantunkan ayat suci dengan suara merdu menggunakan nada indah. Imbuh Rara dalam batin.
Satu minggu kemudian, bertemu lagi dengan mata kuliah agama. Dengan wajah sumringah tidak sabar mengumpulkan tugas itu. Tiba-tiba saja Ika menanyakan tugas dengan intonasi mencurigakan.
Hm, Rara mengendus sesuatu yang tidak ingin dibagikan oleh teman seangkatannya itu. Ingin mengorek, lebih baik tidak perlu karena itu mungkin privasi sensitif kali.
Setelah dosen masuk, Ika berbisik sangat lirih dengan cepat Rara mentitah teman seangkatan menyalin beberapa tugas yang ada. Walau sedikit, seenggaknya bisakumpul.
“Kenala kamu tidak pergi ke masjid?” Rara berbisik sangat panik.
Melihat ekspresi sangat nyeri itu tidak mampu buat dia bertanya lebih, hanya mendengus panjang sambil menunggu Ika selesai menyalin tugasnya.
“Soalnya saya bingung, Ra. Dosen bilang tugasnya dengar ceramah atau bagaimana sih?” Ujar Ika dengan wajah bingung.
Rara menjelaskan secara ringkas, bisa mengerjakan tugas terbilang mudah karena
sudah terbiasa dengan buku catatan liqo tiap pekan harus dikumpulkan pada murobbi, seperti mencari sebuah tausiyah dari referensi majalah ataupun sosial media.
Biar dijelaskan dengan berulang-ulang semakin buat Ika tambah bingung.
Sambil menaruh tempat pensil di bawah kursi, Rara terus menyemangati teman seangkatan agar cepat mengumpulkan tugas itu ke dosen.
Pulang dari kampus, mereka berpisah depan aula karena melihat Luthfi sudah tiba tepat waktu, Ika hanya mengangguk sambil menunggu Risna selesai telponan dengan pacar dan pulang juga ke rumahnya.
Di tempat lain, “bagaimana tadi di kelas, noge?” Kata Luthfi.
“Senang apa.. Saya kerja tugas yang biasa kita disuruh sama murobbi tuh.”
Luthfi mengangguk paham lalu tertawa pelan.
Sampai di rumah, Rara mengingat kalau ada tugas yang besok bakal dikumpulkan.
Ketika ingin mengambil tempat pensil, mendadak dada itu berdetak abnormal.
Berusaha tidak panik. Mencari ulang, nihil.
Mata yang panas, hampir saja bulir sebesar kacang hijau meluncur bebas.
Tidak mungkin hilang kan?
Bentar..bentar, Rara berpikir dengan cepat.
Saat itu bantu Ika lihatkan tugas agama dan menaruh tempat pensilnya dengan asal setelah itu tidak merasakan kejanggalan setelah dijemput Luthfi.
Ah, benar juga tempat pensilnya masih ada dalam aula.
Rara berharap besok masih bisa mendapatkan tempat pensil itu, karena dalam persegi panjang tersebut ada benda berharga yang harus dijaga dengan baik oleh Rara.
Esok hari,
Datang dengan kabut sangat menggumpal di wajah Rara, sambil ngobrol basa-basi dengan teman seangkatan lalu menyinggung soal aula terakhir dipakai oleh kelas apa.
“Kan, kemarin ada acara apa tuh, Ra, mungkin sudah diambil tuh kamu punya tempat pensil. Yongki punya HP saja hilang pas di cas.” Hua..Rara langsung pengen nangis.
“Begitu eh? Padahal tempat pensilku ada flashku.” Rara berujar sangat lirih.
Benar. Bukan hanya pulpen berharga milik Luthfi melainkan flash berisikan naskah untuk Harris J.
Lengkap sudah penderitaan Rara hari ini. Setelah apa yang hilang berusaha dirawat dan terjaga, tetap bukan milik dia, kan?
Lantas, naskah yang sudah diperjuangkan untuk Harris J, apa terbuang begitu saja ke tangan orang yang sudah mengambil tempat pensil Rara dalam aula? Dan, apakah tidak memiliki sercecah asa dalam merajut mimpi menyodorkan karya itu ke bule london?
Arg. Mama..pengen nangis! Jerit Rara dalam batin. []
Notes :
"Ketika bunga harap terletak pada flash untuk meraih prestasi lewat aksara, ternyata detak semesta tak mengizinkan nafsi untuk bahagia seterusnya, melainkan belajar melepaskan dan ikhlas dalam kembali mengatur keping-keping mimpi dengan sabar.
Moga-moga, mimpi itu bisa bersitatap oleh bola mata Harris J di london, setelah mendapati ideku dimanipulasi sana-sini, terobral sangat murah oleh JJS yang tidak mengerti perjuangan melainkan instan.
__ADS_1
Sebab .. Yang ku kejar dari bule berambut mie london itu adalah prestasi bukan obsesi."