
“Menjadi sebuah pertanyaan, berkemas tanpa berikan sebuah kabar, hanya menitipkan sebuah nestapa dalam dada.”
♡♡♡
Masih berada dalam asa mengharapkan potongan nada dari cowok menyebalkan. Oh, benar juga sejak bercerita di bawah bukit telettubis, mendadak potongan nada Rara berubah, hilang kabar.
“Apa kamu malu setelah kasih tahu saya penyakitmu?” Gumam Rara, sangat penasaran.
Kenapa saat Rara sudah berusaha bersabar menunggu kepastian yang bakal mendahagakan kidung, tiba-tiba saja tidak menemukan cercah dari Luthfi.
Ah, Luthfi kenapa pergi tidak kasih kabar pasti semakin buat gadis itu risau dalam sepi.
Ih, harus kah buat Rara menyapa kidung itu lewat puisi? Yang bahkan belum sama sekali terbaca oleh Luthfi? Hanya nafsi merasakan keindahan diksi tercipta tanpa perintah dari potongan nada.
Sangat menginginkan dalam menyatukan simfoni bersama potongan nada dibalik petikan gitar milik Luthfi, apa boleh?
Melihat sifat plin-plan cowok itu saja cukup buat Rara mendengus gusar.
Rara tersenyum, melihat ketegaran cowok disukai masih bisa bersyukur walau dengan fisik yang tidak bisa sehat seperti kebayakan orang diluar sana. Justru Rara mendelik kesal, bertemu orang yang mempersempit rasa syukur karena kekurangan yang ada dalam fisik.
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” Quran surah Ibrahim, ayat 7.
Bahkan kebanyakan dari mereka mengeluh di sosial media persoalan masalah di rumah.
Ah, mungkin itu cara mereka dalam menarik sebuah perhatian warga online.
Rara masih belum bisa berhenti terkesima dibalik syukur luas terletak pada cowok terbilang santai dan penuh canda, ternyata keceriaan itu tersimpan banyak luka batin tidak bisa tersembuhkan, hanya mengandalkan sebuah olahraga supaya penyakit itu tidak kambuh.
“Ra..”
Eh, bentar kok bisa perempuan ini masuk ke rumah, sedangkan dia sedang duduk mengerjakan tugas kuliah.
“Kok bisa masuk ke sini? Siapa yang buka kan kamu pagar?” Rara melongo hebat.
Hanya dibalas tawa meledek lalu masuk ke dalam kamar dengan leluasa.
“Makanya, jangan kerjanya melamun sendiri, nanti kesurupan baru.”
Dih, sudah hilang kabar dan susah dihubungi main datang tanpa di undang.
“Tumben ke rumahku tidak bilang-bilang, pasti ada masalah?” Rara menunjuk penuh penasaran.
“Tidak usah tunjuk depan-depan mukaku juga toh! Mengganggu pemandangan saja!”
Rara tertawa renyah, “saya lapar..” Mengambil jeda tiga detik, “makan bakso yok?!” Seru Rara.
Jangan bilang, “tidak ada uang buat beli bakso?! Sudah ah, ikut saja. Gunanya sahabat tuh apa?! Melengkapi yang kosong!” Rara berujar ketus.
Vero pun menyengir.
Sahabat yang paling sulit buat terbuka ke sahabat bahkan selalu menolak kalau diajak traktiran oleh mereka berdua.
__ADS_1
“Pesan sudah, saya ambil tempat dulu di dalam.” Kata Vero.
Beberapa menit kemudian, Rara pun duduk di hadapan sahabatnya itu.
“Kamu tahu Kak Luthfi?” Kata Rara, dentuman berdesir sangat ngilu.
Menyebut nama yang sudah lama hilang, tentu buat ruas-ruas itu kembali patah.
“Iya, kenapa dengan kakak satu itu, Ra?”
Gadis itu menerka kalau sahabat di Padang belum menceritakan apa-apa tentang hubungan mereka berdua. Tersenyum sekilas.
“Tidak ada. Hanya saja saya lihat dari gerak-geriknya kayaknya dia suka sama saya deh.” Mungkin. Imbuh Rara dalam batin, tidak mau terlalu berharap juga sih.
“Serius, Ra? Kakak itu suka sama kamu?”
“Haha tidak ada yah, saya bercanda itu. Macam Luthfi mau suka sama saya.” Intonasi sangat terdengar begitu lirih.
Lagian buat apa menggantungkan harapan pada orang yang memang tidak menginginkan sebuah hubungan itu menjadi sebuah diksi kita.
Kepergianmu tanpa jejak, semakin buat sa ingin ikut berkemas. Getir Rara dalam batin.
Tapi, setelah ada keinginan buat pergi, kenapa hati terasa sakit?
“Oh, bagus deh, kalau memang kakak itu suka sama kamu, bilang eh?! Soalnya kalian berdua tuh cocok yah!” Eh? Kok Vero semakin sumringah sih?
