Sepotong Nada Yang Hilang

Sepotong Nada Yang Hilang
Oyong Yah? (Versi Formal)


__ADS_3

“Menjadi kegeriangan dalam batin, mendapati satu selipan nama kecil Luthfi. Apakah Avisa mengetahui hal ini?”


 


♡♡♡


 


Ra.. Sebentar km mau ikut kah tdk ke sekolah?


Ping,


Ah, kamu ini, sya tunggu kemarin baru tdk ada kabar lagi.


Rara masih ingat dengan betul. Kemarin terlalu capek, duduk lama menunggu jemputan tapi ketiduran. Lalu terbangun dengan napas terengah-engah, menduga bakal telat menemani cogan itu. Ternyata menghelakan napas dengan gusar, tidak ada kabar sama sekali.


Menjengkelkan.


Sudah berusaha bangun dengan napas terputus-putus, dada sesak, teramat sakit ditambah kepala seperti mau pecah. Luthfi dengan santai tidak berikan klarifikasi kalau tidak jadi pergi.


Huh..kebiasaan Luthfi yang sangat buruk itu masih saja terpelihara. Apa susah kah menghubungi sebentar saja, walau tidak terlalu minat sedikit pun, seenggaknya Rara tahu dan tidak menahan perih susah payah sendiri.


Haha...maaf kah, kemarin tuh sya sibuk sekali. Dan tdk sempat juga ke SMK. Sebentar saja sdh eh?


Jelas-jelas salah, masih bisa tertawa santai? Ugh, ingin sekali Rara meninju sekuat tenaga yang dipunyanya. Tak peduli Luthfi karateka sabuk berapa, yang jelas amarah itu sudah sampai di ubun-ubun. Tidak mengerti perasaan orang sekali.


Bukan kah kemarin belum mau pergi dulu ke SMK, kok mendadak ingin ke sana? Tapi


menggunakan syarat kalau Rara ingin ikut tempel brosur harus ngampus sama-sama.


“Labil apa yo..” Rara berdecak kesal.


Senang sih ada, tapi kurang enak itu kalau Ra, tapi nanti kamu patungan isikan bensinku eh? Diminta palak persoalan bensin.


Jujur nih, Luthfi itu tidak punya malu kah? Minta uang bensin kok sama cewek. Berarti selama mendekati gadis itu hanya ingin dapat uang untuk bisa isi bensin motornya, begitu?!


Ih..kesal dah.


Tapi..saat sudah sampai di pom bensin, terdengar tawa riang sangat bersahabat milik Luthfi, “sudah, tidak usah pakai uangmu, ada uangku nih. Kau tenang saja.”


Kata-kata terlontar seperti menusuk Rara dan menjatuhkan harga diri gadis itu sendiri. Seolah-olah dia sendiri menawari uang bensin, jelas..Rara sangat tak enak hati karena setiap di ajak kampus sama-sama, tak lepas dari namanya patungan bensin eh? Atau minta dibayarkan.


Kali ini uang Rara tidak terkorek, apa karena sudah kerja?


Tidak juga. Saat Rara ingin mampir makan, selalu saja tahan perasaan dan lapar sampai di rumah, takut nanti cowok itu minta dibayarkan makan.


Beberapa jam kemudian, setelah pulang kampus, tidak biasanya Luthfi datang jemput tepat waktu, bahkan saat gadis itu baru selesai keluar mata kuliah terakhir.


Apa ada sesuatu di kepala Luthfi, makanya agak benturan sedikit perhatian?


Sudah ah, dengan begitu bisa buat Rara cepat pulang dan tidak menunggu atau menggunakan alasan teman dua orang itu menemani jemputannya lagi.


Karena, cukup waktu itu mendapatkan tatapan ketaksukaan teman ceplas-ceplos tak


berperasaan yang ingin menyuarakan protes, namun terurung dengan adanya teman

__ADS_1


kepercayaan sedang duduk santai memerhatikan HP.


“Nanti sore kamu mau temani saya latihan karate di smk?” Luthfi berujar cuek.


Perjalanan ke kampus tadi tidak banyak bicara, hanya sunyi beberapa kata saja dilempari Luthfi, tidak biasa. Dan, Rara tidak peduli hal itu tapi cukup mengusik hidup dia juga sih.


“Hah, kenapa, noge? Kamu tadi bilang apa?” Rara berteriak, karena suara cowok itu sangat pelan, juga telinga Rara disumbat dengan volume kandas ditambah angin kencang.


