Sepotong Nada Yang Hilang

Sepotong Nada Yang Hilang
20. Hobi Produktif


__ADS_3

“Hobi terbilang berfaedah sangat menyenangkan dahaga, bukan? Dan, apakah Rara benar-benar tidak bisa memproduksikan lembar merah itu dengan tulisannya?”


 


♡♡♡


 


Enak, kalau bisa menghasilkan kertas-kertas merah dari hobi sendiri. Terus, Rara kapan bisa seperti itu?


Toots terdengar sangat berisik pun mencari wadah kepenulisan dalam menghasilkan rupiah, nihil. Tidak ada sama sekali yang berjodoh dengan tulisannya di penerbit mayor.


“Hm, mungkin memang sa tulisan jelek, picik, tra sesuai penerbit!” Rara pun bergumam sangat berdesir, ada dentuman menendang sesak.


Membuka dengan iseng kardus-kardus berisikan buku absurt yang diterbitkan lewat alternatif, memakan rupiah jutaan, senyum sangat nestapa pun telah tercetak di wajah Rara.


Merawat sebuah kegagalan dalam hal ingin produktifkan bakat, ternyata tetap sama tidak ada perubahan yang mendahagakan imaji Rara.


“Ko tra malu kah, dengan buku-bukumu itu? Ko tra sadar kalau orang di luar sana cerita sambil tertawai ko?” Sempat dapat penuturan sangat menohok hati Rara, dari mama sendiri.


Ternyata menjadi penulis adalah ketakrestuan terlantang sangat jelas dari keluarga terutama aroma surganya sendiri.


Apa mereka terbesit sedikit saja, untuk percaya dan yakin kalau Rara suatu saat membawa gelar novelis yang bermutu di rumah?


Hm, ternyata gadis itu selalu mengenyam banyak keruntuhan dibalik ketakrestuan keluarga melihat dia mengambil profesi sampingan, penulis.


Tapi, lucu, Rara selalu ngotot ingin meneruskan bakat itu sembunyi-sembunyi terkadang juga depan mereka. Hasil selalu saja kurang memuaskan ruas imajinasi.


Hah..mendesah sangat panjang. Desak-mendesak itu kembali menyiksa Rara.


Jadi guru yang baik yah, jangan sering digalakin kalau salah gaya.


Daripada galau mikir ketakrestuan itu, lebih baik ganggu potongan nada yang diperjuangkan bakal sampai di daun telinga saja. Cukup menghibur ruas nestapa milik Rara.


Kalau tidak salah ingat, kemarin pulang dari kampus Luthfi ingin pergi ke SD IT ngajar, sempat tidak tahu ambil pelajaran apa di sana. Huh, ternyata ngajar anak SD karateka.


Apa malu buat jujur dengan hobi terbilang terproduktif hasilkan duit ke Rara? Ah, jangan malu kalau menyangkut keberhasilan memproduksi uang dari jerih payah sendiri. Lihatlah Rara? Masih minta uang jajan di keluarga, sudah memiliki hobi sekali pun, tak membantu sama sekali.


“Kenapa sih selalu saja orang yang dekat sa, punya bakat menonjol, bisa hasilkan uang sendiri.” Rara berucap insecure.


Cup.


Eh? Mendadak Rara terbelalak, terkejut mendapati satu emoticon yang sukses buat kedua pipi itu menjadi merah, malu. Tapi disirami oleh bahagia juga sih.


Duh, Rara kapan sih menyembunyikan perasaan? Kalau cogan memiliki potongan nada itu pergi, dia bakal meminta di mana? Buat potongan nada sendiri? Impossibel!


“Lagian nih orang, kenapa sih terlalu tertutup! Kalau sayang sa, kenapa tra jujur saja kah?!” Tuh kan, Rara sudah habis kesabaran dalam menunggu Luthfi lantangkan perasaannya.


Yang dinantikan seorang cewek adalah lantangan perasaan dari orang dicintai bukan lebih dulu menyampaikan rasa ke cowok, itu terbalik namanya. Cowok disukai berarti tidak jantle, dan sedang dialami oleh Rara sendiri.

