
Tapi nggak dengan Pak Muklas yang sudah ketar ketir di buat nya.
''Ya sudah tentu lapar lah, dari rumah belum sempat makan makanya ini tengah bakar singky dan kamu malah datang ke sini,'' tukas Pak Jamil membolak-balikan singkong nya di dalam api tersebut.
''Tunggu di sini sebentar ya, aku ambilkan makan malam buat kalian berdua?'' jawab Genderuwo tersebut dan setelah nya hilang dalam sekejab, membuat nafas oak Muklas menjadi lega kalau itu.
Namun tak butuh waktu berjam berjam untuk mendapatkan makanan dan kembali ke tempat Pak Jamil dan juga Pak Muklas.
''Ech!! ini makanan nya, di habisin sekalian?'' Ucap nya memberikan nampan yang berisi nasi beserta lauk pauk yang cukup banyak di atas nya.
''Kamu ngambil di mana ini Kliwon?'' tanya Pak Jamil menerima nampan tersebut.
''Itu...? tak jauh dari sini ada orang yang hajatan jadi aku ngambil saja cuma sedikit nggak apa apa lah ya, dan kamu berani nggak balikin nampan itu ke rumah yang punya hajatan kalau sudah selesai makan?'' Ucap nya seakan Pak Jamil dan Pak Muklas berani untuk mengembalikan nampan tersebut.
''Mana berani aku ke sana hanya untuk mengembalikan nampan ini, bisa mati aku di sana,'' tukas Pak Jamil yang tengah menyiapkan makanan ke dalam mulut nya.
Kalau gitu nggak udah di kembalikan saja, aku pergi dulu dan setelah makan kalian lebih baik tidur saja, biar aku yang akan menjaga sawah kalian berdua,'' kata Genderuwo itu dan hilang dalam hitungan detik.
Pak Jamil dan juga Pak Muklas tengah menikmati makan malam nya dengan makanan enak dan lezat pastinya, karena di sana selain ada ayam goreng, daging sapi, sate dan juga beberapa lauk lain nya, adanjuga beberapa kue di nampan tersebut.
''Pak Jamil, sampeyan kok iso ngerti lek Genderuwo iku asmane Kliwon, (Pak Jamil, anda kok bisa tau kalau Genderuwo itu nama Kliwon),'' tanya Pak Muklas di sela sela kunyahan nya.
''Yo weroh toh Pak, lawong saiki malam Sabtu Kliwon kok? (ya taulah Pak, kan malam ini Sabtu Kliwon kok)," terang Pak Jamil kepada Pak Muklas yang tengah asik menyantap makanan nya.
__ADS_1
Sedangkan singkong nya wnatah pergi kemana sekarang? Pak Jamil dan Pak Muklas sudah memperhatikan nya lagi, mungkin juga singkong yang tengah ia bakar sudah menjadi arang dengan api yang cukup besar dan bara api yang sudah mulai terlihat merah.
''Tadi saja takut sama sosok yang bawa, sedangkan makanan nya doyan nya kebangetan?'' celetuk Pak Jamil yang gemas melihat cara makan tetangga yang satu ini.
''Pak Jamil meneng yo, ojok wara nang sopo sopo lek aku mangan sego enak ngono kui, engkok lek wong omah krungu bisa brabe urusane, (Pak Jamil diam ya, jangan bilang ke siapa siapa kalau aku mangan nasi enak seperti ini, nanti kalau orang rumah dengar bisa berabe urusan nya,'' Ucap Pak Muklas mengingat kan.
''Lagian siapa juga yang bakalan bilang ke orang orang Pak, sampeyan iki iso ae, (anda ini bisa saja),'' jawab Pak Jamil memakan kue yang ada di depan nya.
Sedangkan Pak Muklas terus saja memakan nasi tersebut hingga habis tak tersisa, hanya nampan dan bebey lembar daun pisang yang tersisa di atas nampan tersebut.
