
“Setelah apa yang sudah dilewati sangat hebat dalam pelihara luka, sekarang Rara mengerti dari sebuah kidung persahabatan, mengobati yang belum sepenuhnya pergi di hati.”
♡♡♡
Kalau tidak salah ingat kemarin itu adalah hari yang menyenangkan sekaligus games menarik dari mereka. Rara tersenyum. Mimpi mereka bertiga sudah bisa di gapai dengan indah seperti ini.
Tidak lagi minta uang jajan dari orangtua, selagi masih bisa menghasilkan dari hobi serta komunitas yang sudah dibangun baru satu hari itu, tak mengelak kalau peserta lumayan banyak yang datang.
Belum memberitahui persoalan ini juga sih ke keluarga terutama Mama. Kalau tahu dan sudah menghasilkan rupiah berjuta-juta, dipastikan akan meninggikan nama Rara di kalangan tetangga.
Hm, bagus juga sih, dengan begitu tidak menjadikan Rara yang payah dan selalu gagal
dalam hal menciptakan sebuah rupiah. Bismillah..semoga komunitas serta karya itu
terus mengalir dan ada satu hal yang mengusik pikiran dia saat ini.
“Ra, buku Silent Love sudah menipis tuh dalam kardus, tidak niat buat nyetok kah?” Kata Adinda mengingatkan.
“Aih..biar sudah kasih habis yang itu saja, lagian..masih absurt haha.” Rara menimpali
dengan tawa.
“Jih? Kau revisi pelan-pelan saja dulu toh? Supaya tiap pekan buka bazar uang kita ngalir trus. Ini juga sebagian dari mimpimu kan? Buat tidak minta uang jajan lagi di keluarga?” Benar juga sih dari kata-kata sahabatnya itu.
Rara harus berusaha revisi dan terbitkan lagi dalam versi yang sudah dirombak dengan diksi lebih bagus dari sebelumnya.
Mengingat kemarin pembeli dan antusias peserta beli buku Silent Love saja, cukup buat Rara berdecak bangga dengan sebuah karya absurt yang laris di bazar kemarin.
Rara mengingat sangat tajam, kemarin baru saja duduk di kursi bazar ada beberapa peserta yang baru datang dan menanyakan harga buku-buku tersebut. Terpajang hanya dua judul Kenangan Putih Abu-Abu dan Silent Love, setelah itu menanyakan buku dalam katalog yang sengaja disimpan diatas meja.
Diluar dugaan, Rara mengira peserta tersebut menanyakan harga saja. Ternyata beli tiga buku dengan total delapan ratus tujuh belas ribu rupiah. Perincian harga buku-buku tersebut, Kenangan Putih Abu-Abu seratus tiga puluh lima ribu, Silent Love seratus lima belas ribu sedangkan Aksara for Harris J seratus delapan puluh sembilan ribu rupiah. Buku antologi Adinda yang terbilang mahal diantara dua buku gadis itu sendiri.
Memberikan bonus tote bag kecil dengan background abu-abu tulisan komunitas mereka. Ada ukuran kecil, sedang pun besar.
Kalau tidak salah ingat, uang buku terjual sebanyak dua puluh ekslempar berjudul
Aksara for Harris J. Sedangkan Silent Love dan Kenangan Putih Abu-Abu terjual sebanyak tiga puluh ekslempar secara mix.
Mereka berdua mengucap hamdalah mendapati rezeki tiba-tiba dengan jumlah buku terbanyak terjual di hari pertama buka komunitas mereka.
Biasanya kan kalau hari pertama bazar hanya sepuluh atau delapan buku yang laku.
Rara kembali mengingat-ngingat kenangan bersama sepotong nada yang hilang.
__ADS_1
Ada desiran sangat sakit.
Berusaha buat positif kalau Vero menemani curhat mengenai orang yang sama, semoga tra dapat marah, batin Rara harap-harap cemas.
“Aduh, pantas eh, Kak Luthfi berubah dan cari yang lain, Kak Luthfi tidak mau persahabatanmu dengan Avisa berantakan makanya lebih baik dia milih pergi. Kamu lagi, kenapa kasih tahu perasaannya Avisa kah?”
Vero mengatakan hal demikian karena gadis itu mencetuskan Avisa juga suka sama dia, trus saya yang bilang mendadak ada dentuman berirama penuh sesak dalam dada.
Setelah rasa cukup curhat panjang lebar, melihat postingan fotra mereka berdua yang tidak sengaja ditemukan ketika Rara iseng melihat destinasi sedang booming itu di swis.
“Cantik..” Tercetus tanpa disadari Rara.
Fotra dimana Luthfi menyandarkan kepala di bahu perempuan terbilang cantik itu oleh Rara. Senyum sangat manis tertampilkan oleh perempuan bernama Novi, mereka berdua sudah cocok. Fix! Rara kembali meringkih setelah melihat fotra tidak sengaja dilihatnya di beranda pencarian destinasi tersebut.
Buru-buru mengeluarkan aplikasi instagram dari layar HP. Mendengus sangat panjang, masih belum ada rasa yang enak dari ruas kecil Rara ketika melihat fotra itu.
♡♡♡
“Ingat.. Wa la taqrabuz-zina innahu kana fahisyah, wa sa’a sabila..jangan dekati zina.” Kata Adinda kala itu.
