
“Oyong, apa hanya sekedar rasa ini yang ku kemas rapi seorang diri sembari memoar kita terulang tanpa ku minta? Inginku jujur kalau aku rindu sifat menyebalkanmu” -Rara-
♡♡♡
Bersiul begitu santai dalam batin, menyeruak akan rindu sifat menyebalkan Luthfi saat masih berada di sekitar gadis itu.
Masih penasaran. Kenapa selalu cover lagu-lagu romantis, sedangkan perempuan itu tidak berminat sama sekali di beri sesuatu sweet dari Luthfi.
Apa sekedar kirim ruas cemburu?
Jelas. Tidak mengelak lagi kok, hanya bisa mengkondisikan hati saja lewat dunia maya dengan menahan rasa jangan muncul dalam kolom komentar.
“Assalamualaikum..kali ini saya akan mengcover lagu ‘Ana uhibbuka fillah’ listen and enjoy. Any way ini sebagain ungkapan hatiku untuk kamu. Yah..untuk kamu yang special. Listen..”
Terjeruji dalam pintu luka, hingga melupa mencari kunci bahagia yang membuat ruas-ruas itu menjerit tak suka melihat sepotong nada pergi merayakan romansa dengan orang lain.
“Romantis sampe..” Rara mencibir sendiri.
Merasa nafsi sekedar penyenang saja bagi cowok gitaris tak mendapati sepotong nada sama sekali. Cuma batas tercicipi nestapa seorang diri dalam larik sering tercipta dalam sunyi.
Jika ingin serius, kenapa tidak mengirim langsung ke murobbi cv tersebut, bukan menerbangkan kidung dengan pemalsuan ngajak ngampus bareng, yang berakhir pada orang lain, pacaran.
Ra, please deh ingat semua pesan dari Kak Syarif! Masih banyak cowok serius sama kamu. Gerutu gadis itu sendiri dalam batin.
“Ra..” Seorang memanggil dari balik pintu kamar, membangunkan dia dari lamunan pikir.
Mengernyit bengong dong. Kok bisa secepat itu ke rumah?
Kembali lagi ke benda pipih tersebut. Belum ada sahutan dari dalam, masih terus memerhatikan vidio itu dengan lamat-lamat. Penuh perasaan amarah dan napas terdengar kempas-kempis, seperti berkomat-komit dalam batin.
“Ra?!” Lagi, panggilan kedua baru gadis itu merespon.
Bangun dari tempat tidur, dengan sedikit nyut di area kepala. Heran, kenapa bisa merasakan nyeri sedangkan sempat tensi, darah normal.
“Eh, kok cepat sekali datang?” Rara menyambut dengan melongo.
“Kamu itu toh yang lambat! Dinda sudah tunggu itu di bawah, peserta di sana juga sudah pada datang.” Ketus Vero.
Ups, rifleks menepuk jidat hari ini pertemuan beri materi pun games dari mereka sendiri. Tidak ada pemateri luar, walau kantong terbilang mayan untuk ngundang, lebih baik putar modal saja untuk komunitas mereka.
Lagipula sudah beli jaket komunitas, kalau ngusul undang orang luar, bakal kena semprot dari mereka.
Jauh lebih hemat dan belajar mengelola keuangan selama membangun komunitas literasi tersebut dengan sahabat-sahabat terkasih.
“Hari ini kamu kenapa sih? Tumben gerakan siput begini, biasanya paling gercap dibanding kita semua baru.” Vero sangat rewel, sembari bola mata menangkap sahabat sibuk memasukkan barang dalam ransel.
Menggeleng tak habis pikir.
“Hehe, sori, ku pikir masih siang makanya mageran dulu dalam kamar.” Dibalas dengan cengiran tanpa salah.
Setelah lima belas menit prepare dan mengunci kamar melangkah riang dan tenang setelah pupuk nestapa seorang diri barusan.
Benar. Kau bukan potongan nada yang ku harap dalam diksi. Gumam Rara dalam batin.
Berupaya ikhlas walau tahu ruas selalu berdenyut sesak.
“Lama sekali kah! Bikin saya berdebat saja sama Rai dalam mobil!” Ketus Adinda, ketika menyambut kedatangan dua sahabatnya keluar dari rumah.
“Eh, ada Mitsuri.” Rara menyapa hangat.
“Hallo..assalamualaikum, Kak Rara.” Adik perempuan itu beri salam tak lupa lempar senyum.
“Waalaikumsalam, katanya nggak suka ikut acara kita? Ntar bosan loh di sana?” Rara mengingatkan.
“Hehe..soalnya Kak Rai minta temani aku jemput Kak Adinda. Daripada di kost sendirian, lebih bosan dong, Kak.” Mitsuri membalas sangat riang.
__ADS_1
Rara pun tersenyum sambil mengacak rambut yang dibiarkan tergerai itu.
Be the way, tadi masih belum bisa menghilangkan rasa kekesalan Adinda dalam mobil sebelum berangkat ke lokasi. Sebab, terlalu santai dalam kamar tidak ingat ada jadwal lebih penting untuk bahas ulang materi akan di bawakan dalam acara mereka.