__ADS_1


Mahasiswi, kenapa sih tidak bisa menghasilkan rupiah saat sedang berstatus demikian? Andai saja tulisan itu bisa produktifkan uang, mungkin saat ini Rara sudah bisa jalan belanja mengenakan rupiah sendiri bukan lagi minta orangtua.


Terus tidak merasa terbebani atau makan perasaan oleh cemooh keluarga, tiap kali ingin jatah lebih.


Luthfi Bawel : Jangan tidur kemalaman.


Dalam keterjagaan sebatas hubungan tidak tahu arahnya? Oh, Luthfi memang pandai dalam hal seperti ini, kenapa bisa Rara bertahan di sekitar cogan itu? Apa karena potongan nada?


Apa yang sedang Rara kerjakan saat sudah larut malam? Sedangkan si bawel terus saja numpuk chat, upaya gadis itu menyerah dan lebih pilih tidur?


Oh, sedang asyik bermain zuma. Mana mungkin bisa mengindahkan permintaan orang yang bukan siapa-siapa dia. Yah, kan Ra?


Luthfi Bawel : Hmm tidur sudah malam bawel..biar besok lebih fresh..hm boleh dong kalau nulis, cuman ingat dong waktunya..sakit baru, gak kasian kah ntar ada yang khawatir.


Memang, hanya mengalihkan topik lebih tepat lagi ingin memancing perhatian pun rewel Luthfi dengan alasan sedang menulis novel padahal bermain zuma. Dasar..Rara.


Luthfi Bawel : Haha, perempuan itu kelihatan cantiknya saat dia sedang marah dan aku suka.


“Kebiasaan!” Rara berdecak kesal.


Dari tadi perkara tidur menjadi perdebatan panjang, sampai buat gadis itu mencak tak jelas seperti ini hingga menimbulkan sebuah amarah tengah malam.


Rara : Huu dasar gombal! Tapi maaf Rara gak tergoda gombalanmu!


Aneh. Mendadak bersemu merah, padahal sudah jelas itu taktik seorang cowok dalam merayu dengan kata-kata gombal. Terlebih, dia sangat sensitif terlibat dengan diksi menyebalkan tersebut hingga sempat buat ikatan itu retak beberapa tahun.


Luthfi Bawel : Haha gak gombal tapi beneran survei membuktikan perempuan kalau sedang marah wajah aslinya itu kelihatan lebih natural sama seperti saat mereka sedang tidur.


 


♡♡♡


Kenapa masih terperangkap fase baper berkepanjangan tidak ada ko dan sa menjelma kitong diantara mereka berdua?


Apa hobi Luthfi menggantungkan sebuah harapan seorang gadis? Kan, sudah sangat jelas dibalik perhatian antar-jemput menyelipkan rasa. Kok belum juga terbiasa mengungkapkan kalau suka satu sama lain?


Melihat Luthfi sudah datang jemput, dengan riang menuju motor tersebut.


“Sa sebentar atau besok, mau tempel pendaftaran anak-anak karate di sekolah SMK.” Luthfi menginfokan, kok seperti ada luka dibalik intonasi tersebut?


Lagian, Rara juga sudah tidak tertarik buat main-main ke sekolah lama. Karena sejak masuk sampai keluar dari sana, tidak ada satu pun guru menyukai keberadaan dia. Juga, selalu dicampakkan kala mendapati nilai jelek di sekolah.


“Oh, cie..yang jadi pak guru.” Tidak tahu kenapa, hanya ini bisa Rara lakukan dalam mendekap luka dibalik intonasi itu yang terdengar sangat santai.


Hu..dasar Luthfi, pikir sa tra tahu kah apa yang lagi ko pendam? Rara mencibir dalam hati sambil gemas melihat cogan itu dari belakang.


“Haha, apa nih? Itu juga sa dapat panggil sama Pak Rizki, kalau sa disuruh ngajar eskul disana dan beliau bilang tempel brosur.” Lagi, Rara mendapati jawaban kurang bersemangat.