“Hm, mau temani saya latihan karate di smk?” Mengulangnya dengan notasi datar.


“Mau..mau.” Dengan cepat balas penuh sumringah.


Oh yah menjadi pertanyaan gadis itu sekarang adalah mampir menemani Luthfi latihan di smk. Ah, sekolah yang sangat membosankan dimana guru memuji siswa berprestasi sedangkan nafsi? Terlantarkan.


Sekarang? Saat sudah memiliki karya absurt, kok mencari-cari seperti membutuhkan asupan ilmu kepenulisan dari dia, yang katanya terbuang sia-sia takkan membutuhkan keberadaan gadis itu. Bahkan dari guru bahasa indonesia sendiri.


Arg. Sangat mengulang kisah pahit Rara sendiri. Saat sudah naik kelas dua smk, takkan terkelupas begitu saja saat beliau memanggil satu teman sekelas buat belajar menjadi mc untuk acara sekolah mereka. Disana, mengupayakan buat diri terpanggil dalamartian memberikan ruang Rara belajar hal baru, tapi harapan itu hancur.


Beliau merasa Rara tak pantas berdiri depan orang banyak, karena tidak pandai berbicara sangat fasih seperti teman sekelasnya itu, Rumi.


Sudahlah. Semua batas kenangan saja, buat apa membanggakan sekolah lama yang tidak mengharapkan dia datang sekedar bermain saja pun sorot para guru seperti kenapa datang ke sini?! Pergi saja, tidak perlu datang ke sekolah, lagian kamu kan sudah lulus dengan begitu jelas tertangkap Rara.


Beberapa jam kemudian, setelah rebahan sebentar. Dia pikir gagal lagi seperti waktu itu.


From : Luthfi Bawel Ra, siap-siap sdh, sya sdh mau dtg jmpt


Tersenyum mengembang, buru-buru mengenakan jilbab dan menunggu jemputan saja. Sudah tidak sabar lihat aksi cowok yang memiliki potongan nada itu melatih adik-adik smk.


 


♡♡♡


“Kalau begitu nanti sore saya datang, pak.” Timpal Luthfi menutup obrolan dan pertemuan mereka. Beliau membalas dengan tatapan datar tanpa ekspresi yang menjanjikan.


Dengan cepat Rara sejajarkan langkah Luthfi, sembari pelan-pelan turun dari tangga depan kantor sekolah. “Kenapa?” Kata Rara dengan kepo, seperti ada sesuatu yang disembunyikan cowok itu.


“Ah tidak ada. Nanti sore kalau kamu mau ikut, BBM saja atau SMS. Nanti saya jemput di rumah.” Tanpa ekspresi apapun.


Melongo. Apa yang sudah dibincangkan oleh mantan guru mereka barusan? Kok mendadak mood Luthfi jelek begini?


Rara pun meringis kembali mengingat obrolan tadi siang, sekarang mereka sudah sampai di sekolah. Tentang sesuatu yang belum dibicarakan Luthfi, kok tiba-tiba saja merasa ada yang ganjil?


Sudah menunggu beberapa jam disamping panggung sekolah, belum ada satu siswa pun yang datang.


Dengan percaya diri mengenakan seragam karateka itu juga perjalanan ke sekolah Luthfi sangat bersemangat, mendadak luntur dan menyembunyikan kabut pekat depan Rara.


Melihat itu, Rara juga ikut sedih.


Pun, saat menghampiri guru olahraga mereka, “eh, Luthfi, kenapa datang cepat sekali?” Kok disambut acuh tak acuh sih?


Rara melihat cogan itu tak kalah bengong dan sulit mengerti apa dari penuturan beliau barusan.


“Eh? Bukannya hari ini eksulnya pak?” Terdengar sangat hambar di daun telinga Rara.


“Kan, bapak sudah bilang, tunggu informasi dari bapak siapa-siapa saja yang sudah daftar. Ini saja baru tiga orang.”

__ADS_1


Setelah mendapatkan penuturan sangat menohok Luthfi, melihat dengan sangat sedih kala, “Ra? Saya ke sana dulu eh?” Pamit sembari menunjuk salah satu cowok sibukbermain sendiri depan kantor sekolah.


