Sepotong Nada Yang Hilang

Sepotong Nada Yang Hilang
30. SK Luthfi


__ADS_3

“Senada rintik mengiramakan romantika, melihat pasangan baru saja merayakan hubungan. Namun, berbeda dengan dua orang yang lebih memilih pergi dan sakit sendiri.”


♡♡♡


Berdesir melihat Luthfi menyempatkan waktu datang ke gedung 751, bertemu seorang perempuan dengan mata cipit, putih bersih sembari menyerahkan sebuah hadiah atas kemenangan karateka.


“Enaknya, sa kapan bisa juara menulis?” Loh, kok Rara bergumam iri dengan perempuan itu?


Masih sama, melihat foto sangat mesra bahkan sejak beberapa tahun belakangan ini jalber dengan Luthfi, tidak pernah semesra itu.


Memang benar kok, tidak perlu alasan lain lagi selain Luthfi anggap teman biasa tidak ada yang spesial karena cuma martabak saja dibilang spesial tidak lupa pakai karet merah, hubungan mereka tidak bisa seperti martabak.


Ah, benar juga Rara jadi teringat satu hal.


Saat sudah terhubung begitu lama, dada sangat bergemuruh hebat jangan sampai tidak ada kabar lagi.


“Vey..” Akhirnya diangkat juga sama sahabat.


“Kenapa?”


Hua..dari intonasi sahabat di seberang HP saja, Rara pengen lari memeluk sambil curhat tanpa jeda. Jujur, ruas-ruas sempat ceria mendadak terhantam petir begitu saja melihat Luthfi telah bergandeng mesra dengan perempuan lain, yang jauh lebih cantikdaripada Rara.


Tidak perlu memikirkan percakapan mereka makan mie ayam, pasti sahabat sudah tahu


kalau Luthfi menyukai gadis itu.


“Ko tahu toh, kalau kak Luthfi suka sama sa?” Dengan PD tinggi, sudah mengatakan lebih dulu.


Jelas, kalau Rara tahu cowok itu tidak menyukainya sama sekali. Karena terbukti lebih


dulu mencari orang lain untuk mengisi ruas hati.


“Hm, trus, kenapa jadi?” Kok, Vero menanggapi sangat santai dan percaya dengan penuturan sahabatnya itu sih?


Sudah..sudah, tidak perlu dipusingkan lagi.


“Sebenarnya..sa pernah kasih tahu perasaannya Avisa ke dia.”


Tapi, yang menjadi kecemasan itu adalah Rara sempat mengatakan perasaan sahabat di padang ke sepotong nada yang hilang dan transit ke simfoni lain.


“Maksudnya? Avisa juga suka sama kakak itu, Ra? Ko tra tipu?” Vero menyergahsangat marah. Semakin buat gadis itu memutar bola mata dengan jengah.


“Buat apa sa tipu-tipu? Avisa duluan suka sama dia, sudah sejak..SMP.”


“Hm..pantas saja, Ra. Kak Luthfi jaga jarak sama ko.”


“Kenapa jadi?” Rara jadi melongo sendiri.


“Ji..ko kasih tahu perasaannya Avisa begitu, mungkin toh, Kak Luthfi pikir daripada


kalian berdua punya hubungan berantakan karena dia, lebih baik dia jahui ko. Tapi, Ra, ko masih ada rasa toh sama kakak itu? Ah, trapp..kam bisa jadian kok, lagian Avisa di padang, besar kemungkinan kam dua bisa pacaran.”


Hua..Vero! Apa benar cowok itu menyukai dia? Kalau memang ada rasa, kenapa selama jalber dan datang jemput ke kampus, tidak ada lantangkan sebuah kejujuran dari Luthfi?


Hanya tawa khas dan menanggapi hubungan mereka main-main.


“Ko tahu? Dia saja hilang kabar, baemana mo pacaran.” Rara berdesir hebat.


Sudah tidak bisa lagi bermain putak umpet dengan sahabat sendiri, walau tahu dalam hati tak ingin menyuarakan dengan bebas biar sekalipun itu adalah sahabat sendiri.


Tapi, berbeda buat hari ini karena perasaan sangat gemuruh dalam dada yang tidak tahu mau berbuat apa selain ingin menumpahkan semua sakit hati, ketika cowok itu lebih memilih pamit.


“Heh?! Jan tipu boleh, kenapa bisa kakak itu hilang kabar? Ko hubungi dia toh! Jan


sampe kakak itu pacaran sama orang lain, Ra! Kam dua tuh cocok!”


Sedikit lega, mendengar penuturan sumringah dari sahabat. Tak mengelak kalau ada senyum yang terbit di wajah Rara saat ini, setelah itu berganti ruas desir.


Kembali mengingat pertanyaan hilang kabar yang tiba-tiba, jelas buat gadis itu ikut bingung tidak tahu penyebabnya.


Ah, benar. Lebih penting dalam membahas satu hal yang menyangkut debaran mendesak-desak dada gadis itu saat ini.