Rara ingin sekali tertawa nafsi saat masih dengan sepotong nada itu, walau sudah kena intograsi dari murobbi, kepala angin sekali untuk tetap lengket diatas motor.
Diakui kalau sahabatnya yang satu itu selalu mencari salah satu diantara mereka untuk temani jalan. Naik mobil dong, sultan mah bebas. Ups, bercanda.
“Hehe, nanti sudah eh? Kapan-kapan kah saya balik, soalnya mager yah, belum lagi tugas kuliah yang seperti tumpukan baju laundry.” Selalu saja pakai alasan agar tidak liqo.
“Din, sudah kah?” Teriak Rai dari pintu kost. Karena cowok dilarang masuk ke dalam kawasan kost, membuat Rai menunggu depan kost saja sambil menyandarkan tubuh di mobilnya.
“Bentar..bentar, sedikit lagi selesai.” Adinda melirik ke sahabatnya itu, “ayo sudah, cepat kah! Kalian juga nih pelanggaran kali, sudah tahu mau rute masih sempat-sempatnya ngisi perut di orang punya kost!” Protes Adinda.
“Lapar bos, masa kamu tega kasih biar kita terlantar kelaparan sih di dalam mobil?” Vero memelas, masih asik makan.
Adinda langsung memutar bola mata dengan jengah, tak habis pikir kenapa bisa memelihara sahabat yang sangat tidak tahu diri seperti ini.
Semalam kan habis stok makanan ringan dan berat, mendadak bangkrut hari ini karena ulah dua sahabatnya itu.
Mendesah sangat panjang juga pasrah, nanti setelah rute Adinda bakal meminta cowok
itu menemani serta dua sahabatnya menggantikan dengan bawa kantong belanjaannya, karena sudah rusuh di kost orang.
Selang beberapa menit kemudian, ketiga perempuan itu keluar dari kost lalu masuk ke
dalam mobil.
__ADS_1
“Kalian mau jalan ke mana dulu nih?” Kata Adinda dengan santai.
“Eng..ke mana eh bagusnya? Bagaimana kalau ke bioskop dulu?” Rara berseru riang.
“Boleh. Tapi, kamu tidak keberatan kan, Rai?” Kali ini perempuan itu mengalihkan pandangannya ke kaca spion.
“Tidak masalah. Kalau begitu langsung ke sana saja.” Rai pun menyetir mobil keluar dari perkarangan kost. Selama perjalanan ke MJ, mereka bertiga tidak berhenti mengoceh sampai buat cogan sendiri dalam mobil menggeleng-geleng lihat tingkah sahabat-sahabatnya Adinda.
“Sori, Rai, mereka kalau sudah ngumpul begini, gilanya kumat. Apalagi kalau ada Avisa.” Adinda berujar sambil terkekeh geli.
“Oh, betul sekali, kenapa kamu tidak ikut ngobrol sih? Dari tadi serius sekali nyetir, bisa-bisa kepalanya botak baru kaget.” Rara yang bersuara sangat santai, bertujuan canda.
Hanya dibalas dengan senyum sambil melihat ke arah kaca spion.
“Aih, Din, kenapa sih doi-mu tidak asik begini?!” Kesal Vero kali ini tidak melihat semangat cowok itu dalam mobil.
“Haha, biasa Rai itu memang begitu, kaku kek kenebo kalau sama orang yang baru dikenal. Kalau sudah akrab, oh jangan heran tuh kalau cerewetnya melebihi saya.” Adinda sambil menggodanya, lalu dibalas dengan kekehan kecil dari Rai.
Tidak tahu kenapa kalau ada cogan dari Bandung itu, mengundang sebuah memoar yang sedang bermain-main dalam benak Rara saat ini.
Berdesir sambil mengendarkan pandangan keluar jendela mobil.
Adinda melirik sekilas, “kenapa?” Bisiknya sangat pelan.
Sontak buat dia terkejut dengan pertanyaan itu, sambil menyanggah sangat cepat, “tidak ada yah, biasa..ngantuk.”
Please deh, Din jangan bahas ini? Batin Rara bersuara lewat sorot mata, setelah itu mendapati senyum tipis dan anggukan kecil.
Sedangkan Vero sibuk menyandarkan kepala sambil mendengarkan musik dekat pintu mobil samping kiri.
Lima jam kemudian, sudah selesai menikmati film, Adinda meminta buat main dulu di Amazon. Karena tahu ruas-ruas milik gadis itu sedang terkulai kembali, setelah melihat kebersamaannya dengan Rai.
Pasti, buat Rara merindukan moment bersama cowok tidak tahu diri itu.
Tertawa sangat derai penuh tulus, kidung persahabatan yang takkan bisa didapatkan oleh orang-orang palsu dalam mempermainkan ikatan pertemanan.
“Setelah dari sini, kita singgah makan dulu eh? Di mana kah, asal jangan bakso tross..” Kata Vero penuh dengan penegasan.
Rara hanya tertawa geli mendengar penuturan sahabatnya itu.
“Hm, benar tuh kata Vero, tidak baik konsumsi mie terus, Ra.” Kali ini Rai ikut menimpali lalu dapat ejekan juga dari Adinda.
Mendengus sangat panjang. []
__ADS_1