
“Lagi, bermunculan sebuah kidung tersemat pada ruas-ruas perkuliahan, tak sadar terselip sebuah kaknis selalu menjadi bincang puisi.”
♡♡♡
Tidak tahu sejak kapan tercipta sebuah kaknis dalam puisi Rara yang iseng dibuat sedang malas mendengar dosen menjeleskan depan kelas.
Apa karena tawa terdengar ramah di daun telinga Rara? Ah, funny really. Terkadang Rara memotret dalam diam saat lihat cowok itu berbincang dengan dua teman selalu bakubawa itu.
Tidak tahu kenapa saat cowok itu tertawa sangat lepas, menular juga ke Rara. Diam-diam terkekeh pelan.
Saat masuk kelas bahasa inggris, kok Rara bingung melihat sorot mata dosen itu. Sambil mengikuti arah bola tersebut ke belakang.
“Kamu? Yang dibelakang tiga orang, bukannya kakak tingkat yah, mengulang buat kontrak mata kuliah ibu, benar kan?”
Eh? Berarti selama ini dikagumi oleh puisi dalam bait Rara adalah kakting? Apa?!
Bukan merasa malu duduk bersama adikting justru daun telinga Rara menangkap kekehan mereka bertiga dengan percaya diri mengakui apa yang barusan beliau katakan. Menggeleng tak percaya.
“Ok, baik sebelum mulai pelajaran, saya minta kalian perkenalkan diri dengan bahasa inggris, bisa kan? Ibu kasih waktu lima belas menit dari sekarang buat kalian hapal dalam bahasa inggris, ibu tunggu tapi jangan ribut. Kelas sebelah lagi belajar.” Titah beliau lalu mengeluarkan HP dengan santai.
Waktu yang ditentukan pun tiba, Rara jadi nerveous buat maju di depan padahal sudah dihapal dengan sungguh-sungguh, takut sudah di depan kelas mendadak lupa akibat nerveous terpelihara pikiran.
Ah, kali ini giliran Rara. Maju dengan perasaan kaku berbeda dengan dosen yang menyambut dengan angguk dan tersenyum sangat ramah, seperti .. Memberikan kepercayaan diri buat dia mengenalkan diri dengan mudah tanpa hambatan.
Tersenyum kikuk lalu berbalik ke mata yang sudah tertuju tak sabar mendengar nama dia mengenakan bahasa inggris.
Barang-barang tiga menit terpakai memperkenalkan diri depan kelas, “ada pacar kah?” Tercetus oleh kakting terbilang manis itu.
Tersenyum malu, “i’m single,” menjawab sangat kaku.
“Wih..Andy, dia single tuh..bisa tuh!” Seru temannya sambil menggoyangkan lengan cowok yang dibilang Andy itu.
Dosen pun menggeleng melihat ulah mereka bertiga lalu menyuruh Rara duduk ke tempat dan mempersilahkan mahasiswa lain yang belum memperkenalkan diri.
Andy. Sudah terekam dengan baik oleh pikiran Rara.
Hanya matkul tertentu saja bisa bertemu kaknis, cukup buat Rara bersyukur bisa masuk lihat cowok itu walau dengan diam menuliskan bait dalam puisi.
Esok hari, Sistem Basis Data I, saat dosen menerangkan dengan sangat bosan ditangkap oleh Rara. Kebetulan duduk paling belakang dan terhalangi oleh mahasiswa di depan bisa leluasa melakukan hal apa saja dalam menghilangkan bosan.
Salah satunya nulis puisi begitu?
“Eh, saya ada suka kakak manis yang sama-sama kontrak dengan kita.” Ah, begitulah cetusan disiarkan langsung di daun telinga Yongki dengan bisikan sangat pelan, takut kena marah oleh dosen sedang berbincang dengan teman dan tidak mendengar baik penjelasan beliau.
Yongki terlihat bingung selepas itu mulai menggoda teman sekelasnya. Oh, jangan tanya kalau teman cowok itu sangat mudah menggombali teman cewek. Jadi..bukan hal baru lagi bagi Rara.
“Siapa, Ra?” Kata Yongki, coba-coba penasaran dan ingin tahu nama kakting tersebut.
“Ada..itu,” Rara menjawab seadanya saja.