Luthfi.. Getir Rara sendiri, tak tega melihat cogan itu menanggung beban kecewa apalagi ini adalah kesempatan ia mendapati penghasilan baru di sekolah lama mereka, tapi melihat dengan tatapan guru olahraga mereka seperti itu saja cukup buat Rara menilai tak ingin ada keberadaan keduanya di sekolah.


Setelah bermain menghilangkan rasa kekecewaan, mungkin. Terlihat Luthfi kembali ke arah gadis itu sambil duduk dengan napas terengah-engah, capek bermain basket.


“Ra..” Panggil Luthfi, bukannya senang kok terdengar risi sih?


“Kenapa? Mereka jadi datang?” Kata Rara dengan nada penasaran.


“Sebenarnya..belum ada siswa yang mendaftar, tapi tunggu dulu sudah berapa menit kah, kalau mereka tidak datang kita pulang sudah.” Ucapnya dengan ragu.


Deg. Itu kan, sudah feeling Rara sejak datang tempel brosur siang tadi.


Kenapa sih Luthfi keuhkeuh buat mempertahankan pekerjaan itu di sekolah lama? Apa tidak bisa menilai sorot guru tersebut tidak memedulikan kehadiran mereka disini?


Ih, sungguh dah, Rara kesal sendiri jadinya kan.


Sibuk mengambil buku dari dalam tas, “itu buku apa, Ra, yang kamu baca?” Kata Luthfi, berusaha menghilangkan luka tersemat dalam dada.


Dan, Rara cukup tahu akan sesak itu. Biar sekalipun tidak diceritakan.


Sambil memerhatikan cover depan, “oh, judulnya itu toh. Kayaknya isi bukunya bagus.” Luthfi hanya membalas dengan asal.


Cukup, Fi. Sudah, saya tahu perasaanmu saat ini, tidak usah alihkan pembicaraan lagi. Gumam Rara dalam batin, bergetir sangat lirih.


Apa susah kalau membagikan cerita yang buat Luthfi sendiri terbebani seperti ini ke gadis itu? Dengan terbuka lebar, daun telinga menangkap semua keluhan Luthfi dengan begitu bisa mencarikan solusi agar tidak mencari alasan untuk larikan kecewa depan Rara lagi.


Hm, benar juga Rara kan bukan sehebat sahabat sendiri yang dengan mudah memberikan sebuah senyum lebar, melupakan sekejap masalah itu.


Cara apa yah buat Luthfi bisa menghilangkan rasa kecewa itu? Kayaknya mustahil sekali menghibur atau beri motivasi ke cogan yang selalu memberikan banyak harapan terhadap Rara dan menampik kabut di wajah gadis itu.


Sejak tadi hanya duduk termangu disamping panggung sekolah. Melihat cowok itu berdiri dengan wajah kesal. Bergemuruh.


“Aduh, kita balik sudah! Saya kecewa sekali. Saya pikir Pak Rizki kumpul mereka dari bulan yang lalu kah, karena saya sudah perkirakan kalau saya gensi terima tawaran itu bapak pasti akan usahakan untuk buat saya ngajar disini. Tapi sudahlah, kita pulang sudah, Ra.” Luthfi berkata dengan menampilkan wajah lirih campur amarah.


Rara mendengarkan itu hanya membalas dengan senyum getir, mengerti isi hati cowok itu.


Jujur, sedikit kecewa kala belum melihat aksi Luthfi melatih mereka karateka di sekolah lama mereka.


Tapi lebih baik balik saja ke rumah daripada menahan perasaan di sekolah tak terpedulikan oleh guru itu.


Dih, kalau Rara di posisi cowok itu lebih baik produktifkan bakat hobi takkan pernah menginjakkan di sekolah kalau sudah melihat dengan jelas kalau alumni guru saja sudah enggan membuka lebar tangannya dengan tulus.


Saat sudah melewati depan lorong koridor sekolah SD, dada Rara masih terasa sakit juga sedih lihat cowok itu kehilangan semangat saat sebelum datang ke sekolah.


“Oyong..” Seseorang memanggil dari arah lorong masuk ke sekolah pun tersambung juga ke kanjang.


Luthfi membalas dengan kekehan.


Spontan, “siapa?” Tercetus begitu saja dari mulut Rara.


Melongo, siapa nama Oyong sebenarnya sih? Apa itu nama kecil Luthfi atau sekedar ledek-ledekkan semata?


Yang jelas buat Rara lompat sumringah telah selipkan satu nama baru terkesan istimewa dalam kepalanya. []

__ADS_1


__ADS_2