
“Sesaat nada-nada melantunkan lirih dibalik larik yang tercipta lewat sunyi, benar itu adalah nada dalam tangis.”
♡♡♡
Kalau mimpi itu bisa tersampaikan ke tangan bule london, mungkin saja dengan pendapatan mayan buat ngundang ke acara mereka, melompat sangat sumringah.
Kasihan, ide tersebut sangat ternilai murah bahkan JJS mengobral dengan merebut seperti kepemilikan dari ide itu.
Jelas, Rara sangat murka setelah mengetahui sebagian dari mereka menanggapi mimpi itu main-main.
“Apa sih, tra jelas sekali mereka semua! Ko yang setengah mati berjuang buat ketemu dan diakui sama Harris J, dorang keenakan jidat di sana, sok-sokan segala ide itu punya mereka.” Vero berkata dengan sebal.
Rara yang mendengar hal tersebut hanya tersenyum miring, malas menanggapi mimpi itu lagi. Sudah terlalu kecewa sangat dalam.
Apa terlalu baik dalam merangkul mereka berkarya?
“Ko lagi nih, Ra, kenapa kah keras kepala sekali mo buat antologi seperti ini? Sudah begitu suruh-suruh sa segala yang jadi PJ trus ko sibuk dengan naskah A Dreamsmu.” Pernah, Adinda protes dengan usulan sahabatnya.
“Please..untuk kali ini saja, setelah itu sa tra suruh ko lagi yang tanggungjawab naskah mereka.” Rara terus memelas.
Mendesah sangat panjang dan pada akhirnya perempuan itu mengindahkan lalu terjual
dengan nama sahabatnya. Jelas tidak dipermasalahkan sudah membantu banyak dalam
mengurusi naskah yang terbilang banyak itu.
Ditempat lain,
“Kenapa, Pak? Apa yang buat bapak gelisah seperti itu?” Kata salah satu tim production.
Menggeleng sangat cepat, “salah satu fans Harris, teror saya terus untuk lihat novel itu di kasih ke dia.” Beliau langsung menunjuk sosok bule sedang sibuk ngobrol dengan manager utama, Mahmood.
“Novel? Siapa yang buat, Pak? Saya baru dengar.” Livi, salah satu tim production itu menimpali sangat heboh.
Kali pertama mendengar ada fans buatkan novel, jelas tidak menutupi kemungkinan kalau melompat sumringah, proud.
Pak Hafiz yang malas menanggapi dengan cara mentitah mengerjakan hal lebih penting dibanding pertanyaan barusan di lempari itu.
Mendesah sangat panjang, lalu kembali lihat chat gadis yang berasal dari kota paling ujung, timur.
Kalau tidak salah ingat, gadis itu berasal dari sentani, jayapura.
Mengingat novel yang benar-benar ia lupa bawa, dengan menggantikan vidiokan ucapan terima kasih dari Harris J.
Karena sudah lelah di lempari pertanyaan kak, novelku sudah di kasih belum ke Harris? Bagaimana tanggapannya kak? Dengan rasa bersalah dan menggantikan rasa kekecewaan gadis itu, beliau memanggil Harris memberitahui ada salah satu fans yang sudah menuliskan buku buat dirinya.
Sontak buat bule itu menanggapi sangat senang dan bangga.
Juga mengatakan kalau buku A Dreams tersebut sangat menginspirasi semua orang, terutama fansnya di indoensia, JJS.
Ok, Pak Hafiz pun meminta untuk menyiapkan diri buat vidio terima kasih ke gadis aksara tersebut. Sempat beberapa kali ngulang karana Harris tertawa, tidak tahu apa penyebab bule itu tertawa sangat geli, saat ingin buatkan vidio terima kasih ke Rara.
Setelah mengirimkan ke chat room gadis aksara itu, sedikit bernapas lega sudah menyelesaikan satu tugas yang sangat di sesali, tidak menepati janji sebagai lelaki.
“I proud of you,” tercetus begitu saja dari mulut beliau.
Sekitar beberapa jam berlalu, konser tour itu usai langsung mengemas untuk berangkat lagi untuk kepentingan pekerjaan sebagai penyanyi.
Apa benar ada sebuah selipan sesal, saat tahu lupa total sodorkan novel itu?
__ADS_1
Dalam pesawat,
Harris J terus saja berkicau mengenai novel yang dihadiahkan oleh salah satu fans indonesia, masih belum menyangka dan berdecak sangat kagum, kali pertama mengetahui JJSnya buatkan buku tentang nafsi.
Siapa gadis itu? Masih belum bisa diterka lebih jauh oleh bule london tersebut. Hanya menyelipkan asa bisa bersemuka dalam ruang ditemani secangkir lemon tea yang telah menjadi buku. Membaca tanpa terganggu rutinitas nyanyi tanpa jeda tersebut. Penasaran.
Setelah sampai di Amerika, mengarahkan langsung ke tempat istirahat selama beberapa jam setelah itu naik ke atas panggung.
Benar-benar hari menyibukkan bagi Harris J sendiri, namun adalah hal menyenangkan bisa berbagi secuil senyum buat keluarga keduanya, JJS.
Setelah melepaskan penat, mendadak mendapatkan spam DM dari salah satu fans,
tersenyum.
Begitu banyak DM tertumpuk masih belum di baca, karena cukup perih saat baca semua chat itu satu hari sekaligus.
Ah, Harris J terpaku melihat satu nada dalam tangis pun puisi tertumpuk dalam versi inggris, semakin mendalami rasa kecewa tidak minta novel itu di Pak Hafiz, sebelum keberangkatannya ke Amerika.
Aku cemburu
Saat kamu bercumbu
dengan rutinitasmu
Aku meringis
Saat tahu novelku menangis
Cara keluarga Jung baca novelku
Anganku tak lebih
Apakah anganku terlampaui batas?