Kalau memberitahui nama, bisa jadi sekelas menyorak buat mendesak mereka menjadi sepasang kekasih. Cukup berada dalam puisi saja, itu pun tertulis masih absurt walau sudah sering baca novel buat menambah referensi dan melatih tulisan Rara, masih belum merasa cukup bagus menuangkan aksara tersebut.
Rara pun menyodorkan kertas binder hasil puisi dituliskan, “romantis sekali kah!” Yongki terkekeh semakin buat kedua pipi gadis itu merona, malu.
__ADS_1
Lain tempat, sedang berada di kantin, hari Rabu..
“Dek..Dek, tahu cewek yang kurus-kurus pakai jilbab itu kah?” Kak Andy bertanya dengan raut penasaran ke salah satu teman sejurusan Rara.
Berhenti menyerupi minuman, “siapa, Kak?” Dengan bingung membalas dan mencoba menerka teman sekelasnya siapa saja yang pakai jilbab dan ciri telah disebutkan kakting itu.
“Itu..yang sering kakak ganggu di kelas.” Kalau sudah menampilkan wajah jail seperti itu, cukup buat adiktingnya mengerti siapa yang dimaksud Kak Andy.
“Em..Rara kah?” Mencoba menebak.
“Kurang tahu namanya siapa. Yang jelas kakak suka sama dia!” Seru kaknis itu.
“Kalau begitu kakak kenalan sudah sama dia.” Usul cowok itu dengan intonasi menggebu.
“Ah...kakak malu yah dek!” Sambil tersenyum kikuk.
“Oh...saya tahu, kalau begitu nanti saya bantu sudah eh, kak!” Langsung menyengir lebar hingga menampakkan giginya.
Saat mereka kembali dalam kelas,
Teman sekelas Rara duduk disamping dan mulai mencari informasi supaya bisa dapat nomor HP karena hanya berteman di BBM saja.
“Ra..minta nomor kah?”
Rara berbalik dengan sinis, tidak mau memberikan nomor ke sembarang orang walau teman sekelas sendiri.
“Buat?!” Penuh dengan nada sarkas.
“Ji..buat tanya-tanya tugas toh, boleh kah tidak nih, Ra?” Lagi, mencoba meminta.
“Kenalkan namaku Efraim.” Benar, belum tahu nama teman sekelas semua walau sudah perkenalan seminggu dalam matkul yang berbeda tentu Rara tidak bisa menghapal wajah dan nama mereka.
Lagian di kontak BBM saat add contact Rara tercantum nama asing, jelas bingung siapa nama teman sekelasnya itu. Batas tahu wajah saja. Syukur bisa hapal walau agak samar.
Dan lucunya teman sekelas sudah hampir mengenal dan menghapal wajah Rara sedangkan gadis itu bodoh amat dengan hal sepeleh itu.
♡♡♡
Diluar dugaan, kok Rara terbuai dengan kata-kata manis teman sendiri sih? Sudah jelas berisik sekali di chatroom bbm, masih saja nekat kasih nomor HP-nya.
Efraim tidak segan dalam menggoda dan menanyakan kalau hati gadis itu sedang menaruh satu nama, jelas buat dia risi bertanya ke privasi.
Bahkan setiap kali Rara ciptakan status tentang kaknis walau dengan cara menyembunyikan lewat penyampaian diksi, tetap saja buat teman cowoknya itu dapat menebak dengan jelas.
Cukup buat Rara ingin marah dan mencabak rambut cowok itu, sungguh!
Fine, memang gadis itu menyukai Kak Andy, setidaknya tidak perlu di desak untuk menciptakan rona di pipi Rara, itu tidak baik dalam detak berpacu sangat malu kalau sudah membahas topik itu melulu.
Esok hari dalam kelas,
Sibuk dengan layar laptop, “Ra..tidak ke kantin?” Teriak Livy dari arah pintu kelas.
“Tidak deh, kayanya saya di kelas saja.” Rara membalas dengan senyum ramah.
__ADS_1
“Oh, ok. Tidak mau titip begitu?” Lagi Livy menawarkan jasa kurir.
Tapi, Rara berpikir tidak ada yang harus di makan atau beli karena belum lapar. Menggeleng lalu melihat mereka berjalan dengan santai ke kantin belakang kampus.
Selepas kepergian mereka, melihat Kak Andy dari kejauhan sedang tertawa lepas bersama dua teman di bawah pohon beringin kampus. Tanpa disadari ada satu garis terbentuk senyum berasal dari Rara sendiri.