“Ko tahu? Sa barusan baca sk-nya di whatsapp.”


“Kenapa jadi dengan sk-nya? De tulis apa kah?”

__ADS_1


Ih. Rara jadi gemas sendiri kan, kenapa sih sahabatnya tidak mengerti juga kalau dari


intonasi dan beri kabar sangat butuh waktu panjang dalam mengobrol, dipastikan sedang patah yang sangat terdengar retak dalam ruas sudah lama tidak tersentuh oleh kidung.


Saat sudah menemukan simfoni yang cocok, mendadak berkemas lalu meninggalkan nyaman dalam hati Rara.


Menyebalkan sekali, belum juga mendapati satu potongan nada dari petikan gitar Luthfi, sudah lebih memilih pamit.


Arg. Mendengus sangat panjang.


“Sa curiga saja, kalau Luthfi sudah punya pacar.”


Hm, tak terbantahkan persoalan kata hati dalam batin Rara. Karena sejak hilang kabar yang kali ini, benar-benar tidak bisa mendapati sebuah cercah simfoni manis dari Luthfi.


“Makanya..ko lagi nih, jan sembunyi hati begitu, sekarang? Menyesal toh orangnya


diambil sama yang lain?!” Hebat sekali, sebelum menutup telpon, sempatkan mencibir.


Ah, lebih baik telpon Avisa saja. Wait..wait, kalau Rara menelpon dan memberikan kabar mendung seperti itu, yang ada dalam hati bersorak sangat gembira.


Duh, Rara mendadak lesu kan.


Setelah mempertimbangkan waktu yang sangat lama, gadis itu pun langsung menelpon tanpa harus takut dengan jawaban pedas dari sahabatnya sendiri.


Toh, kalau memang itu jawaban menyayat perasaan, Rara bakal menerima dengan lapang dada. Karena memang, sebuah perasaan tidak bisa kita paksa.


Setelah cukup ngobrol panjang lebar, Rara langsung menyinggung soal SK Luthfi yang masih mengusik pikiran dia.


“Sudah..tra usah pikirkan sk Luthfi, siapa tahu itu novi singkatan dari nonton tipi.” Avisa berusaha menghibur.


Oh benar juga Avisa menyempatkan dalam menginfokan sedang kerja tugas kuliah. Namun, tetap sabar meladeni curhatan sahabatnya itu.


“Ah..masa sih itu singkatannya?” Rara masih protes.


“Yah..pikir positif saja, Ra.”


Lalu Rara menggigit bibir bawah, mana mungkin bisa itu adalah singkatan dari penuturan sahabatnya barusan?


♡♡♡


Karena memang cowok memiliki potongan nada tidak serius dalam menyukai dirinya, sekedar penyenang hati sesaat setelah itu mencari kidung lebih menarik.


“Sebagai sahabat kah?” Gumam Rara, bergetir.


Masih belum ikhlas, melihat sepotong nada yang hilang tidak tahu arah.


“Kan, sa masih bisa toh silaturahmi begitu sama dia? Trus..minta dibuatkan sepotong nada dari petikan gitarnya?” Kata Rara.


Mendengar penuturan tersebut, semakin buat seorang di depannya sangat miris menanggapi.


“Ra..” Panggilnya dengan menggantung, sembari menatap dengan lamat-lamat.


“Apa?” Dijawab sangat ketus.


Jujur, dia masih belum bisa move on lihat sepotong nada yang hilang bersama perempuan lebih cantik dibanding dirinya.


“Bisa kah tra, kalau lagi kumpul begini jan cerita dia?” Dengan nada sedikit memelas.


Sudah capek telinga itu mendengar nama Luthfi dari mulut Rara.


“Sa tahu, dulu waktu sekolah Avisa yang sendiri minta buat ko perjuangkan cinta itu, tapi..sekarang beda, Ra. Kak Luthfi su berubah.”


Mendengar itu, cukup buat hati Rara tertohok lalu tersenyum sangat miring.


“Benar eh? Kalau sa nih jelek, tidak istimewa hanya martabak saja pakai karet merah.”


Mendadak Rara insecure, kembali lihat wajah imut, sipit perempuan yang masih menjadi pertanyaan dalam benak.


“Please..stop lihat orang yang buat ko menjelekkan diri sendiri. Ra..ko itu sebenarnya


cantik! Titik! Trada yang kurang dari ko, hanya syukur itu kurang dilebarkan dalam dadamu.” Cerocos perempuan tersebut, sambil menutup wajah yang dari tadi diperhatikan Rara.


Bergetir, apa tidak tahu perasaan gadis itu sekarang? Saat tidak dibutuhkan sekedar


penyenang bagi Luthfi dan tidak ingin pacaran dulu masih belum cukup buat dia tertohok?

__ADS_1


Dasar..penipu! Katanya mo taaruf saja tra mau pacaran! Kok Rara gemas sendiri sih dalam batin?


“Tapi kan, dia sendiri yang bilang kalau tra mau pacaran hanya mau taaruf saja.” Rara membela diri, sambil memberikan sebuah nada protes.