“Mana mungkin dia suka sama saya.” Rara pun tertawa sangat sumbang.
“Jadi, sekarang saya tanya, kuliahmu aman toh?”
Kalau persoalan studi, jangan berharap Vero berhenti memberikan motivasi agar sahabat keras kepalanya itu tiba mengenakan kucir di kepala.
Karena terkadang Rara suka down sebelum mencoba, resmi menjadi mahasiswi saja sudah menjadi kebanggaan AVN. Really.
♡♡♡
“Astaga! Saya belum mengerti sama sekali!” Keluh salah satu teman Rara.
Mendengar itu, sedikit risi. Kalau memang tidak paham kenapa harus ricuh dalam laboratorium sih?
Selepas dari ruangan, Rara dengan gerakan cepat mengenakan sepatu lalu sejajarkan langkah dengan temannya.
“Ika, sebentar kerja tugas sama-sama kah?”
“Oh, boleh-boleh, di rumahku kah?”
Kalau bukan di rumah Ika terus kerja di mana lagi sih? Kan, Rara tahu kalau teman angkatannya itu tidak boleh pergi jauh-jauh selain disekitar Abe.
Tugas yang memang cukup buat Rara pusing, karena harus menggunakan coding, dimana itu memerlukan sebuah logika yang kuat. Dan, Ika salah satu teman yang bisa mengerjakannya tanpa gagal.
Tadi saja dalam lab, hampir semua teman minta diajarkan sama perempuan itu.
__ADS_1
Tersenyum miring. Apa sih yang bisa dikerjakan atau diandalkan dari Rara? Hanya bermodal gagal dan terus menumpang di otak teman.
Rara bersyukur ada teman yang baik dalam merangkul saat sedang susah dalam menyerapi sebuah pelajaran di kampus. Salah satunya coding.
“Kalian mau ke mana?” Teriak Yongki.
“Kerja tugas prak, kenapa?” Jawab Rara ketus.
“Ikut kah?! Saya juga mau kerja.” Ini suara Irja, sambil menyenggol siku temannya.
Ika hanya tersenyum malu, lalu mengindahkan permintaan mereka.
Setelah sampai di rumah, sudah beberapa kantong plastik berisikan gorengan dan minuman buat mereka makan sambil belajar sama-sama.
“Begini kek setiap hari, biar kenyang tidak usah makan lagi.” Irja berkicau sangat angkuh.
“Iya, betul sekali, Ra..thanks eh? Sudah belikan kita gorengan.”
Tidak tahu kenapa sejak insiden semester dua, ditambah semester lima terbengkalai kenapa tidak ada dari mereka merangkul saat Rara bernestapa seorang diri, menatap sebuah jejeran hangus di KRSM?
Sekarang saja baru nongol saat Rara dengan baik hati membelikan makanan, bahkan dari mereka pun tidak sama sekali gantian buat beli makanan kalau sedang kerja tugas sama-sama seperti ini.
Kenapa sih harus diingatkan segala permasalahan kertas-kertas yang tidak melulu dari satu orang membelikan, sudah seharusnya mereka tahu diri bukan menjadi melunjak seperti ini sama Rara.
Dia juga kenapa terlalu baik sama mereka, yang jelas hanya memanfaatkan keadaan dan fasilitas di dirinya.
“Ra, lain kali tuh tidak usah beli-beli beginian, keenakan di mereka sih saya rasa.” Sempat Ika menegur, tapi tidak dihiraukan sama sekali oleh Rara.
Jangan mudah mempermainkan kepercayaan orang lain. Luka di tubuh bisa diobati, luka di hati siapa yang tahu? Atau mungkin sebaliknya. -Ria Ricis-
Rara berpikir kalau teman angkatan tidak memiliki hati dan otak dipakai hanya mempermainkan kepercayaan orang lain, termasuk Rara sendiri.
Sudah jelas dilukai dengan cara halus, masih saja bertahan di sekitar mereka. Apa karena takut kehilangan sebuah pertemanan? []
Notes :
.
.
Menerobos bola mata teman seangatakan yang batas mengecup fasilitas dengan bengis, tak memiliki hati dalam merangkul kala nafsi terbujur lirih dengan angka-angka pongah di KRSM.
Terus menggunakan cara licik dalam menerbangkan rasa ketergantungan kala otak tak mengerti pun selalu ingi bergandeng dengan syarat harus berikan makan.
Yang di mana mendapati wajah-wajah palsu di balik melantangkan tulus, tapi toxic untuk sekedar mengenyangkan perut mereka.
Dan, nafsi terus saja terjeruji oleh kepalsuan mereka, masih belum mengendus aroma ikhlas, kala protes mereka semakin mengamuk tanpa sebab. Padahal .. Yang bikin diri protes adalah sikap mereka sendiri.
Baik ke semua orang boleh. Asal, harus hati-hati dalam memberikan sebuah kepercayaan ke teman.
Salam Online ..
__ADS_1
💕
-Dinn-