Lantas Pak Jamil memanjat pohon kelapa yang tak begitu tinggi, untuk mengambil beberapa buah di atas, namun belum juga sampai di atas sana, 4 buah kelapa muda sudah terjatuh begitu saja melewati tubuh nya, untung saja 4 buah kelapa tersebut tidak sempat mengenai kepalanya. Pak Jamil yang penasaran pun mwndongak menatap ke atas, namun dia sudah tidak terlalu kaget dengan penampakan sosok seram di dekat nya.
Dengan tubuh yang menjulang tinggi tak serta merta membuat Pak Jamil bergidik ngeri, bahkan Pak Jamil sendiri sudah mengomeli sosok tersebut dengan omelan nggak bermutu nya.
Sosok itu hanya menggelegar kan suaranya, dan bersiap siap untuk menyentil Pak Jamil yang masih memeluk erat pohon kelapa yang tadi ia panjat.
''Jangan macam macam kamu ya, sentilan kamu bukan untuk menurunkan aku dari sini, tapi akan mengirim aku ke kota lain, kalau naik kapal mah enak tinggal terbang seperti burung, lah aku malah nyungsep di rumah orang,'' kelakar nya mengibas ngibaskan tangan nya.
Jaman dulu orang tak menyebut dengan pesawat ya kak, tapi terkenal nya dengan sebutan kapal, lebih tepat nya kapal terbang. Sama hal nya biru dengan hijau, hijau di kenal juga menjadi biru, mungkin karena bahan dasar hijau terbuat dari warna biru, makanya tercetuslah warna biru semua. Seperti hal nya hijau daun, hijau muda. Menjadi biru daun dan biru pupus kan nggak nyambung? entah siapa yang salah autor juga nggak paham🙏🙏
Kembali ke cerita
Pak Jamil memilih buru buru untuk turun dari pohon kelapa yang biasa panjat, sedang kan sosok menyeramkan itu hanya terkekeh melihat tingkah Pak Jamil yang menurut dia sangat lucu.
__ADS_1
''Suwe tenan Cak?'' Ucap Pak Muklas tiba-tiba. ''(lama banget kak)''
''Sudah jangan banyak protes, tinggal makan dan minum doang? sok so'an protes!'' jawab pak Jamil dengan kesal nya. Pak nggak tau saja kalau dirinya hampir hilang dari hadapan nya kalau sosok tinggi itu sampai menyentil nya.
Pak Jamil sudah tak mengeluarkan suara lagi saking kesal nya dengan tetangga yang di ajak ikut berjaga hasil panen nya di sawah, ya lebih tepat nya sawah mereka berdua sih, karena kebetulan sawah mereka ber dempetan dan juga sedang panen.
''Cak bukak no po'o Kelopo'e iki, aku ora iso Cak?''
(kak bukain napa kelapa nya ini, aku nggak bisa kak) ,'' kata Pak Muklas setengah memohon, namun alih alih ngupasin kelapa nya, Pak Jamil juga tidak menjawab perkata'an dari Pak Muklas.
Ternyata Pak Jamil sudah tertidur pulas tanpa mau lagi mendengarkan tengekn dari tetangga nya. Pak Muklas yang penakut lebih memilih membaringkan tubuh kenyang nya di samping Pak Jamil dengan perasaan takut nya.
''Ceritanya seru ya Yah, mungkin jaman sekarang masih ada yang seperti itulah Yah?'' tanya Septin dengan rasa penasaran nya.
''Kayak nya masih banyak dech ndok, (nak). Buktinya masih ada sebagian orang yang sering di ganggu oleh sosok seram itu,''Tukas nya dan menyuruh Septin untuk tidur.
.
.
.
Jangan lupa tinggal kan jejak kalian kakak cantik dan juga ganteng.
__ADS_1
Dan Terima kasih yang selalu memberikan jempol nya untuk karya receh ku ini, 🙏🙏🙏😘😘💕💕