Tidak lama kemudian pemandangan itu terhalangi oleh Yongki sedang membawa kertas serta menginfokan tanda tangan saja setelah itu pulang.
Mendesah sangat panjang, sudah masuk malam hari saja. Dan, tugas pun menyambut dengan tumpukan terbanyak.
Kali pertama Rara lihat tugas sebanyak dibanding sekolah dulu. Belum lagi mencari kabel USB yang tidak tahu ngumpet di mana. Semakin buat Rara mumet. Ah, benar saja kepala itu semakin sakit saat memaksa tugas dikerjakan dalam sehari.
Dan, tugas yang harus dikumpulkan besok adalah praktikum mesti di print sedangkan kabel USB terhubung ke printer tidak tahu ke mana. Sudah berjam-jam mencari, nihil.
Ah, daripada pusing mencari lebih baik Rara merebahkan tubuh sembari melihat dinding status Luthfi. Tidak ada sama sekali.
Padahal kemarin-kemarin masih lancar komunikasi lewat chatroom, kok sekarang cogan itu mulai hilang? Uh, yang benar saja bukan hanya cuek atau pintar di sekolah melainkan gemar hilang setelah beri nyaman.
Ah, sudah deh lebih baik memposting status galau tentang kaknis, eh..tiba-tiba bersamaan dengan chat Luthfi masuk setelah status itu telah terposting di dinding BBM.
Tersenyum tidak jelas lalu dengan cepat buka, ih ternyata promosi ingin nambah kontak saja. Mendesah kesal tapi sebisa mungkin Rara menciptakan obrolan dengan ok kakak jelek. Tanpa sadar ada decihan sangat puas milik Rara.
Kenapa yak kalau sedang menggumpalkan kabut pekat saat ingin berada di sekitaran Kak Andy, mendadak cogan itu selalu muncul tanpa terka. Dan, itu adalah waktu sangat menyebalkan datang bersamaan saat sedang berada dalam galau yang ingin dinikmati seorang diri.
But, it’s okay ada teman dalam menghibur diri juga.
Luthfi Pratama : Icc, ganggu trus eh..cie yang belum bisa move on...Reihan kah yang dimaksud mataharinya...
Rara : Jiss amit-amit deh..Reihan itu udah masa lalu kak, saya sudah move on dan lepaskan Reihan. Jadi buat apa ingat dia haha, semua pemberian dia udah saya buang dan bakar. Liat DPku aja.
Luthfi Pratama : Haha baru siapa itu mataharinya... Iya-iya sudah move on... Kan kirain... gak usah marah piss
Bisa disimpulkan oleh Rara sejak hilang kabar sifat menyebalkan cogan itu belum juga terkelupas tapi buat dia senyum-senyum kurang jelas. Menyenangkan, begitulah yang bisa dirasakan oleh Rara saat sedang chat lagi dengan cogan terlabel gitaris itu.
Hampir saja tersulut oleh emosi, karena dari tadi chat cogan itu menggoda mengenai Reihan melulu yang hampir tidak bisa terlupakan oleh ruang kecil Rara.
Rara : Bukan Reihan, kan saya udah lepaskan Reihan beberapa tahun yang lalu...jadi buat apa ingat-ingat dia haha.
Tidak tahu kenapa picture terlanjur terkirim ke Luthfi tidak buat dia berpikir ih apa dia tidak sakit hati kalau bahas cowok lain? Ah, dengan cepat Rara menggeleng tentang percakapan itu dengan sahabat dalam memenangkan hati cogan terbilang cuek dan sangat impossibel menjadi kita dari kakak-adik.
Luthfi Pratama : Ouw, ya udah kalau gitu, semoga mataharinya akan selalu menyinari kesedihan hati Rara, wkwk...hmm, iya bagus itu, orang yang suka romantis itu biasanya tipikal karakter yang melow gimana gitu...hehe karena aku juga sic sedikit suka yang romantis wkwk...
“Dih, ndak jelas sekali nih orang,” kok Rara senyam-senyum malu baca chat itu sih?
Tapi, sungguh itu sangat menyenangkan bisa berbagi dengan orang lain bukan hanya nafsi menangani pun tak perlu memelihara tangis lagi seorang diri. []
Notes :
Kaknis \= Kakak Manis
Kakting \= Kakak Tingkat
Adikting \= Adik Tingkat
__ADS_1
Bakubawa \= Jalan Sama-Sama