“Ok fine, itu alasan Kak Luthfi, supaya tra mau sakiti ko perasaan, Ra. Banyak cowok yang lebih baik dari dia.”


Bisa tidak sih, saat kumpul seperti ini tidak perlu bahas atau bergelut hanya seputar cowok?


“Sori, kalau begitu mo makan apa nih?” Rara menjawab dengan setengah hati.


Belum bisa ikhlas saat curhat itu tergantung begitu saja, karena memang setiap kali ketemu seperti ini selalu saja membahas hal unfaedah termasuk cinta tidak ada penting-pentingnya untuk di cerita.


“Makan apa saja deh, yang penting murah, soalnya sa kan baru dapat kerja sampingan.” Kata perempuan itu dengan santai.


“Kalau sa apa eh?” Nah, mulai bingung kan kalau sudah masuk di sesi Vero.


“Duh, biar sa yang pesan kan sudah, tra usah ribet soal bayar nanti. Gunanya sahabat itu saling melengkapi.” Ketus Rara, akhirnya mengambil menu makanan yang masih di pegang Vero.


Vero tersenyum miris, masih belum juga membalas kebaikan mereka semua yang sangat tulus memberi.


“Trus..kuliahmu di sana bagaimana?” Kata Vero.


“Aman, biasa, agak susah juga sih, awokawok.” Perempuan itu membalas dengan tertawa puas.


Sedangkan Rara, terdiam. Masih belum ingin membahas seputar kuliah yang cukup menguras energi, karena teman seangakatan masih pada berjalan ke arah egoisme diri bahkan sempat menyalahkan dia yang menyebabkan terpecah belah sistem informasi.


“Sa tahu kok apa yang lagi ko pikirkan saat ini, Ra.” Tiba-tiba saja lamunan gadis itu buyar.


Sedikit tersenyum, tapi sangat lirih.


“Jan bahas tentang kuliahku kah? Please..sa lagi malas cerita tentang dorang yang angkuh begitu. Apalagi..gegayan nebeng otak teman.” Rara bersuara dengan nada sedikit protes, merasa tidak adil.


“Sudah..sudah, yang penting ko fokus saja sama satu tujuan. Kan, bukan mereka yang bayar uang kuliahmu.” Perempuan itu sambil menyenggol bahu Vero, “betul tuh, buat apa juga kasih susah diri untuk pikir mereka, tra usah pusingkan dong. Ko fokus kuliah saja sampai pakai toga.” Ujar Vero dengan semangat.


“Eh..eh, Avisa apa kabar? Kalau kumpul begini, pasti dia orang yang paling maju buat


makan-makan diluar.” Sahut perempuan itu sangat antusias.


“Haha..kemarin saja de ada pusing dengan tugas-tugasnya yang menumpuk itu.” Rara


menjawab dengan celetuh.


Resiko mengambil jurusan kebidanan yah begitu, super sibuk apalagi kan, Avisa tidak bisa terlalu capek. Kasihan nanti yang ada drop dan sakit tidak bisa ngurus saat jauh seperti itu.


Mereka bertiga berharap sih Avisa kuliah di Jayapura saja, biar kalau ada apa-apa kan, bisa saling ngebantu saat kesulitan. Nah, kalau jauh seperti itu susah buat bantu, hanya kirim doa, masih belum cukup bagi mereka bertiga.


Setidaknya itu juga sebuah kebaikan dan masa depan Avisa yang lebih baik juga membanggakan kedua orangtua dengan gelar tambahan di belakang nama.


“Rai apa kabar?” Eh, Rara bercetus tiba-tiba.


Buat perempuan itu tersenyum tipis, “dia masih di Bandung, biasa..ngurus kuliah di sana. Why?”


Rara menggeleng sambil tertawa hambar, “trada hanya tanya saja.” Perempuan itu mengangguk paham.


“Sudah. Tra perlu ingat Kak Luthfi lagi, masih banyak cowok lain kok yang lebih baik daripada Kak Luthfi.”


Perempuan itu adalah Adinda yang sangat setia pada satu komitmen dan tidak menyukai hal berbau sakit hati apalagi sudah menampilkan sebuah hal baru yang bukan di hati kita. Jelas, bakal buat sahabat Rara yang satu itu melantangkan protes dengan ketus. []


°


°


°


"Walau kidung-kidung bersimfoni sangat manis lewat perhatian kecil bahkan wajah sangat khawatir hebat tertampak sangat lucu, cukup buat sa senang, masih ada yang peduli walau merasa nafsi tidak terlalu dipentingkan saat sakit biasa haha.


Terkadang berharap sepotong nada yang su terlanjur hilang, kembali mengiramakan sembari berpadu dengan puisiku, tapi itu mustahil haha.


Batas menjadi selip di aksara saja haha.


Thanks for moment yang sangat terbilang singkat, cukup buat diksi itu berseru riang dalam larik hehe."


Salam Online,


♡♡♡

__ADS_1


-Dinn-


__ADS_2