Hingga aku kesulitan bernafas?
Hanya diberikan sarapan tangis
Melihat novelku belum terawat manis
Sangat berbakat juga dalam bermusikalisasi, tanpa sadar ada senyum yang menghiasi wajah bule london itu.
Kesalahan Harris J adalah tidak minta atau menanyakan kabar novel gadis aksara itu di mana sekarang, agar bisa dikirim ke london dengan begitu ia bisa memposting ke akun pribadi, sebagai bukti kagum dan bangga dengan tulisan serta nada dalam tangis sedikit nyeri dalam hati Harris J, tidak memberikan sebuah apresiasi.
Melantarkan begitu saja novel telah dibuat dari fans untuk dirinya.
Sorry.. Getir Harris J.
Kali pertama tidak menyangka melantarkan sebuah kado yang buat Harris J berdecak kagum, setelah itu tidak berjuang untuk mendekap dengan tulus. Semakin buat gadis itu merasa tidak berarti berikan novel ke nafsi.
♡♡♡
Mendesah sangat panjang, begitu tidak penting kah sebuah karya yang terbilang langka di antara kado JJS seringkali dilihat Harris J?
Mendesir sangat sakit.
Arg. Kenapa sih selalu berjuang tapi tidak mendapatkan apa-apa selain luka dan air mata?
Sudah begitu masih saja keuhkeuh dengan catatan mimpi terlanjur dirobek dengan sebuah pembatas lupa oleh manager dari indonesia Harris J.
__ADS_1
“Sa rasa Harris tra baca sa novel,” lirih Rara.
“Trus..sekarang orang itu di mana?” Kata Vero dengan menggebu.
Apa masih penting membahas sesuatu yang benar-benar tidak dihargai sama sekali sama orang penting bagi Harris J?
Masih diam cukup lama, belum ada sepatah kata yang ingin dilontarkan oleh Rara kecuali tersenyum sangat kecut.
“Ra, ayo sudah, sa temani buat ko susul dia! Pokoknya su ketemu sama dia dan
sodorkan ko novel, kitong balik lagi ke sini.” Buru Vero sangat semangat.
Rara tersenyum sangat getir, “kayaknya Harris su berangkat deh? Trada di jakarta lagi. Karna, sempat sa dapat info dari Pak Hafiz kalau malam itu konser terakhirnya di indo.” Menginfokan sangat pedih.
Begitu juga toh deng sa novel yang lupa di kasih ke Harris J. Fix sudah, sa novel memang sampah bagi mereka apalagi buat bule itu! Kesal Rara dalam batin, berseru sangat amarah.
Malam itu di rumah, terasa sangat sunyi seorang diri dalam kamar lebih baik keluar untuk duduk di kios tante.
Tanpa sadar adik sepupu keluar dengan wajah-wajah sumringah, mendadak buat Rara
melongo kenapa tercetus begitu saja dalam benak gadis itu.
“Kak, Ra? Kapan hari tuh, sa lihat Kak Luthfi gonjengan sama cewek. Itu pacarnya kah?” Cetus Bagas dengan berseru riang.
Ada sedikit rasa teriris setelah mendapati kabar yang memang tidak ingin lagi dikorek oleh Rara.
Tapi, dengan begitu saja tercetus terang-terangan apalagi melihat wajah sumringah adik sepupunya.
“Hm..” Lalu dibalas sangat cuek, sambil sibuk dengan benda pipih sedang di pegangnya.
Jujur, hati sangat sakit kembali diingatkan lagi dengan sepotong nada yang hilang sedang bergandeng mesra oleh perempuan yang lebih menarik dibanding diri sendiri.
“Bisa tuh de pacaran sama cewek lain?” Kenapa Bagas yang semakin kepo, ingin sekali tahu lebih detail perasaan cowok itu?
Ah, benar juga. Rara berpikir sebentar, kalau adik sepupu yang di depan ini mengira masih ada hubungan yang istimewa. Dan, itu sebab menjadi pertanyaan besar kenapa bisa gonjengan dengan perempuan lain selain kakaknya?
“Bisa lah.” Rara menimpali dengan wajah datar, sungguh batin tersiksa sekali mengatakan hal yang tidak sesuai perasaan.
Belum ada respon lagi, “biar sudah, de pacaran sama orang lain.” Yang buat gadis itu berkicau, sangat terdengar cemburu.
My heart is perfect because there is a piece of your heart in it.
Setelah buat status itu di whatsapp, tanpa disadari cowok gitaris itu melihat cukup buat
dada Rara berpacu sangat cepat, salting kah?
Kehilangan selera untuk menikmati udara diluar, langsung pamit balik ke rumah.
Setelah sampai dalam kamar, mengunci dengan wajah datar.
Kak, pengen curhat..tentang Luthfi..
Ping,
Hmm.. dek, ada pria lain yg lebih baik..krna hngga saat ini dia msh jdi anak kcil buat kk. Sbgai laki-laki, dia gak bisa djadkan contoh. Jgnkn contoh, bcra sj masih bljar. Cri pria lain. Oke abaikan smua rasa itu. Rara lebih tegar dri yg Rara pikiran.
Tersenyum. Ternyata kakak translation gagal milik gadis itu mengerti tentang siapa yang pantas mendampingi hati sedang berkecamuk oleh kidung palsu diberikan Luthfi.
Masih belum bisa mengelak kalau hati benar-benar tidak segampang itu mengelupaskan rasa mengenai nada-nada dari sebuah petikan gitar yang sudah lama dijadikan dalam delusi, mengharapkan sebuah sepotong nada mengalun manis dalam larik. Ternyata pergi tanpa pamit. []
__ADS_1