Dan, tak lepas dari diksi maaf tercetus tanpa berdosa dibalik ekspresi Rara.
Cukup buat Adinda mendengus panjang.
“Makanya kalau masih belum bisa move on, bicara! Jangan tahan perasaan sampe ngaret seperti ini!” Gerutu Adinda, sangat pelan, hingga tak sampai di daun telinga Vero.
♡♡♡
Penuh pengamatan serius dibalik kertas di genggam oleh Vero. Kali ini perempuan itu dapat bagian menjadi mc, walau terus ditampik tegas tetap tidak mengubah pemikiran mereka semua.
“Kalau satu dapat bagian, harus semua kena dong. Masa ko hanya jadi PJ komunitas sih?! Tra seru dong!” Adinda berseru ketus, sangat sarkas.
“Haih..iya-iya dari kau senang saja sudah, Din.” Vero pun mengalah.
Jujur. Kali pertama menjadi pembawa acara, bahkan saat masih sekolah sekali pun, Vero tidak mau mengambil bagian tersebut. Bosan, menurut perempuan itu.
Tetapi, sekalinya membenci dan terus menghindari dari rasa kebosanan agar tidak terlibat, tetap akan mendapati tanpa sadar.
“Ok, sudah fix eh? Jadi, nanti bagian games Rara nih?” Vero mengingatkan lagi.
“Iya, aman itu, tidak usah kasih ingatkan saya lagi.” Keki Rara.
Mereka yang lain pada tertawa geli melihat ekspresi gadis itu berubah menjadi tak bersahabat.
HARI yang melelahkan, sangat menguras tenaga terkecuali Vero, batas jadi mc doang. Walaupun seperti itu, tetap menjadi bahagia bagi mereka semua terutama ketiga orang itu, hobi telah membersamai penuh indah.
“Saya sih sebenarnya bersyukur sekali, Allah kasih kelebihan untuk saya, salah satunya suara. Bisa nyanyi lagi.” Ucap Luthfi diatas motor sambil tersenyum melihat ke belakang.
“Haha..yaya, wis..sombong yang suara bagus. Kita yang suara jelek begini bisa apa?” Celetuh Rara.
Luthfi hanya tertawa, “ingat tuh..jangan sombong, nanti saya orang pertama yang jitak kepalamu kalau kamu sombong dengan kelebihanmu!” Rara langsung mengingatkan.
“Ra, saya tahu kamu lagi pikir kakak itu, berhenti sudah, Ra. Saya tidak mau kalau nanti kuliahmu terganggu karna cinta saja.” Vero membisik, mengirimi kekuatan.
Tumben bijak dalam menengahi permasalahan kidung sedang terkemas sangat bengis oleh gadis sebatas mencintai lewat diksi tapi tidak tersampaikan pendar itu ke orang disukai, sebab terlalu terbatasi oleh gensi menjadikan dua pasangan itu berhenti berjuang.
“Sori, memang kalau saat ini saya masih belum lupa dia, tapi setidaknya saya tidak bakal lukai fisikku kok.” Rara menimpali sangat getir. Sebisa mungkin tersenyum tipis, seolah-olah tak terluka hebat depan sahabat.
Vero pun pamit untuk kembali mengisi jadi mc untuk membagi kelompok terdiri empat orang.
Kelompok yak, menjadikan memoar dalam kepala bangkit lagi mengenai kicauan paling keki dari waldos sendiri depan banyak adikting hanya diri sendiri sebagai kakting dalam ruangan.
“Kalian..kalau sudah semester tujuh, sudah bisa kontrak skripsi. Tinggal berapa sks lagi kalian kontrak ke atas? Sedikit kan? Skripsi kalau tidak salah ada enam sks. Bisalah. Kalian bulan januari sudah turun kp. Setelah itu kkn dan kalau semester tujuhnanti tidak ada sks yang diambil lagi, kalian langsung bisa ambil skripsi.”
Sangat tak berperasaan. Paling tertohok seorang diri dalam ruangan.
Bukan kah wali dosen, mendukung bukan sebaliknya menjatuhkan mental mahasiswi sendiri depan banyak adikting?
“Kak, Ra?!” Mitsuri membuyarkan lamunan gadis itu.
“Yah, kenapa, Dek?” Justru dibalas dengan wajah melongo.
Dan, perempuan itu ikut bingung sembari menunjuk buku dalam brosur.
“Masih ada buku ini kah, kak?”
Butuh beberapa menit mengembalikan kesadaran Rara, “oh, bentar kakak cari dalam kardus dulu, ada atau nggak.” Kata Rara sambil beranjak dari tempat duduk.
Menit-menit terkumpul dengan mengembalikan ingatan mengenai cerita kampus penuh dengan wajah-wajah pongah.
“Dasar..tidak tahu diri sekali!” Terngiang-ngiang mengenai kata paling keki dari adikting.
__ADS_1
Kala itu sedang duduk di bangku, laboratorium. Tapi, tak tahu-menahu kalau sudah diambil alih tanpa izin gadis itu sendiri.