Mengangguk sangat antusias, “sa ikut kah?!” Berseru dengan riang.

__ADS_1


“Ko mau ikut kah? Boleh..boleh.” Kok terdengar tawa sumbang, tapi Luthfi berusaha menjadikan itu semua terlihat baik-baik saja depan Rara?


Ok, fine. Mereka memang memiliki hubungan yang samar-samar, tetapi sebagai sahabat dalam memangku cerita sedang dipikul cogan itu ke Rara, tak masalah bukan? Kok, seakan-akan Luthfi tak terbebani, sudah jelas ada sesuatu yang tak beres kala mendengar mantan guru di sekolah lama mereka itu.


Dih, kenapa juga sih bertahan dan gegayan pengen ke sana? Kalau sa jadi ko, lebih baik cari sekolah lain, lebih menghargai dan mengapresiasikan sa hobi! Mendadak dada Rara bergemuruh.


Tidak tahu kenapa setelah emosi itu meletup dalam diam, Rara merogoh sesuatu dalam kantong celana.


Sebuah tawa-tawa sumbang penuh ekspresi gamang, jelas mengisyaratakan luka dan sedang tak baik-baik saja. Kalau memang Luthfi memilih tak ingin bercerita, gadis itu tidak memaksa juga kok.


Kala bercerita


Mengukir senyum di senja


Saat getir tercetak


Ada luka terpancar


 


Kau pura-pura tegar


Penyakit tetap melekat


Hanya bersyukur pada semesta


Desahan masih terasa.


Terkadang hobi mengalirkan rupiah, masih juga belum memiliki kepuasaan sendiri, ingin mendapati lebih dari hasil hobi tersebut. Bukan kah telah memproduksikan rupiah dari hobi, berapa pun nominal di dapati, sudah sangat beruntung dan bersyukur.


Kenapa Luthfi masih belum puas dengan hasil gaji di dapati di SD IT? Itu lebih dari cukup atas kebutuhannya sendiri. Ah, benar juga kalau Luthfi itu termasuk cowok yang sangat menyanyangi keluarga terutama mama.


Tersenyum tipis di belakang, bruntung eh punya anak seperti ko, sayang keluarga dan bekerja lebih keras saat sedang kuliah, sa apa? Hanya nyusahin keluarga dan mama. Melulu minta uang, sekuat sa berusaha cari pekerjaan sampingan walau pun itu dari sa hobi selalu saja dapat marah tra dapat restu. Getir Rara dalam batin, sambil memerhatikan punggung gagah itu yang sedang fokus nyetir.


Toh, buat apa menghabiskan waktu dalam bernestapa? Cukup dalam menghasilkan rupiah di SD IT, kenapa harus menggantungkan asa lagi di sebuah lokasi yang memang tidak apresiasikan hobi kita?


Masih banyak orang peduli diluar sana dan membutuhkan tenaga dari hasil hobi Luthfi, kenapa masih bersedih sih?


“Sa juga habis antar ko pulang, sa mau tempel brosur ini di sekolah SMP 1 Sentani.”


Mendadak lamunan Rara buyar, ada rasa kecewa sih dipulangkan lebih awal padahal berharap sekali bisa menemani tempel brosur itu ke tiap sekolah yang ingin didatangi. Dasar..Luthfi tidak peka!


Mengerucutkan bibir, dapat penolakan sangat tegas.


“Turun su! Sa juga mau cepat-cepat jadi.” Kata Luthfi dengan notasi sedikit tinggi.


Bukan sakit di beri nada tinggi melainkan ketakpercayaan dalam mengajak dirinya menemani tempel brosur itu. Apa mungkin Luthfi ada kepentingan lain daripada hobinya itu?


Hm, Rara pun tersenyum lalu masuk ke rumah. Ingin segera bertemu kasur, menghilangkan penat seharian belajar dalam kelas. []

__ADS_1


Notes :


Kitong \= Kita orang


__ADS_2