Dengan santai mencetuskan sangat tak beretika. Apa karena isi kepala sangat bisa diandalkan jadi semena-mena menjadi adikting?
Hah..sudahlah, percuma memiliki otak pintar namun sombong sama saja seperti orang
bodoh karena ia takkan pernah tahu yang dimilikinya itu bukan hak privasi.
“Berapa semuanya, Kak?” Mitsuri sembari menyerahkan secarik kertas telah di catat dari pembeli.
Dengan cepat mengambil kalkulator lalu menghitungnya. Senyum-senyum begitu mengembang, penuh arti.
“Boleh minta tanda tangannya?” Suara paling familiar terdengar dalam daun telinga gadis itu sendiri.
Apa masih sanggup dalam melihat destinasi imaji yang sudah bosan menciptakan asa justru tidak di respon baik oleh calon sahabat, menjadikan larik itu hingar-bingar?
Kenapa telah lelah memupuk bersitatap pada diksi, justru orang itu datang tanpa di minta?
“Are you okay, Ra?” Lagi, mengulangi dengan tatapan penuh heran.
Mengangguk pelan.
Boleh kah berlari sekencang mungkin dalam pelukan sahabat, sedang sibuk dengan materi tersebut? Lalu menangis sepuas tanpa jeda.
Haru memang tak bisa mengelak dalam dada, sangat bahagia tak tertandingi. Namun, sangat membuncah marah mengetahui harap dianggap enteng olehnya.
“Kak?” Mitsuri mengusap pelan belakang gadis itu.
“Yah, kenapa, Dek?” Tanpa melihat bola mata Mitsuri.
Mendesah sangat pasrah, tidak bisa membujuk selain, “Ra, kenapa?” Kali ini yang bersuara adalah Avisa.
Menggeleng sambil memeluk erat, sangat.
“Kenapa sih, Ra? Bukannya ini salah satu mimpimu ketemu Harris, trus..sudah lihat bukumu di bawa ke sini lagi. Kurang apa lagi coba?” Kata Avisa, menghibur, sangat bahagia juga sih lihat mimpi sahabatnya selama ini di bangun oleh luka berakhir indah.
Masih berada dalam pelukan, hampir saja menangis sesegukan.
Jika .. “Cie..yang sudah ehm!” Tidak di berikan godaan oleh Vero mengambil alih untuk menghibur gadis itu, mungkin saja bulir sebesar minuman pulpy orange meluncur bebas dari pelupuk mata.
Duh, bisa jadi berantakan kalau Rara tidak membaik, “ok, adik-adik, sambil menunggu Kak Vero kembali, kakak ambil alih sebentar, jadi.. Musikalisasi itu bisa kita kombinasikan dengan berbagai alat musik lainnya, sebagai contoh sederhana petikan gitar yang sudah kakak kasih barusan atau instrumen dibuat sendiri lewat aplikasi multimedia.” Rai, mencoba mengambil perhatian mereka, agar tidak ricuh.
Sedangkan Adinda sibuk menenangkan sebagian dari mereka terlihat tidak sabaran untuk memulai kegiatan belajar bermusikalisasi.
“Ra, masa sih kamu tega dengan mimpi-mimpi selama ini dibangun lewat dua versi sia-sia, karna ikut egomu?” Avisa berucap, berusaha mengambil hati sahabatnya itu.
Butuh beberapa menit untuk bisa lihat Rara berdamai dengan luka juga trauma mengetahui ide telah termanipulasi oleh bunga harapan Harris J sendiri di sosial media.
“Trus, apa kabar dengan ide yang selama ini ku jaga, justru di obral murah oleh JJS di luar sana, Vis?!” Rara menimpali sangat protes, masih belum mendapati keadilanmengenai mimpi pun perjuangan tak bermain dengan detak waktu sembari mengumpuli koleksi foto juga vidio, melainkan rawat luka di area kepala bahkan sempat terkulai lemah diatas tempat tidur, malaria tropika plus tiga.
Apakah dengan semudah itu melepas sembari berkata, “aku ikhlas kok.” Begitu kah?
Yang Harris dapati dari dua bola mata gadis itu adalah luka masih melekat dalam kepala, dengan sekuat tenaga menyampaikan kesalahan sempat menidurkan nestapa juga luka dalam hati tidak bawa novel tersebut ke london.
Cukup panjang penjelasan tersebut, dibaluti ketulusan.
Ok. Rara pun menerima dengan baik.
“Siapa sih yang undang dia ke sini? Kok saya tidak tahu hal ini?” Rara menyemprot protes. Tapi, tak mengelak kalau ruas-ruas itu berseru sumringah. Sungguh, nggak bohong deh.
Lalu .. Nada mengalun sangat lembut di telinga, “happy birthdays..” Di akhiri menggunakan diksi tersebut.
Sangat bergetir dalam batin, kejutan di angka tiga oktober di hiasi begitu mewah dan manis.
Thanks god, sudah kasih kado terindah seperti mereka semua. Gumam Rara penuh haru diselimuti senang. []
__ADS_1
Notes :
Waldos adalah Wali Dosen